Polisi Prancis unjuk rasa menentang larangan mencekik
Sabtu, 13 Juni 2020 06:18 WIB
Polisi Prancis unjuk rasa menentang larangan mencekik
Polisi pasukan khusus Perancis mengamankan wilayah lokasi terjadinya
baku tembak di Saint-Denis, dekat Paris, Perancis, Rabu (18/11), dalam
operasi menangkap buronan tersangka serangan Jumat lalu di ibukota
Perancis. (REUTERS/Christian Hartmann)
Paris (ANTARA) - Serikat polisi di Prancis berunjuk rasa di beberapa
kota menentang larangan teknik mencekik leher untuk membatasi
gerak-gerik tersangka yang diberlakukan pemerintah demi menjawab aksi
protes massa terhadap aksi brutal polisi.
Massa di Prancis turun ke jalan setelah adanya korban yang diduga
disiksa polisi, ditambah kematian seorang warga kulit hitam di Amerika
Serikat, George Floyd, yang tewas setelah diinjak lehernya oleh polisi.
Beberapa serikat polisi di Paris, Jumat, memarkirkan puluhan kendaraan
di halaman Arc de Triomphe, sebelum lanjut berpawai ke depan Istana
Kepresidenan, Champs Elysees. Satu poster tertempel di kendaraan yang
berisi tulisan: "Tanpa Polisi, Tidak Ada Perdamaian".
Beberapa gambar yang dibawa massa aksi memperlihatkan polisi terluka
diserang massa saat bertugas. Dalam gambar itu, ada tulisan: "Siapa yang
membunuh siapa?"
Unjuk rasa tersebut digelar setelah adanya pertemuan antara serikat
polisi dengan Menteri Dalam Negeri Christophe Castaner. Pertemuan itu
bertujuan meredakan kemarahan polisi.
Perwakilan dari serikat anggota kepolisian menyampaikan teknik mencekik
dapat menyelamatkan nyawa. Teknik itu merupakan cara yang akan dilakukan
aparat sebelum alternatif lain ditemukan, kata Fabien Vanhemelryck dari
Aliansi Polisi Nasional setelah menghadiri pertemuan.
"Hal kedua yang kami sampaikan (ke menteri, red) agar ia berhenti
menggunakan alasan perdamaian di masyarakat ... karena itu hanya
menenangkan sebagian populasi tetapi mengorbankan para polisi," kata
Vanhemelryck ke awak media. "Kepolisian tidak bertanggung jawab atas
seluruh kejahatan di masyarakat," ujar dia.
Sementara di wilayah pinggiran Paris, Bobigny, pada Kamis (11/6),
beberapa anggota polisi berbaris di luar kantor polisi dan melemparkan
borgol mereka ke tanah. Polisi di Lyon, memarkirkan mobil mereka di
sekeliling pusat kota, Place Bellecour, dengan menyalakan lampu berwarna
biru.
Menurut beberapa pegiat hak asasi manusia, dugaan aksi brutal dan rasis
polisi di Prancis kerap tidak diproses hukum.
Unjuk rasa berlangsung di beberapa negara setelah Floyd, seorang warga
keturunan Afrika-Amerika, tewas, setelah lehernya diinjak oleh lutut
seorang polisi lebih dari delapan menit.
Sumber: Reuters
*Baca juga:Polisi Prancis bubarkan peringatan kematian pria kulit hitam
2016
<https://www.antaranews.com/berita/1531912/polisi-prancis-bubarkan-peringatan-kematian-pria-kulit-hitam-2016>
Baca juga:Pengawas polisi Prancis selidiki dugaan insiden rasis
<https://www.antaranews.com/berita/1447148/pengawas-polisi-prancis-selidiki-dugaan-insiden-rasis>*
Penerjemah: Genta Tenri Mawangi
Editor: Atman Ahdiat