Saya teruskan mail teman yang masih cucu keponakan dari R.A. Kartini :

*Cuplikan dari surat R.A. Kartini: Rembang, 8 juni 1904, dalam Bahasa
Belanda:*

*"Als het kind, dat ik onder het hart draag, een meisje mocht zijn, wat of
ik dan voor haar zou wenschen? Ik zou wenschen, dat zij moge l e v e n !
een rijk, vol leven. Het leven, dat haar moeder begon, moge zij voltooien.
Zij zal niet gedwongen worden iets te doen tegen haar innigste voelen in.
Wat zij doet, zal zij doen uit eigen **v r i j e n  wil. Zij zal een moeder
hebben, die voor haar innerlijk welzijn zal waken, en een vader, die haar
tot niets zal dwingen......"*



*Terjemahan cuplikan dari surat R.A. Kartini dalam bahasa Indonesia:*

*"Jika anak yang aku kandung di bawah hatiku adalah anak *

*perempuan, apakah yang aku akan pujikan padanya? *

*Aku berharap dia bisa h i d u p ! kehidupan yang kaya dan *

*penuh. Semoga kehidupan yang dimulai ibunya, bisa dia *

*tuntaskan. Dia tidak akan dipaksa melakukan apa pun *

*melawan perasaannya yang* *paling intim. Apa yang dia l*

*akukan, dia akan lakukan atas kehendaknya sendiri. Dia akan *

*memiliki seorang ibu yang akan menjaga kesejahteraan *

*batinnya, dan seorang ayah yang tidak akan memaksanya *

*apapun ...... "*



*Memperingati perempuan Indonesia:*

Kita saat ini memperingati Raden Adjeng Kartini, tetapi sekaligus
memperingati semua perempuan Indonesia, semua Kartini-Kartini yang berjuang
di front depan atau difront belakang, demi emansipasi perempuan dan
kehidupan yang layak. Kita memperingati semua perempuan Indonesia, semua
Kartini-Kartini yang berjuang sehari-hari demi mencukupi kebutuhan hidup
untuk keluarga, pendidikan anak-anaknya dan kesejahteraan rakyatnya.



*Cuplikan dari artikel: Perempuan yang dilenyapkan sejarah -*

*Purnama Ayu Rizki - 08 juli 2018*

*Penulis perempuan S. Rukiah Kertapati:*

*PADA masa tahun-tahun awal kemerdekaan, jumlah perempuan terdidik telah
meningkat tajam dibandingkan masa Kartini pada awal 1900-an. Namun di saat
yang sama pembaca sastra Indonesia masih kesulitan menemukan nama penulis
sastra perempuan yang masih sangat didominasi oleh penulis pria. Sementara
itu revolusi Indonesia yang baru saja berlangsung antara tahun 1945–1949
menyisakan semangat revolusionernya dalam dunia seni budaya. Bangsa
Indonesia mulai memikirkan apa yang harus dilakukan dalam* *membangun
kebudayaan sebagai bangsa yang baru merdeka. Dalam situasi seperti inilah
Rukiah hadir sebagai perempuan muda Indonesia yang menembus dominasi pria
dalam* *dunia tulis-menulis dan menunjukkan bagaimana perempuan dapat
berperan dalam dunia kesusasteraan pada masa itu. Pengantar ini ditulis
untuk penerbitan ulang dua buku karya Rukiah, yaitu Kejatuhan dan Hati
(Ultimus, 2017) dan Tandus (Ultimus, 2017).*



*Rukiah memulai kariernya dalam usia muda di Purwakarta. Buku pertamanya
diterbitkan oleh Balai Pustaka tahun 1950 berjudul Kedjatuhan dan Hati
tercatat sebagai salah satu generasi pertama perempuan yang menerbitkan
karyanya pascaperang. Dua tahun kemudian, tepatnya 1952, Rukiah menerbitkan
buku keduanya, Tandus, yang berisi kumpulan sajak dan cerita pendek. Buku
ini memiliki nilai sejarah penting dalam sastra Indonesia karena
menempatkan Rukiah sebagai perempuan pertama yang mendapat hadiah sastra
dari Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional (BMKN; sebuah hadiah bergengsi
kesusastraan pada saat itu) 1952 di antara para pemenang lainnya yang
didominasi penulis pria, yait Pramoedya Ananta Toer, Mochtar Lubis, dan
Utuy Tatang Sontani.*



*Rukiah tidak hanya aktif berkarya. Dia juga ikut dalam kepengurusan
organisasi kebudayaan Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat), sebuah organisasi
seniman sayap kiri yang cukup besar pada masa pascaperang kemerdekaan.
Sayangnya, semua jejak ini seakan terhapus dalam sejarah sastra Indonesia.*



*Peristiwa 1965 mengubah secara drastis keseluruhan sistem sosial politik
di Indonesia. Bagi Rukiah dan keluarganya, mereka harus menanggung beban
berat pasca pergolakan politik ini. Pukulan terberat adalah Rukiah beserta
keenam anak-anaknya terpisah dari Sidik Kertapati yang saat itu menjadi
eksil (awalnya di Tiongkok dan kemudian pindah ke Belanda pada tahun
1980-an). Untuk menghindari situasi yang semakin memburuk, Rukiah pulang
kembali ke Purwakarta dan menjadi tahanan selama dua tahun (1967–69) di
kota kelahirannya. Setelah lepas dari tahanan, Rukiah menghentikan sama
sekali aktivitas tulis-menulis dan mengubur dalam-dalam segenap bakat
sastranya. Sebaliknya, dia bekerja keras membuat kue dari subuh hingga
malam hari untuk membiayai kehidupan keenam anaknya.
(Shackford-Bradley:43).*



Cuplikan dari : "Perempuan yang dilupakan sejarah" - Purnama Ayu Rizky -

08 juli 2018.

Kirim email ke