Artikel <https://www.antaranews.com/slug/artikel>
Konsep kebangsaan PNI inspirasi nasionalisme
Oleh Boyke Ledy WatraMinggu, 5 Juli 2020 22:43 WIB
Konsep kebangsaan PNI inspirasi nasionalisme
Sejumlah simpatisan berparade dengan menggunakan atribut saat kampanye
Partai Nasional Indonesia (PNI) di Kemayoran Gempol, Jakarta Pusat, 22
Mei 1971. ANTARA FOTO/IPPHOS/asf/1971.
Jakarta (ANTARA) - Partai Nasional Indonesia dibentuk oleh Presiden
Soekarno bersama para sejumlah tokoh perjuangan kemerdekaan bangsa pada
1927 lalu.
Awalnya Partai Nasional Indonesia merupakan perserikatan, bernama
Perserikatan Nasional Indonesia dengan Presiden Soekarno sebagai ketuanya.
Kemudian kongres pertama PNI mengambil salah satu keputusan penting,
yakni mengganti perserikatan menjadi partai.
Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) Ujang Komaruddin
mengatakan ada inspirasi penting yang dapat dipetik dari Partai
Nasionalis Indonesia yang dibentuk oleh Presiden Soekarno tersebut.
Inspirasi itu adalah tentang konsep kebangsaan yang ditawarkan oleh
partai dan para pendirinya bagi Bangsa Indonesia.
Konsep kebangsaannya berupa nasionalisme moderat, serta marhaenisme atau
berpihak kepada rakyat kecil sebagai ideologi politik, dan hal itu
begitu dibutuhkan bangsa belakangan ini.
*Baca juga:Pengamat: Nasionalisme PNI patut diteladani parpol modern
<https://www.antaranews.com/berita/1592330/pengamat-nasionalisme-pni-patut-diteladani-parpol-modern>*
Menurut Komaruddin, konsep kebangsaan PNI menjunjung rasa nasionalisme
yang moderat, tidak ke kanan tidak ke kiri dan tidak ke barat tidak ke
timur, seperti ajaran Soekarno non-blok, yakni ada di tengah-tengah,
jadi tidak nasionalisme yang fanatik.
Konsep kebangsaan dengan nasionalisme moderat ini sangat dibutuhkan oleh
Bangsa Indonesia, terutama belakangan ini, karena Indonesia kehilangan
sentuhan nasionalisme moderat tersebut.
Komaruddin menyebutkan sekarang ini orang sudah terdistorsi,
terbagi-bagi, terpecah menjadi kubu-kubu, oleh karena itu pentingnya
konsep kebangsaan, seperti yang ditawarkan PNI pada saat kemerdekaan dulu.
Indonesia butuh negarawan yang berdiri di tengah, dan itu menjadi simbol
kebangsa an. Menurut Komaruddin, saat ini sulit menemukan itu, bahkan
jika ada orang baik pun justru diserang oleh/buzzer-buzzer/politik.
PNI dimasa lalu memiliki inti perjuangan, yakni mempersatukan bangsa
untuk mencapai kemerdekaan dan mempertahankan kemerdekaan yang telah
diproklamasikan.
Kemudian, ideologi politik dari PNI, yakni marhaenisme atau berpihak
pada rakyat kecil juga diperlukan sebagai inspirasi bagi Bangsa
Indonesia, bahkan juga untuk saat sekarang ini.
Dia mengatakan bahwa konsep "wong cilik" itu penting, tapi konsep ini
tidak boleh di klaim oleh pihak tertentu saja atau partai tertentu saja,
karena setiap orang atau partai berhak untuk peduli terhadap rakyat
kecil, karena persoalan ini semua elemen bangsa.
*Baca juga:Puan dukung pembuatan film gelorakan semangat nasionalisme
<https://www.antaranews.com/berita/1179952/puan-dukung-pembuatan-film-gelorakan-semangat-nasionalisme>*
Sejarah PNI
Buku karangan Fajriudin Muttaqin yang tercatat sebagai akademisi UIN
Bandung dan Wahyu Iryana berjudul Sejarah Pergerakan Nasional menuliskan
latar belakang PNI, yakni berawal pada masa sebelum kemerdekaan, adanya
perasaan anti penjajah makin subur. Rakyat Indonesia kala itu menentang
dan serta melawan penindasan dari Belanda.
Pemuda Indonesia bekas dari anggota-anggota Perhimpunan Indonesia
mendirikan Partai Nasional Indonesia di tanah air yang asas dan
tujuannya sama dengan Perhimpunan Indonesia, asas kebangsaan Indonesia
dan bertujuan mencapai kemerdekaan Indonesia.
Gagasan pembentukan PNI itu didukung oleh Presiden Soekarno, Bung Karno
menekankan pentingnya pembentukan PNI sebagai partai untuk menggalang
persatuan dan kesatuan serta menganjurkan pendirian cabang-cabangnya di
seluruh tanah air.
Partai Nasional Indonesia dibentuk pada 1927. Tujuan utama Partai
Nasional Indonesia untuk mencapai kemerdekaan Indonesia atas asas
percaya akan kekuatan dan kemampuan Bangsa Indonesia sendiri tanpa
bantuan dari siapa atau pihak mana pun.
Untuk mencapai Indonesia merdeka, PNI tidak mau bekerja sama dengan
Pemerintah Kolonial Belanda (non-koperasi). PNI tidak bersedia duduk
atau ikut serta di dalam dewan-dewan yang dibentuk atau didirikan oleh
Pemerintah Kolonial Belanda.
Contohnya dewan bentukan Belanda seperti Volksraad atau Dewan Rakyat,
Gemeenteraden (dewan dewan Kabupaten).
Ketegasan Bung Karno dan pimpinan ternyata berdampak besar, pada 24
September 1929, empat orang pemimpin Partai Nasional Indonesia ditangkap
oleh pemerintah Belanda berdasarkan alasan provokasi, bahwa pada awal
1930 PNI bermaksud mengadakan pemerontakan.
Keempat pemimpin itu adalah Presiden Soekarno, Maskun, Gatot
Mangkuptaja, dan Supriadinata. Mereka dihadapkan ke pengadilan dan
dijatuhi hukuman penjara oleh pengadilan.
“Kalau satu pemimpin patah, ada dua atau tiga gantinya” kata Ir. Soekamo
seperti yang dikutip oleh buku Sejarah Pergerakan Nasional tersebut.
Pada 1946 kembali dihidupkan dan mengikuti pemilihan umum pertama
Indonesia. Menurut Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR)
Ujang Komaruddin PNI berhasil menjadi pemenang pemilu 1955.
PNI menjadi kuat dan memenangkan pemilu 1955 karena konsep
kebangsaannya, ideologi politik marhaenisme-nya, namun satu lagi faktor
penting yakni sosok besar dari Bung Karno.
"PNI dimasa lalu yang jaya dan menang pemilu yang jujur di kala itu
menandakan sosok kepercayaan publik, rakyat Indonesia kepada Bung Karno
sangat tinggi, termasuk kepada partainya," ucapnya,
Ir Soekarno dianggap memang bisa mempersatukan Indonesia, memerdekakan
Indonesia, hal itu tentu dengan tidak menafikan banyak tokoh pendiri
bangsa yang berpengaruh lainnya.
Menurut dia, figur pemimpin partainya itu menjadi penting di Indonesia,
PNI besar karena sosok ketokohan Bung Karno, namun Sang Proklamator ini
dalam tanda petik digusur oleh rezim yang baru, begitu pula partainya
menjadi redup bahkan menjadi hilang.
Kehilangan sosok dari Bung Karno menyebabkan PNI Redup meski telah
memenangkan pemilu 1955, kemudian hal lainnya yang juga bisa dianggap
menjadi penyebab redupnya lanjut dia, karena seiring berjalannya waktu
Bung Karno membentuk pemerintahan demokrasi terpimpin, yang menjadikan
bung Karno menjadi presiden seumur hidup.
Setelah PNI, ideologi politik marhaenisme atau peduli terhadap "wong
cilik" itu diadopsi oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan yang
dipimpin oleh anak Bung Karno, Megawati Soekarno Putri.
Namun dia menegaskan bahwa peduli "wong cilik" bukan milik satu partai,
seharusnya seluruh partai seperti itu, karena rakyat kecil persoalan
semua elemen bangsa.
*Baca juga:Pengamat: Sejumlah elite sedang bermain-main dengan
nasionalisme
<https://www.antaranews.com/berita/824521/pengamat-sejumlah-elite-sedang-bermain-main-dengan-nasionalisme>*
Oleh Boyke Ledy Watra
Editor: Joko Susilo