Bung Chan,
Waktu saya masih tinggal di Maarssen, suatu hari club table tennis Maarssen
lawan club lain. Dari club lain ada satu orang Tionghioanya, yang langsung
mendekati saya dan omong2. Beberapa tahun kemudian saya kaget, lho dia lagi
omong2 di hotel dengan suami nicht saya waktu reunie famili Djie di Xiamen.
Suami nicht saya heran kok saya kenal. Saya bilang pernah sekali ketemu
waktu pertandingan table-tennis. Karena orangnya tinggi sekali, saya mudah
ingat. Neef saya bilang, dulu temannya waktu di TH Delft, tetapi si tinggi
(saya lupa namanya) terkenal hebat matematikanya. Dia suka keliling
Tiongkok, banyak temannya jadi pejabat tinggi. Kemana-mana ada saja yang
menjamu. Mereka itu dulu anak2 yang agak kekurangan makan waktu jaman RBKP,
selalu diajak makan oleh dia di rumah orang tuanya. Ayahnya lulusan
Belanda, pegang jabatan penting di industri militer, dilindungi oleh TPR
dan Zhou Enlai, hidup berkecukupan di jaman RBKP.
Ada lagi cerita dari K. Ayahnya docent ekonomi di Uni Xiamen. Juga dikirim
ke desa. Ibunya kalau ditanya pengalamannya di desa, hanya tertawa-tawa
saja, bilang senang. Dia dapat tugas jaga sawah dari burung2. Oleh suaminya
dibikinkan beberapa orangan dilengkap kaleng2 hingga bersuara riuh, kalau
talinya ditarik. Burung2 yang kaget, jadi tidak datang lagi, jadi yang jaga
jadi nganggur, lihat pemandangan indah sekelilingnya, sampai siang hari ada
yang datang antari makanan. K sendiri ingin belajar di Hong Kong. Tetapi
ayahnya bilang, ah, masa begini ini tidak akan lama, sabar saja. K cerita
dia tujuh tahun tidak sekolah. Akhirnya dia ambil kursus2 dan bisa dapat
pekerjaan. Dia omong campur2 ya Belanda, ya Jawa ngoko, belajar dari orang
tuanya. Tidak berbahasa Indonesia. Waktu sudah pensiun dia jadi sukarelawan
Uni Xiamen dan perkumpulan Hua Chiao. Dia bantu urus reunie famili Djie di
Xiamen. Suaminya orang Xiamen, jadi bisa omong Hokkian dialect setempat.
Jadi tolk waktu di desa.
Neef saya bicara dalam bahasa Inggris. Diterjemahkan tante saya dalam
Mandarin. Tetapi ketua desa dan pengurus2nya tidak bisa Mandarin, hanya
yang muda2 bisa. Jadi dari Mandarin diterjemahkan lagi ke Hokkian dialect
setempat, yang beda dengan bahasa Hokkian di Jawa.
Yang saya herani, belakangan bisa kirim anaknya ke Amerika belajar Teknik
Kimia. Apa bertahun-tahun hidup ngirit, atau masih punya simpanan
peninggalan orang tuanya, anak orang kaya di Surabayanya?
Salam,
KH