-- 
j.gedearka <[email protected]>



https://news.detik.com/kolom/d-5052207/pandemi-new-normal-dan-budaya-mobilitas-kita?tag_from=wp_cb_kolom_list


Kolom

Pandemi, "New Normal", dan Budaya Mobilitas Kita

Abiyyi Yahya Hakim - detikNews

Sabtu, 13 Jun 2020 13:28 WIB
0 komentar
SHARE URL telah disalin
Di tengah wabah Corona, Berlin, Jerman, dengan cepat memperbaiki 
jalan-jalannya. Mereka menambah jalur sepeda.
Penambahan jalur sepeda di Berlin (Foto: Maja Hitij/Getty Images)
Jakarta -

Mobilitas dan interaksi adalah suatu keniscayaan di era globalisasi. Untuk 
memenuhi kebutuhan dan aktivitas sehari-hari, orang perlu bermobilitas dari 
tempat tinggalnya ke tempat kerja, sekolah, maupun keperluan lainnya, dan 
berinteraksi dengan orang lain. Namun keniscayaan tersebut terhambat sejenak 
akibat pandemi. Pekerja diperintahkan kerja dari rumah, sekolah dipindah 
daring, dan pusat keramaian ditutup. Masyarakat mendadak diharuskan untuk tidak 
berinteraksi, otomatis tidak juga bermobilitas keluar rumah.

Dasarnya keniscayaan, tentu ada yang terganggu dari aktivitas dan pemenuhan 
kebutuhan sehari-hari ketika dilakukan pembatasan. Dampak ekonomi terlihat 
paling nyata, aktivitas ekonomi terganggu dan banyak orang sampai kehilangan 
pekerjaan. Maka ketika penyebaran virus dianggap mereda, kebijakan yang akan 
dilakukan adalah melonggarkan segala pembatasan keniscayaan tersebut. Orang 
harus kembali kerja, dan mobilitas kembali menjadi keniscayaan.

Arah perkembangan wacana pemerintah yang mulai mempersiapkan keadaan new normal 
pun akan mengembalikan beberapa aktivitas rutin masyarakat, terutama bekerja. 
Namun pembatasan masih dilakukan. Contoh kebijakan di Jakarta yang menerapkan 
PSBB transisi, transportasi umum seperti Transjakarta, MRT, dan KRL masih akan 
dibatasi penumpangnya. Pada pengumuman PSBB transisi di Jakarta (4/6), Gubernur 
DKI Anies juga menyatakan kendaraan peribadi beroperasi setengah kapasitas, 
kecuali ditumpangi orang satu rumah. Kebijakan ini bukan bisa terjadi tanpa 
masalah baru, sebagaimana kenormalan "baru" tentu berbeda dengan normal yang 
biasanya.

Pembatasan penumpang transportasi umum dapat mendorong penggunanya berpindah 
menggunakan kendaraan pribadi. Bahkan pembatasan penumpang kendaraan pribadi 
juga akan menambah jumlah kendaraan yang berlalu lintas di jalan. Pada masa 
PSBB saja kemacetan tetap terjadi di beberapa ruas jalan, dan menuju pembukaan 
ruang-ruang publik dan kebolehan mobilitas yang lebih longgar, penumpukan 
kendaraan lebih berpotensi terjadi.

Hal seperti ini diantisipasi oleh pemerintah kota di beberapa negara lain, 
untuk mencegah kembalinya lalu lintas berbasis kendaraan pribadi. Pemerintah 
Milan, contohnya, melihat udara lebih bersih ketika karantina lalu memanfaatkan 
momentum itu untuk memberi ruang lebih untuk pesepeda. Kebijakan serupa juga 
akan diterapkan pemerintah Paris, yang telah lama merencanakan pengurangan 
penggunaan kendaraan pribadi, bahkan sampai mengubah jalur kendaraan menjadi 
jalur sepeda. Dengan momentum karantina, rencana ini dirasa makin relevan. 
Tetapi pertanyaannya, apakah bisa diterapkan di Indonesia?

Membentuk Budaya

Mobilitas yang menjadi aktivitas rutin sehari-hari telah membentuk budaya 
tersendiri. Suatu kota atau negara akan terlihat bagaimana kecenderungan 
mobilitasnya dan itu menyangkut transportasi.

F. Stuart Chapin Jr. (1974) menyebutkan bahwa perilaku manusia dipengaruhi 
kondisi lingkungannya, dan aktivitas rutin yang dilakukan sehari-hari 
mencerminkan berbagai variabel yang membentuk perilakunya tersebut. Budaya 
mobilitas akhirnya menjadi satu aspek yang menunjukkan resiliensi terhadap 
pandemi atau keadaan tidak normal.

Meminjam rumusan guru besar antropologi UGM Prof. Irwan Abdullah, Covid-19 
dapat dilihat sebagai pernyataan maupun preseden kebudayaan, yaitu Covid-19 
mengungkap bagaimana pengetahuan dan strategi kebudayaan membantu manusia untuk 
bertahan, serta mengenai berlaku tidaknya kekuatan kebudayaan. Tentang 
bagaimana masyarakat yang sulit patuh mungkin sudah banyak dibicarakan, ketika 
masa PSBB di mana keramaian dan kerumunan tetap banyak terjadi, maupun 
ketidakpatuhan dalam keadaan normal seperti terhadap peraturan lalu lintas.

Namun wacana yang dibicarakan semasa darurat kembali mencerminkan bagaimana 
preseden kebudayaan kita. Persoalan peralihan basis transportasi menjadi 
non-motorized seperti sepeda tidak akan dibicarakan ketika dalam masa normal 
hal tersebut tidak menjadi kebiasaan mainstream. Belum jauh mengingat debat 
anggaran jalur sepeda sepanjang 200 km di Jakarta pada Oktober 2019 lalu, 
rencana yang ketika itu belum dianggap penting oleh DPRD. Tidak jauh selang 
waktunya, kritik terhadap renovasi trotoar yang terlalu lebar di beberapa ruas 
jalan sehingga malah menyempitkan jalan, juga berasal dari sesama pemangku 
kebijakan.

Adanya perdebatan urgensi untuk menggeser pola mobilitas tersebut memang 
menunjukkan belum banyaknya pesepeda maupun pejalan kaki sampai butuh ruang 
seluas itu. Ketiadaan pengguna (jalur sepeda dan trotoar) sebenarnya juga 
disebabkan oleh kompleksitas masalah pada fasilitas yang telah dibangun, sebut 
saja penyalahgunaan fungsi. Oleh karena itu, untuk mengubah pola sampai 
membentuk budaya (bersepeda dan jalan kaki), setelah adanya fasilitas, juga 
perlu didukung dengan penegakan hukum.

Namun sekali lagi, garingnya penegakan hukum juga disebabkan oleh masih 
kompleksnya masalah penyebab pelanggaran tersebut, salah satunya ekonomi. 
Masalah ini menyatakan masih jauhnya Indonesia untuk memiliki preseden 
kebudayaan yang kuat. Maka jika Institute for Transportation and Development 
Policy (ITDP) merekomendasikan rencana aksi fasilitas pesepeda dan pejalan kaki 
untuk menyambut new normal, kemungkinan ke(tidak)siapan Jakarta juga kota besar 
lainnya bisa dilihat sebagai gambaran budaya mobilitas. Mungkin saja 
dipertimbangkan sebagai kebijakan, tetapi mungkin sebagai percobaan.

Mengapa Dipikirkan?

Sebenarnya dapat menjadi perbincangan mengenai mengapa kita harus memikirkan 
wacana ini. Jika pemerintah Milan atau Paris juga kota lainnya di dunia hanya 
memanfaatkan momentum, maka ketika Indonesia belum siap dengan metode tersebut, 
bisa jadi memang belum saatnya untuk diterapkan. Tetapi seperti disebutkan di 
atas, jika penggunaan kendaraan pribadi meningkat di saat orang-orang sudah 
kembali bermobilitas, kemacetan menjadi tak terelakkan.

Masalah lainnya yang mengikuti kemacetan adalah peningkatan polusi udara. Tidak 
hanya kepada bumi yang dicemari lagi setelah diistirahatkan sejenak, namun 
kualitas udara yang buruk akan memperburuk kesehatan. Hal ini seakan tidak 
terlihat, namun telah menjadi masalah kronis pada udara perkotaan. Dan secara 
tidak mengejutkan, WHO pun telah memberikan keterangan mengenai kaitan antara 
kualitas udara yang buruk dan kerentanan pasien terinfeksi Covid-19 berujung 
kematian.

Setelah tiga bulan lebih masyarakat mencoba beralih kepada budaya hidup sehat, 
rasanya menjadi sia-sia ketika wabah mereda dan kebijakan dilonggarkan, semua 
itu hilang. Jika demikian, maka pandemi tidak mengubah kesadaran namun hanya 
sesaat. Padahal berdasarkan survei yang dilakukan Global Web Index, 43 persen 
masyarakat AS dan Inggris memilih berjalan kaki untuk berpergian, dan 30 persen 
bersepeda, untuk memulai perilaku hidup sehat.

Pada akhirnya memang suatu proses membudaya akan terbentuk dengan kesadaran dan 
perilaku kolektif. Ada faktor eksternal yang mempengaruhinya, seperti keadaan 
pandemi maupun kebijakan pemerintah. Pandemi Covid-19 memang menyatakan 
gambaran kebudayaan kita. Namun jika yang diperlihatkan adalah bahwa kita tidak 
siap, maka sebaiknya kita dapat belajar dari semua ini sehingga pandemi 
Covid-19 dapat menjadi preseden kebudayaan untuk menghadapi keadaan tidak 
normal lainnya.

Abiyyi Yahya Hakim mahasiswa Antropologi Budaya Universitas Gadjah Mada

(mmu/mmu)







Kirim email ke