Yang diajarkan cerita pelanduk cerdik mencuri timun..........
Jadi kalau bisa mencuri dan tidak tertangkap basah, itu baru cerdik.......
Kalau dari kecil diajari begitu, setelah dewasa jadi...........

Op za 20 jun. 2020 om 18:22 schreef 'j.gedearka' [email protected]
[GELORA45] <[email protected]>:

>
>
>
>
> --
> j.gedearka <[email protected]>
>
>
> https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1861-jambu-hanyut-sang-guru-agama
>
> Sabtu 20 Juni 2020, 05:00 WIB
>
> Jambu Hanyut Sang Guru Agama
>
> Usman Kansong Dewan Redaksi Media Group | Editorial
>
>   Jambu Hanyut Sang Guru Agama MI/Ebet Usman Kansong Dewan Redaksi Media
> Group. ALKISAH, seorang saleh mendapati jambu hanyut di sungai yang
> disusurinya. Karena lapar, ia mengambil dan menyantapnya. Belum tuntas
> jambu disantap, perutnya sakit. Orang saleh itu berpikir ada yang tak beres
> dengan cara dia memperoleh jambu itu. Ia lantas membungkus sisanya dan
> membawanya menyusuri hulu sungai mencari tempat jambu berasal. Ia menemukan
> pohon jambu berbuah banyak di tepi sungai di bagian hulu. Ia berpikir dari
> situlah jambu yang dimakannya berasal. Ia menemui pemilik pohon, meminta
> maaf telah ‘mencuri’ dan memakan jambunya. Si pemilik memafkan dan, ajaib,
> sakit perut orang saleh itu hilang. Kisah itu diceritakan guru agama Islam
> saya di kelas satu sekolah dasar. Belasan tahun kemudian, saat saya kuliah,
> kisah serupa saya baca di Slilit Sang Kiai, buku kumpulan tulisan Emha
> Ainun Najib. Dikisahkan seorang kiai kampung pulang kenduri. Ia terganggu
> dengan sisa makanan yang terselip di giginya. Orang Jawa menyebutnya
> slilit. Ia lalu mengambil ujung bambu dari pagar rumah yang dilewatinya
> untuk dijadikan tusuk gigi guna mencongkel slilit itu. Di akhirat, tusuk
> gigi yang diambil sang kiai dari pagar bambu tanpa seiizin pemilknya itu
> menghalanginya masuk surga. Ibu guru agama Islam saya hendak mengajarkan
> moral atau akhlak lewat cerita jambu hanyut tadi. Dia memang lebih banyak
> mengajarkan akhlak ketimbang aspek lain dalam beragama di mata pelajaran
> agama Islam. Pun, Emha menekankan aspek akhlak dalam beragama lewat kisah
> Slilit Sang Kiai. Pakar agama membagi agama dalam tiga aspek, yakni akhlak,
> syariah atau ibadah, serta akidah. Banyak pakar menyebut akhlak lebih utama
> daripada dua aspek lainnya. Bukankah para nabi diutus ke muka bumi
> pertama-tama untuk mengubah akhlak manusia? “Dan aku tidak diturunkan ke
> muka bumi kecuali untuk memperbaiki akhlak,” kata Muhammad. Itu artinya apa
> yang dilakukan guru agama Islam saya di SD dulu sudah tepat. Kemendikbud
> mewacanakan menggabungkan mata pelajaran agama di sekolah dasar ke dalam
> mata pelajaran pendidikan Pancasila dan kewarganegaraan (PPKN). Zaman saya
> di SD dulu PPKN disebut PMP, pendidikan moral Pancasila. Kemendikbud
> kiranya hendak menekankan aspek akhlak dalam pelajaran agama. Pun moral itu
> universal, tak perlu dikotakkan dalam agama-agama. Pada konteks akhlak
> lebih utama dalam beragama, wacana Kemendikbud untuk menekankan moral agama
> lewat peleburan pelajaran agama dengan PPKN sudah tepat. Akhlak selayaknya
> diajarkan sejak dini, sejak SD. Semestinya aspek akhlak dalam beragama
> terus diutamakan di tingkat pendidikan lebih tinggi. Anak saya yang kuliah
> di universitas swasta terkemuka mata kuliah agamanya dilebur ke dalam mata
> kuliah character building. Melalui mata kuliah itu, dosen mengajarkan
> agama, Pancasila, dan kewarganegaraan. Namun, anak saya yang kuliah di
> universitas negeri, serupa dengan saya ketika kuliah dulu, masih harus
> mengambil mata kuliah agama Islam. Bilapun ada mata kuliah agama,
> semestinya bukan mata kuliah agama Islam, agama Kristen, dan lain-lain,
> melainkan mata kuliah agama-agama. Lewat mata kuliah itu, dosen mengajarkan
> dan mengajak mahasiswa mengenal dan memahami agamaagama, bukan cuma
> agamanya sendiri. Akhlak keberagaman terbentuk melalui mata kuliah
> agama-agama itu. Meski wacana peleburan mata pelajaran agama ke PPKN tepat,
> banyak yang menolaknya. Harap maklum, di negara yang ber- Ketuhanan Yang
> Maha Esa, agama dianggap sangat sakral dan sensitif. Kita biasanya tak
> tahan bila sudah dihadap-hadapkan dengan perkara agama lalu mengalah. Bila
> Kemendikbud memilih mengalah, apa boleh buat, tetap adakan mata pelajaran
> agama. Namun, Kemendikbud harus memastikan kontennya lebih menekankan aspek
> akhlak, serupa yang ditekankan guru agama Islam saya di SD dulu lewat kisah
> jambu hanyut tadi. Konten radikalisme seperti yang ada dalam buku anak SD
> berjudul Anak Islam Suka Membaca serupa yang ditemukan beredar di Ponorogo,
> Jawa Timur, pada 2016, jangan terulang. Orangtualah yang bertanggung jawab
> mengajarkan akidah dan ibadah kepada anak-anak. Orangtua bisa mendatangkan
> guru privat agama untuk mengajarkan akidah dan ibadah. Orangtua bisa juga
> mengirim anak-anak ke madrasah sore hari atau sekolah Minggu supaya anak
> mendapat pelajaran akidah dan ibadah.  
>
> Sumber:
> https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1861-jambu-hanyut-sang-guru-agama
>
> 
>

Kirim email ke