-- 
j.gedearka <[email protected]>



https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1813-pilihan-feasible


Selasa 28 April 2020, 05:30 WIB

Pilihan Feasible

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group | Editorial
 
Pilihan Feasible

MI/Tiyok
Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group.

HAMPIR dua bulan kita dihantui wabah virus korona. Sepanjang dua bulan ini 
pemberitaan di berbagai platform lebih diwarnai hal-hal yang membuat kecil 
hati. Semua langkah yang dilakukan nyaris selalu dicela. Padahal dengan segala 
daya semua upaya terbaik sudah coba dilakukan.

Banyak di antara kita masih berpikir dengan cara pandang yang ideal. Seakan 
pilihan yang dihadapi ialah antara baik dan buruk. Ketika yang dihadapi jelas 
antara hitam dan putih, tentu pilihan mudah untuk diambil. Namun, kondisi yang 
kita hadapi sekarang bukanlah pilihan antara baik dan buruk, melainkan antara 
yang buruk dan kurang buruk, antara evil dan less evil.

Kita tidak bisa menyalahkan bahwa begitu sulitnya memberikan pemahaman kepada 
masyarakat tentang bahaya virus korona. Dengan pendidikan rata-rata hanya 
sekolah menengah pertama ke bawah, memang sulit untuk mengajak berpikir ilmiah. 
Apalagi kita tidak pernah menanamkan pentingnya disiplin kepada bangsa ini.

Bayang-bayang akan banyak orang terpapar dan harus dirawat di rumah sakit 
membuat banyak orang mengkritik kemampuan penanganan kesehatan bangsa ini. Kita 
memang tidak memiliki kemewahan dalam masalah kesehatan. Penyebabnya bukan 
hanya anggaran yang rendah, tetapi kita juga tidak pernah mempersiapkan tenaga 
kedokteran yang memadai.

Berulang kali di kolom ini kita mengingatkan pentingnya menata pendidikan di 
negeri ini. Jangan hanya ilmu hukum dan agama yang diperbanyak. Kita pun harus 
mendorong lebih banyak anak muda menguasai bidang teknik dan sains.

Bayangkan negara dengan penduduk 260 juta, jumlah dokter spesial paru-paru 
jumlahnya tak sampai 2.000 orang. Jumlah total dokter yang ada di Indonesia 
hanya sekitar 200 ribu orang. Sekarang baru kita rasakan betapa terbatasnya 
jumlah dokter dan perawat yang kita miliki.

Pandemi covid-19 yang dialami dunia ibarat api yang sedang membakar rumah kita. 
Sekarang yang dibutuhkan bukan hanya berteriak-teriak ada api, melainkan 
bagaimana memadamkannya. Ironis ketika bangsa ini sedang berjuang keras melawan 
covid-19 masih banyak yang hanya menjadi komentator. Bahkan, ada lembaga 
think-tank yang masih membuat survei-survei.

Betul di era demokrasi semua orang berhak untuk bersuara. Kita juga tidak ingin 
menghalangi kebebasan berekspresi. Akan tetapi, sekarang ini negara membutuhkan 
bantuan semua warga untuk menyelamatkan bangsa dan negara ini dari ancaman 
covid-19.

Dengan hampir 3 juta penduduk dunia terpapar covid-19 dan lebih 200 ribu orang 
meninggal dunia, tidak ada satu pun negara siap menghadapi ancaman virus ini. 
Bahkan, sekarang ini dunia bukan lagi hanya harus dihadapkan pada krisis 
kesehatan, tetapi juga krisis ekonomi dan sosial yang ada di depan mata.

Daripada sekadar menyalahkan, lebih baik kita berbuat untuk menghindari krisis 
lebih buruk. Paling tidak kita membantu orang-orang di sekitar lingkungan rumah 
kita agar mereka tidak sampai mengalami kondisi lebih parah.

Kalau lebih banyak orang berusaha melakukan kebaikan, kita bisa terhindar dari 
kondisi lebih buruk. Kita pantas bersyukur kultur ‘keluarga besar atau extended 
family’ masih kuat pada bangsa kita. Tanpa melihat latar belakang, mereka mau 
menolong sesama.

Charities Aid Foundation menempatkan bangsa Indonesia sebagai bangsa paling 
ringan tangan membantu sesama. Sebanyak 53% orang Indonesia siap menjadi 
sukarelawan, 78% mau memberikan sumbangan uang, dan 46% mau menolong orang yang 
tidak dikenal sekalipun.

Bangsa Indonesia sama dengan bangsa Australia dalam hal kemurahan hati. Seorang 
warga negara Australia, Shane Preuss, dalam tulisannya di majalah The Diplomat 
menyebutkan sikap gotong royong yang melekat kuat pada bangsa Indonesia yang 
akan menjadi kunci bangsa ini keluar dari impitan covid-19. Kebersamaan itu 
sudah diperlihatkan dalam berbagai peristiwa yang harus dialami bangsa 
Indonesia.

Inilah yang seharusnya menjadi modal sosial bangsa ini untuk menghadapi setiap 
tantangan. Yang terpenting menjadi kesadaran kita, dalam kondisi seperti 
sekarang ini tidak pernah ada pilihan ideal. Kita harus sama-sama berupaya 
menemukan pilihan yang terbaik.

Kita pantas bersyukur bahwa dengan kekurangan yang masih dimiliki, jumlah 
penambahan orang terpapar covid-19 mulai menurun. Apabila kita mampu untuk 
selalu mengingatkan dalam menjaga disiplin diri ataupun disiplin kolektif, 
diharapkan kita bisa melewati wabah virus korona dan kembali menata kehidupan 
ini. Pilar kekuatan kita bukan ada pada sisi medis, melainkan pada sisi 
psikologis sebagai sebuah bangsa.
 





Kirim email ke