Arief Budiman, Sang Pejuang dan Akademisi
*Siauw Tiong Djin <https://www.kompasiana.com/siauw43513>*
3 Juni 2018 10:28 Diperbarui: 3 Juni 2018 11:57
https://www.kompasiana.com/siauw43513/5b136041f133442ac31e7ca4/arief-budiman-sang-pejuang-dan-akademisi?page=3
Lihat foto
Arief Budiman, Sang Pejuang dan Akademisi
<https://www.kompasiana.com/image/siauw43513/5b136041f133442ac31e7ca4/arief-budiman-sang-pejuang-dan-akademisi>
Image result for arief budiman
Persahabatan saya dengan Arief Budiman pernah diceritakan secara cukup
panjang lebar oleh Arief sendiri dalam sebuah tulisannya yang berjudul
/*Siauw Giok Tjhan yang Tidak Saya Kenal*//,/ terbit pada 1999 dalam
buku yang saya sunting,/*Sumbangsih Siauw Giok Tjhan dan Baperki dalam
sejarah Indonesia* /(Hasta Mitra, 1999).
Saya bergembira diberi kesempatan oleh, istri Arief, Leila Chairani
Budiman, untuk secara umum dan terbuka menulis sesuatu tentang sosok
pejuang dan sekaligus akademisi yang terkenal, Arief Budiman.
Nama Arief Budiman, yang juga dikenal sebagai Soe Hok Djien, tentunya
sudah lama saya dengar sejak saya masih di SMA pada 1970-an. Saya-pun
mengetahui nama adiknya yang juga ternama, Soe Hok Gie. Pada waktu itu
saya ketahui bahwa mereka turut aktif mendukung Soeharto pada awal 1966
dan merupakan bagian dari kelompok yang memusuhi ayah saya, Siauw Giok
Tjhan.
Perhatian dan kekaguman saya terhadap sosok Arief Budiman meningkat
ketika saya membaca berbagai berita tentang keberanian Arief menentang
kebijakan pemerintah "Orde Baru" yang turut ia dukung perwujudannya.
Arief berada di garis depan keras menentang korupsi dan menentang
proyek Tien Soeharto, pembangunan Taman Mini pada 1970-an. Oleh
karenanya ia dan kawan-kawan sempat ditahan militer.
Pada 1972, di salah satu kesempatan bezoek untuk bertemu dengan ayah,
saya bertanya tentang Arief Budiman. Ayah menyatakan bahwa ia tidak
pernah bertemu dengan Arief dan Hok Gie, tetapi ia kenal baik dengan
ayah mereka, Soe Li Piet. Ayah pada waktu itu meringkuk di penjara
sebagai seorang tahanan politik
<https://www.kompasiana.com/tag/politik>. Ia merupakan salah seorang
korban kejahatan negara yang dipimpin oleh Soeharto. Bersama ratusan
ribu tahanan lainnya dipenjarakan tanpa proses peradilan apapun.
Ternyata Soe Li Piet, merupakan salah satu wartawan atau penulis yang
bekerja di mingguan dan harian yang dipimpin oleh ayah di Jakarta,
mingguan Sunday Courier, mingguan Suara Rakyat dan harian Republik.
Arief bercerita ke saya bahwa ia dan Hok Gie pada 1950-an, sering diajak
ayahnya ke kantor percetakan Sunday Courier di jalan Pintu Besar, Kota.
Mereka bermain di kantor percetakan sambil menunggu ayahnya
menyelesaikan tulisan-tulisannya atau tugas-tugas lainnya.
Arief kecil pada waktu itu tidak mengetahui banyak tentang Sunday
Courier dan siapa yang memimpinnya. Ia cukup terperanjat ketika pada
1988, di pertemuan pertama saya dengannya di Melbourne, saya ceritakan
bahwa Sunday Courier dipimpin oleh Siauw Giok Tjhan. Dan lebih
terperanjat lagi ketika saya ceritakan bahwa ayahnya, Soe Lie Pit,
mengenal baik Siauw Giok Tjhan, tokoh Tionghoa yang sempat ia "musuhi"
di zaman Demokrasi Terpimpin (1959-1965).
Pada 1987, saya memutuskan untuk berkenalan dengan Arief dan menulis
surat kepadanya yang berada di Salatiga. Arief tentu tidak mengenal
saya. Dalam surat tersebut saya mengucapkan salam kenal dan memohon
kesediaannya untuk berpartisipasi dalam upaya membela komunitas Tionghoa
yang menurut saya selalu mengalami dampak negatif kebijakan rasisme
pemerintah. Ia menjawab surat tersebut dengan nada cukup dingin:
....Mengapa harus dibela?...
Korespondensi tersebut tidak saya lanjuti. Saya beranggapan, mungkin
Arief memang hanya ingin berjuang sebagai seorang "pribumi", karena
merasa sudah ter"asimilasi" dalam tubuh Indonesia. Pada waktu itu,
sebelum saya bertemu muka dengannya, saya ketahui bahwa ia merupakan
seorang tokoh yang mendukung paham asimilasi. Paham ini menganjurkan
Tionghoa menanggalkan ke-Tionghoa-annya untuk menjadi orang Indonesia
yang baik. Jadi timbullah anjuran mengganti nama dari Tionghoa ke nama
yang tidak Tionghoa; menghentikan tindakan ritual Tionghoa seperti
sembahyang cara Konghucu atau Tao-isme; tidak merayakan tahun baru
Imlek; dan menghilangkan ciri-ciri biologi Tionghoa generasi penerus
melalui kawin campuran, kawin dengan orang-orang "asli" atau "pribumi".
Paham ini diformulasikan pada 1960-an oleh LPKB (lembaga Pembina
kesatuan Bangsa), sebuah lembaga yang dipimpin oleh tokoh-tokoh Tionghoa
berhaluan politik "kanan", dengan dukungan militer dan berbagai partai
politik Islam, Katolik dan Kristen.
Paham asimilasi ditentang keras oleh Baperki (Badan Permusyawaratan
Kewarganegaraan Indonesia) yang dipimpin oleh Siauw Giok Tjhan. Baperki
memformulasikan paham integrasi, yang kini lebih dikenal sebagai
multi-kulturalisme atau pluralisme. Siauw mendorong Tionghoa menerima
Indonesia sebagai tanah airnya dan mengintegrasikan dirinya dalam
berbagai kegiatan membangun Indonesia, tanpa menanggalkan ke-Tionghoa-an
masing-masing. Baperki berpendapat bahwa ukuran patriot Indonesia tidak
berkaitan dengan latar belakang ras dan agama seseorang. Baperki
didukung oleh kekuatan politik "kiri" (PKI, PNI, Partindo dll) dan
Presiden Soekarno.
Pertentangan antara Baperki dan LPKB dengan sendirinya meruncing di
zaman Demokrasi Terpimpin, sehingga timbul kategori/ absurd/. Integrasi
dinyatakan jalan keluar "kiri", sedangkan asimilasi adalah jalan keluar
"kanan".
Padahal kedua-duanya memiliki /merits/ bilamana dikembangkan secara
wajar, tanpa paksaan.
Setelah Jendral Soeharto mengukuhkan kekuasaannya pada tahun 1966,
Baperki dibubarkan. Banyak pimpinannya dibantai atau dimasukkan ke
dalam penjara. Paham asimilasi berubah menjadi kebijakan pemerintah.
Semua yang tadinya bersifat anjuran, dijadikan undang-undang.
Terjadilah sebuah proses /*cultural genocide*/**selama 32 tahun. Imlek
dilarang untuk dirayakan. Pelaksanaan ritual Tionghoa di depan umum
dilarang. Penggunaan bahasa Tionghoa dilarang. Walaupun pergantian nama
tidak menjadi undang-undang, tetapi banyak Tionghoa dipaksa untuk
mengganti namanya. Berbagai peraturan dan Undang-Undang rasis
dikeluarkan dan dilaksanakan.
Pada zaman Demokrasi Terpimpin Arief termasuk tokoh yang mendukung
aliran asimilasi. Dan memang ia bisa dikatakan masuk dalam aliran
"kanan", karena bersikap anti Bung Karno dan anti "kiri".
Pada 1980-n saya sudah menetap di Australia dan sempat membaca berbagai
tulisan Arief. Saya mendeteksi adanya perubahan haluan apalagi setelah
ia kembali ke Indonesia dari Harvard University pada akhir 1970-an. Saya
tidak lagi melihat garis "kanan". Dari Herb Feith, seorang
Indonesianis yang ternama, saya kemudian ketahui, bahwa ketika Arief
menyelesaikan program PhD nya di Harvard University pada akhir 1970-an,
Arief "menjelma" menjadi seorang Marxist.
Itulah yang menyebabkan saya menulis surat kepadanya pada 1987. Dan
jawaban dinginnya cukup mengecewakan saya.
Pada akhir 1988 Arief menetap di Melbourne selama 3 bulan. Di periode
itu-lah saya berkenalan dan bersahabat dengannya. Sejak pertemuan
pertama kami merasa cocok. Kami kerap bertemu selama tiga bulan
tersebut. Dan pada masa itulah saya bertemu pula dengan isteri Arief
yang cantik dan manis budi, Leila.
Saya sangat mendambakan pembicaraan/pertemuan dengan Arief dan Leila.
Persahabatan Arief-Leila dan saya bersama isteri, Leony menjadi lebih
erat ketika Arief sebagai professor di Universitas Melbourne, menetap di
Melbourne sejak 1997.
Saya segera mendapati Arief memiliki sikap pejuang tetapi sekaligus
akademisi. Ia pun menunjukkan kejujurannya. /Attributes /ini nampak
sekali dari pembicaraan-pembicaraan dengannya dan seminar-seminar yang
ia berikan. Ia dengan tegas menunjukkan bahwa ia menentang rezim
Soeharto yang menurutnya lalim, mengkhianati rakyat Indonesia dan korup.
Serangan atau kritikan tajam terhadap rezim ini didasari berbagai
argumentasi akademik yang sulit untuk dibantah.
Ia meminta maaf atas tanggapannya yang dingin terhadap permintaan saya
yang saya tuangkan dalam surat pada 1987. Ia menyatakan bahwa ia
menganggap ajakan saya itu berupa dorongan untuk mendirikan sebuah
organisasi yang membela kepentingan para pedagang Tionghoa kelas kakap
yang berada di sekitar Soeharto. Ia menyatakan bahwa asumsi itu jelas
salah.
Salah satu topik pembicaraan kami adalah pertikaian antara asimilasi dan
integrasi. Pembicaraan berjam-jam ini sangat menggembirakan saya, karena
ternyata Arief, seperti yang ia katakan dalam tulisan /*Siauw Giok Tjhan
yang saya tidak kenal*/, dengan jujur menyatakan bahwa ia bersalah
mendukung paham asimilasi di zaman Demokrasi Terpimpin. Ia dengan tegas
menyatakan bahwa ia bukan saja menerima paham integrasi tetapi bertekad
untuk mendorong semua yang ia bisa pengaruhi untuk mendukung paham ini.
"Janji" ini ditepatinya. Dalam berbagai ceramah, terutama setelah
peristiwa Mei 1998, ia kerap mencanangkan betapa pentingnya Indonesia
merangkul pluralisme atau multi-kulturalisme. Perbedaan itu, menurutnya
adalah sesuatu yang indah.
Demokrasi Terpimpin di mana Soekarno menjadi pemimpin besar yang
memiliki kekuasaan absolut, bagi Arief, merupakan pembunuhan demokrasi
dalam arti sesungguhnya. Oleh karenanya ia keras menentangnya. Inilah
yang menyebabkannya mendukung pembentukan Orde Baru pada awal 1966.
Tidak disangkanya bahwa rezim yang didukungnya ini malah melakukan
penghancuran demokrasi dan penginjakan HAM luar biasa. Oleh karena itu,
ia-pun keras menentangnya.
Yang menarik, rezim-rezim pengganti Soeharto pun tidak luput dari
kritikan-kritikan tajamnya. Ia pernah mengkritik sikap Gusdur yang
kurang profesional sebagai presiden. Dan ia menyindir Megawati bersikap
seperti seorang ratu sehingga menimbulkan antipati di antara para
pendukungnya.
Sebagai seorang pejuang, ia tidak segan mengecam tokoh-tokoh politik
yang menurutnya korup dan tidak merakyat, walaupun mereka merupakan
kawan-kawan pribadinya. Tetapi ia tidak pula segan dengan jujur memuji
tokoh-tokoh yang memiliki sikap dan pandangan yang ia anggap baik untuk
Indonesia, walaupun yang ia puji itu bertentangan pendapat dengannya.
Misi perjuangannya adalah membangun Indonesia yang pluralistik, adil dan
demokratik. Di sinilah kita bisa menilai kualitas Arief sebagai seorang
pejuang. Ia tetap konsisten dengan misi ini. Siapa-pun yang menghambat
misi perjuangan ini akan ia labrak.
Yang unik, Arief bukan sekedar pejuang yang gagah berani berada di
barisan depan gerakan mencapai perbaikan. Ia mahir menuangkan
pikiran-pikiran membangun secara akademik. Dan pemikiran secara ilmiah
yang mudah untuk diikuti inilah, dalam berbagai periode perjuangan
mencapai sebuah perbaikan, lebih dibutuhkan ketimbang sekedar yel-yel
dan seruan dalam berbagai acara demonstrasi.
Tetapi begitu ada kesempatan untuk berdemonstrasi di jalan, ia tidak
segan turun ke lapangan. Saya ingat ketika pada waktu kami bersamaan
berada di Jakarta pada bulan November 1998 dan berjanjian untuk
kembali ke Melbourne bersama pada 13 November, di waktu mana terjadi
Peristiwa Semanggi. Saya diberitahu teman ketika rapat untuk segera
berangkat ke Bandara sebelum pukul 3 sore. Anjuran teman tersebut saya
ikuti. Saya coba mencari Arief, untuk mengajaknya pulang berangkat
barengan ke bandara. Tapi saya tidak berhasil menghubunginya. Setiba di
Melbourne saya tahu bahwa Arief bukannya ke bandara tetapi memilih
terjun berdemonstrasi di depan kampus Universitas Atmajaya.
Selama 10 tahun belakangan ini, karena faktor kesehatan, Arief
"menghilang" dari dunia perdebatan politik ilmiah tentang Indonesia.
Akan tetapi orang akan selalu ingat atas jasa-jasa Arief Budiman dari
kehadirannya di Indonesia sebagai seorang pejuang yang sekaligus
akademisi, dalam perjuangan mewujudkan Indonesia yang pluralistik, adil
dan demokratik.
<https://www.kompasiana.com/image/siauw43513/5b136041f133442ac31e7ca4/arief-budiman-sang-pejuang-dan-akademisi>