-- 
j.gedearka <[email protected]>


https://www.antaranews.com/berita/1438332/mendagri-sebut-pemerintah-tidak-grusa-grusu-hadapi-covid-19



Mendagri sebut Pemerintah tidak "grusa-grusu" hadapi COVID-19

Rabu, 22 April 2020 22:18 WIB

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menyampaikan pemaparan melalui video 
conference (vidcon) di Pendopo Wali Kota Banda Aceh, Aceh, Jumat (17/4/2020). 
Vidcon bersama Menteri Dalam Negeri, Menteri Keuangan, Menteri Kesehatan dan 
Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 bersama Gubernur, Bupati, Wali 
Kota dan Ketua DPRD tersebut terkait tata cara refocusing dan realokasi APBD 
tahun 2020. ANTARA FOTO/Irwansyah Putra/wsj.
Pemerintah tidak mengambil langkah kebijakan dadakan atau "grusa-grusu" dalam 
menghadapi COVID-19
Jakarta (ANTARA) - Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian menyampaikan 
bahwa Pemerintah tidak mengambil langkah kebijakan dadakan atau "grusa-grusu" 
dalam menghadapi COVID-19, seperti dalam kebijakan larangan mudik yang ditempuh 
dengan pendekatan secara bertahap.

Dalam keterangan tertulis Tito yang disampaikan Staf Khusus (Stafsus) Mendagri, 
Kastorius Sinaga, di Jakarta, Rabu, menyatakan kebijakan larangan mudik 
dilakukan dengan pendekatan gradual atau bertahap.

Tahap pertama, yaitu tahap mengimbau ketika Pemerintah secara persuasif dan 
edukatif mengajak masyarakat untuk tidak mudik guna memutus mata rantai 
penyebaran COVID-19 dari wilayah episentrum ke daerah.

Tahap yang dilakukan pada awal April tersebut, kata dia, sudah membuahkan hasil 
dengan penurunan drastis jumlah pemudik hingga 40 persen melalui gencarnya 
imbauan.

Pada tahap imbauan, digencarkan edukasi tentang model penularan COVID-19 
berikut rentannya arus mudik menjadi arena penularan virus.

Kerja sama antarprovinsi untuk mengimbau warganya agar tidak pulang kampung 
juga difasilitasi oleh Kementerian Dalam Negeri.
Baca juga: Mendagri minta daerah responsif soal anggaran tangani COVID-19


Tito mengatakan kesadaran masyarakat dibangun bersama melalui kampanye edukatif 
tentang pengenalan Virus Corona, cara penyebaran, titik lemah virus, serta cara 
efektif pencegahannya seperti PHBS (Pola Hidup Bersih dan Sehat) dengan memakai 
masker, "hand sanitizer", rajin mencuci tangan dan "physical distancing".

Upaya tersebut dilakukan oleh Kemendagri dengan menggerakkan peran serta 
pemerintah daerah serta masyarakat, dan akhirnya sosialisasi itu berbuah 
positif pada perubahan pola perilaku masyarakat.

Menurut dia, setiap tahap dan langkah akan dievaluasi dan dimonitor secara 
terus-menerus dengan melihat kondisi dinamis masyarakat.

Apabila ada pendekatan yang kurang tepat, langsung diperbaiki. Demikianlah 
proses kebijakan publik melawan COVID-19 yang dilakukan Pemerintah, termasuk 
dalam merespons isu mudik.

Setelah masa tahap pertama, yaitu mengimbau untuk tidak mudik dirasakan sudah 
memadai, maka Pemerintah masuk ke langkah atau tahap kedua berikutnya, yaitu 
pelarangan mudik sebagaimana sudah ditetapkan lewat rapat terbatas bersama 
Presiden Jokowi yang berlaku mulai 24 April-7 Mei 2020.

Tindakan pelarangan mudik tidak ditempuh di awal, lanjut dia, karena tindakan 
atau kebijakan drastis yang langsung keras di awal yang memiliki efek 
sosiologis berskala besar, akan sulit diperbaiki bila terdapat kekurangsiapan 
dalam penerapannya di lapangan.
Baca juga: Presiden Jokowi minta Mendagri-Menkeu tegur daerah yang tak ubah APBD


Apalagi, banyak aspek harus dipersiapkan, termasuk kecukupan dan kelancaran 
distribusi logistik, terutama kebutuhan pangan.

Ia mencontohkan di India, ketika pada awal bulan April 2020 India menetapkan 
"lockdown" secara tiba-tiba yang langsung diikuti dengan "law enforcement" 
dengan sanksi yang keras berujung memicu kerusuhan dan kekacauan di masyarakat.

Karena itu, kata dia, Pemerintah menempuh gaya kebijakan yang gradual namun 
berlanjut, dari bersifat persuasif ke arah yang semakin tegas, sebagaimana 
tampak pada kebijakan larangan mudik yang harus diperhitungkan dari berbagai 
aspek, termasuk "timing" dan kondisi sosiologis masyarakat.

Dengan cara gradual demikian, kata dia lagi, seluruh elemen masyarakat akan 
memiliki kesempatan untuk beradaptasi terhadap kebijakan itu, sehingga 
menghindari gejolak sosial akibat dampak kebijakan yang "grusa grusu".

Presiden Jokowi bersama Kemendagri serta kementerian lain tampak solid, tenang, 
dan secara gradual solid menyatukan gerak pusat-daerah dalam menghadapi 
COVID-19, mulai dari isu penanganan kapasitas kesehatan, isu mudik, bansos, dan 
jaring pengaman sosial, hingga realokasi APBD dari 540 pemda untuk fokus 
menangani COVID-19.

Hasilnya, kata dia, mobilitas sumber daya nasional, termasuk kekuatan gotong 
royong masyarakat dapat dikerahkan secara solid untuk melawan COVID-19.
Baca juga: Mendagri sebut perang melawan COVID-19 perlu strategi terukur

Pewarta: Zuhdiar Laeis
Editor: Budisantoso Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2020






Kirim email ke