-

   i <https://suarapapua.com/category/artikel/opini/>

Islam Dukung Pembebasan Papua

*Penulis * *Suara Papua* <https://suarapapua.com/author/admin/>


*Ustadz Ismail Asso. (Dok pribadi untuk SP)*

16 Mei 2020, 5:16 W



*Oleh: Ustadz Ismail Asso)**

*Pendahuluan*

Judul begini agar permasalahan jelas. Namun tempat terbatas tidak mungkin
dijelaskan secara komprehensif tuntas tapi partial. Pembahasan singkat ini
penting, karena kebanyakan belum tahu bagaimana ajaran Islam sesungguhnya
dalam konteks pembebasan Papua sehingga permasalahan menjadi jelas dalam
menjawab judul.

Penulis merasa penting menjelaskan ini karena selama ini belum pernah
dijelaskan oleh Muslim Papua sendiri. Karena ada kekeliruan masyarakat
Papua, baik orang Islam sendiri, maupun-utamanya orang di luar Islam,
kaitan Islam -sebagai suatu nilai kebenaran universal- dan Papua serta
Muslim sebagai pribadi berpotensi multi interpretasi.Tulisan singkat ini
mencoba menjelaskan keterkaitan Islam dan Pembebasan Papua perspektif
muslim Papua.

*Muslim Antara “M” atau “O”*

Kesan banyak kalangan Muslim Papua dalam perjuangan dari pejajahan bersikap
diam, tidak progresif malah tidak ada inisiatif ambil bagian dalam
pembebasan rakyat Papua.

Parahnya lagi, Muslim Papua (tanpa membedakan Pribumi-Pendatang) seakan
menyetujui penjajahan dirinya. Tidak sebagaimana rakyat Papua penganut
agama lain Islam.

Lembaga Islam misalnya MUI, Muhammadiyyah dan PWNU Papua diam seakan tanpa
peduli pelanggaran HAM di Papua sejak daerah ini dianeksasi melalui Pepera
tahun 1962 yang konon tidak melalui mekanisme *‘one man one vote’*.

Berbeda dari lembaga milik Kristen, Keuskupan Papua dan Classis GKI Papua
mengangkat pelanggaraan HAM terasa lebih dominan kepekaannya menegaskan
nilai-nilai kebenaran ajaran agamanya itu.

Sebaliknya, Muslim Papua dan Ormas Islam dalam hal pelanggaran HAM oleh
aparat TNI/POLRI diam seakan tidak terjadi sesuatu apa menunjukkan ketidak
pekaannya.

Asumsi orang yang bukan penganut agama Islam, bahwa Islam bukan agama
pembebasan dan bukan ajaran kebenaran universal. Padahal tidak demikian
ajaran paling mendasar agama Islam sebagaimana dasar-dasar ajaran agama
Islam itu akan ditegaskan dalilnya dalam bagian berikut ini.

Nabi Muhammad SAW diutus oleh Allah SWT, untuk membebaskan umat manusia
sebagaimana Nabi Musa As untuk kaum Yahudi dari perbudakan Fir’aun di Mesir.

Umumnya institusi Islam dan kaum muslimin Papua dalam sikap antara pilihan
“M” dan” O”, terkesan mendukung “O” alias menghalangi pembebasan
Papua. Muslim Papua tidak ingin bebas merdeka apalagi membantu berjuang
membebaskan Papua dari penjajahan. Demikian mentalitas umum masyarakat
sipil apalagi saudara-saudara muslim migran yang datang mengais rezeki di
Tanah Papua.

Terlepas dari persoalan interpretasi teks-teks suci (Al-Quran dan
Al-Hadits) sebagai guidance (pegangan hidup), memungkinkan multi
interpretasi. Namun faktanya menunjukkan bahwa-dan itu patut sangat
disayangkan -Muslim Papua diam berpangku tangan.

Bersikap apatis sesungguhnya tidak mencerminkan nilai-nilai ajaran agama
Islam yang inti dari tujuan kehadirannya sebagai kelanjutan agama Kristen
dan Yahudi adalah sebagai agama pembebasan.

Sekali lagi Islam adalah agama agama pembebasan (fathu). Hal itu terbukti
dimana-mana pada masa awal kehadiran Islam untuk membebaskan dari
penindasan dan sebagai rahmatn lil’alamin (kasih sayang bagi seluruh alam).

Kirim email ke