Nomorsatukan Jiwa Adalah Pengalaman Terpenting Penanggulangan Wabah
 Tiongkok

http://indonesian.cri.cn/20200420/b5eb1651-de05-e16f-9060-5b98a6b8ef73.html
2020-04-20 13:33:59

Hingga pukul 24:00 kemarin(18/4), jumlah kasus terdiagnosa Covid-19 di Wuhan menurun hingga 109, kasus parah berkurang sampai 22. Di belakang ini, adalah perjuangan yang susah payah untuk menyelamatkan jiwa dari tepi kematian.

Menurut statistik Komisi Kesehatan Nasional Tiongkok, 2500 orang lebih pasien Covid-19 yang berusia di atas 80 tahun di Wuhan, tingkat sukses pengobatan mencapai sekitar 70 persen. Di antaranya, 7 orang pasien berusia di atas 100 tahun disembuhkan. Sebagai salah satu kelompok pasien yang paling sulit diselamatkan dan diobati, tingkat sukses pengobatan pasien lansia begitu tinggi, telah membuktikan menomorsatukan keselamatan jiwa adalah prinsip Tiongkok dalam penanggulangan wabah.

Di bawah krisis, “laju Tiongkok” “skala Tiongkok” dan “efisien Tiongkok” dengan penuh mencerminkan target Tiongkok hanya ada satu, yaitu semaksimalnya menyelamatkan jiwa.

Demi mendukung penanggulangan wabah di Propinsi Hubei dan Kota Wuhan, berbagai tempat seluruh Tiongkok mengirim 42 ribu orang tenaga medis dengan secepatnya menuju ke destinasi. Demi menjamin pasien yang perlu diterima harus diterima dan perlu diobati harus diobati, Wuhan dalam waktu sangat singkat membangun sejumlah Rumah Sakit Square Cabin. Selain itu, material dan perlengkapan medis yang dibutuhkan kritis seperti ECMO berturut-turut diantar ke Wuhan….

Menomorsatukan keselamatan jiwa dan kesehatan rakyat, ini adalah yang terpenting bagi Tiongkok, lebih-lebih melindungi kelompok yang lemah.

Hingga 6, April lalu, biaya medis perkapita pasien terdiagnosa Covid-19 di Tiongkok mencapai 21,5 ribu yuan, pasien parah melebihi 150 ribu yuan, dan biaya pengobatan untuk minoritas pasien kritis mencapai ratusan ribu bahkan sejuta yuan RMB lebih, dan ini semuanya dibayar pemerintah menurut peraturan asuransi medis. Dan ini dari akarnya menghapuskan kekhawatiran rakyat untuk pengobatan.

Penasehat senior Dirjen WHO yang pernah mengadakan inspeksi ke Tiongkok, Bruce Alyward mengatakan, Tiongkok tahu bagaimana menyembuhkan pasien Covid-19, mereka bertekad tegas dan memberi kontribusi yang luar biasa, “ada apa pakai apa, bisa bagaimana selamatkan jiwa, akan melakukannya saja.”

Di depan krisis, bagaimana menyelamatkan jiwa, ini mengujikan hati nurani dan kemampuan beraksi suatu negara dan masyarakat.

Bagi setiap orang, hanya ada satu-satunya jiwa. Biarpun sistem sosial dalam bentuk apa, menghormati dan melindungi jiwa adalah garis merah. Apa yang disebutkan “Mungkin inilah kehidupan”, mutlak tak dapat menjadi alasan politikus untuk melepaskan tanggungjawabnya.

Kirim email ke