Buku Baru Bolton: Pompeo dan Trump Bertelingkah

http://indonesian.cri.cn/20200620/35aff2a9-340d-d34b-992e-dea1ad8f52e4.html
2020-06-20 16:35:58

Dikabarkan media asing, mantan Asisten Presiden AS untuk urusan keamanan nasional John Robert Bolton baru-baru ini dalam buku barunya menyingkap serangkaian tingkah laku Trump, termasuk bagaimana Donald Trump mengintegrasikan ambisi politiknya dengan kebijakan kehakiman dan diplomatik AS. Bolton mengungkap bahwa Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo kelihatannya adalah salah satu pendukung tulus Trump, sebenarnya dia sering memfitnah Trump dan mencurigai upaya diplomatik Donald Trump dalam masalah Korea Utara.

AFP dengan mengutip petikan buku tersebut yang dimuat dalam Harian New York Times menyebut, dalam pertemuan pertama antara Donald Trump dan Pemimpin Korut Kim Jong-un di Singapura, Pompeo dalam pesan tulisnya kepada Bolton menyindir “Trump terlalu jelek”.

Pompeo pernah 4 kali mengunjungi Korea Utara pada tahun 2018 dalam rangka penengahan diplomatik untuk Trump. Namun menurut Bolton, sebulan sesudah pertemuan Singapura, Pompeo memandang rendah upaya diplomatik Trump dalam masalah Korut, dan menyebut kemungkinan kesuksesannya adalah nol.

Buku tersebut menyebut, Trump bersikeras memberikan sebuah keping CD yang dinyanyikan Elton John kepada Kim Jong-un, yang mana terdapat lagu Manusia Rocket, untuk mengisyaratkan Kim Jong-un adalah “manusia rocket kecil”.

Harian The Times Inggris menunjukkan, dalam memoirnya, kesan Bolton terhadap Donald Trump ialah “kedunguan yang mengejutkan”. Menurut dia, dalam pertemuan dengan mantan Perdana Menteri Inggris Teresa Mei pada tahun 2018, seorang pejabat Inggris menyatakan bahwa Inggris adalah negara nuklir besar, Trump mengaru, “Oh, apakah Inggris negara nuklir besar?” Pertanyaan itu bukan lelucon.

Dalam sebuah KTT NATO pada musim panas 2018, Trump pernah berniat memberitahukan sekutunya, jika mereka tidak menambah pengeluaran di bidang pertahanan, AS akan mundur diri dari NATO. Menurut memoir Bolton, Trump pernah menyatakan kepada Bolton bahwa “Kita akan mundur, dan tidak menjaga negara-negara yang tidak membayar lagi.” Akhirnya Trump tidak mengeluarkan ancaman yang begitu menarik perhatian seluruh dunia.

Bolton membuktikan, dia menganggap Trump pernah menggunakan bantuan AS mendesak Ukraina mengadakan penyelidikan terhadap pesaingnya Joe Biden. Karena Bolton menolak menghadiri pemakzulan Trump sebagai saksi, malah menggunakan bukti ini sebagai imbalan untuk penerbitan buku senilai USD 2 juta, hal ini menjadikan anggota Partai Demokrat sangat marah. Ini merupakan pertama kali anggota senior tim Trump mengungkapkan cerita dalam tentang hal ini. Bolton langsung mengecam presiden yang “sering berubah-ubah” ini kekurangan pengetahuan geopolitik dan hubungan dengan stafnya sangat mengkhawatirkan.

Menurut kutipan Harian New York Times, Presiden Rusia Putin pernah mengusulkan Trump jangan mendukung pemimpin partai oposisi Venezuela Juan Guaido dalam dialog telepon Mei tahun 2019, dan membandingakn Trump dengan Hilary Clinton, hal ini “sangat mempengaruhi Trump”.

Bolton menulis bahwa Trump pernah mengatakan, menginvasi Venezuela adalah hal yang “sangat cool”, karena ini “memang sebagian AS”. Menurut Bolton, Trump pernah berkali-kali membingungkan siapa presiden Afganistan sekarang.

Selain itu, menurut laporan Kantor Berita EFE, dalam buku memoir Bolton, sesudah mengakui pemimpin partai oposisi Venezuela Juan Guaido sebagai presiden sementara hanya berlangsung 30 jam, Trump hendak menarik dukungannya terhadap Juan Guaido. Karena menurut Trump, dibandingkan sikap berhaluan keras Nicolas Maduro Moros, Juan Guaido lihatnya seperti anak kecil.

Kirim email ke