Peter Navarro Dicemooh Karena Timpakan Tanggung Jawab kepada Tiongkok
2020-07-06 12:48:02
http://indonesian.cri.cn/20200706/2e90ecbd-397f-4ce4-6d69-55f8a7c2385b.html
Sumber virus Covid-19 masih belum ditemukan, namun masih terdapat orang
yang tidak dapat menghadapi kenyataan lemahnya penanggulangan wabah di
AS, dan selalu melontarkan teori konspirasinya dengan terus menimpakan
tanggung jawabnya kepada Tiongkok. Penasehat Perdagangan Gedung Putih
Peter Navarro sekali lagi mencoreng Tiongkok, dan disangsikan oleh
pembawa acara MSNBC Ali Velshi. Penampilan lucu Peter Navarro sempat
dicemooh para netizen.
Pada Jumat lalu, Pater Navarro menerima wawancara MSNBC, ketika ditanya
mengenai persetujuan perdagangan, dia malah membicarakan wabah Covid-19
tanpa menjawab pertanyaan, dan sekali lagi menimpakan tanggung jawab
kepada Tiongkok, menyebut Tiongkok membuat warga AS terpaksa menjalani
karantina dan kehilangan kesempatan kerja mereka, bahkan memfitnah
Tiongkok membuat virus dalam jumlah besar, sengaja membuat jutaan orang
yang terinfeksi virus Covid-19 meninggalkan Tiongkok dan menyebarkan
virus ke AS.
Mengenai argumentasi yang mengejutkan dan tak beralasan itu, pembawa
acara Ali Velshi tak tahan lagi, ia terpaksa memotong perkataan Navarro
dan bertanya siapakah jutaan orang ini, dan apa yang sedang ia katakan?
Ketika Ali Velshi bertanya berkali-kali apakah Navarro mempunyai bukti
bahwa Tiongkok melakukan hal tersebut secara sengaja, Navarro menjadi
emosi dan balik bertanya apakah Ali tidak setuju dengannya dan apakah ia
tidak setuju bahwa hal itu adalah kenyataan?
Ketika Navarro terus memfitnah Tiongkok, Ali Velshi tidak mau
mendengarkan alasannya lagi, dan memaksa Navarro menghentikan
perkataannya dan bertanya padanya, jika apa yang ia katakan benar,
mengapa angka kasus terdiagnosa baru di AS selama 7 hari jauh lebih
tinggi daripada negara mana pun? Ketika negara lain berkemampuan
mencegah virus, kapan seharusnya kita membahas masalah kita sendiri?
Setelah video wawancara ini diunggah ke internet, opini konyol Navarro
itu serentak dicemooh para netizen, sedangkan komentar para pengguna
internet menjadikannya sebagai topik wawancara yang paling panas di Twitter.
Mengapa AS sebagai Negara Nomor Satu di Dunia Menjadi Celah Terbesar
dalam Penanggulangan Wabah Global
http://indonesian.cri.cn/20200706/d0f6a57e-dd85-81d2-277e-18393c48ea29.html
2020-07-06 12:57:05
图片默认标题_fororder_quekou1
Beberapa hari ini, situasi wabah Covid-19 di berbagai tempat AS menjadi
sangat serius, dan jumlah kasus positif baru harian di seluruh AS terus
meningkat. Kasus positif Covid-19 yang baru pada 2 Juli lalu tercatat
54.357 dan merupakan rekor tertinggi harian.
Menurut sistem pemantauan waktu nyata wabah Universitas Johns Hopkins
AS, hingga hari Minggu (5/7) pukul 17:34 waktu AS Timur, jumlah total
kasus positif Covid-19 di AS tercatat 2.874.396, di antaranya 129.870
kasus kematian.
Meksipun pakar dan pejabat pemerintah telah mengeluarkan imbauan, namun
sebagian warga AS masih tetap “tak peduli”. Hari Sabtu lalu (4/7) adalah
“Hari Kemerdekaan AS”, liburan mendatangkan tantangan lebih besar bagi
penanggulangan wabah. Di pantai Maryland AS dan tempat lainnya, terdapat
banyak warga yang ramai datang berkunjung. Selain itu, banyak dinas
penerbangan domestik AS penuh, bahkan banyak penumpang tidak mengikuti
langkah penanggulangan yang dikemukakan maskapai.
图片默认标题_fororder_quekou2
Menanjaknya kasus Covid-19 memberikan tekanan luar biasa kepada sistem
medis AS. Baru-baru ini, di Negara Bagian Arizona dan Texas, jumlah
kasus pasien yang dirawat di rumah sakit masing-masing mencatat rekor baru.
Sementara itu, para warga AS yang ingin ke luar negeri juga terganggu.
Sejak 1 Juli lalu, UE telah membuka perbatasannya kepada belasan negara
kecuali AS, negara sumber wisatawan penting bagi Eropa.
Selain itu, pemerintah Inggris pada hari Jumat lalu (3/7) juga
mengeluarkan daftar nama negara dan daerah yang diizinkan masuk ke
wilayah Inggris tanpa karantina, namun di antaranya juga tiada AS.
图片默认标题_fororder_quekou3
Hari Jumat lalu, WHO mendesak negara yang terdampak parah wabah untuk
“sadar kembali” untuk menghadapi kenyataan serta menanggulangi wabah,
bukan bersilat lidah saja.
Direktur Eksekutif WHO untuk Program Kedaruratan Michael Ryan dalam
jumpa pers hari Minggu di Jenewa mengatakan, Benua Amerika merupakan
daerah yang paling parah situasi wabahnya di dunia, sedangkan AS adalah
negara yang terparah. Dia mengatakan, sejumlah negara yang serius
situasi wabahnya ingin cepat memulihkan ekonominya, namun kurang
sepenuhnya mempertimbangkan kebutuhan penanggulangan wabah, ada pula
pemimpin negara yang masih berkhotbah bahwa “virus akan hilang
sendirinya pada suatu saat”.
图片默认标题_fororder_quekou4
Apakah peringatan WHO tersebut bisa menyadarkan AS yang telah menjadi
celah terbesar dalam penanggulangan wabah global?
Menurut pakar terkait Tiongkok Su Xiaohui, meskipun AS terpaksa
melakukan sejumlah penyesuaian kembali, namun masih tetap jauh dari
peredaan bahkan pengontrolan wabah.
Menkeu Jerman Peringatkan Dampak Wabah AS terhadap Ekonomi Global
2020-07-06 12:49:22
http://indonesian.cri.cn/20200706/3035830d-aba1-7720-e0f1-776e1d574ae5.html
Menteri Ekonomi Jerman Peter Altmaier hari Minggu kemarin (5/7) dalam
wawancara menyatakan, kemerosotan ekonomi Jerman yang diakibatkan krisis
wabah mungkin akan berakhir pada musim gugur, dan ekonomi Jerman akan
mulai bertumbuh paling lambat pada Oktober mendatang. Ia memperkirakan
ekonomi Jerman akan merosot 6 persen pada tahun 2020, namun akan
bertumbuh 5 persen ke atas pada tahun 2021.
Altmaier juga menyampaikan keyakinannya terhadap lapangan kerja. Ia
menganggap situasi lapangan kerja Jerman akan mulai membaik pada
November mendatang, dan pada tahun 2022 akan dipulihkan sampai level
sebelum terjadinya wabah. “Tingkat pengangguran tahun ini akan mencapai
puncaknya pada bulan Oktober, dan sejak November situasinya akan
berangsur-angsur kembali seperti dahulu,” ujar Altmaier.
Altmaier menambahkan, upaya pencegahan dan pengendalian wabah
menimbulkan dampak besar terhadap ekonomi dalam beberapa bulan terakhir
ini. Akan tetapi, yang paling penting adalah pengontrolan wabah.
Sementara itu, ia memperingatkan bahwa epidemi Covid-19 di AS mungkin
akan mengakibatkan dampak serius terhadap ekonomi global.
Altmaier juga mengkritik keputusan pemerintah AS untuk dalam jumlah
besar membeli redcive, obat anti-virus yang dilitbang oleh perusahaan
AS. “Penanganan wabah sendirian tidak akan membantu siapa pun,” ujar
Altmaier, “akuisisi pasar dan monopoli vaksin adalah ide yang sangat buruk.”
Altmaier menegaskan, masyarakat internasional hanya dapat melawan wabah
secara bersama-sama, dan “Presiden AS diharapkan juga mengetahui hal ini.”