-- 
j.gedearka <[email protected]>


https://mediaindonesia.com/editorials/detail_editorials/1993-bansos-tepat-sasaran



Senin 27 April 2020, 05:00 WIB

Bansos Tepat Sasaran

Administrator | Editorial
 

NEGARA sudah semestinya hadir dalam setiap kesulitan hidup rakyatnya akibat 
pandemi covid-19. Kehadiran negara tidak hanya dalam bentuk politik anggaran, 
tapi memastikan penyaluran bantuan sosial (bansos) tepat waktu dan tepat 
sasaran.

Dari sisi politik anggaran, tampak nyata keberpihakan pemerintah untuk 
mengatasi penyebaran covid-19 beserta dampak ikutannya. Namun, bantuan yang 
disalurkan belum sepenuhnya tepat sasaran karena data yang digunakan tidak 
akurat.

Keberpihakan dari sisi politik anggaran, misalnya, pada kesempatan pertama 
pemerintah melakukan refocusing dan relokasi APBN. Diperoleh dana Rp405,1 
triliun untuk menanggulangi dampak ekonomi wabah covid-19, sebesar 27% atau 
Rp110 triliun dipakai untuk bansos.

Pemerintah daerah juga melakukan refocusing dan relokasi APBD. Sejauh ini, per 
16 April, terkumpul dana daerah Rp56,57 triliun. Sebanyak 31% atau Rp17,5 
triliun dialokasikan untuk belanja hibah/bansos mengatasi dampak covid-19 di 
daerah.

Lebih dari cukup dana yang dipakai untuk bansos. Eloknya, pusat dan daerah 
berkolaborasi menentukan sasaran bansos sehingga tidak terjadi tumpang tindih. 
Satu orang mendapatkan bantuan berlimpah, orang lain malah gigit jari karena 
tidak mendapatkan bansos. Kondisi seperti ini, jika terjadi, hanya memicu 
kecemburuan sosial.

Pencairan anggaran untuk bansos sudah tepat waktu. Bantuan diberikan kepada 
masyarakat yang sangat membutuhkan, jauh hari sebelum pemerintah melarang mudik.

Pulang kampung tidak hanya berkaitan dengan keperluan merayakan Lebaran. 
Sebagian pekerja di sektor informal telanjur pulang kampung akibat tidak ada 
lagi pekerjaan harian di kota. Para pekerja informal paling rentan atas 
kebijakan kerja di rumah, belajar di rumah, dan beribadah di rumah. Ditambah 
lagi pemberlakuan pembatasan sosial berskala besar melawan covid-19.

Pemberian bansos khusus untuk pekerja sektor informal yang masih bertahan di 
kota bisa dianggap sebagai insentif atas kepatuhan mereka mengikuti kebijakan 
pelarangan mudik.

Harus tegas dikatakan bahwa penyaluran bansos masih perlu diperbaiki. Pada 
awalnya bansos mendapat sentimen positif publik, tapi sekarang muncul penilaian 
negatif. Implementasi penyaluran bansos yang tidak terarah dan tumpang tindih 
dianggap menjadi penyebab masyarakat tidak lagi memandang program bansos secara 
positif.

Ambil contoh di DKI Jakarta. Sejauh yang terekam dalam pemberitaan media massa, 
ada orang-orang kaya mendapatkan bansos, meski kemudian dikembalikan. Nama 
orang meninggal juga tertera dalam daftar penerima bansos. Sebaliknya, mereka 
yang membutuhkan bansos malah tidak menerima bantuan.

Mestinya, data penerima bansos harus sesuai nama dan alamat, serta berbasis 
nomor induk kependudukan. Di sinilah letak persoalannya. Negara ini tak kunjung 
naik kelas dalam hal memperbaiki data terpadu kesejahteraan sosial (DTKS).

DTKS dipergunakan Kementerian Sosial sebagai basis data pemberian bansos kepada 
masyarakat secara nasional. Data awal disodorkan pemerintah kabupaten dan kota. 
Jika terdapat kekeliruan DTKS di Kementerian Sosial, bisa dipastikan ada 
kesalahan input data dari kabupaten dan kota.

DTKS mestinya dipadankan dengan data kependudukan di Direktorat Jenderal 
Kependudukan Dan Pencatatan Sipil Kementerian Dalam Negeri berdasarkan nomor 
induk kependudukan. Ini pekerjaan rumah pemerintah yang harus segara 
diselesaikan.

Tidak ada kata terlambat untuk terus-menerus memperbarui data oleh pemerintah 
daerah. Sebaiknya pembaruan itu melibatkan RT/RW karena pihaknya yang paling 
mengetahui kondisi riil di lapangan.

Tidak kalah pentingnya ialah memastikan bansos tidak terkait kepentingan 
politik elektoral kepala daerah yang akan maju dalam pilkada. Di beberapa 
daerah ditemukan foto diri kepala daerah di bungkusan bansos.

Patut diapresiasi gerakan rakyat yang turut membantu sesama yang terpapar 
dampak covid-19. Ada gerakan mengumpulkan dan menyalurkan bantuan, ada pula 
kelompok masyarakat yang membagi-bagikan nasi bungkus. Tidak sedikit 
warga-warga di perumahan yang tergerak dan bergotong-royong membantu tetangga 
yang paling terdampak covid-19.

Kemiskinan akibat dampak covid-19 bukan angka statistik belaka. Satu orang saja 
tidak bisa makan, negara harus hadir memberikan bantuan. Akan tetapi, tanpa 
perbaikan data, bansos hanya menimbulkan kecemburuan sosial.

 
 









Kirim email ke