Kutipan Tulisan Profesor Jose Maria Sison dibawah ini sangat berguna untuk menganalisis situasi internasionl dewasa ini.
Am Mon, 1 Jun 2020 19:32:01 +0200 schrieb "Tatiana Lukman [email protected] [GELORA45]" <[email protected]>: > Coro remo ini tidak mampu menjawab satupun dari poin-poin pokok yang > saya ajukan dalam banyak jawaban saya. Tanpa malu-malu mau pakai > ajaran Mao untuk membela diri.... Hanya orang mabok yang dapat terus > dikelabui, atau orang-orang yang sama-sama Remonya... Tulisan saya > yang menyangkut Cina imperialis juga tidak dijawabnya. Jawablah > sekarang argumentasi Prof. Jose Maria Sison: > > Dalam diskusi online baru-baru ini tentang warisan Lenin dan > Imperialisme, Profesor Jose Maria Sison berkata bahwa mereka yang > bilang Cina bukan imperialis adalah kaum revisionis kepala batu atau > orang yang tidak tahu fakta-fakta sebagai berikut: 1. Di Cina, > terdapat dominasi kapitalisme monopoli negara yang berkombinasi > dengan kapitalisme monopoli swasta. Di kedua kapitalisme monopoli itu > terdapat para keluarga kaum birokrat negara dan partai ter-tinggi. > 2. Terjadi fusi antara modal industri dan modal bank yang melahirkan > oligarki finans. Kaum miliarder Cina adalah oligarki finans yang > mengontrol operasi industri dan finans. 3. Cina tidak hanya > mengekspor barang tetapi juga mengexport modal surplus dengan > persyaratan yang sangat berat. 4. Cina bekerja sama dengan perusahaan > monopoli asing di negeri lain. 5. Cina adalah pemain utama dalam > kontradiksi antar-imperialis dan sekarang terlibat dalam pergulatan > sengit dengan AS untuk membagi kembali dunia kapitalis. > > Contoh kongkrit ada di diri coro remo ini: revisionis kepala > batu!!! Kalau orang sudah jelas tentang kategori Cina sebagai > IMPERIALIS, semua alasan yang diajukan anteknya untuk membelanya > hanyalah SAMPAH!!! > > > Sent from Mail for Windows 10 > > From: ChanCT [email protected] [GELORA45] > Sent: Thursday, 28 May 2020 02:23 > To: [email protected]; Tatiana Lukman > Subject: Re: [GELORA45] Lantang Kritik Rezim Jokowi hingga > Dipolisikan Luhut,Ini Rekam JejakSaid Didu > > > Hahahaa, ... ini nenek betul-betul masih tinggi semangat tempur! > Boleh dilelang jadi ayam-adu, ... siapa mau gunakan! Hanya saja, bagi > yang berani menamakan diri pejuang rakyat, apalagi ML-FMTT sejati, > yang dibutuhkan bukan cuma semangat, tapi juga berani menggunakan > otak berfikir secara SEHAT dan ILMIAH! TIDAK semata berpegang teguh > pada dalil-dalil teori yang dibacanya itu saja! Adalah kenyataan yang > harus dihadapi, bahwa yang dinamakan jalan sosialisme, untuk > mewujudkan masyarakat sosialisme menjadi KENYATAAN itu, BELUM ada > yang BERHASIL dan bisa dijadikan contoh atau model kita! TIDAK ada > seorangpun didunia ini yang bisa dan mampu menunjukkan inilah JALAN > SOSIALISME yang paling TEPAT dan BENAR! Sedang yang lain dan berbeda > SALAH! Begitu juga dengan Jalan Sosialisme Berkarakter Tiongkok yang > dijalankan sekarang ini, Deng sendiri bilang, kami hanya YAKIN dengan > mempertahankan 4 Prinsip (Tetap menempuh jalan sosialisme; Tetap > mempertahankan Diktatur Proletariat; Tetap dibawah pimpinan PKT dan > Tetap dibimbing ML-FMTT) itu, kita bisa mewujudkan masyarakat > sosialisme, sekalipun bagaikan menyeberang sungai harus meraba-raba > batu. Artinya apa, setiap langkah kebijakan politik yang diambil bisa > saja SALAH dan perlu diperbaiki dan disempurnakan untuk kembali > kejalan yang benar, ... Begitulah proses kemajuan yang dicapai PKT > selama memimpin perjuangan rakyat Tiongkok, adalah keberhasilan > meengoreksi dan memperbaiki dirinya dari kesalahan-kesalahan yang > TERJADI! TIDAK dan BUKAN sekali jadi dan beres untuk selanjutnya! > Kalau saja kamu lebih teliti memperhatikan, diawal mula Deng > menjalankan politik "Reformasi dan Keterbukaan", dimana ketua PKT > ketika itu Hu Yaopang, itu cenderung ke pemikiran "sosial Demokrat", > dan masih berlanjut lebih dimantapkan dengan Zhao Zhiyang yang > puncaknya meledak "Peristiwa Tian An Men, 4 Juni" itu! Sungguh > beruntung, Deng yang saat itu menjabat ketua komisi militer masih > berkemampuan menggerakkan tentara dari Shi Chuan, untuk menindak > tegas dan menumpas gerakan Demokrat yang jelas ditunggangi CIA itu! > Nyaris RRT/PKT roboh lebih awal dari PKUS! Jadi, tidak aneh saat itu > tidak sedikit kebijakan yang kebablasan, bukan hanya sikap terhadap > partai sekawan, penilaian pujian berlebih terhadap Soeharto yang > berhasil dinobatkan kembali jadi Presiden hasil pemilu 1997. Yang > jelas tidak sesuai dengan kenyataan, lha belum lewat 1 tahun > terjungkel, dilengserkan 21 Mei 1998! Begitu juga dengan kebijakan > berlakukan hukum pasar, terjadi kebablasan dibidang KESEHATAN dan > PENDIDIKAN juga diberlakukan hukum pasar, menuntut RS dan Sekolah > membiayai kebutuhan operasi RS dan Sekolah dari pemasukan yang > didapatkan! Sungguh BERUNTUNG ketika itu Deng masih berkewibaan dan > berkemampuan mempertahankan prinsip Diktatur Proletariat, yang sudah > keras opini dalam masyarakat untuk mengganti dengan 3 kekuasaan, > Legislatif, Eksekutif dan Yudikatif! Bahkan cukup santer ketika itu > pembicaraan Mao ditahun 1956 untuk mundur dibarisan ke-dua, hanya > memegang Ketua PKT dan mempersilahkan Liu Shaochi tampil sebagai > Presiden. Pertarungan ketika itu, tetap dimenangkan Deng, dengan > pegang prinsip Tetap pertahankan Diktatur Proletariat. Yang hendak > saya katakan, tidak seharusnya kita pegang erat-erat ekor kesalahan > puluhan tahun yang lalu, tanpa melihat proses perkembangan > selanjutnya.. Melanjutkan KESALAHAN2 itu jadi lebih terpuruk dan > terjeblos dalam lumpur sosial-demokrat, atau berhasil mengoreksi dan > memperbaiki kesalahan untuk kembali kejalan yang BENAR, meneruskan > Jalan Sosialisme Berkarakter Tiongkok itu! > > > Tatiana Lukman [email protected] [GELORA45] 於 2020/5/27 下午 > 09:30 寫道: > Sama dengan tuannya, para penguasa remo China, kongkritnya Hu > Yaobang!! Mengelakkan menjawab to the point semua pertanyaan dan > bukti yang saya ajukan!! Tidak pernah antek remo ini bias menjawab > dengan bukti kongkrit. Hanya bla-bla...menggunakan otaknya yang sudah > dibuktikan tidak mampu berpikir logis, pengetahuan yang sangat cetek > karena memang perannya hanya sebagai terompet para penguasa > remo-kepitalis-imperailis China.. Ngatain orang lain kepala batu. > Lihat-lihat dulu bagaimana kepala batunya... Kepala batu dengan > mengajukan bukti-bukti kongkrit sudah tentu sangat berbeda secara > kwalitas dengan kepala batu berdasarkan pada otak kosong, oportunis > dan munafik.....Menjilat air ludahnya sendiri... Sudah mencampakkan > dan mengubur Mao, tapi kapan diperlukan, diangkat kembali dari > kuburannya...Dikiranya pembaca di sini sama goblok dan dungunya > seperti dirinya!! Tidak bias membantah bagaimana Tkknya Mao dulu > melawan remo Soviet sampai konflik perbatasan di Zhengbo.. Iya betul > kaum remo itu agresif!! Kaum remo China tidak berbeda dengan remo > Soviet!! Lihat bagaimana agresifnya China di Lautan China Selatan!! > China berani mengabaikan keputusan Tribunal Internasional, berani > terus menerus mencuri ikan di laut sekitar Pulau Natuna, berani > membangun infrastruktur militer... ah, pasti si remo akan bilang, > china membela “kedualatannya”!! Padahal apa yang disebut > “kedaulatan”itu merupakan perampasan dan secara sepihak menduduki > daerah dan pulau yang masih manjadi sengketa. Mana bukti solidaritas > proletar China kepada perjuangan Rakyat Filipina, rakyat India, > rakyat Kolombia, rakyat Palestina, rakyat Kurdis.. Apa solidaritas > yang kata si antek ini sudah berubah bentuknya??? Tahu, apa kata kaum > komunis Belanda kepada Hu Youbang? “ then the communist parties had > to publicly demonstrate their solidarity, which was lacking, as the > CPN had experienced, among the parties in the socialist states. I > SOLIDARITAS HARUS DITUNJUKKAN SECARA TERBUKA!!! DAN INILAH YANG TIDAK > ADA DI KALANGAN PARTAI-PARTAI NEGERI-NEGERI SOSIALIS! Maksudnya > negeri sosialis di sini termasuk Soviet dan negeri-negeri Eropa Timur > yang semuanya sudah dikuasai oleh partai-partai yang revisionis!! Si > remo bersembunyi di belakang kata-kata, solidaritas tidak hilang > hanya bentuknya berbeda!! Untuk membela kaum remo China, tidak > ragu-ragu si antek remo ini untuk menghina roang-roang komunis sejati > seperti Sidik Kertapati yang membela dignity komunisnya!! Memang > patut ditenggelamkan kaum remo sebangsa Chan ini kedalam comberan > wcnya kaum fasis Suharto!!! Sent from Mail for Windows 10 From: > ChanCT [email protected] [GELORA45] Sent: Wednesday, 27 May 2020 > 04:18 To: [email protected]; Tatiana Lukman Subject: Re: > [GELORA45] Lantang Kritik Rezim Jokowi hingga Dipolisikan Luhut,Ini > Rekam JejakSaid Didu Setiap kita TETAP boleh-boleh saja > mempertahankan pendapat masing-masing, TIDAK MESTI harus sama dan > SETUJU! Harus bisa sepakat untuk tidak ada kesepakatan bersama, ... > Apalagi dalam masalah menilai "KESALAHAN" yang lalu, biarkan saja > tetap berbeda! Kenapa tidak bisa utamakan saja menatap kedepan, jalan > MAJU kedepan, syukurlah masih ada yang bisa dicapai kesepakatan untuk > maju bersama, ...! Yang penting, setiap orang, partai, bangsa dan > rakyat dimanapun berada, bisa menyimpulkan setiap langkah yang > dilalui itu untuk MAJUUU lebih baik dan lebih cepat! Tidak selalu > memegang kencang-kencang EKOR yang sudah lalu, bahkan lewat puluhan > tahun tanpa melihat perubahan dan perkembangan yang ada, ... > Seolah-olah hal-ihwal itu benda MATI tanpa berubah dan berkembang! > Dan yang dibicarakan dan dikunyah-kunyah itu-itu juga, ... setelah > bertahun-tahun dibicarakan, dan masing-masing bertahan dengan > pendapatnya, jadi seperti JALAN BUNTU tidak juga mau melihat dan > menmukan kemungkinan-kemungkinan yang lain. TIDAK GUNA, ...! Setiap > kontradiksi dari segi-segi yang bertentangan, banyak tergantung dari > sikap dan bentuk perjuangan masing-masing segi yang berkontradiksi > itu. Yang biasa dikatakan Mao, "Bersatu dan BERJUANG!" Sekalipun > penekanan pada "BERJUANG" nya, juga tidak menampik ada kemungkinan > dan masa tertentu harus BERSATU, BERDAMAI untuk bisa mencapai > kemajuan, ... termasuk dalam menghadapi KAPITALISME/IMPERIALISME! > Begitulah PKT dimasa Mao, dari menentapkan imperialisme AS musuh > pokok, dan melawan dengan gigih kebijakan blokade sejagad dengan > semangat BERDIKARI yang tinggi, akhirnya ditahun 1972 BERHASIL > menjebol blokade yang dijalankan dan memaksa Nixon terbang ke Beijing > untuk berjabatan tangan dengan ketua Mao! Perubahan bentuk perjuangan > demikian, tidak membuat PKT tunduk menyerah pada imperialisme AS, > tidak menjilat pantat imperialisme AS, ... tapi terus berlawan dan > menantang begitu diinjak kedaulatan dan merugikan kepentingan rakyat > Tiongkok! Dilihat saja sendiri bagaimana pertikaian di Laut Tiongkok > Timur/Selatan dan mengatasi wabah Covid-19 terakhir ini, ... Sikap > TEGAS PKT berpihak pada kepentingan RAKYAT banyak juga tidak perlu > diragukan lagi, ...! Tidak ada perubahan kebijakan "melunak/membaik" > terhadap kapitalis didunia maupun dalam negeri, dan terhadap > pemerintah yang berkuasa dinegara-negara didunia ini, bisa dikatakan > MERUGIKAN KEDAULATAN dan kepentingan RAKYAT Tiongkok, adalah sangat > gegabah menuduh Deng menjilat pantat Soeharto hanya karena "TIDAK" > memperkenankan kalian melancarkan propaganda politik lagi di > TIongkok! Itu hanya menunjukkan kwalitas anda sebatas anak kecil > ngambek, tidak dikasih permen saja, ... Selama lebih 40 terakhir ini, > saya tidak melihat PKT dipencilkan partai-partai ML yang ada > didunia, ... jelas masih tetap ada hubungan dan diskusi! Bukankah > tahun 2017, dalam rangka memperingati 150 tahun "Das Kapital" dan 100 > tahun Rev. Oktober, juga seperti tahun lalu memperingati 70 tahun RRT > saya perhatikan tidak sedikit partai/grup ML didunia yang ikut hadiri > diskusi dan kegiatan peringatan, ... Tatiana Lukman > [email protected] [GELORA45] 於 2020/5/26 下午 09:52 寫道: > Sudah lupa pepesan kosong yang kamu propagandakan???1. Di dunia belum > PERNAH ada negeri sosialis. 2. Mao terlalu cepat menghancurkan kaum > kapitalis 3. Di dunia, semua harus melalui kapitalisme baru bias ke > sosialisme. Artinya antek remo ini MENEGASI SECARA KESELURUHAN > REVOLUSI NASIONAL DEMOKRATIS DIBAWAH PIMPINAN MAO. 4. RBKP merupakan > kesalahan Mao. Ayo bantah dulu ini!! Ngaku dulu bahwa memang inilah > pepesan kosong yang selalu kamu jajakan!! Oportunis dan munafik, > itulah watak antek remo ini... Dan soal 70% dan 30%, sebetulnya itu > adalah penilaian Mao terhadap dirinya sendiri. Begitu juga Mao > menilai Stalin. Sedangkan penilaian Deng terhadap Mao ahirnya justru > membalik angka 70 dan 30% itu. Di bawah ini apa yang ditulis prof. > Wertheim: :”Deng Xiao-ping, yang ketika itu pelan-pelan naik ke > posisi berkuasa, malah lebih terus terang lagi: ia bicara tentang ’20 > tahun yang hilang’; dengan jelas menganggap tidak ada yang positif > yang dicapai dalam Maju Besar Melompat pada tahun 1958 dan > pembentukan komune rakyat dan selanjutnya sampai Mao meninggal.” Soal > solidaritas internasional.. si antek remo ini TANPA MENGAJUKAN BUKTI > seenak perutnya bilang: tidak hilang , hanya bentuknya berubah... > Ha..ha..ha MANA BUKTINYA??? DALAM BENTUK APA SEKARANG SOLDIARITAS > INTERNASIONALNYA?? APAKAH DENGAN EKSPORT MODAL ITU??? Sampai sekarang > si antek remo tidak bias membantah buikti pengkhianatan kaum remo > China yang diajukan Sidik Kertapati. Sekarang saya kasih lagi bukti > yang diajukan Partai Komunis Belanda (CPN). Mei 1985 (artinya kaum > remo sudah berkuasa) dalam pertemuan antara CPN dengan Hu Yaobang, > Elli Tzeboud mengajukan perlu dan pentingnya solidaritas dengan kaum > komunis yang dikejar-kejar dan dibunuhi di Indonesia. Kawan-kawan CPN > menganggap sikap Hu “mengelak “ (ontwijkend dlm bhs Belandanya). Dan > Hu terang-terangan bilang bahwa “secret deals” dengan partai tidak > ada lagi.. Reaksi kawan2 CPN :” This attitude was undoubtedly > motivated by the fact that China had shown its intention to restore > diplomatic relations with Jakarta, which had been practically broken > since 1966”. Masih kurang meyakinkan bahwa solidaritas itu hilang > karena China mau cium pantat Suharto?? Mana bantahanmu tentang dulu > orang PKI mengutuk Soviet remo karena mendukung Suharto… Coba bantah > itu!!! Ajukan bukti yang bertentangan dengan ini!!! Dasar muka > tembok!! Sudah menegasi Mao, sekarang pakai ajaran Mao… Iih, > memuakkan!! Munafiiiiik!!!! Enak aja, maunya rakyat dunia bersatu > dengan kaum remo China untuk ganyang Amerika!!! Busyeeet!! Mao tidak > pernah mengajar dan menghimbau kaum M-L di dunia bersatu dengan remo > Khrustjov!!! Rakyat tidak bodoh dan dungu seperti antek remo!! > Sebagian bias tertipu karena kurang Pendidikan dan kesadaran, tapi > tidak SEMUA RAKYAT bias ditipu!!! Buktinya seabrek-abrek tulisan > dalam berbagai Bahasa yang mengutuk remo China!!! Sent from Mail for > Windows 10 From: ChanCT [email protected] [GELORA45] Sent: > Tuesday, 26 May 2020 05:47 To: [email protected]; Tatiana > Lukman Subject: Re: [GELORA45] Lantang Kritik Rezim Jokowi hingga > Dipolisikan Luhut,Ini Rekam JejakSaid Didu Hahahaa, ... ini nenek > lagi-lagi hanya membuktikan dirinya ekstrimis kepala batu! Nenek yang > otaknya sudah masuk air, ... TIDAK lagi bisa berpikir ilmiah! Pada > saat kita mengkritik kesalahan, tidak seharusnya mencampakkan juga > jasa dan KEBENARAN yang ada! Kita akan bolak-balik jatuh dari satu > kesalahan kekesalahn lain, jadi membanting-banting dari kesalahan > kiri kek kanan atau sebaliknya! BELAJAR lah bagaimana Ketua Mao > selalu mengajukan, harus pandai-pandai mempertahankan kebenaran yang > ada saat kita mengkritik satu kesalahan. Jangan semua disalahkan. > Juga sebaliknya, saat kita memuji kebenaran jangan pula melihat > adanya kesalahan atau kekurangan yang masih harus disempurnakan, ... > biasa ditentukan dengan 7 banding 3. Artinya sudah cukup baik kalau > mencapai 70% kebenaran dan hanya 30% kesalahan. Begitulah yang > dditrapkan Deng saat mengkritik kesalahan PKT dimasa Mao, ... dimana > Deng juga ikut menentukan dan harus bertanggungjawab. Deng bertahan > TETAP pegang prinsip KEBENARAN FMTT, dan mengagungkan Ketua Mao > sebagai Pemimpin Besar Rakyat Tiongkok. Dengan menyatakan Tanpa Ketua > Mao tidak ada Tiongkok Baru sekarang ini, ...! Pernyataan Ketua Mao, > 20 Mei 1970, itu kembali diingatkan rakyat Tiongkok dalam tayangan > video yang kebetulan saya ikuti dan saya angkat kembali dalam diskusi > kita, untuk mengingatkan saja, ... bahwa ketua Mao pandai menempatkan > posisinya dalam pertarungan 2 Super Power, Sovyet-AS kita itu untuk > kepentingan nasional Tiongkok! Tidak asal gebuk seperti yang > dilakukan nenek yang satu ini, ...! Jadi, sadar atau tidak > menempatkan dirinya SATU FRONT dengan imkperialisme AS menggempur RRT > yang lebih dibenci itu! Hilangkah solidaritas internasional? Tentu > saja TIDAK! Bentuknya saja berubah, ... kalau dahulu yang dijalankan > ekspor revolusi, langsung terlibat dan membantu gerakan rakyat > setempat, tanpa pedulikan sikap pemerintah yang berkuasa. Padahal > cara begitu tak dapat disangkal merupakan intervensi urusan dalam > negeri negara lain, ... yang tidak dikehendaki dan ditentang oleh RRT > sendiri! Apa bedanya dengan yang dijalankan imperialisme AS didunia, > selalu mengobok-obok dan bikin kacau dibanyak negeri untuk > menggulingkan kekuasaan pemerintah yang menentang AS??? Yang sekarang > dikenal dengan Revolusi Warna itu, ... Tatiana Lukman > [email protected] [GELORA45] 於 2020/5/26 上午 03:48 寫道: Nah, > kan keluar lagi oportunisnya... Tidak permasalahkan penilaian...RRT > sudah menjadi sosial-Imperialisme... Padahal gara-gara kategorisasi > China imperialis itu ,saya dicap memfitnah China. Maka saya kasih > kalimat Prof. Jose Maria Sison dan judul sebuah tulisan di mana > tertera jelas kalifikasi imperialis buat China..... antek remo tidak > mau mengakui kesalahannya dalam hal itu. Sekrang yang dipermasalahkan > kemana tinju dipusatkan... Padahal itu juga sudah saya jawab jelas > dengan contoh kongkrit ketika Indonesia ganyang Malaysia dan pada > waktu yang lain yang diganyang adalah imperialis Belanda... > Selebihnya bla,.... bla itu ngaco saja...dan debat kusir , karena > mengalihkan masalahnya...mau membenarkan pengkhianatan China atas > internasionalisme proletar.... Seolah-olah kalua sudah dibantu, > haruslah cepat menang!!!!Itu hanya ada didalam otak remo yang > nasionalis sempit dan egois!!! Sudah lupa Mao mengajar rakyatnya > untuk mengetatkan ikat pinggangnya supaya bias membantu rakyat negeri > lain??? Nyata benar bedanya Mao dengan Deng Xiaoping, bukan??? > Kewajiban solidaritas proletar sebuah partai tetap merupakan factor > ekstern bagi gerakan revolusioner suatu negeri. Ia tidak dapat > menggantikan factor internnya sendiri... He.. dimana pengetahuan > dialektikamu????Kemunduran atau kegagalan partai sekawan di satu > negeri tidak membenarkan hilangnya internasionalisme proletar partai > yang lain!!! Berapa banyak Soviet dan Stalin membantu kaum republik > di Spanyol dalam melawan fasisme Franco??? Akhirnya kalah!! Apakah > PKUS dan Stalin menarik solidaritas proletarnya kepada pelarian > politik Spanyol???? Belajar sejarah perang sipil di Spanyol!!! > Sungguh tak punya malu anda mau membenarkan pengkhianatan kaum remo > China terhadap PKI dan melupakan bahwa pengkhianatan itu diperlukan > untuk bias mencium pantat sang jenderal berlumuran darah Suharto!! > Apa sudah lupa bagaimana orang-orang PKI dulu mengganyang kaum Remo > Soviet karena tidak mengutuk kudeta militer 1965 ?? Hanya Kuba, > Tiongkok, Vietnam dan Korut yang tidak menurunkan bendera setengah > tiang sesuai dengan permintaan ORBA dalam hubungannya dengan kematian > 7 jenderal itu. Remo Soviet tunduk pada ORBA!! Setelah Mao meninggal > dan the gang of four ditangkap, tiba giliran remo china cium pantat > Suharto... Gimana, masih kurang jelas??? Apakah itu hanya lamunan, > mimpi dan bayangan otak saya saja??? Sent from Mail for Windows 10 > From: ChanCT [email protected] [GELORA45] Sent: Monday, 25 May > 2020 06:12 To: [email protected]; Tatiana Lukman Subject: Re: > [GELORA45] Lantang Kritik Rezim Jokowi hingga Dipolisikan Luhut,Ini > Rekam JejakSaid Didu Saya TIDAK permasalahkan penilaian atau > kesimpulan kalian RRT sudah menjadi sosial-Imperialisme, ... terserah > dan boleh-boleh saja seseorang berpendapat begitu! Saya tidak > berminat memperdebatkan dari teori keteori saja! Yang saya > permasalahkan kemana tinju kamu itu dipusatkan, ke RRT atau AS??? > Bagi saya, jalan yang ditempuh Tiongkok sepenuhnya adalah hak Rakyat > Tiongkok sendiri, yang sudah seharusnya bisa diterima dan dihargai! > Itulah pilihan rakyat Tiongkok sendiri, bukan dikendalikan negara > asing! Terima dan HARGAI-lah hasil penetapan dan perjuangan RAKYAT > bangsa lain, kemajuan dan kemakmuran yang dicapai Tiongkok SEPENUHNYA > adalah hasil keringat kerja-keras RAKYAT Tiongkok sendiri! Bukan > hasil penghisapan rakyat bangsa lain, bukan dari penghisapan > koloni-koloni didunia layaknya imperialisme AS! Apalagi perjuangan > rakyatnya sendiri masih terpuruk belum ada apa-apanya! Menampilkan > tokoh rakyatnya sendiri saja BELUM jadi sampai sekarang setelah lebih > 55 tahun digebug, ... Tiongkok berhak menentukan dan mengoreksi > kesalahan-kesalahan diwaktu yl. untuk menempuh jalan Sosialisme > berkarakter Tiongkok, termasuk usaha solidaritas internasional yang > tetap mereka jalankan itu. Bagaimana cara yang lebih baik > meningkatkan kesejahteraan 1,4 milyar rakyat Tiongkok, dan seiring > dengan itu bisa tetap membantu perkembangan dan perjuangan rakyat > didunia, ....! Kalau dahulu mereka jalankan "MEMBANTU" perjuangan > rakyat setempat tanpa peduli bagaimana sikap pemerintah yang > berkuasa, dan ternyata TIDAK membawa kemajuan sebagaimana diharapkan! > Bahkan PKI yang sudah dibantu sekuat tenaga bisa digebuk hancur oleh > Suharto dalam waktu tidak lebih 8 jam saja! Lalu, begitu juga dengan > PK Malaysia, Filipina bahkan yang berbatasan darat Burma juga tidak > berkembang sebagaimana diharapkan. Padahal semua BANTUAN itu > dijalankan dengan mengencangkan ikat tali-pinggang 600 juta rakyat! > Nampaknya, kesimpulan Tiongkok perjuangan rakyat dinegara-negara > sedang berkembang tidak bisa dimenangkan dengan kebangkitan > perjuangan bersenjata saja! Keadaan dan kondisi masyarakat nya sudah > berbeda dengan di Rusia dan Tiongkok masa Mao dahulu, ... Harus > dilancarkan dengan cara dan bentuk perjuangan lain! Lalu? Tiongkok > menempuh jalan sutra, dengan "Satu Sabuk dan Jalan" membantu > negara-negara sedang berkembang bisa maju dan berkembang lebih > baik, ... bekerja bersama, untung bersama dan menang bersama! Tentu > ini juga bukan obat mujarab yang PASTI menang dan berhasil nya, > apalagi masih ganjal dan terus digempur kekuatan imperialisme yang > digembongi Amerika itu masih sangat kuat! Tatiana Lukman > [email protected] [GELORA45] 於 2020/5/24 下午 10:36 寫道: > Sudah lupa bagaimana Tiongkok-nya Mao mengganyang > Sosial-imperialisme?? Sudah lupa bagaimana Tiongkok menolak kerjasama > dengan Sosialimperialisme dalam mendukung Vietnam?? Siapa > sosialimperialisme itu?? Kalau bukan kaum remo Soviet... Sudah hancur > luluh remo soviet, muncul remo Tiongkok dengan menangkap the gang of > four... Remo Tiongkok inilah yang menendang orang-orang PKI demi cium > pantat Suharto, dan akhirnya bisa menanamkan modalnya untuk mengeruk > kekayaan alam Indonesia!!! Katanya masih mengakui Lenin... Tahu nggak > definisi imperialisme oleh Lenin??? Yang paling penting adalah EXPORT > MODAL!!! Nih, jawab dan bantah secuil tulisanku di Sulindo!!! Jangan > debat kusir!! To the point!! Jawab point-point yang tertulis di > bawah!! Fred Engst (profesor ekonomi dari University of International > Business and Economics, Beijing) menjelaskan bahwa perusahaan negara > dimiliki oleh birokrasi pemerintah atau konglomerat modal negara > Tiongkok. Konglomerat modal negara adalah pemilik modal terbesar > dengan kekuasaan monopoli juga terbesar di Tiongkok. Gabungan kapital > finansial dan kapital industri yang dimiliki konglomerat modal negara > Tiongkok bahkan lebih besar dari satu korporasi, atau satu > konglomerat atau kartel atau konsorsium atau multinasional di AS, > Eropa, atau Jepang! Konglomerat modal negara ini memiliki kontrol > absolut atas partai, seluruh mesin negara dan kekuatan militer. > Dengan begitu, konglomerat modal negara dapat langsung memobilisasi > kapital industri dan kapital finansialnya di atas kekuasaan negara > guna mengabdi kepada kepentingan ekspansi modalnya.. Kapitalisme > monopoli di Tiongkok juga tidak bisa menghindari krisis kelebihan > produksi sehingga mengharuskannya untuk mengekspor modalnya ke > negeri-negeri Asia, Afrika dan Amerika Latin. Bertemulah kita dengan > ciri lain dari imperialisme yang sudah diungkapkan Lenin lebih dari > satu abad yang lalu, yaitu ekspor kapital! Sudah tentu kaum > revisionis modern terus menjajakan pepesan kosong “sosialisme dengan > ciri Tiongkok”. Bukan kebetulan dan sia-sia nama revisionis yang > disandangnya. Mereka merevisi dan mencampakkan inti sari dari > Marxisme-Leninisme dan menggantikannya dengan teori revisionis, > seperti misalnya, peralihan secara damai ke sosialisme dan sosialisme > pasar. Karena menganggap ajaran Lenin sudah usang, maka mereka > berkeras menolak kenyataan bahwa kapitalisme sudah membawa Tiongkok > menjadi kekuatan imperialis yang sedang berkembang. Padahal > perkembangan kapitalisme tak terhindarkan akan berakhir pada > imperialisme. Sifat agresif imperialis Tiongkok terlihat jelas dalam > usahanya untuk menciptakan orde baru global guna menggantikan > lembaga-lembaga internasional yang dikuasai kekuatan Barat-AS dengan > berbagai lembaga di bawah dominasinya. Misalnya, New Development > Bank, Asian Infrastructure Investment Bank dan New Silk Road Fund > dengan tujuan memobilisasi dukungan dan mendorong maju proyek One > Belt One Road (OBOR). Tiongkok memperkuat aliansi dengan Rusia. > Melalui Shanghai Cooperation Organization, Tiongkok berusaha > memperluas pengaruhnya di Eurasia. Ia juga tak ragu-ragu mengklaim > Lautan Tiongkok Selatan serta pulau-pulaunya sebagai miliknya. Dengan > cepat ia membangun di situ infrastruktur militer. Bahkan krisis virus > corona tidak menghentikan Tiongkok untuk terus mengkonsolidasi > kekuasaannya di pulau-pulau yang masih disengketakan dengan > negeri-negeri tetangganya. South China Morning Post memberitakan > bahwa Dewan Negara Tiongkok baru-baru ini telah menyetujui > pembentukan dua distrik baru, Distrik Xisha dan Distrik Nansha di > bawah kota Sansha. Sent from Mail for Windows 10 From: ChanCT > [email protected] [GELORA45] Sent: Saturday, 23 May 2020 15:56 To: > [email protected]; Tatiana Lukman Subject: Re: [GELORA45] > Lantang Kritik Rezim Jokowi hingga Dipolisikan Luhut,Ini Rekam > JejakSaid Didu Ini nenek Tatiana yang berani-beraninya menepuk diri > ML-Maois sejati, ternyata TIDAK BELAJAR dengan baik! Tetap hidup > dalam mimpi yang lepas dari kehidupan nyata ! Dimana setiap saat > kalau berani mengaku sebagai pejuang harus pandai-pandai menetapkan > musuh-pokok! Dan kesitulah tinju dipusatkan, ... Sekalipun sudah > genap lewat 50 tahun, 20 Mei 1970 yl. Metua Mao mengeluarkan > pernyataan yang terkenal "SELURUH RAKYAT SEDUNIA BERSATU, melawan > imperialisme Amerika dan cecunguknya!", saat itu, kita semua tahu ada > 2 Superpower, Amerika dan Sovyet! Kenapa Ketua Mao memilih dan > menentukan imperialisme AS musuh utama yang harus digempur dahulu! > Sedang Sovyet, jangankan diserempet oleh ketua Mao, ... disebut pun > tidak, ...! Lalu, apakah sekarang ini, percaturan politik dunia sudah > berubah dan RRT yang oleh Tatiana dituduh sudah menjadi imperialisme > itu menjadi musuh pokok RAKYAT SEDUNIA? Bukan lagi imperialisme AS??? > Kenapa? Padahal, kenyataan imperialisme AS inilah yang sampai > sekarang ini bikin gaduh, bikin kacau dimana-mana, tidak > henti-hentinya menjatuhkan banyak korban jiwa rakyat tak berdosa, ... > termasuk rakyat didalam negerinya sendiri. Akibat kedodoran mengatasi > wabah Covid-19 yang merebak sudah lebih 90 ribu warga AS meninggal! > Laluberusaha keras melempar tanggungjawab dan kesalahan pada > RRT, .... mendesak sekutu-sekutu nya ikutan menyerang dan menyalahkan > Tiongkok! Menghadapi situasi politik dunia demikian, bagaimana > mungkin yang menamakan diri pejuang rakyat justru ikutan imperialisme > AS menghujat dan menghajar habis-habisan RRT yang justru selalu dan > dimana saja mengutamakan kepentingan dan keselamatan rakyat! > Perhatikan saja saat menghadapi Covid-19 kali ini, didunia ini hanya > RRT yang berani korbankan ekonomi untuk mengutamakan keselamatan jiwa > rakyatnya! Dengan drastis menutup kota Wuhan, menghentikan kerja dan > mengharuskan setiap warga berdiam dirumah, tapi dalam waktu 70 hari > berhasil mengendalikan dan menghentikan penyebaran wabah Covid-19 > lebih lanjut, dengan korban jiwa 4634 orang. Patut juga dicatat dan > diketahui, sikap TEGAS PKT dalam menjalankan Perang RAKYAT Melawan > Covid-19, disamping menunjukkan kecanggihan dan kerapian PKT > mengorganisasi massa, tapi juga dalam SIKAP terhadap kader dan > anggota nya: Antara lain yang terbaca oleh saya: ada seorang > pejabat-tinggi pensiunan kota Wuhan, positif terjangkit Covid-19 > dianggap TIDAK disiplin menuruti perintah keharusan diisolasi masuk > RS! Karena merasa sesuai tingkat kekaderannya, berhak mendapatkan > fasilitas kamar seorang diri di RS! Tapi, dalam situasi darurat, > bukan saja ranjang di RS TIDAK CUKUP, banyak pasien yang ditidurkan > dilantai saja! Tanpa ranjang! Lalu pejabat pensiunan ini keluar RS > dan pulang bersembunyi dirumah dengan tuntutan obat-obat yang > diperlukan bisa dibawa pulang, … Pejabat tsb.. Kemudian kena > didisiplin masuk RS juga, tapi tetap dianggap MELANGGAR sikap pejabat > komunis yang harus mendahulukan kepentingan rakyat! Dipinalti dengan > turunkan setingkat uang pensiun yang bisa didapat! Ada lagi seorang > pejabat kota Wuhan, dicopot hanya karena saat Tahun Baru Imlek, tgl. > 25 Januari lari pulang kampung menghadiri pesta Ulang Tahun ayahnya, > padahal tgl. 23 Kota Wuhan sudah di TUTUP, setiap warga tidak boleh > keluar! Lalu, ada seorang pejabat Palang-Merah Wuhan juga kena > dicopot, hanya karena kelalaian dan keterlambatan meneruskan > sumbangan perlengkapan medis yang sudah diterima ke RS yang > membutuhkan! > > Tatiana Lukman [email protected] [GELORA45] 於 2020/5/19 下午 > 09:49 寫道: > Ini katak dalam tempurung yang sedang ngoceh, ya?? Tidak tahu sepak > terjang China sendiri sudah lama menempelkan watak > imperialisnya...saking piciknya dan penyembahan membutanya kepada > China kapitalis, tidak tahu membedakan antara sosialisme dengan > sosialimperialisme!!!Sudah tentu, dia tidak mau membaca wawancara > prof. Jose Maria Sison di mana kita temukan kalimat ini : The > Philippines has become far worse off than ever before after four > years of misrule by Duterte. This has been characterized by treason > and puppetry to both US and Chinese imperialism, mass murder and > other gross human rights violations, systematic plunder, increased > unemployment and mass poverty, aggravation of the drug problem under > the Duterte drug empire, unabashed moral depravity and the > accelerated deterioration of social and economic conditions. Dan > dibawah ini judul tulisan A. Thayer Takeover Trap: Why Imperialist > China Is Invading Africa China is in Africa not to advance Maoism, > but to control its resources, people, and potential. Sent from Mail > for Windows 10 From: ChanCT [email protected] [GELORA45] Sent: > Tuesday, 19 May 2020 14:12 To: Tatiana Lukman; GELORA_In Subject: Re: > [GELORA45] Lantang Kritik Rezim Jokowi hingga Dipolisikan Luhut,Ini > Rekam JejakSaid Didu Hehehee, ... nenek yang satu ini jadi sudah > MENGAKUI Tiongkok menjadi inperialisme nomor satu! Yang menggantikan > imperialisme Amerika MUSUH Nomor wahid nya didunia!!! Jadi, boleh > saja bersekutu dengan siapa saja, termasuk imperialisme AS untuk > GEMPUR RRT, ... PANTAS lah selama ini yang dijadikan dasar pegangan > suara yang keluar dari corong imperialisme AS, Falungong! Dan, ... > Said Didu dengan mudahnya dikategorikan pembela rakyat, yang berani > dan jujur memikirkan kepentingan negeri, ... Siapa tahu kalau dibalik > suarea manisnya itu hanyalah kepentingan modal imperialisme AS???!!! > Bukankah kemarin ini ada pemberitaan video bagaimana kondisi > masyarakat sekitar merasa DIUNTUNGKAN dengan kehadiran perusahaan > Tiongkok di Morowali! Juga ada pembantahan HOAX dari aktivis Makasar > yang secara khusus datang ke Morowali, ... Aktivis Makassar Bongkar > Kebenaran Dibalik Hoaks TKA China di Marowali > > https://seword..com/umum/viral-aktivis-makassar-bongkar-kebenaran-dibalik-aRjJZFnTiE > > > Tatiana Lukman 於 2020/5/19 下午 06:57 寫道: > Kalau betul apa yang diceritakan Kompas tentang Said Didu ini, > ketemulah kita dengan seroang pejabat yang berani, jujur dan masih > memikirkan kepentingan negeri. Ya logislah, kalau dia jadi berhadapan > dengan komprador china kapitalis-imperialis nomer satu. Sang > komprador, disamping kaya raya, kekuasaannya pun sangat besar, > kelihatan dari propaganda yang dia gerakkan untuk melicinkan proyek > di Morowali , meloloskan buruh China yang keahlian dan ketrampilannya > dianggap “begitu tinggi” sehingga tak bias tercapai oleh buruh > Indonesia yang dianggap goblok dan dungu!!!!Namanya juga komprador > china, cium pantat tuannya pun akan dilakukannya demi proyek-proyek > yang akan terus menggendutkan pundi-pundinya!!! Sent from Mail for > Windows 10 From: ChanCT [email protected] [GELORA45] Sent: > Saturday, 16 May 2020 15:13 To: GELORA_In Subject: [GELORA45] Lantang > Kritik Rezim Jokowi hingga Dipolisikan Luhut, Ini Rekam JejakSaid > Didu Lantang Kritik Rezim Jokowi hingga Dipolisikan Luhut, Ini Rekam > Jejak Said Didu Kompas.com - 16/05/2020, 07:37 WIB BAGIKAN: Lihat > Foto Said Didu saat masih menjabat sebagai Sekretaris BUMN, 2006. > (KOMPAS/LUCKY PRANSISKA) Penulis Muhammad Idris | Editor Muhammad > Idris JAKARTA, KOMPAS.com - Perseteruan mantan Sekretaris Kementerian > BUMN Said Didu dengan Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar > Panjaitan memasuki babak baru. Bermula dari kritiknya terhadap Luhut > di sebuah kanal YouTube, Said Didu harus menjalani pemeriksaan di > Bareskrim, Mabes Polri. Di sana, Said Didu diperiksa secara intensif > selama hampir 12 jam. Dia mengaku perlu menjelaskan maksud > pernyataannya yang dipermasalahkan Luhut, terkait komentarnya yang > menilai Luhut lebih mengutamakan investasi daripada penanganan virus > corona ( kasus Said Didu). Dari rekam jejaknya, Said Didu memang > terkenal sangat lantang mengkritik beberapa kebijakan rezim Presiden > Joko Widodo ( Jokowi) yang kini sudah masuk periode keduanya. Sebelum > vokal mengkritik Luhut, Said Didu juga beberapa kali melontarkan > kritik tajam ke pemerintah, salah satunya yakni kebijakan akuisisi > saham PT Freeport Indonesia (PTFI). Pembelian saham PTFI oleh > pemerintah lewat PT Inalum (Persero) ini dianggap merugikan negara. > Menurut Said, BUMN malah harus membayar mahal untuk membeli > perusahaan yang masa konsesinya hampir habis dan cadangan emas maupun > tembaganya sudah banyak terkuras. Baca juga: Jubir Luhut: Infonya Ada > Purnawirawan yang Namanya Dicatut Dukung Said Didu Saat itu, Inalum > harus merogoh uang 3,85 miliar dollar AS atau sekitar Rp 56,1 triliun > untuk mengambil alih 51 persen saham PTFI dari Freeport McMoran dan > Rio Tinto. Dalam kasus Jiwasraya, Said Didu pernah menyatakan adanya > indikasi tindak pidana korupsi dalam kasus gagal bayar polis yang > terjadi di PT Asuransi Jiwasraya (Persero). "Terjadi perampokan (di > Jiwasraya). Perusahaan yang sangat sehat pada 2016-2017, lalu defisit > puluhan triliun di tahun berikutnya, berarti ada penyedotan dana yang > terjadi," kata dia. Said Didu juga tak melihat kemungkinan adanya > masalah gagal bayar di Jiwasraya disebabkan oleh kesalahan dalam > proses berbisnis. Said Didu bilang, kasus Jiwasraya merupakan > perampokan uang negara. Baca juga: Kuasa Hukum Luhut Pertanyakan Said > Didu yang Mangkir saat Dipanggil Bareskrim "Tidak mungkin kalau hanya > risiko bisnis, karena ekonomi di 2018 biasa-biasa saja kok, tidak > seperti 1998. Enggak mungkin bocor sampai puluhan triliun, kalau > risiko bisnis enggak sebesar itu," kata dia. Tak berhenti sampai di > situ, Said Didu juga sempat mengkritik Presiden Joko Widodo (Jokowi) > yang punya kebiasaan meresmikan jalan tol dan menganggapnya sebagai > pencitraan. Mantan PNS BPPT dan komisaris BUMN Karir pria asal > Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan ini banyak dihabiskan sebagai PNS > di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Karir birokratnya > dirintisnya dari bawah di BPPT sejak tahun 1987 mulai dari peneliti, > merangkak karir sebagai pejabat eselon di badan riset tersebut. > Namanya mulai lebih sering wara-wiri menghiasi media massa nasional > sejak ditunjuk menjadi Sekretaris Kementerian BUMN. Dia juga pernah > terpilih sebagai anggota MPR di tahun 1997. Sebagai petinggi di > Kementerian BUMN, Said Didu juga diplot sebagai komisaris di beberapa > perusahaan pelat merah di antaranya Komisaris PTPN IV (Persero) dan > PT Bukit Asam Tbk (Persero). Jebolan Teknik Industri Institut > Pertanian Bogor (IPB) ini juga sempat menduduki kursi komisaris PT > Merpati Nusantara Airlines, Komisaris PT Asuransi Jiwa Inhealth > Indonesia, dan Dewan Pengawas Rumah Sakit RSCM Jakarta. Baca juga: > Luhut: Soal Said Didu, Itu Urusan Anak Buah Saya Di awal rezim > periode pertama Presiden Joko Widodo (Jokowi), Said Didu ikut masuk > dalam lingkaran pemerintahan tahun 2014-2016. Dia menjabat sebagai > Staf Khusus Menteri ESDM saat itu, Sudirman Saaid. Di tahun 2018, > Said Didu dicopot dari jabatannya sebagai komisaris di Bukit Asam dan > digantikan oleh Jhoni Ginting. Pencopotannya dilakukan oleh Menteri > BUMN Rini Soemarno dalam RUPSLB Bukit Asam. Kementerian BUMN saat ini > beralasan, pencopotan dari kursi Komisaris Bukit Asam dilakukan > karena Sidu Didu dianggap sudah tidak sejalan dengan pemegang saham. > Said Didu sempat jadi sorotan saat dirinya memutuskan mundur sebagai > PNS pada 13 Mei 2019. Alasan pengajuan pensiun dari BPPT agar dirinya > bisa lebih leluasa mengkritik kebijakan publik yang dinilainya perlu > diperbaiki. Baca juga: Tak Ada Permintaan Maaf, Luhut Ngotot Tuntut > Said Didu ke Jalur Hukum Tercatat, dirinya sudah mengabdi sebagai ASN > selama 32 tahun 11 bulan. Langkah bersebrangan dengan rezim Jokowi > juga pernah diambil Said Didu saat dirinya menerima tawaran dari Tim > Kuasa Hukum Prabowo Subianto-Sandiaga Uno sebagai saksi di Mahkamah > Konstitusi (MK) terkait hasil Pilpres. > > Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Lantang Kritik > Rezim Jokowi hingga Dipolisikan Luhut, Ini Rekam Jejak Said Didu", > https://money.kompas.com/read/2020/05/16/073724426/lantang-kritik-rezim-jokowi-hingga-dipolisikan-luhut-ini-rekam-jejak-said-didu?page=all#page2. > Penulis : Muhammad Idris Editor : Muhammad Idris > > > > > > > >
