Masalah Tenaga Kerja Asing Tiongkok (Bagian 2)
Kaum revisionis pendukung Tiongkok imperialis ingin menyembunyikan watak hakiki 
modal. Seolah-olah modal Tiongkok lebih baik daripada modal kaum kapitalis AS. 
Padahal modal tak kenal bangsa dan warna kulit. Buktinya kaum kapitalis kulit 
hitam Afsel tak ragu menghisap kaum buruh berkulit hitam juga
20 Juni 2020 | 17:17
Ilustrasi ekspansi modal Tiongkok terutama di Afrika/University of Pennsylvania
Koran Sulindo – Alasan ketiga mengapa beberapa negara Asia, Afrika dan Amerika 
Latin menerima pinjaman dengan syarat-syarat berat itu karena Tiongkok 
merupakan satu-satunya peminjam sekaligus dengan paket pembangunan proyek. 
Mitos pembangunan megaproyek infrastruktur dan pertambangan sebagai jalan 
kemajuan negeri terbelakang masih kental dianut para elite penguasa kapitalisme 
birokat di berbagai negeri. Pinjaman Tiongkok dianggap lebih menguntungkan 
karena tidak disertai program penyesuaian struktural atau ikatan politik lain 
yang dijadikan syarat pinjaman IMF atau Bank Dunia.
Kaum kapitalis Tiongkok tidak saja tak peduli masalah hak asasi manusia (HAM) 
negeri penerima pinjaman. Mereka juga tak peduli masalah lingkungan, kondisi 
kerja, upah dan kehidupan buruh lokal. Kalau Tiongkok betul-betul sebuah negara 
sosialis dan menjunjung nilai-nilai moral sosialis, tentu kesejahteraan buruh 
lokalnya akan diperhatikan. Namun ini tak terjadi, karena korporasi Tiongkok 
tak berbeda dengan korporasi kapitalis Barat dalam hal mencari keuntungan 
sebesar mungkin.
Kaum revisionis pendukung Tiongkok imperialis ingin menyembunyikan watak hakiki 
modal dan berusaha menjajakan pepesan kosong seolah-olah modal Tiongkok lebih 
baik daripada modal kaum kapitalis AS atau Jepang atau negeri industri Eropa 
lainnya. Padahal modal tak kenal bangsa dan warna kulit. Kaum kapitalis kulit 
hitam di Afrika Selatan tak ragu-ragu menggunakan modalnya untuk merampas nilai 
lebih yang dihasilkan kaum buruh berkulit hitam juga.
Semakin besarnya investasi dan gelombang serbuan TKA Tiongkok ke berbagai 
negeri Asia, Afrika dan Amerika Latin membuktikan Tiongkoklah yang perlu 
bantuan.
Dalam sidang pembukaan tahunan Kongres Rakyat Nasional, akhir Mei 2020, Perdana 
Menteri (PM) Li Keqiang mengungkapkan masalah yang dihadapi Tiongkok sekarang, 
yaitu konsumsi internal, investasi dan ekspor menurun dan pengangguran 
meningkat tinggi. Pengangguran yang sebelum Covid-19 sudah meningkat karena 
penutupan banyak pabrik sebagai akibat melambatnya ekonomi dunia sejak krisis 
ekonomi dan finansial 2008, sekarang lebih meningkat lagi dan merupakan masalah 
yang paling dikhawatirkan para penguasa rezim. Tidak disebutnya target PDB 
dapat diartikan sebagai jalan untuk menyembunyikan kegagalan.
Bahaya dan dampak investasi modal yang disertai arus pekerja dan pebisnis 
Tiongkok di berbagai negeri Asia, Afrika dan Amerika Latin tak kurang serius 
dan tak kurang jahatnya.
Pertama, dampak lingkungan. Di bagian pertama, sudah disinggung pembangunan 
waduk Mytsone di Myanmar akan menghilangkan sejumlah jenis ikan yang bermigrasi 
dan menghilangkan sisa hutan lebat penyimpan aneka ragam hayati yang kaya. Di 
Sudan selatan, korporasi minyak nasional Tiongkok yang merupakan investor 
terbesar di ladang-ladang minyak, telah menimbulkan pencemaran tak terkendali 
yang mengakibatkan anak-anak lahir dengan membawa cacat, peracunan di 
peternakan, pencemaran sungai-sungai dan kerusakan tanah subur.
Tak terkecuali negeri-negeri Amerika Latin. Ekspor dari Amerika Latin ke 
Tiongkok terpusat di sektor pertanian dan sumber tambang seperti minyak dan 
gas. Laporan penelitian di 8 negeri Amerika Latin, mengungkapkan penggunaan air 
untuk ekspor ke Tiongkok dua kali lipat besarnya dibanding dengan ekspor global 
lainnya. Menurut studi di 2012, 80% deforestasi yang terjadi di Argentina, 
Paraguay, Bolivia dan Brasil berkaitan erat dengan ekspor di bidang pertanian.
Beberapa peneliti Brasil mengemukakan bahwa investasi Tiongkok merupakan motor 
penting penggundulan hutan Amazon. Hutan menjadi terbuka bagi serangan manusia 
dan itu mempengaruhi gerak fauna buas. Pembangunan jalan besar, kanal dan jalan 
kereta api yang dibiayai modal Tiongkok ditujukan untuk transportasi hasil 
tambang dan pertanian ke pelabuhan. Permintaan kacang kedelai Tiongkok 
mengakibatkan hilangnya vegetasi savana Cerrado di Mato Grosso. Cerrado 
merupakan salah satu ekosistem yang paling terancam di Brasil.
Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa pertambangan, apalagi pertambangan 
terbuka, menimbulkan pencemaran lingkungan, penyakit dan dislokasi sosial. Di 
samping itu, korporasi Tiongkok sering terlibat dalam rasisme terhadap buruh 
lokal, kondisi kerja buruk, tak adanya jaminan keselamatan kerja.
Kedua, TKA Tiongkok merebut lapangan pekerjaan buruh lokal. Tulisan Akol Nyok 
Akol Dok dan Bradley A. Thayer pada Juli 2019 berjudul China Is Not In Africa 
For Charity, But To Control Its Resources mengungkapkan “Tiongkok di Afrika 
bukan untuk menyebarkan Maoisme, melainkan untuk mengontrol rakyat, sumber alam 
dan potensinya”. Di bawah pimpinan Mao, dukungan Tiongkok kepada gerakan 
pembebasan Afrika adalah untuk menyebarkan Maoisme dan melawan pengaruh Soviet 
dan AS. Sekarang Tiongkok sendiri sudah menjadi kekuatan imperialis. Korporasi 
Tiongkok membawa sopir, buruh pembangunan dan staf pendukungnya sendiri, 
berarti menghilangkan kesempatan pekerjaan bagi buruh lokal.
Menurut penelitian Adisu pada 2010, buruh Afrika tidak mendapat keuntungan dari 
investasi Tiongkok. Di Zambia, protes-protes besar di pertambangan batu bara 
dan tembaga telah memaksa Presiden Michael Sata minta kepada Tiongkok untuk 
memperbaiki kondisi kerja dan membatasi jumlah TKA yang masuk.
Presiden Tanzania, yang baru-baru ini membatalkan pinjaman Tiongkok sebesar US$ 
10 miliar bertanya, mengapa Tiongkok harus membawa insinyur, sopir, operator 
eskavator, operator pabrik sendiri. Padahal Tanzania punya insinyur dan buruh 
yang dapat memenuhi tugas-tugas tersebut, dan ribuan yang menganggur. Ia 
menegaskan prinsip mandiri dalam ekonomi, kewajiban pemerintah memberdayakan 
rakyat dan melindungi buruhnya dari persaingan yang tak setara. Ia menambahkan 
bahwa ini bukan karena ia menentang investor. Yang ia inginkan adalah kerja 
sama yang tidak menghancurkan kapasitas lokal.
Penggunaan mesin, truk, perlengkapan teknik dan dapur, rokok, sampai minyak 
goreng, tenaga kerja, semuanya dari Tiongkok, telah melahirkan daerah kantong 
eksklusif. Orang-orang Tiongkok bahkan punya lahan sayur-mayur untuk mereka 
sendiri. Koloni-koloni seperti itu sudah tersebar luas di berbagai negeri.
Tiongkok melalui pejabat resminya, para komprador dan antek-antek lokalnya, 
berusaha membela diri. Pada 3 Juni 2020, detik.com memberitakan pernyataan Wang 
Liping, counselor Kedubes Tiongkok di Indonesia. Ia mengungkapkan gaji buruh 
Indonesia sekitar 10% dari gaji TKA. Ia bicara tentang pekerja terampil yang 
“terpaksa” didatangkan karena daerah sekitar proyek tak mampu menyediakan buruh 
terampil.
Pertanyaannya adalah apakah betul semua TKA Tiongkok merupakan buruh terampil. 
Saya lihat banyak video yang berkaitan dengan mereka, baik yang masuk secara 
legal maupun ilegal. “Tampang” dan “gerak-gerik” buruh-buruh itu sama sekali 
tidak mengesankan “buruh terampil”. Dan kesan ini dikonfirmasi oleh banyak 
kesaksian yang membuktikan mayoritas TKA adalah buruh kasar. Kesaksian lain, 
seperti mantan buruh di pertambangan Morowali (ILC, 1 Mei 2018) yang cerita 
tentang kesulitan penduduk mendapat pekerjaan di situ, penyembunyian TKA ketika 
ada sidak, PHK terhadap buruh lokal ketika TKA selesai mempelajari tugas yang 
harus dikerjakan, jumlah TKA yang jauh lebih besar dari yang diakui secara 
resmi, telah membuktikan adanya kongkalikong berbagai pihak yang sangat 
berkepentingan untuk menyembunyikan fakta penyerbuan buruh kasar Tiongkok yang 
merebut pekerjaan buruh Indonesia.
Wang Liping mengakui TKA kerja di pertambangan, listrik, manufaktur, taman 
industri, pertanian, ekonomi digital, asuransi dan keuangan. Betapa luas bidang 
yang dimasuki TKA Tiongkok! Wang tidak bicara tentang kejahatan cyber yang juga 
dimasuki TKA Tiongkok. Jakarta, Surabaya dan Bali dijadikan sarang operasinya.
Di Afrika, bidang kejahatan juga ditekuni TKA Tiongkok. Kesenangan orang kaya 
Tiongkok untuk memiliki atau makan organ tertentu dari binatang langka membuat 
perburuan dan penyelundupannya menjadi bisnis yang menguntungkan. Pada Februari 
2019, pentolan penyelundup gading yang dijuluki “Ivory Queen” di Tanzania 
dijatuhi hukuman 15 tahun.
Ketiga, pinjaman yang mengharuskan penggunaan input Tiongkok akan membangun 
ketergantungan negeri penerima pinjaman kepada teknologi Tiongkok. Dan ini 
sesuai dengan ambisi imperialis Tiongkok untuk mencapai dominasi dan hegemoni 
global dalam teknologi dan ilmu.
Saya jadi ingat pengalaman negatif Kuba yang masuk dalam Council for Economic 
Assistance (COMECON) pimpinan Uni Soviet yang telah membuat Kuba tergantung, 
termasuk dalam teknologi. Begitu Soviet dan kubu “sosialis” bubar, ekonomi Kuba 
tergoncang, mesin-mesin pabrik gula dan industri lainnya mengalami kesulitan 
untuk mendapatkan suku cadang. Tiongkok sosialis Mao tidak pernah mau jadi 
anggota COMECON.
Koloni Tiongkok di Laos
Boten adalah sebuah kota kecil di Laos utara yang berbatasan dengan Tiongkok. 
Walau ia termasuk wilayah Laos, namun mayoritas penduduknya berbahasa tionghoa. 
Mengapa? Ternyata, sebagai bagian dari zona ekonomi khusus, Laos menyewakan 
Boten, kira-kira 1.640 hektare kepada sebuah korporasi pembangunan Tiongkok 
selama 99 tahun.
Ketika zona khusus ekonomi itu dibangun, kaum tani dipindahkan ke tempat lain. 
Mereka kehilangan tanah garapannya. Sekitar 70% dari mereka akhirnya bekerja 
sebagai pelayan, tukang sapu, penjaga atau buruh di berbagai proyek pembangunan 
Tiongkok.
Pada 2003, sebuah kasino resort dibangun dan dikenal dengan nama Golden City. 
Hotel dan perumahan muncul bagai jamur di musim hujan. Para pebisnis Tiongkok 
yang tak berdaya menghadapi persaingan keras dan tajam di negerinya sendiri, 
berbondong-bondong membuka usaha untuk mengumpulkan kembali modal. Orang 
Tiongkok mendapat ruang dan kesempatan untuk memulai mata pencaharian yang tak 
mereka dapatkan di tanah airnya sendiri. Turis Tiongkok berduyun-duyun datang. 
Boten menjadi koloni Tiongkok. Nama jalan dalam bahasa tionghoa. Hukum yang 
berlaku juga hukum Tiongkok. Jumlah penduduk meningkat terutama karena aliran 
penduduk Tiongkok. Tak heranlah kalau bahasa ibu “penduduk” Boten adalah bahasa 
tionghoa.
Perjudian dilarang di Tiongkok, tapi diizinkan di Boten. Sumber kejahatan, 
prostitusi dan kebobrokan moral lainnya dialihkan ke negeri tetangga. 
Orang-orang kaya membanjiri Golden City untuk mengadu nasib dan berfoya-foya. 
Tak ayal lagi, candu, pelacuran, pembunuhan, penculikan dan jaringan kejahatan 
berkembang pesat. Begitu gawatnya, sehingga pada 2011, pemerintah Tiongkok 
terpaksa menutup kasino. Boten menjadi kota hantu.
Pada 2016, Boten dihidupkan kembali oleh berbagai megaproyek, yang terpenting 
adalah kereta api cepat dari Kunming lewat Boten dan sampai Vientiane. Kembali 
pebisnis Tiongkok menjalankan toko-toko, restoran, hotel, berbagai jasa 
pelayanan, kabaret dengan penari transeksual dari Thailand menghibur ribuan 
turis. Mereka gembira dan bahagia, tapi bagaimana penduduk desa Laos?
Sungguh sedih melihat mereka tersingkir di negerinya sendiri. Semua pekerjaan 
adalah mulia, tapi menyakitkan melihat tukang sapu, buruh, pelayan Laos dinilai 
oleh bos Tiongkoknya sebagai orang yang lambat kerjanya, harus diajari 
bagaimana seharusnya bekerja. Ditertawakan karena tidak bisa bahasa Mandarin. 
Bayangkan, di negeri sendiri, tapi harus belajar bahasa Mandarin untuk dapat 
pekerjaan di perusahaan Tiongkok. Di mana kedaulatan rakyat Laos?
Afrika
Adakah koloni Tiongkok di Afrika, di mana penduduk lokalnya menerima perlakuan 
rasis dan diskriminasi, ekonomi lokalnya melesu dan terancam bangkrut karena 
tidak bisa bersaing dengan pedagang Tiongkok yang menjual produk murah yang tak 
menemukan pasar di negerinya sendiri?
Sebuah restoran tionghoa di Nairobi, Kenya, melarang penduduk lokal masuk bar 
setelah jam 19:00 PM. Di Lusaka, Zambia, suami, orang lokal, tidak diizinkan 
masuk sebuah restoran tionghoa; istrinya boleh, karena dia orang Tiongkok.
Program “Witness” di Aljazeera, September 2010, menunjukkan ratusan ribu orang 
Tiongkok masuk Afrika, antara lain Dakar, Senegal, membangun segala macam 
bisnis. Satu orang datang dulu, kemudian istri, orang tua, mertua, dan beranak 
pinak di negeri orang. Toko-toko tionghoa mendominasi jalan-jalan; pasar 
sayur-mayur tak terlindungi dari jamahan pedagang tionghoa. Klub-klub eksklusif 
merebak. Mereka mengakui mencari uang di Dakar lebih mudah daripada di tanah 
airnya sendiri.
Asosiasi Pedagang Senegal berusaha membendung gelombang pebisnis Tiongkok. 
Tanpa bantuan dan perlindungan pemerintah, mereka tak berdaya.
Tak terbantahkan, sumber malapetaka ada di pemerintah yang menjual martabat 
bangsa dan kedaulatan rakyat guna menjilat pantat penjajah kolonial baru, 
Tiongkok imperialis! [Tatiana Lukman]
 Pembaca : 147

Sent from Mail for Windows 10

Kirim email ke