Terimakasih, bung Manap, ...!

Rakyat Tiongkok sungguh beruntung ada pemimpin besar seperti Mao Tsetung, Zhu De, Zhou Enlai, Deng Xiaoping, ... yang berhasil membebaskan diri dari penindasan 3 gunung besar, beransur-angsur mencapai kesejahteraan yang lebih baik. Tanpa Mao TIDAK ada Tiongkok Baru sekarang ini!

Semalam saya melihat tayangan video yang mengkisahkan ada 3X 9 September yang sangat berarti bagi perjalanan hidup Mao. 9 September pertama tahun 1927, saat Mao memimpin Pemberontakan Musim Rontok, rupanya Mao tertangkap pasukan Kuomintang. Dalam perjalanan dibawah kemarkas, dia berhasil lolos setelah keluarkan semua uang dikantongnya untuk menyuap 2 perajurit yang membawanya.

Yang kedua, 9 Sept. 1935, setelah Sidang Chun Yi garis militer Mao dimenangkan dalam PKT, rupanya dalam perjalanan pertemuan/bersatu dengan Tentara Merah ke-4 yang dipimpin Chang Kuotao di kota (lupa?) terjadi perselisihan sengit, bahkan perpecahan. Chang berambisi besar, tidak terima kalau garis-militer Mao yg dimenangkan di Sidang Zhun Yi itu, dia disaat Mao hanya bekerja di perpustakaan Univ. Beijing, Chang sudah pimpinan Mahasiswa yang memimpin Gerakan 4 Mei dan saat Pembentukan PKT 1 Juli 1921 posisinya juga lebih tinggi ketimbang Mao! Lalu, saat pertemuan yang sebetulnya bersatu pasukan Tentara Merah ke-1 dan ke-3 nya Mao, Zhu De, Peng Tehuai, diketahui tidak lebih dari 10 ribu perajurit saja, sedang TM ke-4 Chang masih lebih 60 ribu, jadi, mestinya dialah yang berhak menentukan arah. Mao dan Komite Sentral menetapkan bergerak ke utara, untuk bergabung dengan daerah basis di Yan An, sedang Chang membawa TM ke-4 bergerak ke selatan.

Yang ketiga, 9 Sept. 1976, Mao menghembuskan nafas terakhir, ... Tahun yang paling BERAT dan menyedih bagi RAKYAT Tiongkok! Bukan saja kehilangan 3 pemimpin besar, 8 Januari Zhou Enlai meninggal, lalu menyusul 6 Juli Zhu De dan Mao 9 Sept 1976! Tapi,  ditahun 1976 itu pula, 28 Juli ditimpa Gempa Bumi dahsyat di Tang Shan, dengan korban jiwa lebih 60 ribu! Ketika itu, 4 serangkai, Jiang Qing masih berkuasa, dengan gaya ekstrim kiri nya menolak bantuan-asing! Membuat penanganan, penolongan korban bencana jadi lebih parah, ... karena ketika itu Tiongkok masih sangat, sangat miskin belum ada buldoser, mesin-mesin pengangkut berat untuk memindahkan, mengangkut beton-betok tembok reruntuhan gedung yang menindih banyak orang itu, ... semua dikerjakan TPRT hanya pacul, skop saja! Keadaan menjadi lebih celaka, jalan menuju Tang Shan juga terputus mempersulit pengiriman bahan makan dan, ... air bersih!

Tapi, yaaah Rakyat Tiongkok telah membuktikan betul-betul TAHAN BANTING! Dalam perjalanan panjang bangsa Tionghoa ribuan tahun ditempa, jadilah rakyat yang betul-betul KUAT dan PERKASA disegala bidang yang kita lihat sekarang ini. Bukan hanya dengan cekatan berhasil mengendalikan dan mengatasi pandemi Covid-19, sudah kembali BEKERJA untuk maju sejahtera untuk diri mereka sendiri, tapi TETAP berkemampuan mengulurkan tangan membantu negara-negara didunia yang menghadapi kesulitan mengatasi wabah Covid-19 kali ini, ...


Sala,

ChanCT


S Manap [email protected] [GELORA45] 於 2020/6/10 上午 04:22 寫道:

    Ini satu tulisan yang baik untuk  dibaca dan perlu dibaca bagi yang berminat membacanya. Dengan membaca tulisan ini, mengingatkan kembali pada masa-masa yang pernah kita alami di masa lampau khususnya ketika berada di Tiongkok dan pada masa  mempelajari  pengalaman Revolusi Tiongkok.

   Lika liku jalan yang ditempuh oleh Partai Komunis Tiongkok sejak berdiri sampai mencapai kemenangan 1949, adalah jalan yang penuh dengan perjuangaan berat  dalam menegakkan garis yang tepat melawan garis dan pandangan yang salah baik pandangan ektrim kiri maupun pandangan kanan..

   Dari judulnya  "Demokrasi Rakyat" dengan segala penjelasannya kita yang membacanya bisa menarik pelajaran dan bisa membandingkan apa yang dimaksudkan dengan demokrasi dibawah pimpinan Partai Komunis dengan  demokrasi yang dikatakan orang demokrasi liberal atau demokrasi borjuis yang selalu diagung-agungkan sebagai demokrasi yang sejati.

   Bagi kita yang sudah menyaksikan langsung apa yang dimaksudkan dengan Demokrasi yang di Tiongkok dinamakan Demokrasi  Rakyat baik di Tiongkok maupun dinegeri-negeri lain seperti di Vietnam dan Cuba, akan relatif mudah memahaminya, karena kita bisa membandingkannya dengan system yang dinamakan demokrasi di tanah air kita sendiri. Perbandingan dengan segala perbedaannya sudah bisa dilihat dengan jelas dalam tulisan bung Chan  yang kita baca di sini.  Karena itu saya tidak perlu memberikan penjelasan lebih lanjut.

   Saya mengucapkan terima kasih kepada bung Chan yang telah menyajikan tulisannya, tentang Demokrasi Rakyat yang cukup mudah untuk dipahami  dan sangat berguna dalam melihat  wajah apa yang dinamakan demokrasi di tanah air kita sendiri.

     Salam
   S.Manap.
Den tisdag 9 juni 2020 10:52:29 CEST, ChanCT [email protected] [GELORA45] <[email protected]> skrev:


*Demokrasi Rakyat*

*ChanCT*

HK -09 Juni 2020

Berbagai jenis dan bentuk DEMOKRASI yang ada didunia, Demokrasi Langsung dan Tak-langsung; Demokrasi Parlementer; Demokrasi Presidensial; Demokrasi Otoriter; Demokrasi Islam; Demokrasi Sosial; Demokrasi Terpimpin, yang dicetuskan bung Karno 1959 itu, dll., nampaknya hanya “DEMOKRASI-RAKYAT” yang dijalankan di Tiongkok selama lebih 70 tahun terakhir ini TIDAK diakui dunia sebagai DEMOKRASI.

Hanya karena “DEMOKRASI RAKYAT” tidak melalui Pemilihan UMUM satu orang satu suara? Tidak hendak gunakan Trias-politika; dan tetap jalankan kekuasaan Partai- tunggal, Partai Komunis Tiongkok saja, … tidak ada partai politik lain yang bisa bergantian pegang kekuasaan pemerintah, lalu dianggap TIDAK Demokratis dan dianggap pemerintahan otoriter? Menjadi Tirani Bambu, …

Padahal dalam kenyataan Rakyat Tiongkok sendiri selama lebih 70 tahun terakhir ini bisa menikmati demokrasi dalam arti sesungguhnya, demokrasi dan kebebasan yang tidak pernah dinikmati rakyat Tiongkok sebelumnya! Sebelum rakyat Tiongkok berhasil menegakkan Republik Rakyat Tiongkok, 1 Oktober 1949, sebelum RAKYAT Tiongkok membebaskan diri dari penindasan imperialisme asing, tuantanah feodalisme dankapitalisme birokrat yang menindas mereka, ...!

Jadi, demokrasi itu ternyata hanya relatif saja. Tidak mutlak dan sebatas mana kebebasan pribadi yang menjadi tuntutan bisa dijalankan, tentu TETAP harus ada prinsip-prinsip dasar yang mutlak dipertahakan. Yaitu setiap orang harus bisa menerima dan menghormati orang lain yang berbeda, dengan segala perbedaan yang ada! Ya beda ras, beda bangsa, beda etnis, beda budaya, beda adat-istiadat, beda Agama dan juga beda pandangan ideologi-politik! Siapapun TIDAK memaksakan orang lain yang berbeda itu harus sama dengan dirinya sendiri, harus menerima apa yang menjadi tuntutannya!

*I.**Proses perkembangan Demokrasi Rakyat di Tiongkok.***

Menarik untuk diperhatikan bagaimana Mao Tsetung di Tiongkok berjuang dengan penuh kesabaran, sangat ulet dan mempertaruhkan nyawa untuk menegakkan demokrasi dan kebebasan rakyat Tiongkok menentukan pilihan jalan hidup ditangannya sendiri.

Dengan kesadaran berjuang harus ada satu organisasi Partai yang kuat, Mao ikut terlibat mendirikan Partai Komunis Tiongkok, 1 Juli 1921. Bersama beberapa tokoh pimpinan PKT, mereka kemudian melancarkan dan membangkitkan perjuangan bersenjata, dari Pemberontakan Nanchang, pemberontakan Musim-Rontok sampai akhirnya mengambil keputusan mundur dahulu dan naik ke Gunung Cin Kang, melancarkan strategi perang gerilya, dari desa mengepung kota.

Namun jalan pemikiran dan garis perjuangan Mao ketika itu tidak bisa diterima oleh pimpinan PKT, juga ditentang Komintern (Komunis Internasional) ketika itu. Bahkan Stalin sempat memaki Mao “bandit komunis” karena berkeras meneruskan perjuangan membangun daerah basis di gunung Cin Kang! Dan, karena bertentangan dan melawan keputusan Partai, Mao ketika itu sempat dicopot dari posisi pimpinan Partai, sekalipun keanggotaan Partai tetap dipertahankan.

Tentu, ketika itu Mao tetap mengambil kebijakan bersatu dan berjuang melawan kesalahan-kesalahan garis Partai, … setelah serangan Kuomintang membasmi komunis makin gencar, terjadi kekalahan demi kegagalan dalam melawan pengepungan Kuomintang itu, sampai pada serangan dan pengepungan ke-5, PKT akhirnya harus menyingkir dari basis Gunung Cin Kang, di Oktober 1934 mulailah yang kemudian dikenal dengan “Long March” itu. Tentu selama perjalanan menyingkir itu, tetap terjadi perselisihan sengit, terutama kemana arah barisan Tentara Merah yang tersisa 86 ribu perajurit ketikaitu berjalan? Mao hendak kearah barat, sedang pimpinan PKT ketika itu hendak keutara dengan alasan dan pertimbangan masing-masing.

Mao mengerti sulit dan sangat berat menghadapi Ketua PKT ketika itu Wang Ming, yang percaya penuh dan bersandar pada wakil Komintern/penasehat-militer Li De (*李德*), seorang Jerman yang bernama Otto Braun itu, tapi dengan penuh kesabaran dan keuletan Mao melakukan pekerjaan meyakinkan Zhang WenTian dan Wang Jiaxiang pimpinan PKT, bahwa garis militer Li De itu salah! Kesalahan-kesalahan garis militer Li De itulah yang mengakibatkan beberapa kali kekalahan Tentara Merah dalam melawan serangan dan pengepungan Kuomintang!

altSuasana Sidang Zun Yi, 15-17 Januari 1935

Begitulah disidang Zun Yi itu, akhirnya garis militer Mao berhasil dimenangkan Zhang Wentian! Jadi, Sidang Zun Yi sampai sekarang ini dikenal sebagai titik balik pertama bagi PKT bisa lolos dari kemusnahan! Yaitu, dengan keberhasilan garis militer Mao dimenangkan di Sidang Zun Yi itu, Tentara Merah kembali bersemangat, merasa ada harapan perjuangan militer yang sedang menghadapi pengejaran dan serangan Kuomintang bisa dimenangkan!

Ingat, yang dimenangkan Mao lebih dahulu adalah garis-militer nya saja, sedang pimpinan PKT tetap ditangan Wang Ming, sedikitpun tidak disinggung di Sidang Zun Yi itu! Sidang Zun Yi itu, bagi Mao sendiri hanyalah langkah awal melepaskan diri dari kekang campur-tangan asing, komintern ketika itu jelas salah dan banyak merugikan perjuangan rakyat Tiongkok.

Mao lebih lanjut bisa menangkan Garis politik, Tentang Revolusi Demokrasi Baru bagi Tiongkok, ditahun 1940! Mao dengan tandas menyatakan, masyarakat Tiongkok yang masih sangat miskin dan terbelakang, BELUM bisa menjalankan revolusi sosialisme ditingkat sekarang ini. Masalah anti-imperialis dan anti-feodal adalah yang mendesak harus diselesaikan terlebih dahulu. Hanya setelah mengalahkan imperialisme asing dan feodalisme di Tiongkok, dan dengan demikian bisa mengembangkan ekonomi, dan lebih lanjut menciptakan syarat menjalankan revolusi sosialisme di masa depan.

Jadi, Tiongkok harus lebih dahulu menjalankan Revolusi Demokrasi, hanya saja karena borjuasi Tiongkok tidak lagi bisa memimpin, jadi pimpinan Revolusi Demokrasi jatuh ditangan Partai Komunis Tiongkok. Oleh karena itu, ideologi sosialisme memainkan peran pembimbing dalam revolusi. Mao menandaskan: *“… menekankan revolusi demokrasi dan menunjukkan bahwa hanya melalui revolusi demokrasi lebih dahulu sosialisme dapat dicapai. Ini adalah hukum alami Marxisme.” *[1]* <#_ftn1>*

Harus lebih dahulu melalui Revolusi Demokrasi Baru, revolusi dibawah pimpinan Partai Komunis dimana masih memperkenankan kapitalis tumbuh dan berkembang. Itulah sebab, sejak tahun 1940, daerah basis yang dibentuk bukan lagi pemerintah Sovyet seperti sebelumnya, tapi Pemerintah Rakyat dan, saat 1 Oktober 1949 negara Baru yang dibentuk bukan Negara Sovyet, tapi Republik Rakyat Tiongkok! Mao ketika itu dengan aklamasi dipilih menjadi Presiden Pertama RRT, merangkap Ketua PKT yang sudah ditetapkan sejak Kongres ke-7 PKT, ditahun 1945.

*II.**Demokrasi Rakyat di Tiongkok lebih unggul!***

Setelah Republik Rakyat Tiongkok ditegakkan, dibawah pimpinan PKT sepenuhnya menjalankan kedaulatan rakyat, dari rakyat untuk rakyat, rakyat benar-benar membebaskan diri untuk menentukan nasib ditangannya sendiri! Dengan segala kekurangan dan kesalahan yang terjadi, Pemerintah RRT yang berkuasa dalam perjalanan lebih 70 tahun ini membuktikan pengabdian sepenuh hati pada rakyat, selalu rakyat banyak menjadi pusat perhatian! Mendorong maju keadilandandemokrasi dengan penegakkan hukum lebih baik, … Memberikan kebebasan pribadi, perlindungan hak asasi manusia, dan hak kepemilikan, hak untuk berpartisipasi, hak untuk berekspresi, dan hak mengawasi pemerintah secara luas dipopulerkan, dan konsep Demokrasi Rakyat demikian makin berakar mendalam di tengah masyarakat. Sebagaijaminan politik yang kuat,dan merupakan kekuatan spiritual mendorongmaju perkembangan ekonomi, teknologi diTiongkoklebih cepat dan dahsyat sebagaimana kita saksikan bersama , ...khususnya 40 tahun terakhir ini!

Di Tiongkok Baru, sentralisme-demokrasi yang dijalankan mengambil bentuk musyawarah perwakilan, dengan makin banyak dan terus diperluas saluran melibatkan masyarakat dalam pengambilan keputusan politik, warga di ikut sertakan dalam mendiskusikan politik, bahkan juga dalam diskusi hukum, kebijakan dan ketentuan pemerintah, saran dan pendapat ditampung melalui diskusi diberbagai tingkat. Dari tingkat terkecil setiap rayon perumahan dikota, kesatuan desa sampai tingkat propinsi dibuka kesempatan mendiskusikan dan menampung kritik, saran, usul perbaikan untuk disampaikan keatasan. Setiap pendapat dan hasil diskusi melalui perwakilan dibawa naik kejenjang lebih tinggi untuk di diskusikan lebih lanjut ditingkat yang lebih tinggi sampai pada tingkat tertinggi, Sidang tahunan Kongres Rakyat.

Semua warga negara Tiongkok berusia diatas 18 tahun, tanpa memandang etnis, ras, jenis kelamin, pekerjaan, asal keluarga, kepercayaan agama, tingkat pendidikan, kekayaan pribadi, … memiliki hak sama untuk memilih dan dipilih menjadi wakil saat meneruskan keputusan diskusi ketingkat yang lebih tinggi, kecuali bagi mereka yang dirampas hak politiknya berdasarkan hukum. Inilah proses demokrasi rakyat yang melayani kehidupan masyarakat, berjalan melalui seluruh proses pengambilan keputusan, jadi benar-benar ada di tangan rakyat.

Sistem demokrasi rakyat tentu masih akan terus tumbuh berkembang melalui reformasi disempurnakan dengan penegakkan hukum lebih baik. Meningkatkan sistem Kongres Rakyat dalam mensahkan Undang Undang, pengawasan, pemilihan, penetapan dan penurunan, pencopotan jabatan, … mematuhi ketentuan demokrasi musyawarah, dengan kordinasi musyawarah partai politik, musyawarah politik, musyawarah instansi pemerintah, dan musyawarah kelompok masyarakat, termasuk masyarakat akar rumput dan organisasi sosial.

Meneruskan usaha membangun sistem musyawarah perwakilan demikian, demokrasi rakyat akan maju lebih baik dan sempurna, dalam meningkatkan mekanisme pelaksanaan musyawarah sebelum dan selama proses pengambilan keputusan. Jadi, masalah yang dihadapi masyarakat benar-benar dipecahkan oleh masyarakat itu sendiri, …!

Sedang “Demokrasi Barat” lebih menekankan dan mengutamakan pemilihan umum satu orang satu suara! Selalu membanggakan dan menganggap lebih demokratis dengan setiap warga memilih pimpinannya sendiri melalui pemilu satu orang satu suara itu! Tanpa disadari biaya pengeluaran pemilu sangat besar, sedang pemenang yang keluar seringkali TIDAK memuaskan harapan rakyat banyak! Mengapa?

Kenyataan kehidupan masyarakat dimanapun didunia ini, termasuk dinegara maju di Amerika sendiri, lebih banyak orang tak acuh politik. Peduli amat siapa yang menang pemilu! Apalagi dinegara besar dan luas seperti Tiongkok, bagaimana bisa rakyat kecil yang mayoritas mutlak hidup didesa-desa itu bisa mengenal baik setiap kandidat yang muncul dan harus dipilih itu? Mungkinkah mengenal seseorang dengan baik hanya melalui propaganda dimasa kampanye beberapa bulan saja? Tentu saja tidak mungkin, …! Lalu?

Tergantung siapa yang bisa keluarkan biaya lebih besar, kesempatan menang jadi lebih besar! Jadi, siapa yang mendapat dukungan oligarki, konglomerat dengan membawa kepentingan sendiri-sendiri itu, … yang dapatkan dukungan lebih kuat itulah yang kemungkinan menang lebih besar! Dan, menjadi celaka setelah kandidat menang pemilu, tentu HARUS “balas budi” pada oligarki, konglomerat yang mendukung itu! Terjadilah persekongkolan pejabat dan oligarki itu yang sangat tidak sehat! Dan TIDAK bisa dihindari! Kalau begitu yang terjadi, bagaimana bisa mengutamakan kepentingan RAKYAT banyak lagi, … Rakyat banyak selalu dikecewakan, setelah suara diberikan dan kandidat itu berhasil dimenangkan, tak seberapa janji muluk masa kampanye terwujud menjadi kenyataan, … karena setelah mereka menjabat, selalu harus mendahulukan kepentingan oligarki yang menopang biaya besar saat pemilu itu!

Trias Politika, pembagian kekuasaan pemerintah dalam 3 bagian, eksekutif, legislatif dan yudikatif yang juga dianggap sebagai prinsip dasar Demokrasi Barat, hakekatnya hanyalah pembagian kekuasaan untuk mempertahankan kepentingan klas borjuis saja. Trias politika tidak merubah bangunan atas yang menjamin kekuasaan pemerintahan berada ditangan rakyat, sebaliknya hanya mempersulit pembentukan mekanisme pengawasan masyarakat atas kekuasaan negara.

Pada saat hak-sipil masyarakat bertentangan dengan kekuasaan negara, seringkali yang terjadi hak-sipil masyarakat itulah yang dilanggar dan dirugikan pemerintah yang berkuasa. Disamping itu, trias politik berlangsung dengan pembatasan kekuasaan itu jadi saling menghambat, terjadi saling tarik menarik satu sama lain, dengan kata lain mengurangi, bahkan sangat tidak efektif, membuat mesin negara tidak dapat cepat menangani kebutuhan perkembangan sosial dan kepentingan rakyat banyak.

Demokrasi Rakyat dijalankan dan dibawah pimpinan Partai tunggal, PKT, justru menunjukkan kemampuan PKT mempersatukan mayoritas mutlak rakyat dan berhak mewakili kepentingan rakyat! Sejarah perjalanan perjuangan PKT sejak didirikan, yang hampir 100 tahun itu telah membuktikan hanya PKT lah yang berkemampuan membawa dan memimpin rakyat seluruh Tiongkok membangun masyarakat adil dan makmur. Lalu, bagaimana sentralisme demokrasi dijalankan dalam PKT? Begini kata Ketua Mao:

*“Didalam Partai harus diadakan pendidikan tentang kehidupan demokratis agar anggota Partai mengerti apa kehidupan demokratis itu, apa hubungan demokratis dengan sentralisme itu dan bagaimana melaksanakan sentralisme-demokrasi. Hanya dengan demikian barulah kita bisa disatu pihak benar-benar memperluas kehidupan demokratis didalam Partai dan dipihak lain tidak terjerumus kedalam untra-demokrasi dan liberalisme yang merusak disiplin.” …”Baik didalam tentara maupun didalam organisasi setempat, demokrasi intern-Partai harus ditujukan untuk memperkokoh disiplin dan memningkatkan daya-juang, dan bukan sebaliknya melemahkan disiplin dan daya-juang”***[2]** <#_ftn2>

Berbeda dengan demokrasi Barat yang biasa menggunakan prinsip multipartai itu! Makin banyak partai-politik terbentuk ditengah masyarakat, bukan menunjukkan makin demokrasi, tapi justru menunjukkan masyarakat itu BELUM berhasil BERSATU! Masih terpecah berkeping-keping dalam partai-partai yang disatukan kepentingan berbeda itu. Dan dengan demikian bentuk demokrasi apapun yang dijalankan akan sulit mengambil satu keputusan, sedang pemerintah yang terbentuk juga akan tersandung, terhambat oleh demokrasi yang harus dijalankan. Jadi sangat tidak efektif.

Bahkan di Amerika yang hakekatnya merupakan pertarungan 2 partai, partai Demokrat dan Partai Republik saling bergantian, nampak kejanggalan yang sangat merugikan rakyat Amerika sendiri. Ambil saja contoh, masa 10 tahun kekuasaan Obama dari Partai Demokrat yang sudah berhasil memperbaiki sistem asuransi kesehatan bagi seluruh rakyat, begitu Trump dari Partai Republik menggantikan berkuasa, segera menegasi sistem asuransi Kesehatan Obama itu.

Sedang Trump yang mewakili kepentingan sekelompok oligargki yang menopangnya, boleh-boleh saja membuat kebijakan yang mendahulukan kepentingan kelompok oligarki dengan mengebawahkan kepentingan dan keselamatan rakyat! Itulah yang terjadi dan kita saksikan bersama, bagaimana Trump berusaha keras menutupi keseriusan masalah pandemi Covid-19, agar laju ekonomi tidak terganggu dan dengan demikian lebih menjamin kemenangan suara pemilih bagi dirinya sendiri di pemilu Nov. yad., akhirnya tidak siap dengan baik menghadapi pandemi Covid-19 yang merebak di Amerika kali ini! Akibatnya sampai hari ini, sudah hampir 2 juta rakyat terjangkit Covid-19 sedang jumlah orang yang meninggal sudah mencapai 116 ribu lebih, hampir 120 ribu, …!!!

Sudah begitu, Trump masih saja ngotot dan berkeras melemparkan kesalahan dan tanggungjawab pada Tiongkok, yang justru telah BERHASIL mengatasi penyebaran Covid-19 dalam waktu 70 hari, berhasil mengendalikan dan menghentikan penyebaran lebih luas dan kembali BEKERJA normal secara berangsur! Sampai data yang masuk kemarin ini, tgl. 8 Juni, di Tiongkok, termasuk HK, Macao dan Taiwan hanya disekitar 83 ribu orang terjangkit dan jumlah yang mati lebih 4600 orang.


------------------------------------------------------------------------

[1] <#_ftnref1><<Pilihan Tulisan Mao Tsetung>> Jilid-3, Penerbitan Rakyat tahun 1996. Halaman 276.

[2] <#_ftnref2><<Pilihan Tulisan Mao Tsetung>> Jilid-2, “Kedudukan Partai Komunis Tiongkok Dalam Perang Nasional” – Oktober 1938


Kirim email ke