-- 
j.gedearka <[email protected]>


https://news.detik.com/kolom/d-5066280/memperkuat-rantai-pasok-pangan?tag_from=wp_cb_kolom_list#main



Kolom

Memperkuat Rantai Pasok Pangan

Dian Yuanita - detikNews

Rabu, 24 Jun 2020 15:07 WIB
0 komentar
SHARE URL telah disalin
Suasana Pasar Kangkung, Kendal, Selasa (23/6/2020).
Pasar Kangkung, Kendal, Jawa Tengah (Foto: Saktyo Dimas R)
Jakarta -

Sektor pertanian sebagai sektor yang menopang kebutuhan pangan memiliki 
tantangan cukup kompleks selama masa dan pasca pandemi yaitu bagaimana memenuhi 
pasokan makanan secara aman, berkelanjutan, dan merata. Penerapan 
social/physical distancing atau pembatasan mobilitas di beberapa wilayah telah 
berdampak serius pada rantai pasok pangan. Karakter rantai pasok pangan di 
Indonesia yaitu wilayah produsen berada di desa-desa dan mayoritas permintaan 
terkonsentrasi di daerah-daerah urban atau kota/kabupaten padat penduduk.

Di samping itu, hal yang perlu menjadi sorotan lainnya adalah adanya pembatasan 
mobilitas mendisrupsi pengiriman dan pendistribusian pangan antarprovinsi 
hingga antarpulau terlebih sentra produsen pangan berada di Jawa. Adanya 
pembatasan mobilitas tersebut secara tidak langsung menciptakan pola permintaan 
baru di masyarakat. Sejak kemunculan kasus positif Covid-19 di Indonesia pada 
awal Maret 2020, panic buying melanda beberapa kota besar. Meski panic buying 
telah mereda, pola konsumen saat ini lebih menyukai berbelanja dengan stok 
banyak untuk jangka waktu tertentu.

Ironisnya, meski panic buying terjadi, nasib petani sebagai produsen cenderung 
makin buram. Jam operasional pasar yang lebih pendek, warung hingga hotel dan 
restoran yang tutup, tidak mampu menyerap hasil produksi yang melimpah. 
Fenomena ini memberi tekanan yang semakin besar pada kelangsungan rantai pasok 
pangan. Di satu sisi stok pangan harus tersedia dalam jumlah besar untuk 
antisipasi memenuhi panic buying, di sisi lain banyak petani merugi karena 
hasil panen tidak terserap.

Berdasarkan hasil asesmen cepat yang dilakukan oleh Australian Centre for 
International Agricultural Research (ACIAR) terhadap keamanan sistem pangan, 
ketahanan, dan risiko yang muncul akibat Covid-19 di negara-negara Indo-Pasifik 
mengungkapkan bahwa pengangkutan produk pertanian di Indonesia dari daerah 
perdesaan ke pasar perkotaan telah banyak terdisrupsi. Hal ini diperburuk oleh 
terbatasnya kapasitas fasilitas penyimpanan dingin di area produksi yang 
menyebabkan hilangnya pangan yang mudah rusak (food losses).

Pola permintaan pada kurun waktu terakhir menunjukkan perubahan dari etalase 
offline menuju online. Meski saat ini telah memasuki transisi menuju new normal 
dan gerai perbelanjaan lambat laun mulai dibuka, pola permintaan atau belanja 
online diprediksi akan bertahan dalam jangka waktu yang lama. Oleh sebab itu, 
para pelaku rantai pasok terutama petani, pengusaha logistik, dan jasa 
pengiriman mau tidak mau harus mampu beradaptasi dengan cepat terhadap 
perubahan pola tersebut.

Di sinilah resiliensi rantai pasok diuji. Perubahan pola konsumsi akan 
berdampak besar pada ketahanan pangan di masa depan. Ada perbedaan antara 
jumlah dan jenis pangan yang diinginkan dan dibutuhkan terhadap ketersediaan 
produk. Ada ketimpangan antara sisi permintaan dan suplai. Rantai pasok pangan 
cenderung khas dibanding rantai pasok produk dan jasa lainnya.

Kekhasan yang mendasar pada rantai pasok pangan yaitu perubahan yang terus 
menerus dan signifikan terhadap kualitas produk pangan di seluruh rantai pasok 
hingga pada titik akhir produk tersebut dikonsumsi. Sebut saja pengiriman ikan 
tuna dari Maluku ke Jakarta, apabila tidak dilakukan penanganan produk yang 
tepat pada seluruh rantai pasok maka ikan tuna dapat rusak bahkan sebelum 
sampai ke konsumen akhir.

Karakteristik jalur rantai pasok konvensional atau offline cenderung panjang 
yaitu dari petani, pelaku logistik seperti gudang, lalu ke pengepul, pasar, 
warung kemudian berakhir ke konsumen. Adanya pola permintaan online menjadikan 
rantai pasok lebih pendek yaitu umumnya dari petani, pelaku logistik, langsung 
ke konsumen oleh jasa pengiriman.

Kendati rantai pasok menjadi lebih pendek, namun hal yang perlu menjadi 
perhatian adalah penanganan produk yang tepat terutama pada bahan makanan yang 
cepat mudah rusak seperti daging dan ikan. Penanganan produk yang tidak tepat 
dapat meningkatkan potensi kehilangan pangan. Terlebih dengan masih 
diterapkannya pembatasan mobilitas sehingga ada kemungkinan delay dalam 
pengiriman, maka rantai pasok menjadi semakin rentan terdisrupsi yang semuanya 
bermuara pada hilangnya pendapatan hingga mengguncang isu ketahanan pangan.

Langkah Preventif

Awal Juni ini dunia dikejutkan dengan rilis dari WHO tentang munculnya wabah 
ebola gelombang kedua di Kongo. Kasus gelombang baru serupa juga pernah terjadi 
saat pandemi Flu Spanyol muncul pada 1918. Kabar buruknya, pertengahan Mei lalu 
ditemukan kasus positif Covid-19 di China dan Korea Selatan yang menjadi 
kekhawatiran soal munculnya gelombang kedua Covid-19. Tanpa mendahului takdir, 
kita perlu bersiap dengan potensi terburuk gelombang kedua Covid-19 merebak di 
Indonesia.

Kita perlu mengambil langkah preventif sedini dan seoptimal mungkin utamanya 
dalam menjaga ketahanan pangan. Prioritas pertama yang dapat dilakukan yaitu 
menjaga para pelaku di seluruh rantai pasok untuk beroperasi dengan aman dan 
sehat demi meminimalkan risiko transmisi Covid-19, salah satunya penyediaan 
alat pelindung diri yang memadai sehingga jalur logistik bebas dari virus.

Pelaku rantai pasok terutama pelaku distribusi juga sangat perlu untuk 
memperbaiki penanganan produk (handling management) khususnya produk pangan 
yang mudah rusak dalam jangka waktu singkat seperti sayuran hijau, daging ayam, 
dan ikan. Selanjutnya yaitu mengakomodasi pola permintaan masyarakat yang 
mayoritas beralih ke online. Kehadiran e-commerce memberikan peluang solusi 
bagi banyaknya pasar tradisional yang tutup serta UMKM yang belum optimal 
memasarkan produk secara online.

Sebuah kelompok petani milenial di Kawasan Merbabu, Jawa Tengah terbilang 
sukses dalam memasarkan produk pertanian mereka melalui Instagram dan 
mendistribusikannya lewat agen tiap wilayah yang mereka miliki. Menurut 
penuturan sang inisiator, penjualan produk selama pandemi Covid-19 naik hingga 
400%.

Pemerintah tentu berperan penting dalam menjembatani para pedagang pasar 
tradisional dan pelaku UMKM untuk dapat terhubung dengan dunia digital semacam 
ini lebih optimal. Keterbukaan dan integrasi data potensi pangan antarkoridor 
bahkan provinsi sangat diperlukan untuk memperbaiki peta jalur distribusi 
berdasar supply and demand terkini. Hal ini juga akan membantu dalam memetakan 
daerah mana yang rentan terhadap kerawanan pangan.

Terlebih prediksi musim kemarau yang lebih kering yang dimulai pada Juni ini di 
daerah sentra produksi pertanian, khususnya Sumatera, Jawa, Kalimantan, 
Sulawesi Selatan, dan Bali berpotensi memunculkan masalah defisit stok. 
Ketahanan pangan berperan dalam menyediakan nutrisi yang diperlukan bagi tubuh 
utamanya dalam meningkatkan imunitas. Maka dari itu, terguncangnya ketahanan 
pangan secara tidak langsung akan menghambat upaya percepatan penanganan 
Covid-19.

Lebih lanjut, apabila tidak diantisipasi secara serius maka implikasi jangka 
panjang dapat mengganggu stabilitas sosial dan ekonomi, juga aspek kehidupan 
lainnya. Demi menjaga ketahanan pangan diperlukan sinergi atas semua pihak 
apalagi tidak sebatas para pelaku rantai pasok. Terpenting, masing-masing 
individu harus senantiasa sadar bahwa pandemi Covid-19 dialami oleh seluruh 
masyarakat. Sehingga hal-hal yang berpotensi mengacaukan rantai pasok hingga 
mengguncang ketahanan pangan harus dihindari seperti contohnya tidak perlu 
menimbun bahan pokok dengan spekulasi suatu saat bisa dijual kembali saat harga 
melambung dan ketersediaan minim.

(mmu/mmu)
distribusi pangan
new normal
ketahanan pangan






Kirim email ke