Antek remo menganggap di Dunia ini belum pernah ada sosialisme.  Lenin  
dianggap salah menghancurkan kapitalisme. Artinya antek remo menganggap 
revolusi Oktober tidak ada artinya, tidak ada gunanya. Tapi fakta sejarah 
menunjukkan hanya pemerintahan yang dipimpin kaum sosialis-komunis dan 
membangun sosialisme yang mampu melawan dan mengusir serangkan agresor 
imperialis dan fasis. Dari mana datangnya kemampuan itu? Hanya dengan 
oportunismenya antek remo bisa memberi jawaban. 

Hari Kemenangan Rakyat Uni Soviet
Lewat keputusan memperingati Revolusi Oktober dengan parade militer dan pidato 
patriotik, Stalin menginspirasi kepercayaan dan antusiasme rakyat melawan 
fasisme Jerman pada 1941
16 Mei 2020


Tentara Merah ketika memasuki Berlin setelah mengalahkan tentara fasis Nazi 
Jerman/CNN
Koran Sulindo – Pada 9 Mei 1945 di Moskow. Tepatnya 75 tahun yang lalu. 
Pemerintah Uni Soviet mengumumkan kemenangan rakyat dan Tentara Merah atas 
fasisme Jerman. Sejak itu, 9 Mei diperingati sebagai Hari Kemenangan. Kisah itu 
lalu dikenal sebagai “Perang Patriotik Raya”..
Sebelumnya, pada 22 Juni 1941, Hitler mengerahkan 3 juta tentara untuk 
menyerang Uni Soviet. “Operasi Barbarossa” – demikian nama serangan – itu 
diharapkan dapat menaklukkan rakyat Soviet hanya dalam beberapa bulan. Namun, 4 
tahun lamanya tentara agresor harus menghadapi perlawanan sengit dan gagah 
berani rakyat Soviet dan akhirnya terpaksa mengakui keunggulan Tentara Merah 
yang dipimpin Partai Bolshevik dan Stalin..
Tujuan Jerman Nazi menyerang Uni Soviet bukan hanya untuk menghancurkan 
kekuasaan kaum proletar pertama di dunia, tapi juga melenyapkan orang-orang 
Slavia dan Bolshevik Yahudi dari muka bumi, karena dianggap sebagai jenis 
manusia yang lebih rendah (subhuman). Di situs Holocaust Encyclopedia, kita 
temukan angka 5,7 juta personel militer Soviet yang ditawan Jerman. Pandangan 
rasis Jerman Nazi telah mengakibatkan perlakuan khusus brutal tak 
berperikemanusiaan terhadap tahanan perang Soviet. Mereka yang mati karena 
sengaja dilaparkan dan perlakuan kejam Jerman Nazi mencapai kira-kira 3,3 juta. 
Artinya, setelah orang Yahudi, maka tahanan perang Soviet yang mati dibantai 
merupakan jumlah terbesar kedua. Di samping itu, kita tahu 26-27 juta rakyat 
Soviet membela tanah airnya dengan nyawanya.
Apakah kemenangan Uni Soviet yang telah membebaskan dan menyelamatkan dunia, 
terutama Eropa dari cengkeraman fasisme, merupakan suatu kebetulan? Mengapa 
justru Soviet yang berhasil mencegah negerinya diduduki kaum Nazi? Mengapa 
Prancis, misalnya, negeri yang perkembangan ekonomi dan industrinya lebih maju, 
dan pemenang Perang Dunia I, tidak mampu menghindari pendudukan Jerman?
Sudah tentu banyak faktor yang memungkinkan Uni Soviet mampu dan berhasil 
mengusir dan mengejar tentara fasis Jeman sampai ke sarangnya di Berlin.
Pertama, kemampuan itu tak mungkin tercipta seandainya Uni Soviet tidak 
berhasil menerapkan tesis Lenin “mata rantai imperialisme terlemah” dan 
“sosialisme di satu negeri”. Trotsky tidak percaya sosialisme dapat dibangun 
dan dipertahankan tanpa kemenangan revolusi sosialis di negeri-negeri kapitalis 
maju Eropa, seperti Jerman, Inggris dan Prancis.
Stalin membangun sosialisme dengan bersandar kepada kekuatan dan sumber negeri 
sendiri. Ini membuat Trotsky menuduh Stalin membangun autarki. Padahal 
kebijakan berdiri di atas kaki sendiri ini lahir dari kenyataan objektif Uni 
Soviet yang dikelilingi dunia kapitalis yang bermusuhan. Ekonomi Soviet yang 
independen dibuktikan sangat menguntungkan ketika dunia dilanda Depresi Besar 
pada 1930-an. Seandainya Trotsky yang memimpin, Uni Soviet akan turut 
menanggung dampak berat dari depresi itu, karena kebijakannya yang menginginkan 
ekonomi Soviet menjadi bagian dari ekonomi dunia yang didominasi kapitalisme 
monopoli dunia.
Kita lihat sekarang bagaimana Tiongkok kapitalis, sejak ekonominya terintegrasi 
dalam sistem kapitalisme dunia, tidak terlindungi dari dampak semua krisis 
ekonomi dan finansial yang melanda dunia.
Kepercayaan besar Stalin kepada kemampuan kaum buruh, kaum tani, kaum pemuda, 
kaum wanita dan seluruh sektor rakyat Soviet adalah kapital moral yang tak 
terkalahkan. Stalin berpendapat kalau Partai Bolshevik tidak percaya akan 
kemampuannya membangun sosialisme dengan bersandar kepada kekuatannya sendiri, 
maka partai harus dengan jujur mengundurkan diri dan menyerahkan kekuasaan 
kepada kekuatan politik lain. Karena, menurut Stalin, sebuah partai kelas buruh 
tidak berhak menipu kelasnya. Jelas, dari Trotsky tak dapat diharapkan 
kepercayaan itu.
Kedua, keberhasilan pembangunan ekonomi sosialis memungkinkan Uni Soviet 
memiliki industri berat termasuk persenjataan dan berangsur-angsur mengejar 
ketertinggalannya. Menjelang serangan Jerman Nazi, Uni Soviet memiliki 23.000 
tank. Hitler pernah berkata kepada para jenderalnya, kalau dia tahu Uni Soviet 
punya begitu banyak tank, dia tak akan menyerangnya (Kenneth Macksey: Guderian).
Duta Besar AS, J.E. Davis di Moskow dari November 1936 sampai 1938, ketika 
berjumpa dengan Stalin, menyatakan bahwa dia sudah mengunjungi hampir semua 
pabrik industri berat dan juga perkembangan hydraulic. Ia kagum karena semua 
hasil luar biasa itu dicapai hanya dalam waktu 10 tahun.
Pada tahun 1943, “Warner Brothers” membuat film berdasarkan buku J.E. Davis 
yang berjudul Mission to Moscow dan tayang pada 1941. Davis berusaha meyakinkan 
kalangan pengusaha yang tidak percaya akan kemampuan Soviet mengalahkan Jerman 
Nazi. Sebagai film sejarah, barangkali Mission to Moscow merupakan satu-satunya 
film Hollywood yang mengungkapkan kebenaran tentang Uni Soviet. Di youtube bisa 
dilihat beberapa klip dari film tersebut. Salah satu klip diakhiri dengan 
kata-kata “Dalam Perang Dunia II kaum komunis benar! Uni Soviet menyelamatkan 
dunia dari fasisme!”
Ketiga, emansipasi kaum wanita telah menyalurkan energi dan kreativitasnya yang 
mendorong maju pembangunan sosialis. Selama perang patriotik membela tanah air, 
tanpa kaum wanita yang bekerja siang malam di pabrik-pabrik senjata, tak 
mungkin kemenangan tercapai. Begitu juga peran besarnya sebagai prajurit di 
darat dan di udara, personel kesehatan, gerilya partisan dan dalam menunaikan 
tugas-tugas penting lainnya.
Keempat, terbongkarnya grup-grup kontra-revolusioner di dalam partai, negara 
dan militer yang berkomplot untuk menjatuhkan pemerintahan Soviet melalui 
kolaborasi dengan kekuatan imperialis Jerman dan Jepang telah melenyapkan 
kemungkinan pembentukan kolone kelima.
Pengadilan Moskow pertama diselenggarakan pada Agustus 1936. Sebanyak 16 orang 
anggota “Pusat Teroris Trotsky-Kamenev-Zinoviev” harus mempertanggungjawabkan 
keterlibatannya dalam pembunuhan Sergey Kirov, anggota Politbiro dan Sekretaris 
Partai Leningrad, pada 1934, dan rencana pembunuhan terhadap Stalin. Para 
sejarawan, media borjuis dan kaum Trotskis menuduh Stalin yang membunuh Kirov 
dalam rangka mengeliminasi saingan-saingan yang membahayakan kekuasaannya.
Pengadilan Moskow kedua berlangsung dari 23 hingga 30 Januari 1937 untuk 
mengadili 17 orang anggota “Pusat Trotskys anti-Soviet”.
Kesaksian dan pengakuan dari para terdakwa dalam Pengadilan Moskow pertama 
telah membongkar konspirasi di kalangan para pejabat tinggi militer, termasuk 
Marsekal Tukhachevsky yang diadili pada 11 Juni 1937.
Yang menarik dari kasus Marsekal Tukhachevsky adalah wawancara peneliti 
Vladimir L. Bobrov, pada 2000, dengan Kolonel Victor Alksnis, anggota Duma 
(parlemen) dan cucu dari Letnan Jenderal Iakov I. Alksnis yang merupakan salah 
satu hakim di pengadilan militer yang mengadili Tukhachevsky dan petinggi 
militer lainnya. Tapi beberapa bulan kemudian dia sendiri ditangkap dan diadili 
sebagai konspirator dan dijatuhi hukuman mati.
Konspirasi
Kolonel Victor Alksnis, pada 1990, diberi izin oleh KGB untuk membaca transkrip 
pengadilan Tukhachevsky dan 7 pejabat militer tinggi yang tidak pernah 
dipublikasi. Mungkin KGB berpikir, Alksnis akan bersimpati dan menerima cerita 
versi Khrushchov, pentolan revisionisme modern Soviet, bahwa orang-orang 
militer itu tidak bersalah dan menjadi “korban jebakan dan kekejaman” Stalin. 
Karena kakeknya sendiri adalah salah satu dari “korban”.
Berikut ini petikan dari wawancara di jurnal Elementy pada 2000:
“Kakek saya berteman dengan Tukhachevsky. Dan kakek menjadi anggota panel 
pengadilan yang mengadili Tukhachevsky dan Eideman. Minat saya dalam hal ini 
menjadi lebih besar setelah tulisan [mantan] Jaksa Viktorov dipublikasi. Ia 
menulis bahwa Iakov Alksnis sangat aktif di persidangan, mengganggu dan 
meletihkan terdakwa. . . Namun dalam transkrip persidangan, semuanya justru 
sebaliknya. Kakek hanya mengajukan 2 atau 3 pertanyaan selama seluruh 
pengadilan. Dan hal yang paling aneh adalah perilaku terdakwa. Berita koran 
[zaman Gorbachev] mengklaim bahwa semua terdakwa sepenuhnya membantah kesalahan 
mereka. Tetapi menurut transkrip, mereka sepenuhnya mengakui kesalahannya. Saya 
sadar bahwa pengakuan bersalah itu sendiri dapat merupakan hasil dari 
penyiksaan. Tapi dalam transkrip itu terdapat sesuatu yang lain sama sekali, 
yaitu sejumlah besar detail, dialog yang panjang, tuduhan satu sama lain, 
presisi yang amat besar. Tidak mungkin mengatur di belakang layar sesuatu 
seperti itu. . . . Saya tidak tahu tentang sifat konspirasi. Tapi fakta bahwa 
konspirasi benar-benar ada dalam Tentara Merah dan Tukhachevsky berpartisipasi 
di dalamnya, sekarang saya benar-benar yakin akan hal itu.”
Ini hanya secuil bukti pemutarbalikan dan penyembunyian fakta sejarah untuk 
membentuk legenda hitam tentang Stalin yang difitnah sebagai seorang psikopat 
yang melihat musuhnya ada di mana-mana alias “paranoia”.. Yang jelas Stalin 
tahu adanya grup oposisi dan sadar bahwa negerinya tidak dikelilingi 
negara-negara bersahabat yang siap mengulurkan tangannya ketika ia mengalami 
bencana. Namun kekhawatiran akan agresi asing dan oposisi tidak membuat Stalin 
menjadi “penjahat” dan “pembunuh”!
Sejarawan, media borjuis dan pengikut Trotsky menamakan pengadilan Moskow 
“sandiwara” yang dipentaskan Stalin untuk melenyapkan kaum oposisi terhadap 
kekuasaan dirinya sendiri. Stalin dituduh telah mengeliminasi pemimpin militer 
terbaik Tentara Merah dan semua Bolshevik tua. Ia tinggal sendirian.
Bolshevik lama yang berkomplot adalah Zinoviev, Kamenev, Bukharin, Karl Radek. 
Zinoviev dan Kamenev menentang rencana Lenin mencetuskan Revolusi Oktober. 
Kamenev membocorkan rencana pemberontakan kepada media reaksioner. Lenin pernah 
mengusulkan pemecatan Kamenev dari partai.
Sedangkan Bolshevik lama yang setia kepada sosialisme: Kaganovich, Molotov, 
Malenkov, Kalinin, Voroshilov, Ordjonikidze. Stalin tidak sendirian.
Winston Churchill, seorang anti-komunis kawakan, dalam memoirnya The Gathering 
Storm, menulis tentang Presiden Benes dari Cekoslovakia yang cerita bahwa dalam 
komunikasinya dengan Hitler, ia menjadi sadar bahwa ada hubungan melalui 
kedutaan Soviet di Praha antara orang-orang penting di Rusia dan pemerintah 
Jerman. Churchill melanjutkan “Ini merupakan satu bagian dari apa yang 
dinamakan konspirasi militer dan komunis generasi lama untuk menggulingkan 
Stalin dan mendirikan sebuah rezim baru berdasarkan kepada politik pro-Jerman”. 
Komentar ditutup Churchill dengan kata-kata “Setelah itu terjadi pembersihan 
militer dan politik tak kenal ampun, tapi mungkin memang diperlukan di Soviet 
Rusia, dan serangkaian pengadilan pada Januari 1937, di mana Jaksa Vyshinsky 
memainkan peran begitu baik”.
Pernyataan Churchill di atas sangat dibenci oleh kaum Trotskis, karena telah 
memojokkan fitnah dan tuduhannya berkaitan dengan pengadilan Moskow 1930-an.
Kelima, kepemimpinan Stalin yang didukung oleh partai dan Tentara Merah. Faktor 
kepemimpinan Stalin ini pasti dicemooh dan ditolak oleh kaum Trotskis, 
sejarawan dan media borjuis.
Geoffrey Roberts, profesor sejarah di University College Cork, Ireland, adalah 
penulis Stalin’s Wars: From World War to Cold War, 1939-1953. Di satu pihak, ia 
mengaanggap Stalin sebagai “diktator”, “pembunuh”, “raja perang”. Namun, di 
pihak lain ia mengakui pemerintahan Stalin mendapat dukungan besar rakyat, 
mampu memobilisasi sumber daya dan penduduknya dalam sebuah perang total yang 
menuntut pengorbanan luar biasa, dan membangkitkan antusiasme besar di kalangan 
rakyat yang akhirnya membawa kemenangan militer terbesar dalam sejarah. 
Kekerasan dan teror saja tidak cukup untuk menjelaskan bertahannya sistem 
Soviet, begitu kata Roberts.
Roberts menolak banyak kritik terhadap kepemimpinan Stalin, karena ia lihat 
kritik –kritik itu berakar, di satu pihak, pada polemik perang dingin Barat dan 
di pihak lain, pada kampanye de-Stalinisasi di Uni Soviet.
Roberts membuktikan peran menentukan Stalin pada periode Oktober-November 1941 
di Moskow. Ketika Jerman mendekati pintu masuk kota, Stalin tetap tenang dan 
komandonya juga tetap logis, tidak kacau. Ia mengambil keputusan yang baik 
ketika memanggil Zhukov supaya memimpin pertahanan kota. Melalui keputusan 
memperingati Revolusi Oktober dengan parade militer, tetap berada di Moskow, 
dan membuat pidato patriotik, Stalin menginspirasi kepercayaan dan antusiasme 
rakyat. Tanpa merasa panik ia mengerahkan kekuatan yang ada untuk pertahanan 
dan mengijinkan Tentara Merah membangun kekuatan di garis belakang untuk 
mempersiapkan kontra-ofensif yang berhasil pada awal Desember 1941.
Akhir Perang Dunia II membuktikan tanpa para jenderal konspirator, Uni Soviet 
menyelamatkan dunia dari fasisme. [Tatiana Lukman].
Pembaca : 205

Sent from Mail for Windows 10

Kirim email ke