-- 
j.gedearka <[email protected]>


https://news.detik.com/kolom/d-5028835/new-normal-new-order-dan-new-species?tag_from=wp_cb_kolom_list



Kolom

New Normal, New Order, dan New Species

Muhamad Mustaqim - detikNews
Selasa, 26 Mei 2020 14:30 WIB
0 komentar
SHARE URL telah disalin
Kenormalan baru akan melahirkan pola tatanan baru (Ilustrasi: detikcom)
Jakarta -

Dalam novel Origin karya Dan Brown disinggung tentang sebuah peradaban baru, 
ketika manusia bersahabat dengan teknologi. Bahkan, Brown melalui legitimasi 
ilmiah teori evolusi Darwin meramalkan akan ada spesies baru, dari 6 spesies 
(kingdom) makhluk hidup yang telah ada. Spesies baru itu disebut dengan 
technium, yang mengandaikan ketika manusia "manunggal" dengan teknologi, maka 
jati diri manusia yang "sejati" pun akan berubah, terkontaminasi oleh teknologi.

Benar saja, manusia dewasa ini telah mengandalkan teknologi sebagai basis 
peradabannya. Manusia, saat ini boleh dikatakan tidak bisa hidup tanpa 
teknologi. Bukannya tidak mungkin, kenormalan baru (new normal) yang belakangan 
ini menjadi topik utama pembicaraan di era pandemi, nantinya akan melahirkan 
tatanan peradaban manusia yang baru (new order).

Saya mengandaikan bahwa tatanan baru ini akan melahirkan purwarupa model 
manusia baru, atau kalau mau lebih dramatis, spesies manusia baru. Sebut saja, 
spesies baru tersebut dengan istilah "coronium".

Nalar di atas, tentu saja tidak berlandas argumentasi ilmiah, hanya 
pengandaian, mengikuti jejak imaginasi para "ahli" yang sering mewarnai garis 
waktu media sosial kita. Dan jika diperkenankan untuk "nyinyir", saya rasa 
semua keilmuan, saintifik, profesionalitas, atau apapun yang punya legitimasi 
ilmiah hari ini rasanya tidak memiliki "lisensi" absolut untuk melakukan 
penjelasan ilmiah tentang fenomena wabah corona ini.

Semua pakar ilmiah hanya bisa mereka-reka, ahli medis hanya bisa menganalisis, 
ahli virus pun tampaknya "gagap" ketika menjelaskan Covid 19. WHO dalam satu 
kesempatan dan kesempatan lain menyarankan hal yang berbeda. Menteri Kesehatan 
RI tampaknya juga blunder soal "masker (hanya) untuk yang sehat".

Apalagi beberapa lembaga survei yang melakukan prediksi dengan data sekunder 
"angka" dan "tren", akan sangat berbeda tingkat akurasinya, dibandingkan ketika 
mereka survei fenomena politik, polling elektabilitas, exit poll, atau quick 
count. Intinya, tidak ada otoritas yang bisa menjelaskan secara akurat fenomena 
corona ini. Sehingga, bolehlah ketika kita mengandai, berimajinasi tentang masa 
depan "berdamai" dengan pandemi.

Manusia Baru

Hampir tiga bulan lamanya saya berdiam dan bekerja di rumah. Soal bosan, jangan 
ditanya. Gabut? Apalagi. Namun faktanya selama tiga bulan ini saya masih bisa 
bernapas, menikmati kehidupan, anugerah Tuhan yang tiada tara. Benar kata 
pepatah, "Manusia adalah makhluk yang paling mudah beradaptasi."

Kita akan menjalani pola kehidupan baru sebagai manusia sosial. Tetap di rumah, 
work from home, jaga jarak, social distancing, mengurangi kerumunan, memakai 
masker, sering cuci tangan, menjaga daya tahan tubuh adalah deretan terminologi 
yang menjadi "mainstream" peradaban manusia di tengah pandemi sekarang ini. 
Tentu saja, manusia mengisolasi diri di rumah ini tidak mungkin dilakukan 
selamanya --sampai ditemukan vaksin corona.

Menurut para ahli, proses penemuan vaksin sampai hilirisasi di sektor industri 
memerlukan waktu yang lama, bisa jadi lebih dari satu tahun. Padahal pola "di 
rumah" telah meruntuhkan sektor ekonomi, yang menjadi basis kehidupan umat 
manusia. Inilah mengapa kita harus melakukan new normal. Kembali ke kehidupan 
normal, dengan pola baru. Hal ini, sebagaimana yang disinggung di atas, akan 
melahirkan prototip manusia baru, spesies coronium.

Coronium adalah purwarupa manusia baru, di mana pola interaksi langsung yang 
menjadi tabiat "asli" manusia mencoba diminimalisasi. Contoh sederhana, 
salaman. Salaman yang selama bertahun-tahun lamanya menjadi produk peradaban 
manusia, apalagi pada masyarakat muslim, dengan sukarela harus mulai kita 
hilangkan.

Saat ini, kita sudah menyaksikan, bagaimana tradisi beragama yang selama 
bertahun-tahun dilestarikan harus ditinggalkan: salat berjamaah, Tarawih, Salat 
Id, mudik, halal bihalal, silaturahmi. Sebagai produk kebudayaan, ritus dan 
situs keberagamaan tersebut harus rela untuk ditinggalkan. Coronium adalah 
purwarupa baru yang kira-kira tidak akan melestarikan produk keberagamaan 
tersebut, atau walaupun masih melestarikan, namun dengan model dan format yang 
berbeda.

Belanja online, seminar online, webinar, belajar online, kerja online adalah 
karakter baru coronium ini. Belanja online yang saat ini sudah akrab dilakukan, 
faktanya sudah mampu menjadi pola peradaban baru, bahkan dikabarkan sudah mulai 
mengancam pasar, swalayan, dan toko riil.

Di sektor pendidikan, uji coba belajar dan bekerja di rumah yang selama 3 bulan 
ini telah diterapkan menjadi karakter selanjutnya manusia coronium. Ke depan, 
boleh jadi sekolah favorit tidak lagi dilihat dari berapa tingkat gedungnya. 
Perguruan tinggi unggul, tidak lagi mengandalkan infrastruktur megah. 
Melainkan, bagaimana mampu mengemas pola interaksi dan pembelajaran yang 
efektif, dengan polesan inovasi.

Saya tidak bisa membayangkan, bagaimana jika pandemi ini terjadi pada era belum 
ditemukannya internet. Syukurlah, kehidupan telah "menganugerahkan" internet 
kepada kita, sehingga kita masih bisa survive di tengah pandemi, setidaknya 
ruang sosialisasi antarmakhluk sosial masih bisa dilakukan.

Kita semua tentu berharap pandemi ini akan segera berakhir, dan kita akan 
kembali menjadi manusia normal --tanpa kenormalan baru, tatanan baru, apalagi 
spesies baru. Namun, alam selalu menjaga keseimbangannya, berubah, 
bermetamorfosis, dan berevolusi sesuai kehendaknya.

Muhamad Mustaqim dosen IAIN Kudus

(mmu/mmu)






Kirim email ke