*Mungkin sekali juga pertaanya serupa yang lebih serius dari daerah-daerah
(provinsi**) yang tertinggal dan miskin melarat selama ini ialah apa yang
kita dapat dari merdeka 75 tahun?*

https://www.kompasiana.com/judea/5ec53857d541df0f6942153d/22-tahun-reformasi-dapat-apa?utm_source=izooto&utm_medium=push_notifications&utm_campaign=2020-05-21%2022%20Tahun%20Reformasi%20Sudah%20Dapat%20Apa&utm_content=&utm_term=
*22 Tahun Reformasi, Sudah Dapat Apa?*

21 Mei 2020   07:53 Diperbarui: 21 Mei 2020   16:

5 Mahasiswa se-Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi mendatangi Gedung
MPR/DPR, Mei 1998, menuntut reformasi dan pengunduran diri Presiden
Soeharto. Sebagian mahasiswa melakukan aksi duduk di atap Gedung MPR/DPR.
Hegemoni Orde Baru yang kuat ternyata menjadi inspirasi bagi orangtua untuk
memberi nama bagi anak-anak mereka. (KOMPAS/EDDY HASBY)

9Demokrasi, adalah jalan menuju kesejahteraan. Rakyat memiliki ruang
memadai untuk mengembangkan segala potensi yang mereka miliki. Memiliki
kesetaraan pada akses-akses ekonomi, tidak hanya pada akses politik.

Begitu kira-kira tafsir saya atas gagasan demokrasi yang didengungkan dari
mimbar-mimbar bebas. Baik yang saya ikuti atau bahkan itu bagian dari
materi saya, ketika berdiri di mimbarnya.

Bergerak dari satu kampus ke kampus lain, dari satu kota ke kota lain.
Perbincangan belum berhenti, meski kami sudah sama-sama duduk di trotoar
sambil ngopi.



Adakalanya perlu lihat kiri kanan, siapa tahu di antara kita ada sosok yang
tidak dikenal. Kewaspadaan perlu, setidaknya untuk berjaga agar pergerakan
tetap memiliki umur panjang.



Ketika pers dibungkam, sebagian dari kami rela menyisihkan jatah makannya
untuk membangun persnya sendiri. Menuliskan gagasan-gagasan tentang
demokrasi, penegakan hak asasi manusia, keadilan sosial, pemberantasan
korupsi, dan juga kesejahteraan melalui pemerataan akses ekonomi.
Mem-fotocopy dan menempelkan di ruang-ruang publik semampu kami.

Lusuh, mata merah, lingkaran hitam di kelopak mata sering menjadi ciri para
aktivis. Diskusi, yang tidak bersekat antara kanan dan kiri. menjadi agenda
rutin, nyaris tak terjeda. Menyatukan tekad, meneguhkan keberanian, agar
reformasi <https://www.kompasiana.com/tag/reformasi> benar-benar terjadi.

Suharto benar-benar turun dari tampuk kekuasaannya. Pengunduran dirinya,
menghasilkan histeria para penentangnya. Sorak kemenangan, tangis, dan
airmata tumpah di mana-mana ketika lagu Indonesia dikumandangkan. Ini awal
dari sebuah perubahan besar yang bernama reformasi.

Itu dulu, 22 tahun yang lalu. Bagaimana dengan saat ini? Apakah reformasi
sudah memberi jawab atas gagasan demokrasi? Gagasan penegakan hak asasi
manusia? Gagasan pemberantasan korupsi? Gagasan kesejahteraan sosial? Masih
banyak gagasan lainnya tentu saja.

Reformasi memberi ruang yang sangat luas bagi demokrasi. Bahkan demokrasi
melahirkan bentuk barunya, penindasan. Atas nama demokrasi, satu kelompok
menindas kelompok lain. Tafsir demokrasi menjadi liar, bahkan kadang sulit
dipahami dengan analisa literatur baku.

Tidak dapat dipungkiri, demokrasi mengubah tatanan bernegara. Mulai dari
konstitusi, struktur birokrasi hingga ke soal remeh temeh. Ketatanegaraan
kita menemukan bentuk barunya.

Tetapi bagaimana dengan hegemoni rezim yang terlanjur dihidupi oleh para
pelaksana dari bentuk baru ketatanegaraan kita? Di sinilah persoalan itu.
Reformasi hanya mengubah wajah, memoles muka, tanpa mengubah paradigma.

Korupsi masih tetap menjadi ancaman serius bagi kesejahteraan rakyat.
Keterbukaan, tidak cukup ampuh memberi efek jera. Justru mempertontonkan
ironi yang membuat panggung teater tersaingi oleh *reality show*.

Koruptor masih memiliki keberanian untuk melambaikan tangan dan merubah
diri menjadi orang yang paling di zolimi. Sementara pencuri speaker mati
oleh pengadilan rakyat.

Bukan berarti realitas tersebut berarti menihilkan perubahan yang telah
dibuat, sama sekali tidak. Tetapi gagasan reformasi
<https://www.kompasiana.com/tag/reformasi> tidak cukup hanya dengan apa
yang telah terjadi hari ini. Masih jauh panggang dari api.



Artinya, perjuangan aktivis belum boleh berhenti. Karena kenyataannya,
reformasi belum banyak mengubah bagian terpentingnya. Isi kepala!

Kirim email ke