Kutipan Tulisan Profesor Jose Maria Sison dibawah ini sangat berguna
untuk menganalisis situasi internasionl dewasa ini.

 
Am Mon, 1 Jun 2020 19:32:01
+0200 schrieb "Tatiana Lukman [email protected] [GELORA45]"
<[email protected]>:

> Coro remo ini tidak mampu menjawab satupun dari poin-poin pokok yang
> saya ajukan dalam banyak jawaban saya. Tanpa malu-malu mau pakai
> ajaran Mao untuk membela diri.... Hanya orang mabok yang dapat terus
> dikelabui, atau orang-orang yang sama-sama Remonya... Tulisan saya
> yang menyangkut Cina imperialis juga tidak dijawabnya. Jawablah
> sekarang argumentasi Prof. Jose Maria Sison:
> 
> Dalam diskusi online baru-baru ini tentang warisan Lenin dan
> Imperialisme, Profesor Jose Maria Sison berkata bahwa mereka yang
> bilang Cina bukan imperialis adalah kaum revisionis kepala batu atau
> orang yang tidak tahu fakta-fakta sebagai berikut: 1. Di Cina,
> terdapat dominasi kapitalisme monopoli negara yang berkombinasi
> dengan kapitalisme monopoli swasta. Di kedua kapitalisme monopoli itu
> terdapat para keluarga kaum birokrat negara dan partai ter-tinggi.
> 2. Terjadi fusi antara modal industri dan modal bank yang melahirkan
> oligarki finans. Kaum miliarder Cina adalah oligarki finans yang
> mengontrol operasi industri dan finans. 3. Cina tidak hanya
> mengekspor barang tetapi juga mengexport modal surplus dengan
> persyaratan yang sangat berat. 4. Cina bekerja sama dengan perusahaan
> monopoli asing di negeri lain. 5. Cina adalah pemain utama dalam
> kontradiksi antar-imperialis dan sekarang terlibat dalam pergulatan
> sengit dengan AS untuk membagi kembali dunia kapitalis.
> 
> Contoh kongkrit ada di diri coro remo ini: revisionis kepala
> batu!!!   Kalau orang sudah jelas tentang kategori Cina sebagai
> IMPERIALIS, semua alasan yang diajukan anteknya untuk membelanya
> hanyalah SAMPAH!!!
> 
> 
> Sent from Mail for Windows 10
> 
> From: ChanCT [email protected] [GELORA45]
> Sent: Thursday, 28 May 2020 02:23
> To: [email protected]; Tatiana Lukman
> Subject: Re: [GELORA45] Lantang Kritik Rezim Jokowi hingga
> Dipolisikan Luhut,Ini Rekam JejakSaid Didu
> 
>   
> Hahahaa, ... ini nenek betul-betul masih tinggi semangat tempur!
> Boleh dilelang jadi ayam-adu, ... siapa mau gunakan! Hanya saja, bagi
> yang berani menamakan diri pejuang rakyat, apalagi ML-FMTT sejati,
> yang dibutuhkan bukan cuma semangat, tapi juga berani menggunakan
> otak berfikir secara SEHAT dan ILMIAH! TIDAK semata berpegang teguh
> pada dalil-dalil teori yang dibacanya itu saja! Adalah kenyataan yang
> harus dihadapi, bahwa yang dinamakan jalan sosialisme, untuk
> mewujudkan masyarakat sosialisme menjadi KENYATAAN itu, BELUM ada
> yang BERHASIL dan bisa dijadikan contoh atau model kita! TIDAK ada
> seorangpun didunia ini yang bisa dan mampu menunjukkan inilah JALAN
> SOSIALISME yang paling TEPAT dan BENAR! Sedang yang lain dan berbeda
> SALAH! Begitu juga dengan Jalan Sosialisme Berkarakter Tiongkok yang
> dijalankan sekarang ini, Deng sendiri bilang, kami hanya YAKIN dengan
> mempertahankan 4 Prinsip (Tetap menempuh jalan sosialisme; Tetap
> mempertahankan Diktatur Proletariat; Tetap dibawah pimpinan PKT dan
> Tetap dibimbing ML-FMTT) itu, kita bisa mewujudkan masyarakat
> sosialisme, sekalipun bagaikan menyeberang sungai harus meraba-raba
> batu. Artinya apa, setiap langkah kebijakan politik yang diambil bisa
> saja SALAH dan perlu diperbaiki dan disempurnakan untuk kembali
> kejalan yang benar, ... Begitulah proses kemajuan yang dicapai PKT
> selama memimpin perjuangan rakyat Tiongkok, adalah keberhasilan
> meengoreksi dan memperbaiki dirinya dari kesalahan-kesalahan yang
> TERJADI! TIDAK dan BUKAN sekali jadi dan beres untuk selanjutnya!
> Kalau saja kamu lebih teliti memperhatikan, diawal mula Deng
> menjalankan politik "Reformasi dan Keterbukaan", dimana ketua PKT
> ketika itu Hu Yaopang, itu cenderung ke pemikiran "sosial Demokrat",
> dan masih berlanjut lebih dimantapkan dengan Zhao Zhiyang yang
> puncaknya meledak "Peristiwa Tian An Men, 4 Juni" itu! Sungguh
> beruntung, Deng yang saat itu menjabat ketua komisi militer masih
> berkemampuan menggerakkan tentara dari Shi Chuan, untuk menindak
> tegas dan menumpas gerakan Demokrat yang jelas ditunggangi CIA itu!
> Nyaris RRT/PKT roboh lebih awal dari PKUS! Jadi, tidak aneh saat itu
> tidak sedikit kebijakan yang kebablasan, bukan hanya sikap terhadap
> partai sekawan, penilaian pujian berlebih terhadap Soeharto yang
> berhasil dinobatkan kembali jadi Presiden hasil pemilu 1997. Yang
> jelas tidak sesuai dengan kenyataan, lha belum lewat 1 tahun
> terjungkel, dilengserkan 21 Mei 1998! Begitu juga dengan kebijakan
> berlakukan hukum pasar, terjadi kebablasan dibidang KESEHATAN dan
> PENDIDIKAN juga diberlakukan hukum pasar, menuntut RS dan Sekolah
> membiayai kebutuhan operasi RS dan Sekolah dari pemasukan yang
> didapatkan! Sungguh BERUNTUNG ketika itu Deng masih berkewibaan dan
> berkemampuan mempertahankan prinsip Diktatur Proletariat, yang sudah
> keras opini dalam masyarakat untuk mengganti dengan 3 kekuasaan,
> Legislatif, Eksekutif dan Yudikatif! Bahkan cukup santer ketika itu
> pembicaraan Mao ditahun 1956 untuk mundur dibarisan ke-dua, hanya
> memegang Ketua PKT dan mempersilahkan Liu Shaochi tampil sebagai
> Presiden. Pertarungan ketika itu, tetap dimenangkan Deng, dengan
> pegang prinsip Tetap pertahankan Diktatur Proletariat. Yang hendak
> saya katakan, tidak seharusnya kita pegang erat-erat ekor kesalahan
> puluhan tahun yang lalu, tanpa melihat proses perkembangan
> selanjutnya.. Melanjutkan KESALAHAN2 itu jadi lebih terpuruk dan
> terjeblos dalam lumpur sosial-demokrat, atau berhasil mengoreksi dan
> memperbaiki kesalahan untuk kembali kejalan yang BENAR, meneruskan
> Jalan Sosialisme Berkarakter Tiongkok itu!
> 
> 
> Tatiana Lukman [email protected] [GELORA45] 於 2020/5/27 下午
> 09:30 寫道: 
> Sama dengan tuannya, para penguasa remo China, kongkritnya Hu
> Yaobang!!  Mengelakkan menjawab to the point semua pertanyaan dan
> bukti yang saya ajukan!! Tidak pernah antek remo ini bias menjawab
> dengan bukti kongkrit. Hanya bla-bla...menggunakan otaknya yang sudah
> dibuktikan tidak mampu berpikir logis, pengetahuan yang sangat cetek
> karena memang perannya hanya sebagai terompet para penguasa
> remo-kepitalis-imperailis China.. Ngatain orang lain kepala batu.
> Lihat-lihat dulu bagaimana kepala batunya... Kepala batu dengan
> mengajukan bukti-bukti kongkrit sudah tentu sangat berbeda secara
> kwalitas dengan kepala batu berdasarkan pada otak kosong, oportunis
> dan munafik.....Menjilat air ludahnya sendiri... Sudah mencampakkan
> dan mengubur Mao, tapi kapan diperlukan, diangkat kembali dari
> kuburannya...Dikiranya pembaca  di sini sama goblok dan dungunya
> seperti dirinya!! Tidak bias membantah bagaimana Tkknya Mao dulu
> melawan remo Soviet sampai konflik perbatasan di Zhengbo.. Iya betul
> kaum remo itu agresif!! Kaum remo China tidak berbeda dengan remo
> Soviet!! Lihat bagaimana agresifnya China di Lautan China Selatan!!
> China berani mengabaikan keputusan Tribunal Internasional,  berani
> terus menerus mencuri ikan di laut sekitar Pulau Natuna, berani
> membangun infrastruktur militer... ah, pasti si remo akan bilang,
> china membela “kedualatannya”!! Padahal apa yang disebut
> “kedaulatan”itu merupakan perampasan dan secara sepihak menduduki
> daerah dan pulau yang masih manjadi sengketa. Mana bukti solidaritas
> proletar China kepada perjuangan Rakyat Filipina, rakyat India,
> rakyat Kolombia, rakyat Palestina, rakyat Kurdis.. Apa  solidaritas
> yang kata si antek ini sudah berubah bentuknya??? Tahu, apa kata kaum
> komunis Belanda kepada Hu Youbang? “ then the communist parties had
> to publicly demonstrate their solidarity, which was lacking, as the
> CPN had experienced, among the parties in the socialist states. I
> SOLIDARITAS HARUS DITUNJUKKAN SECARA TERBUKA!!! DAN INILAH YANG TIDAK
> ADA DI KALANGAN PARTAI-PARTAI NEGERI-NEGERI SOSIALIS! Maksudnya
> negeri sosialis di sini termasuk Soviet dan negeri-negeri Eropa Timur
> yang semuanya sudah dikuasai oleh partai-partai yang revisionis!! Si
> remo bersembunyi di belakang kata-kata, solidaritas tidak hilang
> hanya bentuknya berbeda!!  Untuk membela kaum remo China, tidak
> ragu-ragu si antek remo ini untuk menghina roang-roang komunis sejati
> seperti Sidik Kertapati yang membela dignity komunisnya!! Memang
> patut ditenggelamkan kaum remo sebangsa Chan ini kedalam comberan
> wcnya kaum fasis Suharto!!! Sent from Mail for Windows 10 From:
> ChanCT [email protected] [GELORA45] Sent: Wednesday, 27 May 2020
> 04:18 To: [email protected]; Tatiana Lukman Subject: Re:
> [GELORA45] Lantang Kritik Rezim Jokowi hingga Dipolisikan Luhut,Ini
> Rekam JejakSaid Didu Setiap kita TETAP boleh-boleh saja
> mempertahankan pendapat masing-masing, TIDAK MESTI harus sama dan
> SETUJU! Harus bisa sepakat untuk tidak ada kesepakatan bersama, ...
> Apalagi dalam masalah menilai "KESALAHAN" yang lalu, biarkan saja
> tetap berbeda! Kenapa tidak bisa utamakan saja menatap kedepan, jalan
> MAJU kedepan, syukurlah masih ada yang bisa dicapai kesepakatan untuk
> maju bersama, ...! Yang penting, setiap orang, partai, bangsa dan
> rakyat dimanapun berada, bisa menyimpulkan setiap langkah yang
> dilalui itu untuk MAJUUU lebih baik dan lebih cepat! Tidak selalu
> memegang kencang-kencang EKOR yang sudah lalu, bahkan lewat puluhan
> tahun tanpa melihat perubahan dan perkembangan yang ada, ...
> Seolah-olah hal-ihwal itu benda MATI tanpa berubah dan berkembang!
> Dan yang dibicarakan dan dikunyah-kunyah itu-itu juga, ... setelah
> bertahun-tahun dibicarakan, dan masing-masing bertahan dengan
> pendapatnya, jadi seperti JALAN BUNTU tidak juga mau melihat dan
> menmukan kemungkinan-kemungkinan yang lain. TIDAK GUNA, ...! Setiap
> kontradiksi dari segi-segi yang bertentangan, banyak tergantung dari
> sikap dan bentuk perjuangan masing-masing segi yang berkontradiksi
> itu. Yang biasa dikatakan Mao, "Bersatu dan BERJUANG!" Sekalipun
> penekanan pada "BERJUANG" nya, juga tidak menampik ada kemungkinan
> dan masa tertentu harus BERSATU, BERDAMAI untuk bisa mencapai
> kemajuan, ... termasuk dalam menghadapi KAPITALISME/IMPERIALISME!
> Begitulah PKT dimasa Mao, dari menentapkan imperialisme AS musuh
> pokok, dan melawan dengan gigih kebijakan blokade sejagad dengan
> semangat BERDIKARI yang tinggi, akhirnya ditahun 1972 BERHASIL
> menjebol blokade yang dijalankan dan memaksa Nixon terbang ke Beijing
> untuk berjabatan tangan dengan ketua Mao! Perubahan bentuk perjuangan
> demikian, tidak membuat PKT tunduk menyerah pada imperialisme AS,
> tidak menjilat pantat imperialisme AS, ... tapi terus berlawan dan
> menantang begitu diinjak kedaulatan dan merugikan kepentingan rakyat
> Tiongkok! Dilihat saja sendiri bagaimana pertikaian di Laut Tiongkok
> Timur/Selatan dan mengatasi wabah Covid-19 terakhir ini, ... Sikap
> TEGAS PKT berpihak pada kepentingan RAKYAT banyak juga tidak perlu
> diragukan lagi, ...! Tidak ada perubahan kebijakan "melunak/membaik"
> terhadap kapitalis didunia maupun dalam negeri, dan terhadap
> pemerintah yang berkuasa dinegara-negara didunia ini, bisa dikatakan
> MERUGIKAN KEDAULATAN dan kepentingan RAKYAT Tiongkok, adalah sangat
> gegabah menuduh Deng menjilat pantat Soeharto hanya karena "TIDAK"
> memperkenankan kalian melancarkan propaganda politik lagi di
> TIongkok! Itu hanya menunjukkan kwalitas anda sebatas anak kecil
> ngambek, tidak dikasih permen saja, ... Selama lebih 40 terakhir ini,
> saya tidak melihat PKT dipencilkan partai-partai ML yang ada
> didunia, ... jelas masih tetap ada hubungan dan diskusi! Bukankah
> tahun 2017, dalam rangka memperingati 150 tahun "Das Kapital" dan 100
> tahun Rev. Oktober, juga seperti tahun lalu memperingati 70 tahun RRT
> saya perhatikan tidak sedikit partai/grup ML didunia yang ikut hadiri
> diskusi dan kegiatan peringatan, ... Tatiana Lukman
> [email protected] [GELORA45] 於 2020/5/26 下午 09:52 寫道:
> Sudah lupa pepesan kosong yang kamu propagandakan???1. Di dunia belum
> PERNAH ada negeri sosialis. 2. Mao terlalu cepat menghancurkan kaum
> kapitalis 3. Di dunia, semua harus melalui kapitalisme baru bias ke
> sosialisme. Artinya antek remo ini MENEGASI SECARA KESELURUHAN
> REVOLUSI NASIONAL DEMOKRATIS DIBAWAH PIMPINAN MAO.  4. RBKP merupakan
> kesalahan Mao. Ayo bantah dulu ini!! Ngaku dulu bahwa memang inilah
> pepesan kosong yang selalu kamu jajakan!! Oportunis dan munafik,
> itulah watak antek remo ini... Dan soal 70% dan 30%, sebetulnya itu
> adalah penilaian Mao terhadap dirinya sendiri. Begitu juga Mao
> menilai Stalin. Sedangkan penilaian Deng terhadap Mao ahirnya justru
> membalik angka 70 dan 30% itu. Di bawah ini apa yang ditulis prof.
> Wertheim: :”Deng Xiao-ping, yang ketika itu pelan-pelan naik ke
> posisi berkuasa, malah lebih terus terang lagi: ia bicara tentang ’20
> tahun yang hilang’; dengan jelas menganggap tidak ada yang positif
> yang dicapai dalam Maju Besar Melompat pada tahun 1958 dan
> pembentukan komune rakyat dan selanjutnya sampai Mao meninggal.” Soal
> solidaritas internasional.. si antek remo ini TANPA MENGAJUKAN BUKTI
> seenak perutnya bilang: tidak hilang , hanya bentuknya berubah...
> Ha..ha..ha  MANA BUKTINYA??? DALAM BENTUK APA SEKARANG SOLDIARITAS
> INTERNASIONALNYA?? APAKAH DENGAN EKSPORT MODAL ITU??? Sampai sekarang
> si antek remo tidak bias membantah buikti pengkhianatan kaum remo
> China yang diajukan Sidik Kertapati. Sekarang saya kasih lagi bukti
> yang diajukan Partai Komunis Belanda (CPN). Mei 1985 (artinya kaum
> remo sudah berkuasa) dalam pertemuan antara CPN dengan Hu Yaobang,
> Elli Tzeboud mengajukan perlu dan pentingnya solidaritas dengan kaum
> komunis yang dikejar-kejar dan dibunuhi di Indonesia. Kawan-kawan CPN
> menganggap sikap Hu “mengelak “ (ontwijkend dlm bhs Belandanya). Dan
> Hu terang-terangan bilang bahwa “secret deals” dengan partai tidak
> ada lagi.. Reaksi kawan2 CPN :” This attitude was undoubtedly
> motivated by the fact that China had shown its intention to restore
> diplomatic relations with Jakarta, which had been practically broken
> since 1966”. Masih kurang meyakinkan bahwa solidaritas itu hilang
> karena China mau cium pantat Suharto?? Mana bantahanmu tentang dulu
> orang PKI mengutuk Soviet remo karena mendukung Suharto… Coba bantah
> itu!!! Ajukan bukti yang bertentangan dengan ini!!! Dasar muka
> tembok!! Sudah menegasi Mao, sekarang pakai ajaran Mao… Iih,
> memuakkan!! Munafiiiiik!!!! Enak aja, maunya rakyat dunia bersatu
> dengan kaum remo China untuk ganyang Amerika!!! Busyeeet!! Mao tidak
> pernah mengajar dan menghimbau kaum M-L di dunia bersatu dengan remo
> Khrustjov!!! Rakyat tidak bodoh dan dungu seperti antek remo!!
> Sebagian bias tertipu karena kurang Pendidikan dan kesadaran, tapi
> tidak  SEMUA RAKYAT bias ditipu!!! Buktinya seabrek-abrek tulisan
> dalam berbagai Bahasa yang mengutuk remo China!!! Sent from Mail for
> Windows 10 From: ChanCT [email protected] [GELORA45] Sent:
> Tuesday, 26 May 2020 05:47 To: [email protected]; Tatiana
> Lukman Subject: Re: [GELORA45] Lantang Kritik Rezim Jokowi hingga
> Dipolisikan Luhut,Ini Rekam JejakSaid Didu Hahahaa, ... ini nenek
> lagi-lagi hanya membuktikan dirinya ekstrimis kepala batu! Nenek yang
> otaknya sudah masuk air, ... TIDAK lagi bisa berpikir ilmiah! Pada
> saat kita mengkritik kesalahan, tidak seharusnya mencampakkan juga
> jasa dan KEBENARAN yang ada! Kita akan bolak-balik jatuh dari satu
> kesalahan kekesalahn lain, jadi membanting-banting dari kesalahan
> kiri kek kanan atau sebaliknya! BELAJAR lah bagaimana Ketua Mao
> selalu mengajukan, harus pandai-pandai mempertahankan kebenaran yang
> ada saat kita mengkritik satu kesalahan. Jangan semua disalahkan.
> Juga sebaliknya, saat kita memuji kebenaran jangan pula melihat
> adanya kesalahan atau kekurangan yang masih harus disempurnakan, ...
> biasa ditentukan dengan 7 banding 3. Artinya sudah cukup baik kalau
> mencapai 70% kebenaran dan hanya 30% kesalahan. Begitulah yang
> dditrapkan Deng saat mengkritik kesalahan PKT dimasa Mao, ... dimana
> Deng juga ikut menentukan dan harus bertanggungjawab. Deng bertahan
> TETAP pegang prinsip KEBENARAN FMTT, dan mengagungkan Ketua Mao
> sebagai Pemimpin Besar Rakyat Tiongkok. Dengan menyatakan Tanpa Ketua
> Mao tidak ada Tiongkok Baru sekarang ini, ...! Pernyataan Ketua Mao,
> 20 Mei 1970, itu kembali diingatkan rakyat Tiongkok dalam tayangan
> video yang kebetulan saya ikuti dan saya angkat kembali dalam diskusi
> kita, untuk mengingatkan saja, ... bahwa ketua Mao pandai menempatkan
> posisinya dalam pertarungan 2 Super Power, Sovyet-AS kita itu untuk
> kepentingan nasional Tiongkok! Tidak asal gebuk seperti yang
> dilakukan nenek yang satu ini, ...! Jadi, sadar atau tidak
> menempatkan dirinya SATU FRONT dengan imkperialisme AS menggempur RRT
> yang lebih dibenci itu! Hilangkah solidaritas internasional? Tentu
> saja TIDAK! Bentuknya saja berubah, ... kalau dahulu yang dijalankan
> ekspor revolusi, langsung terlibat dan membantu gerakan rakyat
> setempat, tanpa pedulikan sikap pemerintah yang berkuasa. Padahal
> cara begitu tak dapat disangkal merupakan intervensi urusan dalam
> negeri negara lain, ... yang tidak dikehendaki dan ditentang oleh RRT
> sendiri! Apa bedanya dengan yang dijalankan imperialisme AS didunia,
> selalu mengobok-obok dan bikin kacau dibanyak negeri untuk
> menggulingkan kekuasaan pemerintah yang menentang AS??? Yang sekarang
> dikenal dengan Revolusi Warna itu, ... Tatiana Lukman
> [email protected] [GELORA45] 於 2020/5/26 上午 03:48 寫道: Nah,
> kan keluar lagi oportunisnya... Tidak permasalahkan penilaian...RRT
> sudah menjadi sosial-Imperialisme... Padahal gara-gara kategorisasi
> China imperialis itu ,saya dicap memfitnah China. Maka saya kasih
> kalimat Prof. Jose Maria Sison dan judul sebuah tulisan di mana
> tertera jelas kalifikasi imperialis buat China..... antek remo tidak
> mau mengakui kesalahannya dalam hal itu. Sekrang yang dipermasalahkan
> kemana tinju dipusatkan... Padahal itu juga sudah saya jawab jelas
> dengan contoh kongkrit ketika Indonesia ganyang Malaysia dan pada
> waktu yang lain yang diganyang adalah imperialis Belanda...
> Selebihnya  bla,.... bla itu ngaco saja...dan debat kusir , karena
> mengalihkan masalahnya...mau membenarkan pengkhianatan China atas
> internasionalisme proletar.... Seolah-olah kalua sudah dibantu,
> haruslah cepat menang!!!!Itu hanya ada didalam otak remo yang
> nasionalis sempit dan egois!!! Sudah lupa Mao mengajar rakyatnya
> untuk mengetatkan ikat pinggangnya supaya bias membantu rakyat negeri
> lain??? Nyata benar bedanya Mao dengan Deng Xiaoping, bukan???
> Kewajiban solidaritas proletar sebuah partai tetap merupakan factor
> ekstern bagi gerakan revolusioner suatu negeri. Ia tidak dapat
> menggantikan factor internnya sendiri... He.. dimana pengetahuan
> dialektikamu????Kemunduran atau kegagalan partai sekawan di satu
> negeri tidak membenarkan hilangnya internasionalisme proletar partai
> yang lain!!! Berapa banyak Soviet dan Stalin membantu kaum republik
> di Spanyol dalam melawan fasisme Franco??? Akhirnya kalah!! Apakah
> PKUS dan Stalin menarik solidaritas proletarnya kepada pelarian
> politik Spanyol???? Belajar sejarah perang sipil di Spanyol!!!
> Sungguh tak punya malu anda mau membenarkan pengkhianatan kaum remo
> China terhadap PKI dan melupakan bahwa pengkhianatan itu diperlukan
> untuk bias mencium pantat  sang jenderal berlumuran darah Suharto!!
> Apa sudah lupa bagaimana orang-orang PKI  dulu mengganyang kaum Remo
> Soviet karena tidak mengutuk kudeta militer 1965 ?? Hanya Kuba,
> Tiongkok, Vietnam dan Korut yang tidak menurunkan bendera setengah
> tiang sesuai dengan permintaan ORBA dalam hubungannya dengan kematian
> 7 jenderal itu. Remo Soviet tunduk pada ORBA!! Setelah Mao meninggal
> dan the gang of four ditangkap, tiba giliran remo china cium pantat
> Suharto... Gimana, masih kurang jelas??? Apakah itu hanya lamunan,
> mimpi dan bayangan otak saya saja??? Sent from Mail for Windows 10
> From: ChanCT [email protected] [GELORA45] Sent: Monday, 25 May
> 2020 06:12 To: [email protected]; Tatiana Lukman Subject: Re:
> [GELORA45] Lantang Kritik Rezim Jokowi hingga Dipolisikan Luhut,Ini
> Rekam JejakSaid Didu Saya TIDAK permasalahkan penilaian atau
> kesimpulan kalian RRT sudah menjadi sosial-Imperialisme, ... terserah
> dan boleh-boleh saja seseorang berpendapat begitu! Saya tidak
> berminat memperdebatkan dari teori keteori saja! Yang saya
> permasalahkan kemana tinju kamu itu dipusatkan, ke RRT atau AS???
> Bagi saya, jalan yang ditempuh Tiongkok sepenuhnya adalah hak Rakyat
> Tiongkok sendiri, yang sudah seharusnya bisa diterima dan dihargai!
> Itulah pilihan rakyat Tiongkok sendiri, bukan dikendalikan negara
> asing! Terima dan HARGAI-lah hasil penetapan dan perjuangan RAKYAT
> bangsa lain, kemajuan dan kemakmuran yang dicapai Tiongkok SEPENUHNYA
> adalah hasil keringat kerja-keras RAKYAT Tiongkok sendiri! Bukan
> hasil penghisapan rakyat bangsa lain, bukan dari penghisapan
> koloni-koloni didunia layaknya imperialisme AS! Apalagi perjuangan
> rakyatnya sendiri masih terpuruk belum ada apa-apanya! Menampilkan
> tokoh rakyatnya sendiri saja BELUM jadi sampai sekarang setelah lebih
> 55 tahun digebug, ... Tiongkok berhak menentukan dan mengoreksi
> kesalahan-kesalahan diwaktu yl. untuk menempuh jalan Sosialisme
> berkarakter Tiongkok, termasuk usaha solidaritas internasional yang
> tetap mereka jalankan itu. Bagaimana cara yang lebih baik
> meningkatkan kesejahteraan 1,4 milyar rakyat Tiongkok, dan seiring
> dengan itu bisa tetap membantu perkembangan dan perjuangan rakyat
> didunia, ....! Kalau dahulu mereka jalankan "MEMBANTU" perjuangan
> rakyat setempat tanpa peduli bagaimana sikap pemerintah yang
> berkuasa, dan ternyata TIDAK membawa kemajuan sebagaimana diharapkan!
> Bahkan PKI yang sudah dibantu sekuat tenaga bisa digebuk hancur oleh
> Suharto dalam waktu tidak lebih 8 jam saja! Lalu, begitu juga dengan
> PK Malaysia, Filipina bahkan yang berbatasan darat Burma juga tidak
> berkembang sebagaimana diharapkan. Padahal semua BANTUAN itu
> dijalankan dengan mengencangkan ikat tali-pinggang 600 juta rakyat!
> Nampaknya, kesimpulan Tiongkok perjuangan rakyat dinegara-negara
> sedang berkembang tidak bisa dimenangkan dengan kebangkitan
> perjuangan bersenjata saja! Keadaan dan kondisi masyarakat nya sudah
> berbeda dengan di Rusia dan Tiongkok masa Mao dahulu, ... Harus
> dilancarkan dengan cara dan bentuk perjuangan lain! Lalu? Tiongkok
> menempuh jalan sutra, dengan "Satu Sabuk dan Jalan" membantu
> negara-negara sedang berkembang bisa maju dan berkembang lebih
> baik, ... bekerja bersama, untung bersama dan menang bersama! Tentu
> ini juga bukan obat mujarab yang PASTI menang dan berhasil nya,
> apalagi masih ganjal dan terus digempur kekuatan imperialisme yang
> digembongi Amerika itu masih sangat kuat! Tatiana Lukman
> [email protected] [GELORA45] 於 2020/5/24 下午 10:36 寫道:
> Sudah lupa bagaimana Tiongkok-nya Mao mengganyang
> Sosial-imperialisme?? Sudah lupa bagaimana Tiongkok menolak kerjasama
> dengan Sosialimperialisme dalam mendukung Vietnam?? Siapa
> sosialimperialisme itu?? Kalau bukan kaum remo Soviet... Sudah hancur
> luluh remo soviet, muncul  remo Tiongkok dengan menangkap the gang of
> four... Remo Tiongkok inilah yang menendang orang-orang PKI demi cium
> pantat Suharto, dan akhirnya bisa menanamkan modalnya untuk mengeruk
> kekayaan alam Indonesia!!! Katanya masih mengakui Lenin... Tahu nggak
> definisi imperialisme oleh Lenin??? Yang paling penting adalah EXPORT
> MODAL!!! Nih, jawab dan bantah secuil tulisanku di Sulindo!!! Jangan
> debat kusir!! To the point!! Jawab point-point yang tertulis di
> bawah!! Fred Engst (profesor ekonomi dari University of International
> Business and Economics, Beijing) menjelaskan bahwa perusahaan negara
> dimiliki oleh birokrasi pemerintah atau konglomerat modal negara
> Tiongkok. Konglomerat modal negara adalah pemilik modal terbesar
> dengan kekuasaan monopoli juga terbesar di Tiongkok. Gabungan kapital
> finansial dan kapital industri yang dimiliki konglomerat modal negara
> Tiongkok bahkan lebih besar dari satu korporasi, atau satu
> konglomerat atau kartel atau konsorsium atau multinasional di AS,
> Eropa, atau Jepang! Konglomerat modal negara ini memiliki kontrol
> absolut atas partai, seluruh mesin negara dan kekuatan militer.
> Dengan begitu, konglomerat modal negara dapat langsung memobilisasi
> kapital industri dan kapital finansialnya di atas kekuasaan negara
> guna mengabdi kepada kepentingan ekspansi modalnya.. Kapitalisme
> monopoli di Tiongkok juga tidak bisa menghindari krisis kelebihan
> produksi sehingga mengharuskannya untuk mengekspor modalnya ke
> negeri-negeri Asia, Afrika dan Amerika Latin. Bertemulah kita dengan
> ciri lain dari imperialisme yang sudah diungkapkan Lenin lebih dari
> satu abad yang lalu, yaitu ekspor kapital! Sudah tentu kaum
> revisionis modern terus menjajakan pepesan kosong “sosialisme dengan
> ciri Tiongkok”. Bukan kebetulan dan sia-sia nama revisionis yang
> disandangnya. Mereka merevisi dan mencampakkan inti sari dari
> Marxisme-Leninisme dan menggantikannya dengan teori revisionis,
> seperti misalnya, peralihan secara damai ke sosialisme dan sosialisme
> pasar. Karena menganggap ajaran Lenin sudah usang, maka mereka
> berkeras menolak kenyataan bahwa kapitalisme sudah membawa Tiongkok
> menjadi kekuatan imperialis yang sedang berkembang. Padahal
> perkembangan kapitalisme tak terhindarkan akan berakhir pada
> imperialisme. Sifat agresif imperialis Tiongkok terlihat jelas dalam
> usahanya untuk menciptakan orde baru global guna menggantikan
> lembaga-lembaga internasional yang dikuasai kekuatan Barat-AS dengan
> berbagai lembaga di bawah dominasinya. Misalnya, New Development
> Bank, Asian Infrastructure Investment Bank dan New Silk Road Fund
> dengan tujuan memobilisasi dukungan dan mendorong maju proyek One
> Belt One Road (OBOR). Tiongkok memperkuat aliansi dengan Rusia.
> Melalui Shanghai Cooperation Organization, Tiongkok berusaha
> memperluas pengaruhnya di Eurasia. Ia juga tak ragu-ragu mengklaim
> Lautan Tiongkok Selatan serta pulau-pulaunya sebagai miliknya. Dengan
> cepat ia membangun di situ infrastruktur militer. Bahkan krisis virus
> corona tidak menghentikan Tiongkok untuk terus mengkonsolidasi
> kekuasaannya di pulau-pulau yang masih disengketakan dengan
> negeri-negeri tetangganya. South China Morning Post memberitakan
> bahwa Dewan Negara Tiongkok baru-baru ini telah menyetujui
> pembentukan dua distrik baru, Distrik Xisha dan Distrik Nansha di
> bawah kota Sansha. Sent from Mail for Windows 10 From: ChanCT
> [email protected] [GELORA45] Sent: Saturday, 23 May 2020 15:56 To:
> [email protected]; Tatiana Lukman Subject: Re: [GELORA45]
> Lantang Kritik Rezim Jokowi hingga Dipolisikan Luhut,Ini Rekam
> JejakSaid Didu Ini nenek Tatiana yang berani-beraninya menepuk diri
> ML-Maois sejati, ternyata TIDAK BELAJAR dengan baik! Tetap hidup
> dalam mimpi yang lepas dari kehidupan nyata ! Dimana setiap saat
> kalau berani mengaku sebagai pejuang harus pandai-pandai menetapkan
> musuh-pokok! Dan kesitulah tinju dipusatkan, ... Sekalipun sudah
> genap lewat 50 tahun, 20 Mei 1970 yl. Metua Mao mengeluarkan
> pernyataan yang terkenal "SELURUH RAKYAT SEDUNIA BERSATU, melawan
> imperialisme Amerika dan cecunguknya!", saat itu, kita semua tahu ada
> 2 Superpower, Amerika dan Sovyet! Kenapa Ketua Mao memilih dan
> menentukan imperialisme AS musuh utama yang harus digempur dahulu!
> Sedang Sovyet, jangankan diserempet oleh ketua Mao, ... disebut pun
> tidak, ...! Lalu, apakah sekarang ini, percaturan politik dunia sudah
> berubah dan RRT yang oleh Tatiana dituduh sudah menjadi imperialisme
> itu menjadi musuh pokok RAKYAT SEDUNIA? Bukan lagi imperialisme AS???
> Kenapa? Padahal, kenyataan imperialisme AS inilah yang sampai
> sekarang ini bikin gaduh, bikin kacau dimana-mana, tidak
> henti-hentinya menjatuhkan banyak korban jiwa rakyat tak berdosa, ...
> termasuk rakyat didalam negerinya sendiri. Akibat kedodoran mengatasi
> wabah Covid-19 yang merebak sudah lebih 90 ribu warga AS meninggal!
> Laluberusaha keras melempar tanggungjawab dan kesalahan pada
> RRT, .... mendesak sekutu-sekutu nya ikutan menyerang dan menyalahkan
> Tiongkok! Menghadapi situasi politik dunia demikian, bagaimana
> mungkin yang menamakan diri pejuang rakyat justru ikutan imperialisme
> AS menghujat dan menghajar habis-habisan RRT yang justru selalu dan
> dimana saja mengutamakan kepentingan dan keselamatan rakyat!
> Perhatikan saja saat menghadapi Covid-19 kali ini, didunia ini hanya
> RRT yang berani korbankan ekonomi untuk mengutamakan keselamatan jiwa
> rakyatnya! Dengan drastis menutup kota Wuhan, menghentikan kerja dan
> mengharuskan setiap warga berdiam dirumah, tapi dalam waktu 70 hari
> berhasil mengendalikan dan menghentikan penyebaran wabah Covid-19
> lebih lanjut, dengan korban jiwa 4634 orang. Patut juga dicatat dan
> diketahui, sikap TEGAS PKT dalam menjalankan Perang RAKYAT Melawan
> Covid-19, disamping menunjukkan kecanggihan dan kerapian PKT
> mengorganisasi massa, tapi juga dalam SIKAP terhadap kader dan
> anggota nya: Antara lain yang terbaca oleh saya: ada seorang
> pejabat-tinggi pensiunan kota Wuhan, positif terjangkit Covid-19
> dianggap TIDAK disiplin menuruti perintah keharusan diisolasi masuk
> RS! Karena merasa sesuai tingkat kekaderannya, berhak mendapatkan
> fasilitas kamar seorang diri di RS! Tapi, dalam situasi darurat,
> bukan saja ranjang di RS TIDAK CUKUP, banyak pasien yang ditidurkan
> dilantai saja! Tanpa ranjang! Lalu pejabat pensiunan ini keluar RS
> dan pulang bersembunyi dirumah dengan tuntutan obat-obat yang
> diperlukan bisa dibawa pulang, … Pejabat tsb.. Kemudian kena
> didisiplin masuk RS juga, tapi tetap dianggap MELANGGAR sikap pejabat
> komunis yang harus mendahulukan kepentingan rakyat! Dipinalti dengan
> turunkan setingkat uang pensiun yang bisa didapat! Ada lagi seorang
> pejabat kota Wuhan, dicopot hanya karena saat Tahun Baru Imlek, tgl.
> 25 Januari lari pulang kampung menghadiri pesta Ulang Tahun ayahnya,
> padahal tgl. 23 Kota Wuhan sudah di TUTUP, setiap warga tidak boleh
> keluar! Lalu, ada seorang pejabat Palang-Merah Wuhan juga kena
> dicopot, hanya karena kelalaian dan keterlambatan meneruskan
> sumbangan perlengkapan medis yang sudah diterima ke RS yang
> membutuhkan! 
> 
> Tatiana Lukman [email protected] [GELORA45] 於 2020/5/19 下午
> 09:49 寫道: 
> Ini katak dalam tempurung yang sedang ngoceh, ya?? Tidak tahu sepak
> terjang China sendiri sudah lama menempelkan watak
> imperialisnya...saking piciknya dan penyembahan membutanya kepada
> China kapitalis, tidak tahu membedakan antara sosialisme dengan
> sosialimperialisme!!!Sudah tentu, dia tidak mau membaca wawancara
> prof. Jose Maria Sison di mana kita temukan kalimat ini : The
> Philippines has become far worse off than ever before after four
> years of misrule by Duterte. This has been characterized by treason
> and puppetry to both US and Chinese imperialism, mass murder and
> other gross human rights violations, systematic plunder, increased
> unemployment and mass poverty, aggravation of the drug problem under
> the Duterte drug empire, unabashed moral depravity and the
> accelerated deterioration of social and economic conditions. Dan
> dibawah ini judul tulisan A. Thayer Takeover Trap: Why Imperialist
> China Is Invading Africa China is in Africa not to advance Maoism,
> but to control its resources, people, and potential. Sent from Mail
> for Windows 10 From: ChanCT [email protected] [GELORA45] Sent:
> Tuesday, 19 May 2020 14:12 To: Tatiana Lukman; GELORA_In Subject: Re:
> [GELORA45] Lantang Kritik Rezim Jokowi hingga Dipolisikan Luhut,Ini
> Rekam JejakSaid Didu Hehehee, ... nenek yang satu ini jadi sudah
> MENGAKUI Tiongkok menjadi inperialisme nomor satu! Yang menggantikan
> imperialisme Amerika MUSUH Nomor wahid nya didunia!!! Jadi, boleh
> saja bersekutu dengan siapa saja, termasuk imperialisme AS untuk
> GEMPUR RRT, ... PANTAS lah selama ini yang dijadikan dasar pegangan
> suara yang keluar dari corong imperialisme AS, Falungong! Dan, ...
> Said Didu dengan mudahnya dikategorikan pembela rakyat, yang berani
> dan jujur memikirkan kepentingan negeri, ... Siapa tahu kalau dibalik
> suarea manisnya itu hanyalah kepentingan modal imperialisme AS???!!!
> Bukankah kemarin ini ada pemberitaan video bagaimana kondisi
> masyarakat sekitar merasa DIUNTUNGKAN dengan kehadiran perusahaan
> Tiongkok di Morowali! Juga ada pembantahan HOAX dari aktivis Makasar
> yang secara khusus datang ke Morowali, ... Aktivis Makassar Bongkar
> Kebenaran Dibalik Hoaks TKA China di Marowali
> 
> https://seword..com/umum/viral-aktivis-makassar-bongkar-kebenaran-dibalik-aRjJZFnTiE
>  
>  
> Tatiana Lukman 於 2020/5/19 下午 06:57 寫道:
> Kalau betul apa yang diceritakan Kompas  tentang Said Didu ini,
> ketemulah kita dengan seroang pejabat yang berani, jujur dan masih
> memikirkan kepentingan negeri. Ya logislah, kalau dia jadi berhadapan
> dengan komprador china kapitalis-imperialis nomer satu. Sang
> komprador, disamping kaya raya,  kekuasaannya pun sangat besar,
> kelihatan dari propaganda yang dia gerakkan untuk melicinkan proyek
> di Morowali , meloloskan buruh China yang keahlian dan ketrampilannya
> dianggap “begitu tinggi” sehingga tak bias tercapai oleh buruh
> Indonesia yang dianggap goblok dan dungu!!!!Namanya juga komprador
> china, cium pantat tuannya pun akan dilakukannya demi proyek-proyek
> yang akan terus menggendutkan pundi-pundinya!!! Sent from Mail for
> Windows 10 From: ChanCT [email protected] [GELORA45] Sent:
> Saturday, 16 May 2020 15:13 To: GELORA_In Subject: [GELORA45] Lantang
> Kritik Rezim Jokowi hingga Dipolisikan Luhut, Ini Rekam JejakSaid
> Didu Lantang Kritik Rezim Jokowi hingga Dipolisikan Luhut, Ini Rekam
> Jejak Said Didu Kompas.com - 16/05/2020, 07:37 WIB BAGIKAN: Lihat
> Foto Said Didu saat masih menjabat sebagai Sekretaris BUMN, 2006.
> (KOMPAS/LUCKY PRANSISKA) Penulis Muhammad Idris | Editor Muhammad
> Idris JAKARTA, KOMPAS.com - Perseteruan mantan Sekretaris Kementerian
> BUMN Said Didu dengan Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar
> Panjaitan memasuki babak baru. Bermula dari kritiknya terhadap Luhut
> di sebuah kanal YouTube, Said Didu harus menjalani pemeriksaan di
> Bareskrim, Mabes Polri. Di sana, Said Didu diperiksa secara intensif
> selama hampir 12 jam. Dia mengaku perlu menjelaskan maksud
> pernyataannya yang dipermasalahkan Luhut, terkait komentarnya yang
> menilai Luhut lebih mengutamakan investasi daripada penanganan virus
> corona ( kasus Said Didu). Dari rekam jejaknya, Said Didu memang
> terkenal sangat lantang mengkritik beberapa kebijakan rezim Presiden
> Joko Widodo ( Jokowi) yang kini sudah masuk periode keduanya. Sebelum
> vokal mengkritik Luhut, Said Didu juga beberapa kali melontarkan
> kritik tajam ke pemerintah, salah satunya yakni kebijakan akuisisi
> saham PT Freeport Indonesia (PTFI). Pembelian saham PTFI oleh
> pemerintah lewat PT Inalum (Persero) ini dianggap merugikan negara.
> Menurut Said, BUMN malah harus membayar mahal untuk membeli
> perusahaan yang masa konsesinya hampir habis dan cadangan emas maupun
> tembaganya sudah banyak terkuras. Baca juga: Jubir Luhut: Infonya Ada
> Purnawirawan yang Namanya Dicatut Dukung Said Didu Saat itu, Inalum
> harus merogoh uang 3,85 miliar dollar AS atau sekitar Rp 56,1 triliun
> untuk mengambil alih 51 persen saham PTFI dari Freeport McMoran dan
> Rio Tinto. Dalam kasus Jiwasraya, Said Didu pernah menyatakan adanya
> indikasi tindak pidana korupsi dalam kasus gagal bayar polis yang
> terjadi di PT Asuransi Jiwasraya (Persero). "Terjadi perampokan (di
> Jiwasraya). Perusahaan yang sangat sehat pada 2016-2017, lalu defisit
> puluhan triliun di tahun berikutnya, berarti ada penyedotan dana yang
> terjadi," kata dia. Said Didu juga tak melihat kemungkinan adanya
> masalah gagal bayar di Jiwasraya disebabkan oleh kesalahan dalam
> proses berbisnis. Said Didu bilang, kasus Jiwasraya merupakan
> perampokan uang negara. Baca juga: Kuasa Hukum Luhut Pertanyakan Said
> Didu yang Mangkir saat Dipanggil Bareskrim "Tidak mungkin kalau hanya
> risiko bisnis, karena ekonomi di 2018 biasa-biasa saja kok, tidak
> seperti 1998. Enggak mungkin bocor sampai puluhan triliun, kalau
> risiko bisnis enggak sebesar itu," kata dia. Tak berhenti sampai di
> situ, Said Didu juga sempat mengkritik Presiden Joko Widodo (Jokowi)
> yang punya kebiasaan meresmikan jalan tol dan menganggapnya sebagai
> pencitraan. Mantan PNS BPPT dan komisaris BUMN Karir pria asal
> Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan ini banyak dihabiskan sebagai PNS
> di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Karir birokratnya
> dirintisnya dari bawah di BPPT sejak tahun 1987 mulai dari peneliti,
> merangkak karir sebagai pejabat eselon di badan riset tersebut.
> Namanya mulai lebih sering wara-wiri menghiasi media massa nasional
> sejak ditunjuk menjadi Sekretaris Kementerian BUMN. Dia juga pernah
> terpilih sebagai anggota MPR di tahun 1997. Sebagai petinggi di
> Kementerian BUMN, Said Didu juga diplot sebagai komisaris di beberapa
> perusahaan pelat merah di antaranya Komisaris PTPN IV (Persero) dan
> PT Bukit Asam Tbk (Persero). Jebolan Teknik Industri Institut
> Pertanian Bogor (IPB) ini juga sempat menduduki kursi komisaris PT
> Merpati Nusantara Airlines, Komisaris PT Asuransi Jiwa Inhealth
> Indonesia, dan Dewan Pengawas Rumah Sakit RSCM Jakarta. Baca juga:
> Luhut: Soal Said Didu, Itu Urusan Anak Buah Saya Di awal rezim
> periode pertama Presiden Joko Widodo (Jokowi), Said Didu ikut masuk
> dalam lingkaran pemerintahan tahun 2014-2016. Dia menjabat sebagai
> Staf Khusus Menteri ESDM saat itu, Sudirman Saaid. Di tahun 2018,
> Said Didu dicopot dari jabatannya sebagai komisaris di Bukit Asam dan
> digantikan oleh Jhoni Ginting. Pencopotannya dilakukan oleh Menteri
> BUMN Rini Soemarno dalam RUPSLB Bukit Asam. Kementerian BUMN saat ini
> beralasan, pencopotan dari kursi Komisaris Bukit Asam dilakukan
> karena Sidu Didu dianggap sudah tidak sejalan dengan pemegang saham.
> Said Didu sempat jadi sorotan saat dirinya memutuskan mundur sebagai
> PNS pada 13 Mei 2019. Alasan pengajuan pensiun dari BPPT agar dirinya
> bisa lebih leluasa mengkritik kebijakan publik yang dinilainya perlu
> diperbaiki. Baca juga: Tak Ada Permintaan Maaf, Luhut Ngotot Tuntut
> Said Didu ke Jalur Hukum Tercatat, dirinya sudah mengabdi sebagai ASN
> selama 32 tahun 11 bulan. Langkah bersebrangan dengan rezim Jokowi
> juga pernah diambil Said Didu saat dirinya menerima tawaran dari Tim
> Kuasa Hukum Prabowo Subianto-Sandiaga Uno sebagai saksi di Mahkamah
> Konstitusi (MK) terkait hasil Pilpres.
> 
> Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Lantang Kritik
> Rezim Jokowi hingga Dipolisikan Luhut, Ini Rekam Jejak Said Didu",
> https://money.kompas.com/read/2020/05/16/073724426/lantang-kritik-rezim-jokowi-hingga-dipolisikan-luhut-ini-rekam-jejak-said-didu?page=all#page2.
> Penulis : Muhammad Idris Editor : Muhammad Idris
>  
>  
>  
>  
>  
>  
> 
> 

Kirim email ke