-- 
j.gedearka <[email protected]>

https://news.detik.com/kolom/d-4982653/ilmu-mendatangkan-angin-dan-hujan?tag_from=wp_cb_kolom_list




Jeda

Ilmu Mendatangkan Angin dan Hujan

Mumu Aloha - detikNews
Minggu, 19 Apr 2020 12:32 WIB
1 komentar
SHARE URL telah disalin
mumu aloha
Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta -

Alkisah, setelah gagal lulus dalam ujian menjadi pejabat tinggi, Zhang Jiao, 
seorang terpelajar yang hidup pada sekitar tahun 184 sebelum masehi di dataran 
Tiongkok bagian timur, segera memutuskan untuk menyepi di sebuah desa. Setiap 
hari kerjanya naik gunung mencari dan memetik tumbuh-tumbuhan untuk bahan obat.

Maka, sebagaimana umumnya sebuah kisah berlanjut, pada suatu hari sesuatu 
terjadi; dia bertemu dengan seorang kakek tua, seorang dewa, yang sedang 
berjalan sambil memegang tongkat. dewa itu mengajaknya masuk ke sebuah gua dan 
memberinya sebuah kitab. Siang dan malam dia menekuni isi kitab itu hingga 
menguasai ilmu "mendatangkan angin dan hujan".

Lalu ia mengembangkan suatu gerakan aliran agama Tao dalam skala besar. Dia 
juga menyebut dirinya sebagai "manusia mahabijak dan guru terbaik yang 
menyebarkan agama Tao kepada murid-muridnya. Oleh karenanya dia mendapatkan 
penghormatan dan penyembahan dari para pengikut yang percaya padanya.

Dalam praktik pengobatan sehari-hari, ia memakai "tulisan mantra" di atas 
secarik kertas yang digunakan untuk menyembuhkan berbagai penyakit kepada 
pengikutnya. Melalui praktik pengobatan cara ini, dia telah menyembuhkan banyak 
orang yang menderita sakit. Pengaruhnya makin lama makin besar sehingga ia 
mampu menarik ratusan ribu pengikut.

Singkat cerita, ia kemudian juga menggerakkan dan memimpin massa petani miskin 
yang menderita akibat ulah pemimpin dan penguasa dinasti yang bobrok dan korup 
kala itu, untuk melakukan pemberontakan, menggulingkan rezim. Dalam sejarah 
Tiongkok kuno, pemberontakan itu kemudian dicatat sebagai Pemberontakan Ikat 
Kepala Kuning --karena semua massa pemberontak mengikat kepala mereka dengan 
kain berwarna kuning sebagai tanda sambil mengibarkan bendera dengan warna yang 
sama.

Dalam pemberontakan itu, Zhang Jiao menyebut dirinya sebagai Jenderal Dewa 
Langit. Dalam situasi genting, kerajaan yang mulai terancam dan kekurangan 
pasukan untuk menumpas pemberontakan berskala besar itu, mengeluarkan 
pengumuman merekrut tentara dari rakyat untuk mempertahankan kekuasaannya. Dari 
situlah lahir cerita roman sejarah terkenal Sam Kok: Kisah Tiga Negara, yang 
mungkin di antara kita telah membacanya, dalam berbagai versi.

Demikianlah keping-keping sejarah peradaban manusia diceritakan kembali, dari 
satu orang yang menyepi di sebuah desa, melakukan hal yang sama setiap hari, 
mungkin dengan sedikit atau banyak rasa bosan, lelah, tertekan, dan putus asa 
pada awalnya.

Para penulis riwayat Hassan Sabah, seorang pemimpin di kawasan Timur Tengah 
yang lahir pada abad ke-11, menyebutkan bahwa setelah menempati bentengnya, 
Sang Pemimpin selama tiga puluh tahun terakhir hidupnya hanya dua kali keluar 
rumah, dan itu pun hanya untuk naik ke atas atap.

Untuk persediaan, pemimpin besar itu membuat sumur-sumur penyimpan minyak, 
cuka, dan madu. Ia juga mengumpulkan jelai, lemak anak domba, dan buah kering 
dalam jumlah besar, cukup untuk bertahan hampir setahun jika terjadi 
pengepungan total --pada masa itu, waktu setahun bisa melampaui daya tahan para 
pengepung.

Pagi-sore dia duduk bersila di atas tikar yang telah usang. Ia mengajar, 
menulis, bersembahyang, mendirikan sebuah perpustakaan yang amat besar, yang 
menyimpan karya-karya paling langka, sambil memimpin dan memerintahkan kelompok 
pembunuhnya memburu musuh. Dalam sejarah, Hassan Sabah dicatat sebagai pemimpin 
sebuah sekte kaum pembunuh paling kejam dan menakutkan yang pernah ada. Semua 
dilakukannya nyaris tanpa keluar rumah!

Hari-hari ini, kita mungkin telah menghitung, telah berapa lama berdiam di 
rumah untuk menghindari penularan sebuah wabah, dan masih akan berapa lama 
lagi. Kita mulai diserang kebosanan, kecemasan, dan berbagai perasaan yang tak 
menentu akibat ketidakpastian perkembangan kondisi dunia di luar sana. Kita 
teringat kdan merindukan kembali hari-hari kita di masa lalu, yang belum lama 
berlalu, yang penuh dengan kesibukan, jadwal, dan rencana-rencana.

Kita pun mulai berangan-angan, seandainya semua ini berakhir, apa yang akan 
kita lakukan. Kita terbiasa dengan segala bentuk rutinitas, aktivitas, dan 
berbagai hal yang membuat kita sibuk --pertemuan-pertemuan, acara-acara, 
agenda-agenda yang tiada putusnya. Kita terbiasa dengan pemikiran-pemikiran 
besar: harus melakukan ini, harus melakukan itu, harus memberi makna pada 
kehidupan ini, harus menyalurkan aspirasi, mempertegas eksistensi, mengubah 
dunia.

Kita bukan hamster yang pasrah di atas roda dalam kandang mungil, melakukan hal 
yang sama sepanjang waktu, berlari dan terus berlari, sampai tidak bisa lagi 
merasakan sudah berapa lama waktu mengalir. Kita tak bisa hidup tanpa 
rutinitas, tapi juga bisa "mati rasa" tanpa variasi. Kita perlu bertemu dengan 
orang-orang, melihat laut sesekali, bersantai di kafe pada akhir pekan, 
melewati jalan-jalan lain yang belum pernah kita lalui.

Kita memang tidak ditakdirkan untuk menguasai ilmu mendatangkan angin dan 
hujan, atau memimpin pemberontakan. Hanya satu orang dalam sejarah peradaban 
umat manusia ini yang mungkin memang "perlu" ditakdirkan untuk menjadi seorang 
pemimpin besar, yang menggerakkan para pembunuh hanya dengan duduk di atas 
tikar usangnya di dalam benteng sepanjang hidupnya.

Tapi, di hari-hari yang berjalan lambat ini, kita mulai berpikir lagi, belajar 
lagi, bahwa ilmu "mendatangkan angin dan hujan" bukan sama sekali tak ada 
gunanya. Sekte kaum pembunuh jelas sudah tidak diperlukan lagi untuk zaman 
apapun. Tapi, berangkat dari pemikiran "kecil", melakukan satu hal yang sama, 
untuk memberikan dampak besar yang luar biasa, mungkin bisa kita pertimbangkan 
lagi, untuk setidaknya memberikan kita penghiburan.

Diam di rumah tidak harus berarti memutus rutinitas, dan menutup celah-celah 
kemungkinan bagi kita untuk tetap menjalani kehidupan ini dengan memberinya 
makna --kalau memang makna itu ada dan cukup kuat untuk kita pertahankan. 
Banyak di antara kita yang bahkan mungkin mulai merasakan manfaatnya. Ada yang 
jadi rajin membaca buku, yang sebelumnya tak pernah sempat disentuhnya sejak 
pertama kali membawanya pulang dari toko, dan bahkan belum membuka bungkusnya.

Ada yang rajin memasak, dan memamerkannya di media sosial, bahkan menjual hasil 
masakannya itu untuk tambahan penghasilan. Ada yang mendesain dan menjahit 
masker untuk didonasikan kepada pihak-pihak yang membutuhkan. Mungkin kita 
tidak bisa mengubah dunia. Tapi, kita masih bisa memberikan perbedaan dengan 
ide-ide kecil yang kita wujudkan. Mungkin filsuf Ludwig Wittgenstein benar 
ketika ia mengatakan bahwa "betapa kecil pikiran yang dibutuhkan untuk mengisi 
seumur hidup seseorang."

Ucapan Wittgenstein itu dikutip oleh Siddartha Mukherjee pada bagian awal 
bukunya The Gene: An Intimate History ketika mengisahkan tentang Mendel, 
seorang pendeta Ordo Santo Agustinus yang selalu gagal dalam ujian sains dan 
akhirnya memutuskan untuk berkebun di biara tempatnya bekerja di puncak bukit 
di jantung kota abad pertengahan, Brno, sejak 1948. Dengan indah dan puitis, 
Mukherjee menceritakan kembali kehidupan Mendel yang seolah penuh dengan 
pikiran-pikiran kecil.

Dengan kebun kacang ercis yang ditekuninya, dan tak pernah membuat para pendeta 
lain memperhatikan bahkan sekadar menunjukkan ketertarikan, Mendel terus 
menyemai, menyerbuki, membiarkan berkembang, memetik, mengupas, menghitung, dan 
mengulanginya. Proses itu luar biasa menjemukan. Namun, pikiran-pikiran kecil 
Mendel akhirnya mekar menjadi asas-asas besar.

Dengan percobaan-percobaan persilangan tumbuhan yang berjalan lambat dan harus 
ditangani dengan penuh kesabaran, lama-kelamaan Mendel menemukan pola-pola 
dalam datanya --kekonstanan yang tak terduga, rasio yang bertahan, irama angka. 
Dia akhirnya berhasil melongok ke dalam logika internal pewarisan sifat; sebuah 
temuan yang kemudian dengan amat digdaya mendasari revolusi saintifik yang 
menyapu Eropa pada abad ke-18, dan mengubah arah ilmu pengetahuan untuk 
selamanya.

Hari ini, kita mungkin terbosan-bosan harus berkali-kali membasuh tangan, 
sesekali dipaksa menunggui anak-anak kita yang terpaksa belajar di rumah dan 
dibuat repot membantu tugas-tugas mereka. Hari ini, kita mungkin jengah keluar 
rumah untuk berbelanja dalam jarak yang dekat saja harus mengenakan masker, itu 
pun masih ditambah dengan perasaan serba was-was yang tak nyaman.

Tapi, dengan sedikit kesabaran --ya, mungkin memang hanya itu yang kita 
butuhkan sekarang-- boleh jadi semua itu kelak membuahkan hasil yang tak pernah 
kita duga --layaknya Zhang Jiao yang akhirnya menguasai ilmu mendatangkan angin 
dan hujan, atau Mendel, nama yang sudah kita akrabi sejak duduk di bangku SMP 
lewat pelajaran biologi, yang memberi warisan tak ternilai pada kemajuan sains 
umat manusia.

Bertahanlah. Ambil tikarmu. Duduklah. Diamlah di rumah. Ciptakan rutinitas 
baru. Mulailah dari pikiran-pikiran kecil.

Mumu Aloha wartawan, penulis, editor

(mmu/mmu)






Kirim email ke