Apakah new Normal itu raja menjadi murka?

On Fri, Jul 3, 2020 at 1:47 PM ChanCT [email protected] [GELORA45] <
[email protected]> wrote:

>
>
> Reshuffle Kabinet Presidensial
> 03/07/2020
>
> https://proklamator.id/reshuffle-kabinet-presidensial/
> [image: Reshuffle Kabinet Presidensial]
> <https://proklamator.id/wp-content/uploads/2020/07/Jokowi-dan-Kabinet-.jpg>
> Presiden Joko Widodo dan Jajaran Kabinetnya. JP/Seto Wardhana
>
>    -
>    -
>    -
>    -
>    -
>
> ------------------------------
>
> *Bank* Dunia pada Rabu 1 Juli 2020 menaikkan peringkat Indonesia dari
> negara berpendapatan menengah bawah atau lower middle income country
> menjadi negara berpendapatan menengah ke atas atau upper middle income
> country. Kenaikan peringkat ini diberikan setelah kajian terkini Bank Dunia
> yang menunjukkan peningkatan pendapatan kotor nasional (growth national
> income atau GNI) per kapita, dari USD3.840 atau Rp 54,7 juta pada tahun
> 2019, menjadi USD4.050 atau Rp57,7 juta pada tahun 2020.
> 4 kelas pendapatan:
> 1. rendah (1.035 dolar), berpendapatan
> 2. menengah bawah 1.036 – 4.045 dolar
> 3. menengah ke atas (4.046 – 12.535 dolar
> 4. tinggi (di atas 12.535 dolar).
> Berita membesarkan hati itu juga dibarengi berita Reuters bahwa Presiden
> akan mengembalikan fungsi pengawasan bank dan perusahaan jasa keuangan
> kembali ke Bank Indonesia, dan membubarkan OJK yang baru berdiri 2013 dan
> bekerja 2015.
> Kamis 3 Juli 2020, Bung Karno memimpin Zoominar membahas perkembangan
> cepat untuk memelihara momentum transformasi fundamental yang harus dilalui
> bangsa ini.
>
> Grafik Expansion
>
> *BK:* Kita tidak perlu mengklaim putusan pembubaran OJK sebagai hasil
> lobby Indonesia President Club yang baru berdiri 18 Juni 2020 pas presiden
> super marah besar dan mau reshuffle kabinetnya. Sekarang kita harus berikan
> masukan yang membesarkan hati presiden agar firm dalam mereshuffle secara
> assertive. Saya tidak dalam posisi memberi advis karena saya pernah punya
> kabinet 100 menteri yang usianya cuma 31 hari dari 24 Feb 1966 sampai 28
> Maret 1966. Itupun 15 orang sudah ditahan oleh Jendral Soeharto tanggal 18
> Maret. Pada awal kabinet presidensial pertama saya mengangkat 20 orang
> termasuk wapres Bung Hatta, maka kabinet itu terdiri atas 21 orang dengan
> NUM 001 saya 002 Hatta dan selanjutnya sampai 021. Kabinet itu akan diganti
> oleh kabinet parlementer, dipimpin PM Sutarn Syahrir yang awalnya ramping
> hanya 17 menteri. Tapi perlu reshuffle merangkul parpol maka kabinet
> bengkak jadi 25 lalu 32 orang.
>
> Kabinet Syahrir III jatuh diganti Amir Syarifudin dengan 34 lalu 37 orang..
> Kabinet ini bubar dan PM Amir Syarifudin akan tewas karena ikut
> pemberontakan PKI Musso. Hatta merampingkan kabinet jadi 17, 19,17 orang.
> Kabinet Natsir 18 orang, Sukiman Suwiryo 20, Wilopo 18, Ali Sastroamijoyo I
> 20, Burhanudin Harahap 23, penyelenggara pemilu 1955. Ali Sastroamijoyo II
> koalisi hasil pemilu PNI Masyumi NU 25 hanya berumur setahun, Lalu saya
> jadi formatur kabinet Karya Juanda 24 orang.Total menteri yang diangkat
> periode itu 180 orang. Setelah itu jangan meniru saya yang membengkakkan
> kabinet sampai 100 menteri. Selama 12 tahun parlementer ada 180 menteri.
> Sejak saya jadi formatur Kabinet Juanda 9 April 1957 sampai saya
> dilengserkan oleh Supersemar saya mengangkat 150 orang. Saya mencapai rekor
> MURI dan rekor sejagad tidak akan pernah ada presiden/PM bikin kbinet 100
> menteri. Jadi tanya Jendral Harto bagaimana menciutkan kabinet saya dari
> 100 balik normal.
> Baca Juga :   New Normal, #AdaptasiKebiasaanBaru dan Strategi Kebudayaan
>
> <https://proklamator.id/new-normal-adaptasikebiasaanbaru-dan-strategi-kebudayaan/>
>
> *Soeharto:* Saya mohon maaf telah menahan 15 menteri kabinet Dwikora II
> pada 18 Maret 1966. Yang bisa diadili Mahmilub hanya waperdam Subandrio dan
> Jusuf Muda Dalam serta Oei Tjoe Tat. Yang lain tertahan tanpa diadili
> karena ya memang kesalahan politis, bukan kriminal. Selama saya berkuasa 32
> tahun saya mengangkat 134 menteri. Kabinet Dwikora III setelah diciutkan
> dari 100 mentri separuhnya turun pangkat jadi Deputy Menteri, lalu saya
> ganti Kabinet Ampera I 25 Juli 1966 hanya 31 orang. Lalu setelah saya jadi
> Pejabat Presiden maka Kepala Staf Angkatan yang sejak Kabinet Juanda ikut
> sidang kabinet saya keluarkan, cukup Menhankam saja. Kabinet Ampera II
> hanya 24 orang setelah itu Kabinet Pembangunan I-7. Rinciannya
> 24,24,32,42,44,43 dan 38. Saya kembali memakai nomenklatur Menteri Muda
> yang saya bongkar pasang sesuai selera dan kinerja yang saya nilai
> obyektif. Saya juga tidak ragu merger kementerian perdagangan dan
> perindustrian ketika Billy Judono jadi Mendag saya lebur jadi satu dibawah
> Menperindag Tunky Ariwibowo. Selanjutnya prof Habibie melanjutkan kabinet
> ramping.
>
> *Habibie:* Saya kan presiden terpendek masa jabatannya 1 tahun 5 bulan
> dari wapres 2 bulan 7 hari. Tapi saya termasuk Menristek terlama 4 kabinet
> atau 20 tahun ini rekor tidak akan pernah terpecahkan lagi. Saya pas masuk
> 11 tokoh yang menduduki jabatan menteri setara @ lebih 21 tahun. Kalau
> ditelusuri buku Kencan Dinasti Menteng yg masih tunggu Covid unttuk naik
> cetak,ada 11 orang yang masuk rekor kesebelasan Menteri/Pejabat terlama.
> Saya hanya mengangkat 17 menteri baru melanjutkan 20 menteri penerus era
> pak Harto. Saya silakan yang berminat, baca bukunya nanti kalau sudah erbit
> tunggu Covid selesai hahaha.
>
> *Gus Dur:* *Saya terpaksa buka kartu rekor. Saya dan Bung Karno adalah
> dua orang Indonesia yang langsung jadi Presiden, tanpa melalui karir
> jabatan menteri, jadi langsung dari orang biasa tidak pernah duduk di
> kabinet melejit jadi Presiden.* Saya juga orang ketiga yang dijatuhkan
> oleh MPRS dan MPR hasil pemilu, setelah Bung Karno dan Pak Harto. Kalau
> Mbak Mega kan dikalahkan olejh SBY dalam pertarungan pemilu dimana petahana
> kalah oleh penantang bekas bawahan. Mega juga menyamai rekor bertiga dengan
> Bung Karno dan saya tidak melewati jalur Menteri, dia langsung jadi wapres
> lau presiden. Total menteri yang saya bongkar pasang 53 orang, dilanjutkan
> mbak Mega hanya 17 menteri baru dan 16 menteri stock lama. Presiden SBY
> terkena sindrom big brother, meski sudah dibatasi oleh UU Kementerian
> masikmal jumlah menteri 34, tetap menerabas dengan membuat portofolio Wakil
> Menteri.
> Baca Juga :   Gus Dur: Salahkah Jika Dipribumikan?
> <https://proklamator.id/gus-dur-salahkah-jika-dipribumikan/>
>
> Maka seluruh menteri dan wakil menteri zaman SBY selama 10 tahun ada 107
> orang. Nah Jokowi melanjutkan nomenklatur itu dan 87 orang diangkat jadi
> mneteri atau wamen sehingga total jumlah elite menteri kita ada 745 orang,
> Nah yang menarik dari studi PDBI tentng apa dan siapa para menteri
> Indonesia. PDBI menemukan 77 orang yang memiliki kaitan kekerabatan.Diluar
> dugaan keluarga saya mencapai rekor 5 anggota kabinet. Alm bapak saya, KH
> Wahid Hasyim,saya sendiri, dan 3 ponakan Syaifulah Jusuf, Cak Imin dan
> Abdul halim Iskandar. Hanya 3 keluarga lagi yang punya 5 menteri kabinet,
> yaitu: 2. keluarga Bung Karno, mbak Mega, Puan Maharani dan Anwar
> Tjokrominoto dan Haarsono Tjoroaminoto, 3, keluarga PakHarto besanan sama
> Sumitro putri Tutut, menantu Surdrajar dan menantu/anak Prabowo. 4. kakak
> beradik Mochtar, Sarwono, Armida yang sepupu dgn DR Sudarsono dan putranya
> Juwono Sudarsono.
>
> *BK:* PDBI sudah memantau kabinet sejak 1985 ketika Ginanjar jadi Meneg
> PPN/Ketua Bappenas Kabinet Pembangunan VI. Studi itu diperbaharuhi terus
> dengan mutasi kontemporer. Presiden selalu tergoda untuk mengangkal menteri
> maksimal 34 portofolio sesuai batasan UU Kementerian. Tapi semua punya
> penyakit megalomania atau karena takut diserang oleh oposisi, maka semua
> partai dirangkul dikasih jabatan dan nomenklatur yang dipaksakan seperti
> wakil menteri. Padahal saya sudah bosan membaca analisis bung Chris dan
> PDBI bahwa kabinet harus ramping. *Davide Castelvecchi* menyimpulkan dari
> studi kabinet empiris global bahwa tingkat efisiensi kabinet berbanding
> terbalik dengan jumlah menteri dan mencerminkan derajat primitif tidaknya
> suatu negara bangsa. Dalam artikel di majalah *Science News 9 Mei 2008
> berjudul: “The Undeciders; Castelvecchi menyimpulkan: More decision makers
> bring less efficiency. Researchers have found an inverse correlation
> between a country’s level of development and cabinet size: on average, the
> more developed a country is, the smaller is its cabinet.”*
>
> Tapi ya sekarang ini “Dewi Fortune dan Hok Gie (keberuntungan) menyertai
> Indonesia dan Jokowi, ditengah frustrasi presiden ke-7 Bank Dunia menemukan
> data informasi kinerja peningkatan pendapatan nasional yang menaikkan
> status Indonesia ke kelas menengah atas. Hari Rabu presiden Trump, presiden
> Pena Nieto dan PM Trudeau baru saja menandatangani USMCA perjanjian blok
> perdagangan AS Mexico Canada menggantikan NAFTA. Maka resep kita, bila
> presiden menerapkan studi Castellvecchi, stop pembengkakan kabinet gembrot
> inefisien. Insya Allah Indonesia akan memimpin ASEAN sebagai kekuatan
> penyeimbang geopolitik yang tangguh dalam percaturan segi-4 AS, RRT, India,
> ASEAN. Segera reshuffle sebelum 75 th RI 17 Agustus 2020.
> Baca Juga :   Azas PDI Perjuangan Adalah Pancasila
> <https://proklamator.id/azas-pdi-perjuangan-adalah-pancasila/>
> ------------------------------
>
> *Oleh: Christianto Wibisono penulis buku Kencan Dinasti Menteng*
>
> 
>

Kirim email ke