Membaca Langkah Extraordinary Presiden 

Selasa, 30 Juni 2020, 00:53 WIB

https://rmol.id/read/2020/06/30/441337/membaca-langkah-extraordinary-presiden.


PAK Jokowi kesal karena kabinet menterinya tak maksimal atasi pandemik
corona. Pak Jokowi marah-marah karena para pembantunya itu terlihat
biasa-biasa saja menghadapi krisis akibat corona. Video kekesalan dan
kemarahan Presiden itu diunggah istana.

Mereka mengunggah video pidato pengantar Presiden Joko Widodo dalam
rapat kabinet 18 Juni lalu alias 10 hari sebelumnya. Dalam rapat itu,
Jokowi marah-marah terhadap para menteri dan pimpinan lembaga yang tak
maksimal bekerja merespons pandemik Corona atau Covid-19. 

"Saya harus ngomong apa adanya: enggak ada progres yang signifikan
[dalam penanganan (Covid-19), enggak ada," kata Jokowi. (tirto.id,
29/6/2020) 

Beberapa kali suara Jokowi sempat meninggi. Jokowi tidak menunjuk siapa
menteri yang dimaksud. Hanya saja, ia beberapa kali menyinggung program
yang menjadi tanggung jawab Kementerian Kesehatan. Dia menilai kinerja
Kementerian Kesehatan lamban. 

Kucuran dana untuk Kemenkes Rp 75 triliun itu baru cair sebesar 1,53%.
Ia meminta dana itu segera digunakan untuk membayar tunjangan dokter,
dokter spesialis, dan tenaga medis lain. 

Sementara menurut Haris Azhar, unggahan video itu hanyalah basa-basi
Presiden. Ia mengangggap Jokowi melemparkan tanggung jawab pada
bawahannya. Menurutnya, Jokowi adalah bos dari seluruh kabinet menteri.
Harusnya memberi arahan yang jelas terkait penanganan Covid-19. 

Menurut politisi PKS, Mardani Ali Sera, kemarahan Jokowi hanya sia-sia
bila tidak dilanjutkan dengan tindakan konkret. Publik juga menilai
kekesalan Jokowi itu hanyalah pencitraan belaka. Hal ini terindikasi
dari unggahan video setelah 10 hari rapat itu berlalu. 

Kesal, marah, dan jengkel. Ekspresi yang biasa diungkapkan Presiden
manakala kinerja menterinya tidak beres. Tidak ada progres yang
signifikan. Ancaman reshuffle pun mengemuka. Dari video yang diunggah
istana, nampaknya sinyal reshuffle makin kuat. 

Melihat respons publik yang beraneka komentar, kita bisa menarik poin
dari pengantar kekesalan Presiden tersebut: 

Pertama, ekspresi kemarahan yang terlambat. Mengapa Presiden baru marah
sekarang? Bukankah corona sudah mengancam sejak kasus pertama datang?
Terlihat saat itu para menteri meremehkannya dengan candaan. Kenapa
saat itu Presiden nampak santai? Sikap guyonan menteri saat itu
mestinya dimarahi. 

Pak Jokowi bilang ini situasi tidak normal. Lantas, mengapa juga
pemerintah ngotot ingin menerapkan new normal? Antara ucapan dan
perbuatan tidak sinkron. Lebih terkesan plin-plan. 

Sikap plin-plan inilah yang membuat menteri bergerak sendiri. Bikin
kebijakan dengan pemikiran mereka sendiri. Sebab, arahan dan instruksi
tidak rinci. Terlalu umum dan bias. Asal perintah, pokoknya jalankan.
Hal inilah yang menyebabkan penafsiran masing-masing menteri berbeda.

Kedua, kebijakan abu-abu, solusi semu. Sejauh ini, kebijakan yang
dikeluarkan Jokowi tampak kelabu. Tak jelas mau dibawa ke mana.
Sebentar keluarkan Perppu, sebentar keluar aturan baru. Keluarkan
Perppu, Perpres, atau bahkan reshuffle kabinet hanyalah solusi semua.
Belum menyentuh akar permasalahan. 

Masalah pandemik membutuhkan kebijakan dan solusi yang jelas. Bukan
solusi lompat-lompat yang berpindah haluan. Apalah artinya kemarahan
bila itu hanya untuk buang badan. Kesalahan menerapkan strategi di awal
pandemik itulah masalah utamanya. 

Pada akhirnya kesalahan itu menimbulkan masalah-masalah baru yang lebih
rumit dan sulit tersolusikan. Negara berada dalam dilema. Selamatkan
ekonomi, kesehatan rakyat dipertaruhkan. Prioritaskan kesehatan,
ekonomi diambang kehancuran. Bermula dari peremehan, ketidakcermatan,
dan kemencla-menclean. 

Ketiga, peran para buzzer. Peran buzzer pendukung penguasa memberi
pengaruh terhadap kinerja para menteri. Saat publik mengkritik, mereka
secara buta membela. Pokoknya pemerintah benar, pengkritik yang salah.
Sikap mereka ini sejatinya justru menjerumuskan pemerintah ke lembah
kesalahan yang bertumpuk. Puja-puji tiada henti yang akhirnya melenakan
kinerja pemerintahan. 

Oleh karena itu, semestinya pemerintah menertibkan pendukung
fanatiknya. Jangan lagi menutupi kesalahan dalam mengelola negara.
Kritik itu dibutuhkan sebagai wujud meluruskan kebijakan. Pujian
hanyalah bonus bila kinerja sudah benar. 

Keempat, pucuk pimpinan adalah cermin pemerintahan. Saat siswa tak
lulus ujian, siapa yang salah? Guru dan pihak sekolah kan. Ketika kerja
karyawan tak beres, siapa yang disalahkan? Pimpinan perusahaan
tentunya. Bagaimana bila para pembantu tak becus bekerja? Tentu
majikannya yang patut disalahkan. Itulah gambaran seorang pimpinan.

Presiden adalah jabatan eksklusif yang tak sebarang orang mendudukinya.
Manakala para menteri lambat kinerjanya, siapa yang bersalah? Ya pucuk
pimpinan tertinggi negara, yakni Presiden. Kalau menteri bekerja biasa
saja, yang berhak menegur adalah Presiden. Inilah pentingnya pengawasan
dari pemimpin tertinggi. 

Pemimpin yang terpilih dari proses politik demokrasi memang tidak
ideal. Ia dipilih karena didukung partai politk dan pemilik modal. Ia
dikenal karena dipoles dengan ciitra positif yang terus
dipropagandakan. Ia dipilih tidak melalui proses alami. Mereka dipilih
karena unggul modal, reputasi publik, dan pencitraan. Bukan karena
kualifikasi dan kompetensi yang dimiliki. 

Pemimpin pilihan demokrasi dipilih berdasarkan polesan buatan. Maka
dari itu, jarang kita jumpai pemimpin ikhlas dan amanah setelah duduk
di singgasana. Rata-rata lupa diri karena ingin balas budi. Kebanyakan
bagi-bagi kue kekuasaan setelah memenangkan kompetisi. 

Jika memang ingin langkah extraordinary, bukan hanya bongkar pasang
kabinet atau bikin Perppu. Coba rombak total sistem yang diterapkan
hari ini. Itulah langkah extraordinary yang hakiki. Hanya saja, berani
atau tidak melakukan extraordinary sistem kapitalisme yang sudah
mengakar? 

Chusnatul Jannah Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban 

EDITOR: DIKI TRIANTO

Kirim email ke