-- 
j.gedearka <[email protected]>


https://www.antaranews.com/berita/1445540/po-terancam-tumbang-kemenkeu-siapkan-dua-skema-relaksasi-kredit



PO terancam tumbang, Kemenkeu siapkan dua skema relaksasi kredit

Minggu, 26 April 2020 20:46 WIB

Ilustrasi. Sejumlah bus AKAP (Antar Kota Antar Provinsi) CV Makmur berhenti 
beroperasi. Hal itu menyusul kebijakan pemerintah terkait larangan mudik di 
tengah pandemi virus corona atau COVID-19 yang berlaku mulai awal bulan 
Ramadan. (ANTARA/Nur Aprilliana Br Sitorus)
Stimulus kedua paket untuk 11 sub sektor manufaktur minggu depan ini terbit 
Peraturan Menteri yang baru
Jakarta (ANTARA) - Kementerian Keuangan tengah menyiapkan peraturan yang di 
dalamnya terdapat skema relaksasi pembayaran kredit bagi perusahaan otobus (PO) 
yang saat ini terancam tumbang dampak COVID-19.

“Stimulus kedua paket untuk 11 sub sektor manufaktur minggu depan ini terbit 
Peraturan Menteri yang baru, 18 sektor itu akan diberi insentif yang berupa 
pasal 21 ditanggung pemerintah pasal 22 dan 25 transportasi masuk disini dan 
ini akan menjangkau sektor yang paling terdampak,” kata Staf Khusus Menteri 
Keuangan Yustinus Prastowo dalam diskusi virtual yang bertajuk “Menyelamatkan 
Layanan Transportasi Umum dari Dampak Covid-19” di Jakarta, Minggu.

Yustinus menyebutkan skema pertama, cost sharing yakni penundaan angsuran pokok 
bagi para debitur menengah di mana pemerintah tidak akan menanggung seluruhnya, 
tapi dibagi dengan perbankan atau lembaga pembiayaan non-perbankan.

“Bagaimana terutama bagi para debitur yang sifatnya menengah, pembiayaan akan 
dicakup di sini berupa penundaan angsuran pokok dan juga bantuan besarannya 
berapa nanti akan tergantung skema dengan perbankan masing-masing atau lembaga 
pembiayaan masing-masing karena skemanya bukan pemerintah menanggung semuanya 
karena skemanya cost sharing,” katanya.

Skema kedua, yakni dukungan untuk pembiayaan bank dan nonbank memberikan kredit.

“Mereka akan mendukung itu bagaimana skemanya nanti akan dibuat bersama OJK dan 
Bank Indonesia tapi kita pastikan baik yang segmen kecil menengah maupun besar 
itu bisa mendapatkan bantuan sehingga bank pembiayaan itu berani untuk 
memberikan pinjaman dalam skema yang lunak tidak memberatkan yang penting ini 
bisa bertahan. Sekarang ini kita hanya berpikir untuk bertahan hidup tidak 
muluk-muluk,” katanya.

Dalam hal ini, kata Yustinus, pemerintah mendukung Lembaga Penjamin Simpanan 
(LPS) supaya menjamin lebih besar lagi dan mendukung seperti Askrindo dan 
Jamkrindo, sehingga bank berani melakukan restrukturisasi.

“Ini yang sekarang sedang dikerjakan. Betul bapak-ibu mungkin kita hanya bisa 
bertahan hanya 1 hingga 2 bulan lagi kami juga memikirkan ini secara paralel,” 
katanya.

Pernyataan tersebut menanggapi sejumlah PO yang menghadapi tekanan karena 
COVID-19 di mana sudah tidak beroperasi, namun masih memiliki kewajiban 
pembayaran angsuran kredit di bank.

Ketua Persatuan Angkutan Pariwisata Bali Nyoman Sudiarta mengaku pihaknya sudah 
merumahkan sopir dan karyawan karena sejak Februari 2020 sudah tidak ada lagi 
wisatawan.

Nyoman menyebutkan total armada pariwisata di Bali sebanyak 1,200 unit dengan 
2.000 kru dan 300-500 pegawai.

“Semenjak wabah COVID-19 ini sebenarnya okupansinya sudah menurun 80 persen. 
Kemudian ada PM 25 ini sudah tidak ada tamu lagi, kami tidak ada operasi 
karyawan dirumahkan, sopir pulang kampung semua,” katanya.

Hal senada juga disampaikan Direktur PO NPM Angga Vircansa Chairul yang 
mengatakan penghentian operasional bus karena COVID-19 ini berdampak langsung 
pada 200 kepala keluarga.

“Kami memiliki 133 pengemudi, kru sebanyak 70 orang, artinya ada 200 lebih 
kepala keluarga yang terdampak langsung,” katanya.

Angga juga mengeluhkan BLT dari Kepolisian di mana belum adanya pencairan dan 
kuota terbatas.

Baca juga: Dampak COVID-19, operasional bus terhenti hingga karyawan dirumahkan
Baca juga: Mayoritas PO di Terminal Pulogebang tutup jelang PSBB

Pewarta: Juwita Trisna Rahayu
Editor: Ahmad Wijaya
COPYRIGHT © ANTARA 2020





Kirim email ke