Friday, May 8, 2020
https://jelitar.blogspot.com/2020/05/logam-tanah-jarang.html
Logam Tanah Jarang
<https://1.bp.blogspot.com/-MjzLG_NGE48/XrXX3THVjwI/AAAAAAAAQfU/KkUZyQa04HYWMAOutQIiD5L2kgxvynhewCNcBGAsYHQ/s1600/rr.png>
Anda mungkin bertanya tanya, mengapa China yang idiologi komunis bisa
menjadi kapitalis dan menarik begitu banyak investor. Bahkan semua
perusahaan industri yang terdaftar dalam 500 fortune pasti punya pabrik
di China. Dari industri pesawat terbang seperti Boeing punya manufaktur
nya di China. 90% produksi Iphone diproduksi di China. Semua produksi
merek Samsung, LG Korea, diproduksi di China. GE raksasa bidang industri
hight tech dan electro ada di China. Semua produk merek Jepang
diproduksi di China. Kehadiran mereka di China sangat cepat sekali.
Hanya 20 tahun mereka sudah menjadi mesin pertumbuhan ekonomi China.
Dari kehadiran mereka lahirlah jutaan supply chain yang merupakan
perusahaan lokal dengan melibat ratusan juta angkatan kerja. Mengapa?
hanya satu jawabannya, yaitu China punya bahan baku Rare earth (REE)
atau logam Tanah Jarang (LTJ).
Sebelum saya bahas lebih lanjut soal geostrategis Rare Earth Element (
REE ) atau Logam tanah jarang ( LTJ), kita pahami dulu apa itu LTJ. LTJ
merupakan bahan mineral yang mengandung tujuh belas unsur kimia, yang
terdiri dari Skandium , itrium dan 15 unsur lantanida (lantanum, serium,
praseodimium, neodimium, promethium, samarium, europium, gadolinium,
terbium, disprosium, holmium, erbium, thulium, ytterbium, dan lutetium).
Skandium ditemukan di sebagian besar deposit unsur tanah jarang dan
kadang-kadang diklasifikasikan sebagai unsur tanah jarang. Unsur tanah
jarang sering disebut sebagai "logam tanah jarang." Logam-logam ini
memiliki banyak sifat yang serupa, dan yang sering ditemukan bersama
dalam deposit geologis. Makanya juga disebut sebagai "oksida tanah langka”
Apa manfaat dari REE ? Hampir keseharian kita tidak bisa dipisahkan dari
alat yang dihasilkan karena adanya material RRE. Seperti memori
komputer, DVD, baterai isi ulang, ponsel, catalytic converter, magnet,
lampu neon dan banyak lagi. Apalagi baterai isi ulang sangat dibutuhkan
oleh industri perangkat elektronik portabel seperti ponsel, layar
monitor sentuh, komputer portabel, dan kamera. Sejak mewabahnya
kendaraan listrik di negara maju sebagai dampak revolusi energi hijau,
kebutuhan akan RRE semakin besar. Karena baterai kendaraan membutuhkan
bahan baku REE. Kendaraan listrik dalam jangka menengah akan mengalahkan
kendaraan BBM fusil.
Dalam suatu seminar di Luar negeri tahun 2013, saya mendapat wawasan
tentang akan terjadi perubahan geopolitik dari minyak ke logam tanah
jarang ( Rare earth). Yang membuat saya terkejut dari seminar itu adalah
pembicara mengulas kejayaan bangsa yang pernah berkuasa di dunia ini.
Pertama adalah bangsa persia. Kedua, adalah bangsa Mongol, dan ketiga
adalah Indonesia. Nah karena disebut nama Indonesia, inilah yang
membuat saya terkejut, dan akhirnya membuat saya semangat menyimak
seminar ini sampai akhir. Semua tahu bahwa bangsa persia pernah menjadi
negara super power di masanya. Mongol juga pernah menguasai lebih
setengah bumi ini. Indonesia di masa Majapahit pernah berkuasa sampai ke
Vietnam
Dalam konteks geopolitik, pembicara mengulas tentang resource Logam
Tanah Jarang yang ada di dunia. Pertama adalah China, dimana
penambangan terbesar di wilayah Mongol. Kedua, adalah Iran dan Ketiga
Indonesia, yang belum diolah. Namun hanya masalah waktu Iran dan
Indonesia akan tampil sebagai produsen Logam Tanah Jarang terbesar di
dunia. Di saat itu , Iran dan Indonesia akan menghadapi masalah
geopolitik dalam konstelasi global yang menginginkan penguasaan sumber
daya dari logam Tanah Jarang. Pemain utama yang berebut sumberdaya itu
adalah AS dan China, yang keduanya rakus akan logam tanah jarang.
Sebelumnya sekian decade, geostrategi dan geopolitik berputar putar
sekitar perebutan sumber daya oil and Gas , hanya masalah waktu bandul
geopolitik akan bergerak ke logam tanah Jarang. Mengapa? karakusan akan
oil and gas dulu, akan sama rakusnya terhadap logam tanah jarang di
masa akan datang. Memang setelah tahun 2013, permintaan minyak menurun,
harga semakin turun. itu sejak berkembangnya tekhnologi shale gas.
Karenanya konflik regional mereda tidak seperti era booming minyak.
Namun perseteruan akan kembali mewarnai geopolitik setelah permintaan
akan logam tanah jarang semakin meningkat sebagai energi alternatif.
Artinya siapa yang menguasai sumber daya RRE atau LTJ, maka dialah
penguasa dunia.
*Iran*
Tahun 2016, saya mendapat informasi dari teman di Beijing bahwa mereka
mendapat konsesi tambang Mineral di Iran. Ternyata hasil survey geologis
membuktikan seperti apa yang saya dengar pada seminar tahun 2013 itu.
Bahwa ternyata Iran mengandung deposit Logam Tanah jarang sangat
raksasa. Eksplorasi pertama kali mengidentifikasi Zona Mineral Sangan
yang terletak di barat laut Provinsi Khorasan Razavi. Cadangan
substansial unsur tanah jarang, ditemukan di zona 12.000 kilometer
persegi. "Mereka adalah negara yang sangat kaya akan mineral. Ini jauh
lebih besar dari sumber daya Migas” kata teman saya.
Iran meluncurkan ingot tanah jarang pertamanya, dengan kemurnian 99%,
yang disebut Mischmetal. Ingot, hasil penelitian selama enam bulan oleh
Pusat Penelitian Pengolahan Mineral Iran, terdiri dari empat unsur tanah
jarang, termasuk serium, lantanum, neodimium, dan itrium, yang semuanya
diekstraksi dari tambang di Iran Tengah. Apa itu Mischmetal? itu sangat
dibutuhkan sebagai bahan baku pembuatan tabung hampa udara, baterai yang
mengandalkan teknologi hidrida logam. Dalam industri logam, ini sebagai
sumber pemicu terjadinya percikan api untuk memulai pembakaran dan nyala
api, serta untuk meningkatkan kemampuan cetakan dan sifat-sifat mekanis
pada campuran metal.
Iran sejak tiga tahun lalu serius mempelajari metode ekstraksi dan
eksploitasi vanadium, galium, nikel, kadmium, dan tungsten dan akan
segera memulai produksi ingot dan paduan tanah jarang ini. Mungkin tahun
ini akan mulai produksi. Hebatnya walau Iran di Embargo ekonominya,
namun kerjasama penambangan dan pengolahan bukan hanya datang dari China
(Sinosteel) yang jelas partner Iran tetapi juga dari berbagai negara
seperti Jerman, Denmark, Italia, Australia, dan Jepang. Namun yang
terbesar tetaplah China dan AS tidak dapat kesempatan sama sekali
memanfaatkan SDA LTJ. Puluhan miliar dolar dibenamkan dalam industri
pengolahan Logam Tanah Jarang.
*China*
Sekitar 30 tahun lalu, Pemerintah China telah memutuskan untuk
menjadikan logam tanah jarang bahan baku strategis dan melarang pihak
asing menambangnya. Penambangan logam tanah jarang pertama kali di
wilayang Mongolia, dan kemudian meluas sampai ke Xinjiang yang sangat
besar deposit logam tanah jarang. Walau begitu Cina hanya memiliki
sekitar 30% cadangan global dari tanah jarang.
Namun China memproduksi ekstrak tanah jarang mencapai 70% produksi
dunia. Sebagian bahan tambang logam tanah jarang didapat dari tambang
yang mereka miliki di Amerika Utara, Australia, Asia Tenggara, Asia
Tengah, dan Afrika Sub-Sahara, yang dikapalkan ke China untuk diolah.
China menguasai 90 pasar ekstrak logam tanah jarang dunia. Tahun ini
China tengah meningkatkan kuota penambangan tahunan untuk logam tanah
jarang menjadi 132.000 ton atau 10 persen di atas rekor tertinggi pada
tahun lalu.
*Indonesia.*
Indonesia memiliki potensi mineral Logam Tanah Jarang (LTJ) mencapai 1,5
miliar ton. Namun, mineral LTJ tersebut belum dimanfaatkan optimal
sebagai barang strategis untuk mendukung kegiatan industri dalam negeri
maupun menjadi komoditas ekspor. Survey yang dilakukan Badan Geologi,
ada 29 lokasi yang berpotensi mengandung logam tanah jarang. Lokasi
tersebut di wilayah Riau, Kepulauan Bangka Belitung, Sumatera Utara,
Pulau Bintan Riau, Kepulauan Anambas Riau, Kalimantan Barat, Sumatera
Selatan, Jawa Barat, Jawa Tengah, Kalimantan Tengah, Sulawesi Tenggara,
Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Barat.
Inalum mulai tahun 2019 menggandeng BATAN untuk melakukan studi pengolah
LTJ tersebut. Dan rencananya tahun depan Pt. Inalum akan membangun
industri logam Tanah Jarang yang rencananya akan bermitra dengan China.
*Masalah geopolitik *
Dunia tidak bisa mengandalkanChina
<https://www.statista.com/statistics/268011/top-countries-in-rare-earth-mine-production/>untuk
menjamin pasokan akan LTJ. Kalau dibiarkan maka China akan jadi diktator
Industri dan mengontrol dunia. Mengapa ? karena kebutuhan industri hilir
akan LTJ di China sangat besar. Cina telah mendominasi produksi logam
tanah jarang sejak 1990-an, sebagian besar didorong oleh dua faktor:
harga rendah dan investasi yang didukung negara dalam infrastruktur dan
teknologi. Pada tahun 2000-an, Cina hampir sepenuhnya menguasai produksi
tanah jarang. Dominasi ini tidak dicapai hanya dengan harga. China juga
menggunakan kebijakan industri yang dimulai pada 1980-an untuk
mengembangkan keahlian dalam ekstraksi, pemisahan, dan penyempurnaan
dari tanah jarang.
Kebijakan industri Cina sebenarnya mencerminkan pendekatan A.S. pada
1950-an dan 1960-an, ketika Laboratorium Ames dan Pusat Informasi
Rare-earth (RIC) menggunakan investasi negara untuk mendukung upaya
sektor swasta. Sementara dukungan negara menurun dengan cepat di Amerika
Serikat (RIC hilang pada tahun 2002), lembaga-lembaga Cina masih terus
menguat. Setelah Cina mendominasi produksi, mereka menggunakan harga
diferensial untuk memberi keuntungan bagi produsen hilir domestik
dibandingkan ekspor. Harga domestik yang lebih murah, serta ketersediaan
SDM keahlian , menjadi magnit menarik investor asing ke Cina membangun
industri hilir. Semua industri elektronik raksasa Jepang, Korea, AS,
Eropa mendirikan pabrik di China.
China sebagian besar mengendalikan harga, menjaga harga tetap rendah dan
membuatnya sulit untuk disaingi. Sudah banyak perusahaan tambang LTJ
yang bangkrut akibat ulah China. Seperti contoh, Perusahaan A.S.
Molycorp menguasai tambang California Mountain Pass. Molycorp harus
mengajukan kebangkrutan ketika harga jatuh. Perusahaan yang berbasis di
Kanada yang sekarang memiliki aset sebagian besar telah memindahkan R&D
dan proses pemisahan dan penyempurnaan dari Mountain Pass ke Cina.
Begitu cara China menyedot penambang membangun pengolahan LTJ di China.
Jepang, dan Austalia berusaha untuk membuka tambang baru. Sebagai
antisipasi kalau China mengembargo LTJ. Tapi membuka tambang baru juga
memakan waktu dan penuh risiko. Dari tiga belas konsesi tambang di
Afrika, misalnya, hanya dua yang berproduksi, tiga telah gagal, dan
delapan lainnya masih dalam tahap sangat awal. Jepang menemukan sumber
daya mineral LTJ di dasar laut. Tetapi penambangannya akan sangat mahal
dan beresiko. Tapi AS dan Australia terus berupaya mendapatkan pasokan
LTJ dari luar China. Pertemuan antara pejabat Pemerintah AS dan
Australia telah meresmikan kemitraan yang dimaksudkan untuk meningkatkan
pasokan logam tanah jarang dan mineral penting lainnya dari luar China.
Dephan AS dan Badan Logistik Pertahanan, telah meminta kepada Lynas Corp
yang berbasis di Malaysia untuk menambah kapasitasnya di Texas. Lynas
Corp memiliki tambang di Australia dan pengolahan di Malaysia Timur.
Menteri Sumber Daya Australia Matt Canavan menyampaikan lembaga keuangan
ekspor di AS dan Australia akan mempertimbangkan langkah-langkah baru
untuk membantu mempercepat proyek-proyek tambang LTJ. Yang jelas negara
besar di dunia, mulai dari Greenland hingga India, juga telah berupaya
mendapatkan sumber pasokan di luar China. Kini pesaing utama China yang
memproduksi 30% LTJ dunia adalah Lynas.
Selain China, kekuatan tersembunyi sumber daya LTJ itu adalah Indonesia
dan Iran. Kedua negara ini sudah mulai membuka pintu untuk penambangan
LTJ. Namun baik Iran maupun Indonesia telah mengeluarkan UU yang
mengharuskan pengolahan semua sumber daya mineral dilakukan di dalam
negeri sebelum di ekspor. Umumnya, unsur tanah jarang dijumpai di
mineral ikutan, seperti bastnaesit, monasit, xenotim, apatit, dan
zirkon. Pada konsentrat nikel, timah, emas, almunium unsur tanah jarang
banyak terdapat. Dengan melarang ekspor konsentrat, itu artinya sumber
bahan baku ikutan berupa LTJ tidak bisa lagi didapat oleh smelter yang
ada di luar negeri.
Dengan demikian, semua industri pengolahan mineral di luar negeri yang
membutuhkan bahan baku untuk indusri hilirnya harus membangun smetel di
Indonesia. Yang paling agresif melakukan kerjasama pembangunan smelter
tambang mineral di Indonesia adalah China. Di sinilah terjadi
pertarungan lobi politik tingkat tinggi antara dua kekuatan, yaitu AS
dan China ( bersama sekutunya Eropa dan Australia) untuk mendapatkan
pengaruh di Indonesia. AS dan Eropa termasuk Jepang, jelas tidak ingin
membangun smelter di Indonesia karena mereka ingin menghidupkan industri
dalam negerinya. Sementara Jokowi tetap bersikeras. Stop.
Protes Eropa ( tentu di belakangnya AS) terhadap larangan ekspor bahan
mentah mineral oleh Indonesia adalah bukti bahwa AS sedang menekan
Indonesia. Mengapa? AS dan sekutunya tentu tidak mau tergantung dengan
China akan kebutuhan LTJ. Kalau AS tidak menguasai sumber daya LTJ
selain Chian, tentu sangat beresiko bagi masa depan industrinya.
Karenanya setelah Jokowi dilantik sebagai presiden tensi politik
memanas, khususnya sentimen anti China meluas. China tidak mau tinggal
diam. China menawarkan dukungan financial kepada pemerintah Jokowi untuk
pembangunan infrastruktur di luar jawa , dan berjanji akan mengembangkan
indusri hilir tambang mineral untuk mengurangi defisit neraca
perdagangan Indonesia.
Dan AS tidak menjanjikan apa apa kecuali mengancam Jokowi melalui
kekuatan proxy nya di dalam negeri. Mengapa AS menolak kebijakan
larangan ekspor bahan mentah tambang? AS sudah punya pusat industri
pengolah LTJ di Malaysia dan Eropa. AS berharap bahan baku tambang LTJ
dikirim ke Malaysia dan Eropa. Dan kemudian dieskpor ke AS. Ini memang
batu sandungan bagi bangkitnya industri hilir tambang di Indonesia,
khususnya LTJ. Iran agak beruntung. Karena proxy AS di Iran sejak
pembunuhan Qasem Soleimani menjadi alasan bagi intel Qud untuk
menangkapi mereka. Sehingga program Iran menjadi kekuatan baru di masa
depan berkat sumberdaya LTJ tidak mengalami kendala serius dari dalam
negeri. Namun hambatan serius datang dari luar. Tahun ini AS mulai head
to head dengan Iran. Ketegangan baru terjadi di Iran dengan terbunuhnya
Qasem Soleimani. AS sudah mengirim Armada kapal Induk dan 1500 marinir.
Perang terbuka mungkin saja terjadi...
*Kesimpulan.*
AS dan Barat harus menyadari politik hegemoni melalui kekerasan dan
embargo sudah bukan jamannya. Kini saatnya/collaborate/, dan/synergy/.
Sebagaiman China, Barat dan AS harus mau merelokasi industrinya ke
Indonesia dan Iran agar terjadi keseimbangan dengan China. Pada waktu
bersamaan China harus mengubah sifat ingin mengontrol industri hilir
dengan mematikan pesaing di hulu. Kalau itu terjadi , maka kejayaan
bangsa Mongol, Persia, Majapahit, akan mengulang sejarah dunia di era
modern, tetapi dengan cara cara yang egaliter dan penuh cinta. Sudah
saatnya kita semua sebagai bagian dari penduduk dunia mengutamakan cinta
dalam membangun, dan bersaing secara sehat.
Bagi Indonesia, semoga faktor geopolitik ini disadari oleh semua anak
bangsa agar tetap bersatu. Jangan sampai kita diadu domba yang pada
akhirnya pihak asing yang untung. Yang penting, pengalaman era kejayaan
MIGAS di era Soeharto di bawah aneksasi AS ( Barat dan sekutunya) yang
memaksa kita hanya menjual minyak mentah tanpa kemandirian dibidang
kilang BBM, jangan terulang lagi. Kedepan kita harus belajar dari
kesalahan masa lalu dan focus kepada nilai tambah dan kedaulatan
terhadap SDA untuk kepentingan rakyat banyak. Karenanya industri
pengolahan LTJ adalah mutlak dilakukan di dalam negeri dan termasuk
industri hilirnya. Siapapun jadi presiden setelah Jokowi , platform ini
harus jadi pijakan.
Posted byErizeli
Bandaro<https://www.blogger.com/profile/01925231835467388002>at2:42 PM
<https://jelitar.blogspot.com/2020/05/logam-tanah-jarang.html>
-------- 轉寄郵件 --------
主旨: [GELORA45] Logam Tanah Jarang
日期: Sun, 10 May 2020 04:12:30 +0000 (UTC)
從: Al Faqir Ilmi [email protected] [GELORA45]
<[email protected]>
回函地址: [email protected], Al Faqir Ilmi <[email protected]>
Logam Tanah Jarang
<https://1.bp.blogspot.com/-MjzLG_NGE48/XrXX3THVjwI/AAAAAAAAQfU/KkUZyQa04HYWMAOutQIiD5L2kgxvynhewCNcBGAsYHQ/s1600/rr.png>
Anda mungkin bertanya tanya, mengapa China yang idiologi komunis bisa
menjadi kapitalis dan menarik begitu banyak investor. Bahkan semua
perusahaan industri yang terdaftar dalam 500 fortune pasti punya pabrik
di China. Dari industri pesawat terbang seperti Boeing punya manufaktur
nya di China. 90% produksi Iphone diproduksi di China. Semua produksi
merek Samsung, LG Korea, diproduksi di China. GE raksasa bidang industri
hight tech dan electro ada di China. Semua produk merek Jepang
diproduksi di China. Kehadiran mereka di China sangat cepat sekali.
Hanya 20 tahun mereka sudah menjadi mesin pertumbuhan ekonomi China.
Dari kehadiran mereka lahirlah jutaan supply chain yang merupakan
perusahaan lokal dengan melibat ratusan juta angkatan kerja. Mengapa?
hanya satu jawabannya, yaitu China punya bahan baku Rare earth (REE)
atau logam Tanah Jarang (LTJ).
Sebelum saya bahas lebih lanjut soal geostrategis Rare Earth Element (
REE ) atau Logam tanah jarang ( LTJ), kita pahami dulu apa itu LTJ. LTJ
merupakan bahan mineral yang mengandung tujuh belas unsur kimia, yang
terdiri dari Skandium , itrium dan 15 unsur lantanida (lantanum, serium,
praseodimium, neodimium, promethium, samarium, europium, gadolinium,
terbium, disprosium, holmium, erbium, thulium, ytterbium, dan lutetium).
Skandium ditemukan di sebagian besar deposit unsur tanah jarang dan
kadang-kadang diklasifikasikan sebagai unsur tanah jarang. Unsur tanah
jarang sering disebut sebagai "logam tanah jarang." Logam-logam ini
memiliki banyak sifat yang serupa, dan yang sering ditemukan bersama
dalam deposit geologis. Makanya juga disebut sebagai "oksida tanah langka”
Apa manfaat dari REE ? Hampir keseharian kita tidak bisa dipisahkan dari
alat yang dihasilkan karena adanya material RRE. Seperti memori
komputer, DVD, baterai isi ulang, ponsel, catalytic converter, magnet,
lampu neon dan banyak lagi. Apalagi baterai isi ulang sangat dibutuhkan
oleh industri perangkat elektronik portabel seperti ponsel, layar
monitor sentuh, komputer portabel, dan kamera. Sejak mewabahnya
kendaraan listrik di negara maju sebagai dampak revolusi energi hijau,
kebutuhan akan RRE semakin besar. Karena baterai kendaraan membutuhkan
bahan baku REE. Kendaraan listrik dalam jangka menengah akan mengalahkan
kendaraan BBM fusil.
Dalam suatu seminar di Luar negeri tahun 2013, saya mendapat wawasan
tentang akan terjadi perubahan geopolitik dari minyak ke logam tanah
jarang ( Rare earth). Yang membuat saya terkejut dari seminar itu adalah
pembicara mengulas kejayaan bangsa yang pernah berkuasa di dunia ini.
Pertama adalah bangsa persia. Kedua, adalah bangsa Mongol, dan ketiga
adalah Indonesia. Nah karena disebut nama Indonesia, inilah yang
membuat saya terkejut, dan akhirnya membuat saya semangat menyimak
seminar ini sampai akhir. Semua tahu bahwa bangsa persia pernah menjadi
negara super power di masanya. Mongol juga pernah menguasai lebih
setengah bumi ini. Indonesia di masa Majapahit pernah berkuasa sampai ke
Vietnam
Dalam konteks geopolitik, pembicara mengulas tentang resource Logam
Tanah Jarang yang ada di dunia. Pertama adalah China, dimana penambangan
terbesar di wilayah Mongol. Kedua, adalah Iran dan Ketiga Indonesia,
yang belum diolah. Namun hanya masalah waktu Iran dan Indonesia akan
tampil sebagai produsen Logam Tanah Jarang terbesar di dunia. Di saat
itu , Iran dan Indonesia akan menghadapi masalah geopolitik dalam
konstelasi global yang menginginkan penguasaan sumber daya dari logam
Tanah Jarang. Pemain utama yang berebut sumberdaya itu adalah AS dan
China, yang keduanya rakus akan logam tanah jarang.
Sebelumnya sekian decade, geostrategi dan geopolitik berputar putar
sekitar perebutan sumber daya oil and Gas , hanya masalah waktu bandul
geopolitik akan bergerak ke logam tanah Jarang. Mengapa? karakusan akan
oil and gas dulu, akan sama rakusnya terhadap logam tanah jarang di
masa akan datang. Memang setelah tahun 2013, permintaan minyak menurun,
harga semakin turun. itu sejak berkembangnya tekhnologi shale gas.
Karenanya konflik regional mereda tidak seperti era booming minyak.
Namun perseteruan akan kembali mewarnai geopolitik setelah permintaan
akan logam tanah jarang semakin meningkat sebagai energi alternatif.
Artinya siapa yang menguasai sumber daya RRE atau LTJ, maka dialah
penguasa dunia.
*Iran*
*
*
Tahun 2016, saya mendapat informasi dari teman di Beijing bahwa mereka
mendapat konsesi tambang Mineral di Iran. Ternyata hasil survey geologis
membuktikan seperti apa yang saya dengar pada seminar tahun 2013 itu.
Bahwa ternyata Iran mengandung deposit Logam Tanah jarang sangat
raksasa. Eksplorasi pertama kali mengidentifikasi Zona Mineral Sangan
yang terletak di barat laut Provinsi Khorasan Razavi. Cadangan
substansial unsur tanah jarang, ditemukan di zona 12.000 kilometer
persegi. "Mereka adalah negara yang sangat kaya akan mineral. Ini jauh
lebih besar dari sumber daya Migas” kata teman saya.
Iran meluncurkan ingot tanah jarang pertamanya, dengan kemurnian 99%,
yang disebut Mischmetal. Ingot, hasil penelitian selama enam bulan oleh
Pusat Penelitian Pengolahan Mineral Iran, terdiri dari empat unsur tanah
jarang, termasuk serium, lantanum, neodimium, dan itrium, yang semuanya
diekstraksi dari tambang di Iran Tengah. Apa itu Mischmetal? itu sangat
dibutuhkan sebagai bahan baku pembuatan tabung hampa udara, baterai yang
mengandalkan teknologi hidrida logam. Dalam industri logam, ini sebagai
sumber pemicu terjadinya percikan api untuk memulai pembakaran dan nyala
api, serta untuk meningkatkan kemampuan cetakan dan sifat-sifat mekanis
pada campuran metal.
Iran sejak tiga tahun lalu serius mempelajari metode ekstraksi dan
eksploitasi vanadium, galium, nikel, kadmium, dan tungsten dan akan
segera memulai produksi ingot dan paduan tanah jarang ini. Mungkin tahun
ini akan mulai produksi. Hebatnya walau Iran di Embargo ekonominya,
namun kerjasama penambangan dan pengolahan bukan hanya datang dari China
(Sinosteel) yang jelas partner Iran tetapi juga dari berbagai negara
seperti Jerman, Denmark, Italia, Australia, dan Jepang. Namun yang
terbesar tetaplah China dan AS tidak dapat kesempatan sama sekali
memanfaatkan SDA LTJ. Puluhan miliar dolar dibenamkan dalam industri
pengolahan Logam Tanah Jarang.
*China*
*
*
Sekitar 30 tahun lalu, Pemerintah China telah memutuskan untuk
menjadikan logam tanah jarang bahan baku strategis dan melarang pihak
asing menambangnya. Penambangan logam tanah jarang pertama kali di
wilayang Mongolia, dan kemudian meluas sampai ke Xinjiang yang sangat
besar deposit logam tanah jarang. Walau begitu Cina hanya memiliki
sekitar 30% cadangan global dari tanah jarang.
Namun China memproduksi ekstrak tanah jarang mencapai 70% produksi
dunia. Sebagian bahan tambang logam tanah jarang didapat dari tambang
yang mereka miliki di Amerika Utara, Australia, Asia Tenggara, Asia
Tengah, dan Afrika Sub-Sahara, yang dikapalkan ke China untuk diolah.
China menguasai 90 pasar ekstrak logam tanah jarang dunia. Tahun ini
China tengah meningkatkan kuota penambangan tahunan untuk logam tanah
jarang menjadi 132.000 ton atau 10 persen di atas rekor tertinggi pada
tahun lalu.
*Indonesia.*
*
*
Indonesia memiliki potensi mineral Logam Tanah Jarang (LTJ) mencapai 1,5
miliar ton. Namun, mineral LTJ tersebut belum dimanfaatkan optimal
sebagai barang strategis untuk mendukung kegiatan industri dalam negeri
maupun menjadi komoditas ekspor. Survey yang dilakukan Badan Geologi,
ada 29 lokasi yang berpotensi mengandung logam tanah jarang. Lokasi
tersebut di wilayah Riau, Kepulauan Bangka Belitung, Sumatera Utara,
Pulau Bintan Riau, Kepulauan Anambas Riau, Kalimantan Barat, Sumatera
Selatan, Jawa Barat, Jawa Tengah, Kalimantan Tengah, Sulawesi Tenggara,
Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Barat.
Inalum mulai tahun 2019 menggandeng BATAN untuk melakukan studi pengolah
LTJ tersebut. Dan rencananya tahun depan Pt. Inalum akan membangun
industri logam Tanah Jarang yang rencananya akan bermitra dengan China.
*Masalah geopolitik *
Dunia tidak bisa mengandalkan China
<https://www.statista.com/statistics/268011/top-countries-in-rare-earth-mine-production/> untuk
menjamin pasokan akan LTJ. Kalau dibiarkan maka China akan jadi diktator
Industri dan mengontrol dunia. Mengapa ? karena kebutuhan industri hilir
akan LTJ di China sangat besar. Cina telah mendominasi produksi logam
tanah jarang sejak 1990-an, sebagian besar didorong oleh dua faktor:
harga rendah dan investasi yang didukung negara dalam infrastruktur dan
teknologi. Pada tahun 2000-an, Cina hampir sepenuhnya menguasai produksi
tanah jarang. Dominasi ini tidak dicapai hanya dengan harga. China juga
menggunakan kebijakan industri yang dimulai pada 1980-an untuk
mengembangkan keahlian dalam ekstraksi, pemisahan, dan penyempurnaan
dari tanah jarang.
Kebijakan industri Cina sebenarnya mencerminkan pendekatan A.S. pada
1950-an dan 1960-an, ketika Laboratorium Ames dan Pusat Informasi
Rare-earth (RIC) menggunakan investasi negara untuk mendukung upaya
sektor swasta. Sementara dukungan negara menurun dengan cepat di Amerika
Serikat (RIC hilang pada tahun 2002), lembaga-lembaga Cina masih terus
menguat. Setelah Cina mendominasi produksi, mereka menggunakan harga
diferensial untuk memberi keuntungan bagi produsen hilir domestik
dibandingkan ekspor. Harga domestik yang lebih murah, serta ketersediaan
SDM keahlian , menjadi magnit menarik investor asing ke Cina membangun
industri hilir. Semua industri elektronik raksasa Jepang, Korea, AS,
Eropa mendirikan pabrik di China.
China sebagian besar mengendalikan harga, menjaga harga tetap rendah dan
membuatnya sulit untuk disaingi. Sudah banyak perusahaan tambang LTJ
yang bangkrut akibat ulah China. Seperti contoh, Perusahaan A.S.
Molycorp menguasai tambang California Mountain Pass. Molycorp harus
mengajukan kebangkrutan ketika harga jatuh. Perusahaan yang berbasis di
Kanada yang sekarang memiliki aset sebagian besar telah memindahkan R&D
dan proses pemisahan dan penyempurnaan dari Mountain Pass ke Cina.
Begitu cara China menyedot penambang membangun pengolahan LTJ di China.
Jepang, dan Austalia berusaha untuk membuka tambang baru. Sebagai
antisipasi kalau China mengembargo LTJ. Tapi membuka tambang baru juga
memakan waktu dan penuh risiko. Dari tiga belas konsesi tambang di
Afrika, misalnya, hanya dua yang berproduksi, tiga telah gagal, dan
delapan lainnya masih dalam tahap sangat awal. Jepang menemukan sumber
daya mineral LTJ di dasar laut. Tetapi penambangannya akan sangat mahal
dan beresiko. Tapi AS dan Australia terus berupaya mendapatkan pasokan
LTJ dari luar China. Pertemuan antara pejabat Pemerintah AS dan
Australia telah meresmikan kemitraan yang dimaksudkan untuk meningkatkan
pasokan logam tanah jarang dan mineral penting lainnya dari luar China.
Dephan AS dan Badan Logistik Pertahanan, telah meminta kepada Lynas Corp
yang berbasis di Malaysia untuk menambah kapasitasnya di Texas. Lynas
Corp memiliki tambang di Australia dan pengolahan di Malaysia Timur.
Menteri Sumber Daya Australia Matt Canavan menyampaikan lembaga keuangan
ekspor di AS dan Australia akan mempertimbangkan langkah-langkah baru
untuk membantu mempercepat proyek-proyek tambang LTJ. Yang jelas negara
besar di dunia, mulai dari Greenland hingga India, juga telah berupaya
mendapatkan sumber pasokan di luar China. Kini pesaing utama China yang
memproduksi 30% LTJ dunia adalah Lynas.
Selain China, kekuatan tersembunyi sumber daya LTJ itu adalah Indonesia
dan Iran. Kedua negara ini sudah mulai membuka pintu untuk penambangan
LTJ. Namun baik Iran maupun Indonesia telah mengeluarkan UU yang
mengharuskan pengolahan semua sumber daya mineral dilakukan di dalam
negeri sebelum di ekspor. Umumnya, unsur tanah jarang dijumpai di
mineral ikutan, seperti bastnaesit, monasit, xenotim, apatit, dan
zirkon. Pada konsentrat nikel, timah, emas, almunium unsur tanah jarang
banyak terdapat. Dengan melarang ekspor konsentrat, itu artinya sumber
bahan baku ikutan berupa LTJ tidak bisa lagi didapat oleh smelter yang
ada di luar negeri.
Dengan demikian, semua industri pengolahan mineral di luar negeri yang
membutuhkan bahan baku untuk indusri hilirnya harus membangun smetel di
Indonesia. Yang paling agresif melakukan kerjasama pembangunan smelter
tambang mineral di Indonesia adalah China. Di sinilah terjadi
pertarungan lobi politik tingkat tinggi antara dua kekuatan, yaitu AS
dan China ( bersama sekutunya Eropa dan Australia) untuk mendapatkan
pengaruh di Indonesia. AS dan Eropa termasuk Jepang, jelas tidak ingin
membangun smelter di Indonesia karena mereka ingin menghidupkan industri
dalam negerinya. Sementara Jokowi tetap bersikeras. Stop.
Protes Eropa ( tentu di belakangnya AS) terhadap larangan ekspor bahan
mentah mineral oleh Indonesia adalah bukti bahwa AS sedang menekan
Indonesia. Mengapa? AS dan sekutunya tentu tidak mau tergantung dengan
China akan kebutuhan LTJ. Kalau AS tidak menguasai sumber daya LTJ
selain Chian, tentu sangat beresiko bagi masa depan industrinya.
Karenanya setelah Jokowi dilantik sebagai presiden tensi politik
memanas, khususnya sentimen anti China meluas. China tidak mau tinggal
diam. China menawarkan dukungan financial kepada pemerintah Jokowi untuk
pembangunan infrastruktur di luar jawa , dan berjanji akan mengembangkan
indusri hilir tambang mineral untuk mengurangi defisit neraca
perdagangan Indonesia.
Dan AS tidak menjanjikan apa apa kecuali mengancam Jokowi melalui
kekuatan proxy nya di dalam negeri. Mengapa AS menolak kebijakan
larangan ekspor bahan mentah tambang? AS sudah punya pusat industri
pengolah LTJ di Malaysia dan Eropa. AS berharap bahan baku tambang LTJ
dikirim ke Malaysia dan Eropa. Dan kemudian dieskpor ke AS. Ini memang
batu sandungan bagi bangkitnya industri hilir tambang di Indonesia,
khususnya LTJ. Iran agak beruntung. Karena proxy AS di Iran sejak
pembunuhan Qasem Soleimani menjadi alasan bagi intel Qud untuk
menangkapi mereka. Sehingga program Iran menjadi kekuatan baru di masa
depan berkat sumberdaya LTJ tidak mengalami kendala serius dari dalam
negeri. Namun hambatan serius datang dari luar. Tahun ini AS mulai head
to head dengan Iran. Ketegangan baru terjadi di Iran dengan terbunuhnya
Qasem Soleimani. AS sudah mengirim Armada kapal Induk dan 1500 marinir.
Perang terbuka mungkin saja terjadi...
*Kesimpulan.*
*
*
AS dan Barat harus menyadari politik hegemoni melalui kekerasan dan
embargo sudah bukan jamannya. Kini saatnya/ collaborate/, dan /synergy/.
Sebagaiman China, Barat dan AS harus mau merelokasi industrinya ke
Indonesia dan Iran agar terjadi keseimbangan dengan China. Pada waktu
bersamaan China harus mengubah sifat ingin mengontrol industri hilir
dengan mematikan pesaing di hulu. Kalau itu terjadi , maka kejayaan
bangsa Mongol, Persia, Majapahit, akan mengulang sejarah dunia di era
modern, tetapi dengan cara cara yang egaliter dan penuh cinta. Sudah
saatnya kita semua sebagai bagian dari penduduk dunia mengutamakan cinta
dalam membangun, dan bersaing secara sehat.
Bagi Indonesia, semoga faktor geopolitik ini disadari oleh semua anak
bangsa agar tetap bersatu. Jangan sampai kita diadu domba yang pada
akhirnya pihak asing yang untung. Yang penting, pengalaman era kejayaan
MIGAS di era Soeharto di bawah aneksasi AS ( Barat dan sekutunya) yang
memaksa kita hanya menjual minyak mentah tanpa kemandirian dibidang
kilang BBM, jangan terulang lagi. Kedepan kita harus belajar dari
kesalahan masa lalu dan focus kepada nilai tambah dan kedaulatan
terhadap SDA untuk kepentingan rakyat banyak. Karenanya industri
pengolahan LTJ adalah mutlak dilakukan di dalam negeri dan termasuk
industri hilirnya. Siapapun jadi presiden setelah Jokowi , platform ini
harus jadi pijakan.
*Erizeli Jely Bandaro *
Dikirim dari Yahoo Mail untuk iPhone
<https://overview.mail.yahoo.com/?.src=iOS>