Politikus AS Yang Berupaya Menimpakan Tanggung Jawab
Masih Ingin Menyembunyikan Berapa Banyak Fakta Wabah ?
2020-04-30 13:18:35 *CRI*
Menurut laporan Los Angeles Times, laporan otopsi yang diumumkan
Santa Clara, Califonia, AS belakangan ini menunjukkan bahwa kasus
meninggal yang terinfeksi Covid-19 paling dini terjadi pada tanggal 6
Februari. Ini lebih awal 3 pekan lagi daripada waktu kasus meninggal
pertama yang diumumkan oleh CDC AS sebelumnya. Meskipun sejumlah
politikus AS mencoba menimpakan soal sumber virus kepada Tiongkok, namun
kasus meninggal paling dini di AS yang ditemukan kini tidak ada riwayat
wisata apa pun, dan dianggap terinfeksi virus di komunitas.
Semakin banyak bukti menunjukkan, waktu munculnya virus Covid-19
ditemukan di AS jauh lebih awal daripada waktu yang diumumkan pemerintah
AS, sementara itu semakin banyak bukti mengungkapkan banyak keraguan dan
masalah pemerintah AS dalam proses penanggulangan wabah.
Ada bukti menunjukkan, pemerintah AS sengaja menyembunyikan peringatan
dini wabah. Menurut New York Times, pada Januari tahun ini, Dokter AS
Helen Chu mengajukkan peringatan mengenai wabah di AS, dan menyerahkan
laporan pemeriksaan kepada badan pengawasan AS, namun dia disuruh
menutup mulutnya. Sampai akhir Februari tahun ini, Gedung Putih meminta
pula pejabat, badan kesehatan, pakar AS harus meminta izin dulu kepada
Kantor Wakil Presiden Pence sebelum mereka secara terbuka menyatakan
sikap mengenai wabah. Sementara itu, pada tahap awal wabah, di dalam
pemerintah AS terdapat banyak laporan peringatan dini resiko, namun
diabaikan oleh otoritas administrasi. Sikap yang menutup-nutupi ini
sulit dipahami.
Selain itu, AS yang selalu mengkhotbahkan transparansi informasi malah
bertindak sebaliknya. CDC AS menghentikan pengumuman data yang berkaitan
dengan jumlah tes dan korban tewas, dicela menyembunyikan wabah oleh
pengakses internet AS. Ketua Komite Intelijensi Senat AS, anggota Partai
Republik Richard Burr serta tiga senator lain dari akhir Januari sampai
pertengahan Februari sambil menjamin penanganan wabah oleh pemerintah
AS untuk mengelabui rakyat yang tidak tahu kenyataan, sambil menjual
saham yang dipegang mereka, mencari keuntungan dengan memanfaatkan info
wabah. Apa yang mereka tahu, mengapa mereka sama sekali tidak peduli
keselamatan jiwa rakyat?
Yang lebih membingungkan adalah, di satu pihak jumlah kasus terdiagnosa
dan kasus meninggal di AS terus bertambah, namun di satu pihak lain,
orang yang menganjurkan penanggulangan wabah terus ditekan. Misalnya
pakar perdana penyakit menular Anthony Fucci yang berkali-kali
meluruskan kesalahan pemimpin AS nyaris dicabut. Jadi mana kebebasan
opini, transparansi info yang dijunjungi AS? Apa yang ingin
disembunyikan untuk menekan kekuatan penanggulangan wabah di dalam
negeri AS?
Akan tetapi, segalanya sulit mengelabui ilmu pengetahuan. Menurut New
York Times, tes yang ditujukan pada warga New York menunjukkan, terdapat
satu per lima warga mempunyai antibody Covid-19, tingkat terjangkitnya
jauh lebih tinggi daripada Wuhan yang difitnah sebagai sumber virus oleh
sejumlah politikus AS, hal ini ternyata tidak sesuai dengan hukum
virologi. Sedangkan hasil tes antibody yang diumumkan oleh Universitas
Stanford pada tanggal 17 lalu menyatakan, jumlah sebenarnya yang
terinfeksi virus Covid-19 mungkin lebih tinggi 55 kali lipat daripada
data pihak resmi AS. Ini lebih lanjut mengungkapkan adanya kesalahan
besar di bidang data statistik AS.
Kini, jumlah terdiagnosa AS menerobos sejuta, dan situasi penanggulangan
wabah cukup kritis. Sejumlah politikus AS semaksimal mungkin menimpakan
tanggung jawab pada Tiongkok, maling teriak maling, bahkan mengambil
cara yang keji dengan menghentikan pembayaran iuran untuk memaksa WHO.
Perbuatan AS ini tidak bisa menutupi kesalahan dirinya sendiri, juga tak
bisa mengembalikan waktu yang hilang dan nyawa yang melayang. Politikus
AS dinasehati menempatkan nyawa rakyat di atas perhitungan politik,
secepatnya membetulkan kesalahan dalam penanggulangan wabah dan memberi
jawaban kepada rakyat AS dan komunitas internasional.