-- 
j.gedearka <[email protected]>




https://news.detik.com/kolom/d-5033558/jika-vaksin-corona-tak-kunjung-ditemukan?tag_from=wp_cb_kolom_list


Kolom

Jika Vaksin Corona Tak Kunjung Ditemukan

Yudhi Nugraha - detikNews
Jumat, 29 Mei 2020 16:30 WIB
0 komentar
SHARE URL telah disalin
Pengujian Vaksin Corona Pada Manusia Mulai Tunjukkan Harapan
Foto: DW (News)
Jakarta -

Berdasarkan data WHO pada 15 Mei 2020 dengan judul Draft landscape of Covid-19 
candidate vaccines setidaknya ada delapan kandidat vaksin untuk Covid-19 yang 
paling potensial berhasil dikembangkan saat ini. Kedelapan vaksin tersebut 
berasal di Amerika Serikat, China, Jerman, dan Inggris. Selain itu, kandidat 
vaksin yang memasuki tahap uji pra klinis lebih kurang sebanyak 110 vaksin dari 
berbagai negara.

Amerika Serikat melalui NIH sebagai pusat penelitian terbaik dunia telah 
menggelontorkan dana penelitian hingga 42 miliar dolar AS atau setara dengan Rp 
618,4 triliun untuk pengembangan vaksin yang sedang dibutuhkan dunia saat ini. 
Dana tersebut salah satunya telah dialirkan 500 juta dolar ke raksasa farmasi 
Moderna Inc.

Moderna berhasil mengembangkan vaksin Covid-19 yang pertama kali diuji klinis 
tahap pertama kepada delapan relawan di Amerika Serikat pada Maret 2020. Vaksin 
ini selanjutnya akan diuji pada Fase 2 untuk melihat efektivitas lebih lanjut 
dan penentuan dosis kerjanya dan selanjutnya dijadwalkan dicoba pada Fase 3 
pada Juli 2020.

Selain dengan Moderna, NIH juga bekerja sama dengan perusahaan farmasi asal 
Prancis, Sanofi dengan tujuan besar yang sama melawan Covid-19. Meskipun kerja 
sama tersebut melahirkan kontroversi yang didasari oleh rasa nasionalisme riset 
orang Amerika Serikat.

China melalui Sinovac Biotech-nya mengklaim telah berhasil menguji vaksin 
Covid-19 pada monyet sebagai hewan uji dan akan berencana melanjutkan uji pada 
manusia. Sinovac Biotech bahkan dengan serius berencana membangun perluasan 
perusahaannya, khusus untuk vaksin ini di atas lahan 70 ribu meter persegi di 
Beijing.

Selain Sinovac, perusahaan China lain seperti CanSino Biologics juga 
mengembangkan vaksin Covid-19 berdasarkan pengalaman dan jenis vaksin yang sama 
dengan vaksin yang dikembangkan untuk memberantas virus paling mematikan di 
dunia sebelumnya, Ebola.

Perusahaan farmasi Jerman Biontech bekerja sama dengan perusahaan raksasa 
farmasi Amerika Serikat, Pfizer mengembangkan vaksin RNA untuk Covid-19. 
Penelitian ini disokong oleh aturan pemerintah Jerman yang mengesahkan aturan 
uji klinis untuk manusia yang rencananya akan diberikan pada 200 relawan dengan 
rentang usia 18-55 tahun.

Sementara itu, vaksin yang dikembangkan oleh Universitas Oxford, Inggris 
hasilnya sempat diragukan dan disebut hanya akan memberikan perlindungan yang 
parsial. Namun pengembangan vaksin ini akan terus dilakukan ke manusia dengan 
target relawan sebanyak 10.260 orang.

Indonesia sendiri melalui Lembaga Biologi Molekuler Eijkmen berencana 
mengembangkan vaksin Covid-19 dengan jenis vaksin rekombinan. Lembaga yang 
dipimpin oleh Prof Amin Subandrio tersebut juga telah berhasil memetakan Genome 
SARS-CoV2 yang salah satu manfaatnya adalah untuk pengembangan vaksin

Berbagai negara telah menerapkan pembatasan aktivitas umum dengan potensi 
penularan Covid-19. Negara-negara yang sudah memiliki kurva pandemi yang 
melandai juga harus berhati-hati dengan adanya gelombang kedua. Vaksin 
merupakan satu-satunya harapan untuk menyelesaikan pandemi yang ditemukan akhir 
Desember 2019 dan menyebar sejak awal 2020 ini.

Setidaknya butuh waktu 12-18 bulan untuk menemukan vaksin terhitung sejak 
ditemukannya suatu virus baru. Pengembangan vaksin, seperti juga penelitian 
lain, tidak ada satu orang pun yang dapat menjamin dapat berhasil dan efektif. 
Pada hitungan matematis, untuk menghentikan persebaran suatu pandemi dibutuhkan 
minimal 60-70% dari komunitas manusia yang divaksin.

Namun, apa yang akan terjadi jika vaksin tidak ditemukan? Jika keadaan buruk 
ini terjadi, maka dibutuhkan banyak manusia untuk terkena Covid-19 hingga 
memiliki imunitas. Orang-rang yang terkena inilah yang nantinya akan menekan 
persebaran virus-19 --paham ini dikenal dengan herd immunity. Merupakan ide 
yang brutal jika skema ini dengan sengaja diimplementasikan oleh negara. Hal 
ini karena akan mengorbankan banyak nyawa rakyatnya sendiri untuk membentuk 
sistem imunitas komunal.

Selain itu, herd immunity juga dinilai belum tentu berhasil, karena SARS-CoV2 
adalah virus baru yang karakteristiknya belum banyak diketahui termasuk dalam 
pembentukan sistem imunitas komunal tersebut. Alasan lain karena belum adanya 
penelitian yang memastikan bahwa orang dengan infeksi kedua SARS-CoV2 memiliki 
proteksi antibodi spesifik pada sistem imunitasnya.

Hal yang saat ini gandrung diperdengarkan adalah istilah "new normal". Istilah 
ini awalnya digunakan untuk kondisi ekonomi dan keuangan pascakrisis seperti 
pada 2007-2008 atau resesi global 2008-2012, dan saat ini digunakan untuk 
pandemic Covid-19. New normal diartikan sebagai hidup bersih dan sehat sesuai 
protokol kesehatan untuk menekan persebaran Covid-19 --tanpa pilihan lain. 
Memang, menjaga jarak, cuci tangan, dan memakai masker adalah hal sederhana 
yang dapat dilakukan saat ini.

Bahkan jika memang vaksin Covid-19 berhasil ditemukan, mutasi virus akan 
menjadi masalah baru pada masa depan karena akan menghilangkan efektivitas 
vaksin yang sudah dibuat. Untuk itu, penelitian vaksin memang seharusnya 
dilakukan secara terus menerus dan berkesinambungan untuk berpacu dengan 
perubahan genetik yang terjadi pada virus. Serta, untuk bersiap dengan pandemi 
yang akan lahir pada masa mendatang dengan memprediksi perubahan-perubahan 
genetik yang mungkin terjadi.

Evolusi alam raya memang akan terus berjalan dengan proses seleksi alam yang 
kejam. Dunia selalu menyesuaikan kebutuhannya melalui adaptasi yang tidak bisa 
ditawar-tawar.

Yudhi Nugraha, M.Biomed, PhD Kepala Pusat Kajian Regenerative Medicine Fakultas 
Kedokteran UPN Veteran Jakarta

(mmu/mmu)







Kirim email ke