https://www.harianaceh.co.id/2020/06/03/mimpi-bebas-covid-19/
*Mimpi Bebas COVID-19* *Djumriah Lina Johan* <https://www.harianaceh.co.id/author/lina/> 03/06/2020 | 23:34 WIB <https://www.harianaceh.co.id/2020/06/03/mimpi-bebas-covid-19/> NDONESIA masih dalam mimpi buruk wabah covid-19. Tercacat hingga Sabtu (30/5/2020) telah menembus angka lebih dari dua puluh lima ribu pasien positif corona. Dalam pemantauan kurva pernyebaran virus tersebut, belum ada tanda-tanda pandemi ini akan segera berakhir. Bahkan mencapai puncak saja pun belum. Namun, Pemerintah telah memutuskan untuk hidup berdamai dengan corona dan bersegera menyambut skenario new normal life. Sektor pasiwisata kembali dibidik agar mampu menggairahkan roda perekonomian bangsa. Dengan target menciptakan wisata bebas covid-19. Akankah gayung bersambut atau justru boom waktu menggilas asa dengan ledakan pasien positif corona Dilansir dari *Detiktravel* pada Kamis (28/5/2020) Jokowi menyampaikan harapannya saat membuka rapat terbatas yang disiarkan YouTube Sekretariat Presiden, Kamis (28/5/2020). Dia meminta agar kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (kemenparekraf) segera beradaptasi dengan situasi terkini setelah pandemi COVID-19. Selain itu, Jokowi meminta agar pariwisata Indonesia bisa mendongkrak gengsi produk lokal di mata dunia. Kebudayaan lokal pun harus ditonjolkan. <https://www.harianaceh.co.id/2020/06/03/mimpi-bebas-covid-19/#comments>0 <https://www.harianaceh.co.id/2020/06/03/mimpi-bebas-covid-19/#comments> “Saya minta dari menteri pariwisata menyiapkan program promosi pariwisata dalam negeri yang aman COVID-19 termasuk menggencarkan promosi produk-produk lokal dengan atraksi pariwisata,” kata Jokowi. “Tetapi sekali lagi, tolong ini lapangannya diikuti dengan ketat sebelum kita membuka. sehingga wisatawan baik domestik maupun luar dapat berwisata dengan aman dan masyarakat bisa produktif utamanya bagi pelaku-pelaku pariwisata,” dia menambahkan. Jokowi meminta agar Kemenpar tak buru-buru untuk membuka wisata. Tapi, justru saat ini dijadikan untuk mematangkan strategi promosi dan seluruh tahapan dalam membuka wisata lagi pada kenormalan baru. Geliat upaya membangkitkan sektor ekonomi dengan menggenjot pariwisata sudah terlihat jelas. Jika menengok sebentar ke belakang akan kita dapati sejak rezim Jokowi jilid 1 memang pariwisata didaulat sebagai sektor unggulan pembangunan nasional. Sumber devisa sektor ini pada tahun 2016 mencapai USD 12 M. Setahun kemudian, pariwisata menjadi penyumbang kedua PDB Indonesia. Sehingga wajar apabila presiden segera memberikan mandat untuk berbenah di sektor pariwisata demi menyongsong new normal life. Jokowi meminta agar Kemenpar tak buru-buru untuk membuka wisata. Tapi, justru saat ini dijadikan untuk mematangkan strategi promosi dan seluruh tahapan dalam membuka wisata lagi pada kenormalan baru. Semua itu tak lepas dari klaim World Travel and Tourism Council (WTTC) yang menyebutkan pariwisata menyumbang PDB Global sebesar 9,8 persen. Bahkan World Bank sesumbar, setiap belanja 1 dolar AS akan mendorong dan menggerakkan sektor ekonomi lain minimal 3,2 dolar AS. Alhasil, banyak negara terjebak dalam ilusi bahwa pariwisata bakal mengentaskan problem ekonomi apalagi di masa pandemi seperti sekarang. Efek isolasi, karantina, serta social distracing tentu telah meningkat kejenuhan masyarakat hingga mencapai puncaknya. Sehingga ketika sektor pariwisata kembali dibuka, rakyat akan berbondong-bondong meramaikan suasana tempat wisata sebagaimana yang terjadi di berbagai belahan negara di dunia. Seakan lupa bahwa ancaman virus belum berakhir. Memang benar, ekonomi sedang sakit keras. Hingga dibutuhkan obat untuk menyembuhkannya. Namun, dengan menghidupkan kembali pariwisata di tengah ketidakpastian kapan masa pagebluk ini berakhir. Wacana menciptakan wisata bebas covid-19 justru terkesan seperti mimpi di siang hari. Apalagi melihat realitas penanganan wabah di Indonesia yang cenderung setengah hati. Maka, memilih membangun wisata bebas virus corona demi mendongkrak perekonomian akan membahayakan nyawa orang banyak. Terlebih dengan menargetkan wisatawan asing. Ancaman ledakan penyebaran virus akan semakin tak terkendali. Inilah efek pengadopsian sistem warisan penjajah. Liberalisasi yang menjadi ruh kapitalisme, dengan mudah menggiring lifestyle masyarakat dunia memasuki era ekonomi wisata (*leisure economy*). Paham sekularisme pun meniscayakan dunia menjadi tempat untuk bersenang-senang, cinta dunia dan takut mati. Semua demi keuntungan materi para pemburu rente. Dengan demikian, kala tak ada satupun kebijakan yang benar-benar memihak kepada rakyat. Bukankah telah tiba saatnya untuk berbenah? Mencabut cengkeraman kapitalisme sekuler liberal dan menggantinya dengan Islam yang terbukti rahmatan lil ‘alamin. *Wallahu a’lam bish shawab*
