https://suaraislam.id/narasi-jahat-khilafahisme-ala-hasto/
*Narasi Jahat ‘Khilafahisme’ ala Hasto* 17 Juni 2020 2 minutes read Cetak Bagi Via Email Twitter Facebook ilustrasi Hasto Kristiyanto menegaskan bahwa partainya (PDIP) setuju akan penghapusan pasal 7 RUU HIP, yang memeras Pancasila menjadi trisila dan ekasila. Hal ini untuk merespon tuntutan penolakan terhadap RUU HIP. Lebih lanjut, ia menegaskan persetujuan memasukkan atas larangan terhadap Komunisme dan Marxisme. Termasuk larangan terhadap bentuk Khilafahisme. Demikian ia menambahkan. Mencermati pernyataan Hasto Kristiyanto tersebut, terdapat sebuah narasi jahat di dalamnya. Ia ingin membuat perbandingan, jika Komunisme – Marxisme dilarang dalam RUU HIP, maka seruan kepada tegaknya Khilafah juga harus dilarang. Dengan kata lain, ia menyejajarkan antara Komunisme dengan seruan kepada Khilafah. Baca juga: *Serius PDIP Ingin Memusuhi Islam? <https://suaraislam.id/serius-pdip-ingin-memusuhi-islam/>* Dalam pandangannya, Komunisme maupun seruan Khilafah itu sama – sama ingin menegakkan sebuah tatanan negara yang baru berideologi selain Pancasila. Tentunya persepsi demikian adalah sebuah kesalahan fatal. Komunisme dan Marxisme itu ingin membangun tatanan sebuah negara yang berasaskan Atheisme. Tidak menjadikan Ketuhanan sebagai asas negara. Nilai agama dihapuskan. Untuk mewujudkannya, jalan pemberontakan berdarah dilakukannya. Bangsa Indonesia mempunyai kenangan pahit atas tragedi berdarah PKI di Madiun pada 1948 dan tragedi 1965. Sedangkan seruan kepada Khilafah merupakan ajakan kepada kaum muslimin di Indonesia untuk kembali menerapkan ajaran Islam secara paripurna. Artinya seruan Khilafah itu sejatinya seruan menuju ketaqwaan seutuhnya kepada Allah SWT. Tentunya hal demikian berkesesuaian dengan asas Ketuhanan Yang Maha Esa di sila pertama Pancasila. Di samping itu, dalam usaha menegakkan Khilafah itu melalui dakwah yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw. Tidak dengan tragedi berdarah. Akan tetapi mengedukasi umat akan kewajibannya di dalam Islam. Baca juga: *MS Kaban: Jika PDIP Samakan Khilafah dengan Komunisme, Ini Betul-betul Show Kebahlulan <https://suaraislam.id/ms-kaban-jika-pdip-samakan-khilafah-dengan-komunisme-ini-betul-betul-show-kebahlulan/>* Begitu pula dengan menggunakan istilah Khilafahisme terdapat niat jahat untuk menjauhkan umat Islam dari perjuangan penegakkan Khilafah. Dengan narasi Khilafahisme, memberi kesan jika Khilafah itu suatu paham tersendiri yang berbeda dengan Islam, bukan bagian dari ajaran Islam. Dengan begitu yang diharapkan, umat Islam menjauhi dan memusuhinya. Khilafah itu adalah ajaran Islam. Khilafah itu merupakan sistem pemerintahan warisan Nabi Saw untuk menerapkan hukum Islam secara paripurna. Kita bisa menela’ahnya dalam beberapa nash Islam berikut ini. Firman Allah Swt di dalam Al Baqarah ayat 30: *“Dan ketika Tuhanmu berfirman kepada Malaikat, Sesungguhnya Aku akan menjadikan seorang Khalifah di muka bumi.”* Memahami ayat tersebut, al Imam al-Qurtubiy menjelaskan dalam tafsifnya: Ayat al Baqarah 30 terdapat adalah dalil atas wajibnya mengangkat Imam dan Khalifah, yang didengar dan dita’ati, guna menghimpun kalimat dan menerapkan hukum – hukum tentang kekhalifahan. Tidak ada perbedaan atas wajibnya hal itu di antara umat dan ulama, kecuali apa yang diriwayatkan dari al Asham (pengikut mu’tazilah), yang ia tuli dari syariat. Bahkan Nabi Saw sendiri menyebutkan sistem pemerintahan sepeninggal beliau yang wajib dipegangi adalah Khilafah. Nabi Saw menegaskan dalam riwayat Ahmad: *“Kemudian akan ada Khilafah yang berada atas manhaj kenabian.”* Jadi Khilafah itu jelas dan terang benderang merupakan bagian dari ajaran Islam.
