-- 
j.gedearka <[email protected]>


https://news.detik.com/kolom/d-5073839/wabah-bahasa-pakar-dan-bahasa-media?tag_from=wp_cb_kolom_list



Kolom

Wabah, Bahasa Pakar, dan Bahasa Media

Harpiana Rahman - detikNews

Selasa, 30 Jun 2020 12:04 WIB
0 komentar
SHARE URL telah disalin
Seorang penjual jamu di Pasar Beringharjo membuat racikan jamu yang diberi nama 
empon-empon corona. Satu bungkus empon-empon corona itu dijual seharga Rp 10 
ribu
Tanaman rimpang diburu pembeli pada masa pandemi (Foto: Jauh Hari Wawan S)
Jakarta -

Dalam sejarah penyakit, tuberkulosis, campak, flu burung, malaria, dan 
lain-lain semuanya membutuhkan waktu yang tak cepat dalam menemukan metode 
pengobatan dan vaksinnya. HIV/AIDS muncul sejak 1984 dan hingga saat ini belum 
ditemukan obat spesifik yang bisa menyembuhkan secara total. SARS muncul pada 
2002 dan MERS pada 2012 adalah dua penyakit dengan virus berjenis corona, 
hingga kini masing-masing vaksinnya masih dalam pengembangan.

Satu-satunya hal yang bisa dilakukan untuk mencegah penularan adalah 
meningkatkan kekebalan komunitas dengan menerapkan protokol kesehatan seperti 
menggunakan masker, cuci tangan pakai sabun, dan jaga jarak, serta menjauhi 
perilaku berisiko penyakit. Meski kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan bisa 
mempercepat penemuan obat ataupun vaksin, tapi tetap saja membutuhkan waktu.

Salah satu jenis infodemik selama pandemi Covid-19 adalah beredarnya kekeliruan 
informasi terkait obat untuk mengobati dan mencegahnya. Informasi ini 
selanjutnya dipercaya oleh masyarakat sebagai sebuah kebenaran informasi yang 
bisa diterapkan untuk melindungi dirinya dari infeksi penularan. Sementara 
hingga saat ini, obat ataupun vaksin masih dalam tahap pengembangan penelitian.

Selain berefek pada kesehatan, salah satu akibat dari kekeliruan informasi 
adalah menimbulkan perilaku panic buying pada masyarakat yang akan berujung 
pada kelangkaan barang.

Informasi Pengobatan

Sejak penemuan kasus pertama Covid-19 di Indonesia, beragam informasi 
pengobatan dan pencegahan berkembang di tengah masyarakat. Misalnya informasi 
khasiat tanaman rimpang seperti jahe, lengkuas, temulawak yang diklaim pada 
awal-awal masa pandemi bisa mencegah penularan Covid-19 mendapat sambutan 
antusias oleh masyarakat.

Imbasnya adalah daya beli tanaman rimpang meningkat signifikan, harga tanaman 
rimpang naik dan mengalami kelangkaan di pasaran. Kelangkaan ini mengakibatkan 
tidak meratanya ketersediaan tanaman rimpang di masyarakat.

Kedua, khasiat minyak kayu putih yang dipercaya bisa bekerja dengan mencegah 
virus mereplikasi diri pada inangnya. Kekeliruan informasi berkembang saat 
salah satu ilmuwan yang dinyatakan sembuh dari Covid-19 memaparkan bahwa salah 
satu terapi pengobatan yang digunakan adalah terapi minyak kayu putih.

Pernyataan itu kemudian dengan cepat ditulis di media, lalu beredar berlipat 
ganda melalui Whatsapp Group tanpa menyertakan informasi bahwa penelitian 
terkait zat aktif eucalyptus dalam minyak kayu putih yang bersifat sebagai 
antivirus dan antibakteri masih dalam penelitian. Belum ada klaim resmi dari 
penelitian mana pun bahwa minyak kayu putih bisa membunuh virus baru ini.

Ketiga, dexamethasone. Permintaan dexamethasone di pasaran dalam beberapa waktu 
terakhir juga mengalami kenaikan, meskipun BPOM, Kemenkes, dan WHO tak 
henti-hentinya memperingatkan bahwa dexamthasone bukanlah obat tunggal Covid-19 
dan hanya boleh digunakan atas resep dokter.

Studi dalam jurnal kesehatan The Lancet menyebutkan bahwa penggunaan 
dexamethasone tidak efektif untuk pasien Covid-19 dengan kondisi ringan. Tanpa 
pengawasan dokter, dexamethasone membahayakan kesehatan. Namun, dengan harga 
yang relatif murah dan terjangkau, obat yang masuk golongan obat keras ini 
masih kian popular seiring dengan tumbuhnya anggapan di tengah masyarakat bahwa 
obat tersebut mampu mengobati Covid-19.

Mengingat banyak jenis obat di Indonesia dijual dan dikonsumsi secara bebas, 
tentu kekeliruan pemahaman tentang dexamethasone akan membahayakan kondisi 
kesehatan masyarakat pada masa akan datang.

Celah Bahasa

Penyebaran informasi yang keliru terkait kesehatan tentu tidak terjadi begitu 
saja. Melainkan menggambarkan betapa besarnya celah antara bahasa pakar saat 
berbicara di depan publik dan bahasa media saat dikonsumsi oleh masyarakat 
sebagai suatu berita.

Perilaku masyarakat dalam meningkatkan kualitas kesehatan selama masa pandemi 
mencerminkan kualitas dari bahasa media yang didapatkannya sepanjang hari. 
Masyarakat terpapar oleh informasi kesehatan yang kebanyakan dikemas secara 
terburu-terburu.

Informasi mengenai tanaman rimpang, minyak kayu putih, dexamethasone hadir dari 
bahasa para pakar yang baru memaparkan pengembangan temuan, lalu dikutip dan 
ditulis singkat di media, dan diterjemahkan bebas oleh masyarakat sebagai 
pembaca.

Ada yang kadang terlupakan saat bahasa media berbicara dan bahasa ilmuwan 
bertutur. Keduanya melupakan hak pembaca, hak pemirsa, hak khalayak sebagai 
kelompok yang bakalan menerima dan menerjemahkan informasi tersebut melalui 
perilaku keseharian. Pembaca seperti terabaikan untuk memperoleh informasi yang 
tepat tentang perkembangan ilmu pengetahuan terkait Covid-19. Media dan pakar 
seperti hanya bekerja untuk dirinya sendiri.

Pakar atau ilmuwan meneliti dan mengikuti perubahan temuan dari virus baru ini 
tanpa membuat press release yang bisa diliput dengan bahasa media dan media 
menuliskannya, menghadirkannya ke depan publik dengan tergesa-gesa tanpa 
mempertimbangkan bahwa imbas dari informasi bisa berujung pembentukan perilaku 
masyarakat.

Stigma terhadap penyakit tertentu, penolakan jenazah, panic buying, bisa jadi 
adalah dampak dari banyaknya pakar yang muncul selama pandemi dan lemahnya 
perspektif kritis dalam peliputan media. Media kebingungan menentukan pakar 
yang independen dalam berbicara, sehingga berakibat pada kualitas peliputan. 
Argumen dari pakar seperti menjadi kebenaran mutlak tanpa dipertanyakan kembali 
ataupun membandingkannya dengan penelitian ilmiah yang lain.

Hal itu tercermin pada kasus obat hidroklorokuin. Pemerintah sempat memborong 
obat ini untuk pengobatan pasien Covid-19. Lalu ditarik kembali saat jurnal 
kesehatan The Lancet mempublikasikan bahwa hidroklorokuin tidak menunjukkan 
manfaat pada pasien Covid-19.

Klaim ilmiah seperti penemuan obat Covid-19 yang dihadirkan kepada masyarakat 
hanya didukung dengan pembuatan press release, jarang disertai dengan bukti 
ilmiah melalui hasil penelitian yang diterbitkan di jurnal penelitian. Padahal 
penting meyakinkan publik bahwa penelitian untuk pengembangan obat, secara 
metodologi telah diuji sehingga kekeliruan dalam pengembangan penelitian bisa 
diminimalisasi melalui proses review dalam penulisan jurnal ilmiah.

Di tengah kondisi krisis seperti ini memang penting memberi harapan pada publik 
dengan peliputan seperti proyek pengembangan obat dan vaksin yang menampakkan 
grafik positif. Namun peliputan optimis pun mestinya disertai dengan data 
realistis dan mengikuti kaidah ilmiah.

Membangun Kesadaran

Saat pakar dari pemerintah hadir dengan membawa harapan optimis bahwa telah 
ditemukan obat untuk menyembuhkan pasien Covid-19, media harus hadir dengan 
mempertanyakan tahap pengembangan penelitiannya serta sejauh mana bentuk 
publikasi ilmiahnya.

Idealnya hasil uji coba melewati beberapa level ujian. Setiap melewati level 
ujian harus disertai dengan publikasi ilmiah. Jika publikasi ilmiah mendapat 
respon positif, masuk lagi uji coba level berikutnya dengan sasaran yang lebih 
luas. Begitu seterusnya hingga mendapat klaim obat layak digunakan untuk publik.

Demi meminimalisasi hoax, proses berbelit-belit dari penelitian uji obat 
ataupun vaksin adalah hak pembaca yang tetap harus bisa diterjemahkan oleh 
media dengan menggunakan bahasa masyarakat. Media tidak bisa hadir hanya 
sekadar menulis atau memindahkan pernyataan pakar menjadi bentuk peliputan. 
Pakar pun tidak bisa tergesa dalam mengeluarkan pernyataan.

Lebih dari itu, bahasa media harus bisa membangun kesadaran masyarakat dan 
membawa visi yang mencerdaskan. Ini bukan pekerjaan mustahil. Saya harap kita 
sama-sama setuju bahwa berpikir ataupun menulis kritis dan positif bukan 
oposisi biner yang harus dipertentangkan.

Harpiana Rahman dosen Peminatan Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku Fakultas 
Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia

(mmu/mmu)
obat corona
infodemic
empon-empon corona







Kirim email ke