Polemik TKA China






by Erizeli Jely Bandaro







Warga Negara Indonesia diminta disiplin untuk #dirumahaja saat PSBB. Dilarang 
mudik. Tidak boleh naik pesawat. Diancam penjara dan denda jutaan. Lha, kalau 
ini, bagaimana menjelaskannya Pak @jokowi?" tulis Tifatul. Demikian kicaun 
politisi dari PKS atas kedatangan TKA China, kicauan itu disambut juga oleh 
MUI. Saya ingin menanggapi, menurut Aspek procedural, ekonomi , dan politik.




Aspek Procedural.




Sesuai Peraturan Menteri Hukum dan HAM nomor 11 tahun 2020 pasal 3 ayat (1) 
huruf f dimana menyebut orang asing yang akan bekerja pada proyek strategis 
nasional tidak dilarang masuk Indonesia selama pandemi Covid-19. Tentu dengan 
harus mengikuti protokol PSBB. Mereka yang masuk itu harus mendapat sertifikat 
kesehatan dari negara asalnya dan harus mengikuti karantina di Indonesia, dan 
dinyatakan oleh swap test negatif. Secara procedur, semua itu dilalui oleh TKA 
asal China. Salahnya dimana?




Ekonomi.




Sebagaimana diketahui bahwa 500 tenaga kerja asing (TKA) asal China itu bekerja 
di perusahaan PT Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI), Kabupaten Konawe. 
Perusahaan ini merupakan perusahaan smelter terbesar di Indonesia. Kapasitas 
produksi smelter sebanyak 600.000 - 800.000 ton nickel pig iron per tahun 
dengan kadar nikel 10-12 persen. Karena keberadaan proyek ini pada tahun 2018 
produk domestik regional bruto (PDRB) Sulawesi tumbuh 6,65 persen. Pertumbuhan 
ini lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi RI 2018 yang sebesar 5,17 persen. Itu 
sebabnya proyek ini termasuk proyek strategis. Sangat strategis bagi Sulawesi 
dan tentu juga bagi Indonesia.




Politik.




Sebagimana diketahui bahwa hasil sampingan dari Nikel itu adalah logam tanah 
jarang (RRE) yang sangat diperlukan untuk industri baterai. Sekarang ada 
perebutan soal bahan baku, antara China, Eropa dan Amerika. Terutama dengan 
Jokowi melarang eksport mentah Nikel ke Eropa dan AS, dipastikan banyak 
industri baterai di Eropa dan AS yang gulung tikar. Sementara China, sudah 
komit untuk mendukung larangan ekspor bahan tambang nikel itu dengan melakukan 
relokasi pabrik baterai ke Sulawesi. Sementara Eropa dan AS mengajukan masalah 
larangan ekspor ini ke WTO.




Bagi oposisi keberadaan Industri nikel dan turunannya (downstream) sangat 
strategis bagi keungggulan daya saing ekonomi Indonesia di mata international 
danĀ  meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Dan ini membuat kekuatan politik Jokowi 
semakin kokoh. Ya tentu mereka tidak ingin secara politik Jokowi terus 
diuntungkan. Walau karena itu ekonomi bisa baik. Bagi oposisi yang penting 
posisi Jokowi terus melemah. Maka issue negatif sengaja ditiupkan agar China 
tidak nyaman invest di Indonesia dan kita kembali ke era Pak harto, yang hanya 
boleh menjual mentah ke AS dan Eropa tanpa ada hak mengolah sendiri.


Dikirim dari Yahoo Mail untuk iPhone

Kirim email ke