My Life My Way: Siauw Tiong Djin Oleh: Suhana Lim “Ko Djin,” begitulah sapaan yang saya selalu berikan untuk sosok bernama lengkap Siauw Tiong Djin. Sebagian besar yang mengenalnya, menyapanya dengan panggilan “Djin Siauw.” Warm personality, sincere, murah senyum dan sisipan humor disela-sela obrolan merupakan “trademarks” beliau. Siauw Tiong Djin adalah anak kandung dari tokoh politik dari era silam, Siauw Giok Tjhan. Diusia muda, sembilan tahun, Ko Djin sudah harus menyaksikan dan mengalami prahara politik di Indonesia. Sang ayah, Siauw Giok Tjhan, saat itu adalah salah satu pemimpin Indonesia berdarah Tionghoa yang cukup terkenal dan berpengaruh.
Sumbangsih politik Siauw Giok Tjhan di bidang politik dan ranah pemerintahan cukup besar, beliau juga merupakan salah satu pendiri dan pemimpin sebuah organisasi bernamakan Baperki (Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia), yang merupakan organisasi / wadah bagi etnis Tionghoa terbesar di Indonesia pada jaman itu. Hal ini pula yang dibelakang hari menjadi salah satu alasan dan faktor penangkapan Siauw Giok Tjhan, pada November 1965; beliau kemudian dipenjara selama dua belas tahun. Ko Djin adalah salah seorang tokoh senior di Melbourne; bagi Melbournian asal Indonesia, terutama yang sudah lama menetap, most likely nama Ko Djin atau Djin Siauw sudah tak asing lagi. Sebagian menjulukinya sebagai “Lurah” nya orang-orang Indonesia. Pria kelahiran tahun 1956 tersebut adalah seorang pebisnis handal yang sukses di bidang IT dan teknologi dan juga seorang pecinta kuliner. Tak aneh kalau Ko Djin juga seorang pengusaha restoran. Ko Djin menyandang titel PhD dari Monash University dalam bidang political science, juga punya gelar Master of Engineering dan Master of Business Administration. Berikut ini adalah cuplikan dari “kongkow-kongkow” dengan Ko Djin pada hari ini 08 Mei 2020: Suhana Lim (SL): Apa pandangan Ko Djin mengenai melek politik di Indonesia sekarang? terutama pada generasi muda-muda etnis Tionghoa. Dan apa harapan Ko Djin terhadap generasi penerus dalam konteks tadi? Karena seperti yang sudah kita ketahui bersama, setelah yang terjadi dengan Ahok, maka semangat untuk ke politik di kalangan generasi muda Tionghoa seakan mendapat "guyuran air dingin." Makin menguatkan dan mengkonfirmasi padangan bahwa sebagai etnis Tionghoa tidak usah terjun atau ikut-ikutan ke politik, tetap tidak ada gunanya! Djin Siauw: Masalah melek politik adalah masalah umum, bukan hanya terjadi di kalangan Tionghoa saja. Generasi muda dari berbagai suku maupun ras pada umumnya kurang tertarik atas masalah politik. Memang kesadaran politik itu penting, karena kehidupan dan bagaimana sebuah komunitas berada di dalam lingkungannya, sangat tergantung atas politik, yang mencakup kebijakan pemerintah, respons masyarakat terhadapnya dan dampak-dampak kebijakan dan respons tersebut terhadap komunitas tersebut. Kebijakan rasis harus disambut dengan sikap yang membangun (konstruktif) dengan jalan keluar, dengan sikap yang mendidik, dengan menunjukkan bahwa berbagai tuduhan atau alasan rasis itu tidak benar. Pengalaman yang terjadi pada A Hok sebenarnya menunjukkan bahwa kesetiaan terhadap negara dan bangsa, kemampuan untuk berbakti dan sumbangsih terhadap kemakmuran rakyat terbanyak sama sekali tidak berkaitan dengan latar belakang ras, suku, agama dan aliran politik seseorang. Yang menjadi ukuran adalah apa yang orang tersebut lakukan dan sumbangkan untuk bangsanya SL: Apa pandangan dan pendapat Ko Djin mengenai budaya Tionghoa pada umumnya dan budaya Peranakan Tionghoa pada khususnya di generasi muda Tionghoa? Djin Siauw: Kebudayaan Tionghoa yang sudah berkembang di Indonesia secara bergenerasi sebenarnya merupakan bagian dari kebudayaan Indonesia. Pemerintah di negara-negara maju kini mererapkan kebijakan yang disebut multikulturalisme, yaitu menerima semua kebudayaan yang berkembang di negara-negara tersebut sebagai bagian indah kebudayaan mereka. Tidak ada yang dilarang, tidak ada yang dihina; bahkan penghinaannya merupakan tindakan di luar hukum yang akan mendapatkan konsekuensi. SL: Apa pandangan dan komentar Ko Djin terhadap pihak-pihak yang mengatakan bahwa sekarang jaman sudah modern, batas wilayah antara negara sudah tidak ada karena kemajuan teknologi; jadi tidak perlu atau tak usah pusingin soal tradisi / budaya leluhur kita sendiri? Djin Siauw: Dalam banyak hal pengertian hilangnya batas negara, batas wilayah, bahkan perbedaan ras sudah tidak lagi berperan karena adanya globalisasi dan teknologi modern. Jadi setiap orang bisa bersikap sebagai seorang Global Citizen. Ini masuk diakal. Asal ini dijadikan pendapat yang yang diterima oleh semuanya, bisa saja. Di Indonesia ternyata ada semacam arus yang malah ingin kembali ke zaman penjajahan kolinial Belanda yang mengotak masyarakat dalam kategori Pribumi dan non Pribumi. Dan dengan dalih ini orang yang mendukung arus ini menyatakan bahwa Tionghoa, yang non pribumi, tidak setia Indonesia, penghianatat bangsa, perampok ekonomi, sehingga harus diganyang, atau kalau bisa dienyahkan dari Indonesia. Padahal Bangsa Indonesia tidak mengenal apa yang namanya pribumi dan non pribumi. Indonesia adalah bangsa yang terdiri dari berbagai suku, termasuk suku Tionghoa. SL: Kalau sekiranya tidak keberatan, boleh cerita singkat mengenai silsilah keluarga Ko Djin? Dari generasi-generasi pendahulu (kakek, nenek, ayah, ibu, dan sebelum-sebelumnya), siapa yang paling memberikan kesan bagi diri Ko Djin; kalau ada, siapa? dan memberi pengaruh atau kesan dalam bentuk apa? Atau ada kesan-kesan yang berkesan dengan mereka yang Ko Djin masih ingat sampai sekarang? Djin Siauw: Saya sendiri kurang jelas tentang silsilah keluarga. yang jelas, dari pihak ayah, paling sedikit saya ini adalah generasi ke empat di Indonesia. Dan keluarga kami merupakan peranakan Tionghoa, jadi sudah terjadi kawin campuran antara pendatang Tionghoa dan perempuan yang lahir dan besar di Indonesia. Ayah nenek saya, dari pihak ibu bisa dikatakan totok, karena lahir di Tiongkok. Ayah saya, Siauw Giok Tjhan merasakan hidup di dalam keluarga yang menjalankan adat istiadat Tionghoa totok dan Tionghoa peranakan. Saya sendiri sudah hampir sepenuhnya besar dalam tradisi Tionghoa peranakan, artinya tidak menggunakan bahasa Mandari untuk berkomunikasi, lebih sering makan masakan-masakan Jawa Timur dan Jawa Tengah. Pengaruh terbesar datang dari ayah sebagai seorang politikus Tionghoa, sebagai ketua umum Baperki (Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia), yang melawan rasisme dengan cara-cara konstruktif, yakni “menyambut” rasisme dalam bidang pendidikan dengan membanguan institusi pendidikan swasta yang terbesar di zamannya - dari TK hingga universitas; rasisme dalam posisi hukum disambut dengan perjuangan di parlemen untuk adanya UU kewarganegaraan Indonesia yang memungkinkan sebanyak mungkin Tionghoa di Indonesia menjadi WNI; rasisme dalam bidang dagang disambut dengan berbagai formulasi ekonomi yang memungkinkan modal domestik para pedagang Tionghoa dijadikan landasan pembangunan ekonomi nasional. SL: Again, jika sekiranya ko Djin tidak keberatan, boleh info mengenai keluarga bapak; anak berapa cucu berapa ? Djin Siauw: Saya ada empat anak dan tiga cucu. Semua tinggal di Australia dan sudah menjalin kehidupan di bidang masing-masing. Kami ada 3 cucu laki. SL: Selama puluhan tahun malang melintang di kehidupan; manusia jenis apa yang paling Ko Djin tidak suka atau Ko sebaiknya hindari? Orang model apa yang paling Ko salut atau hormati? Djin Siauw: Yang paling saya hormati dan hargai adalah orang-orang yang tidak pernah menyerah dalam menghadapi kesulitan. Orang-orang yang selalu menganggap kesulitan sebagai tantangan hidup. Orang-orang yang ingin memberi sumbangan sebesar mungkin ke masyarakatnya. Yang paling saya tidak sukai adalah orang-orang yang selalu bertindak untuk diri sendiri dan bersedia mengorbankan sanak keluarga, teman dan masyarakat untuk kepentingan dirinya sendiri. SL: Kalau sekiranya ada, apa motto atau slogan hidup yang Ko Djin pegang? Djin Siauw: Slogan hidup yang baik saya kira adalah: “selalu belajar dari pengalaman hidup, berbagi pengalaman dan menjadi orang yang berguna untuk masyarakatnya.” SL: Sebagai pesan dan atau nasehat bagi para pembaca; dalam mejalani hidup apa yang penting atau terpenting dari seorang manusia? Djin Siauw: Untuk generasi muda: “carilah pengalaman hidup dan profesi yang bisa dijadikan alat ampuh dalam menghadapi berbagai kesulitan di berbagai zaman. Lonceng tidak bisa diputar, oleh karenannya jangan menghabisakn waktu yang bisa digunakan untuk membekali hidup demi diri sendiri, keluarga dan masyarakat.” SL: Menurut seorang "Locianpwee" Djin Siauw, “bahagia” itu apa? “Sedih” itu apa? Djin Siauw: Bagi saya kebahagiaan itu sinonim dengan kebebasan dalam arti sesungguhnya. Bebas melakukan apa yang kita inginkan. Bebas menjadi orang yang disukai orang. Bebas dan lepas dari berbagai beban hidup, perasaan dan kebencian. Kesedihan itu erat kaitannya dengan penyesalan dan tidak adanya kemampuan untuk mengontrol sikon yang mempengaruhi kehidupan kita. Suhana, semoga jawaban-jawaban diatas memenuhi permintaan. Salam Hangat dan banyak terima kasih. SL: Xiexie nin Ko Djin. Sehat sejahtera selalu. Salam untuk Ci Leoni. PS: Salah satu cara untuk menambah positif kehidupan ialah dengan meminimalkan kekeliruan, kesalahan keputusan, pilihan dan tindakan. Salah satu cara buat meminimalkan ialah dengan “belajar” dari orang lain punya kekeliruan dan atau kesalahan. Dengan menyimak perjalanan hidup dan wawasan dari individu-individu positif, berprestasi di bidangnya masing-masing, berhasil, sukses, maka kita dapat mendapatkan inspirasi dan pelajaran, yang bukan tak mungkin bisa kita tiru dan aplikasikan dalam kehidupan. “When you see a good person, think of becoming like her/him. When you see someone not so good, reflect on your own weak points.” – Confucius.
