Industri Keramik Junci Bantu Warga Shenhou Tempuh Kehidupan Sejahtera

http://indonesian.cri.cn/20200710/9d9bf1b7-ef5b-cdac-2110-c73f596cc42a.html
2020-07-10 15:43:28

图片默认标题_fororder_ciqi2

图片默认标题_fororder_ciqi3

图片默认标题_fororder_ciqi 1

Keramik Junci mulai berkembang pada Dinasti Tang (618—907 Masehi) dan berjaya pada Dinasti Song (960—1279 Masehi), merupakan salah satu dari lima besar keramik terkenal Tiongkok. Keramik ini lahir di kecamatan kuno Shenhou yang berjarak 30 kilometer sebelah barat daya kota Yuzhou, Provinsi Henan. Sebagai salah satu tempat yang terkenal dengan industri keramik, sebagian besar penduduk lokal secara turun-temurun hidup dengan membakar dan membuat keramik yang bernama Junci ini. Sekarang, warga Shenhou telah menempuh kehidupan yang sejahtera dengan melestarikan, mewarisi dan mengembangkan industri keramik Junci.

Bunyi dentingan keramik terdengar dari tanur-tanur pembakar keramik. Bunyi itu familiar bagi penduduk setempat. Seperti pepatah setempat yang berbunyi, “harta benda apa pun tak sepadan dengan sebuah keramik”, yang mengindikasikan betapa pentingnya keramik dalam kehidupan warga setempat. Jin Xiaotong adalah putra Jin Peizhang yang diberi julukan sebagai Bapak Keramik Junci zaman sekarang. Jin Xiaotong mengikuti jejak ayahnya belajar membakar keramik sejak usia 14 tahun. Ketekunan ayahnya terhadap budaya keramik Junci memberikan pengaruh mendalam kepada Jin Xiaotong. Ia tahu benar betapa sulitnya membakar keramik. Jin Xiaotong selamanya tidak akan melupakan masa-masa ketika dia berhasil membuat keramiknya sendiri pada Desember 2004.

“Dari satu tanur pembakar dapat diperoleh 11 buah keramik dengan kualitas yang luar biasa. Sempat membuat sensasi. Waktu itu, sekali pembakaran dengan tanur dapat menghasilkan 5 hingga 60 ribu Yuan, tak dapat dibayangkan.”

“Jalan Panjang” adalah destinasi wisata kelas 4A tingkat nasional yang dibangun daerah tersebut dengan penanaman modal sebanyak 1 miliar Yuan. Setelah diresmikan pada 2017, pariwisata terus berkembang dan telah menjadi pilar industri setempat. Kedatangan wisatawan dari mancanegara juga membuka visi para perajin keramik lokal.

Kong Xiangqin, maestro seni rupa Tiongkok mengatakan, ketika karya keramik Junci hadir dalam kehidupan rakyat jelata, dan berbaur dengan teori Kesenian modern, maka puncak sejarah lain Junci tidak jauh lagi.

Warisan budaya dan pelestariannya telah mendorong kemakmuran industri keramik Junci di Yuzhou. Terhitung hingga akhir 2019, kota Yuzhou menjadi rumah bagi 213 perusahaan keramik Junci, yang mempekerjakan sebanyak 16 ribu tenaga kerja, dengan nilai produksi tahunan sebesar 1,2 miliar Yuan. Dengan ini, industri keramik telah benar-benar berkembang menjadi merek budaya dan pilar industri setempat.


*
*


 Komunitas Internasional Kecam AS Mengundurkan diri dari WHO

2020-07-10 15:38:02 http://indonesian.cri.cn/20200710/ab0cc5ed-942c-a5a7-a5c2-957afaaa4514.html

Jumlah kasus virus corona terus meningkat, tapi pemerintah AS secara resmi mengundurkan diri dari WHO. Tindakannya tersebut menghasilkan kecaman keras komunitas internasional. Berbagai pihak berpendapat, WHO memainkan peranan yang tak tergantikan dalam perlawanan pandemi virus corona di seluruh dunia. Pada saat krusial melawan wabah, pengunduran diri AS tidak saja melukai upayanya sendiri dalam perlawanan wabah, tapi juga merusak kerja sama seluruh dunia untuk melawan wabah.

Terhadap proses pemunduran diri AS dari WHO, pemimpin redaksi majalah medis terkenal The Lancet, Richard Horton menyatakan, tindakan AS ini adalah kekerasan terhadap rakyat seluruh dunia. Artikel mengatakan, WHO mempunyai legalitas dan daya pengaruh yang tak tertandingi di bidang kesehatan umum global. Pengunduran diri AS tidak saja akan merusak keamanan, diplomatik dan daya pengaruhnya sendiri, tapi juga akan merugikan pekerjaan terkait yang diadakan WHO, terutama pekerjaan penelitian vaksin virus corona. Program tersebut perlu diadakan melalui kerja sama global, dan akan menguntungkan seluruh dunia. Untuk memelihara keamanan kesehatan publik global, berbagai negara perlu meningkatkan kerja sama dengan WHO.

图片默认标题_fororder_guoji1

Jubir Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova hari Kamis kemarin (9/7) menyatakan, Rusia menentang politisasi kerja sama kesehatan internasional. Dia mengatakan, Rusia telah mengetahui tindakan AS untuk mengundurkan diri dari WHO. Rusia telah memberikan komentarnya dan berpendapat bahwa tindakan AS ini tidak konstruktif, WHO harus memainkan peranan pimpinan dan koordinasinya di bidang kerja sama kesehatan internasional.

图片默认标题_fororder_guoji2

Hari Rabu lalu waktu setempat (8/7), Menlu Swedia Ann Linde menyatakan penyesalannya terhadap pengunduran diri AS dari WHO.

Ann Linde mengatakan, “pengunduran diri AS tidak mengubah hubungan kami dengan AS, tapi pendirian Swedia adalah, dunia ini memerlukan lebih banyak kerja sama dan bukannya kekurangan kerja sama untuk menangani penyakit yang mengancam kesehatan manusia. AS adalah partisipan penting kesehatan global, kami berpendapat, jika kita dapat berupaya bersama untuk mengatasi wabah dan pandemi yang akan datang, pasti akan mendorong kemajuan pekerjaan. Swedia dan UE akan terus berpendirian serupa.”

Menteri Kesehatan Jerman Jens Spahn hari Rabu lalu (8/7) menyatakan, peranan dominan WHO tak dapat diragukan, AS bersikeras untuk mundur dari WHO menjadi halangan dalam proses kerja sama internasional.

Anggota Parlemen dari Partai Konservatif Inggris merangkap Ketua Komite Urusan Luar Negeri Tom Tugendhat dalam akun media sosialnya hari Rabu lalu (8/7) menyatakan, WHO adalah lembaga otoritas kesehatan publik bagi negara-negara paling miskin di dunia, pengunduran diri AS dari WHO adalah keputusan yang salah.

Menteri Kesehatan Italia Roberto Speranza juga memberi komentar dalam akun media sosialnya, “pilihan pemerintah AS adalah serius dan salah”.

Direktur Institut Hubungan Internasional dan Strategis Prancis Pascal Boniface berpendapat, AS kerap kali mengundurkan diri dari organisasi internasional dan perjanjian internasional, berpegang pada ultilateralisme merupakan perusakan terhadap sistem internasional dewasa ini.

Juru bicara Sekretaris Jenderal PBB Stephane Dujarric hari Selasa lalu (7/7) membenarkan, pemerintah AS sudah secara resmi menginformasikan pada Sekjen PBB Antonio Guterres bahwa AS akan resmi mundur dari WHO mulai Juli tahun depan.

Profesor Noha Bakr dari Universitas Amerika di Kairo, Mesir menyatakan, tindakan AS yang mengabaikan ketertiban dunia dan sistem internasional akan melemahkan upaya masyarakat internasional terhadap usaha kesehatan publik global. Tindakan AS tersebut sebenarnya untuk menutupi kegagalannya dalam penanggulangan wabah di dalam negeri.

Ahli masalah internasional Kenya, Cavince Adhere menunjukkan, pengumuman pemerintah AS untuk menarik diri dari WHO tersebut merusak multilateralisme dan kerja sama global, tindakan AS yang mengabaikan kesejahteraan manusia dan mengubah badan multilateral menjadi panggung adu domba politik adalah aksi unilateral yang sempit dan tidak menguntungkan.

Profesor Humphrey Moshi dari Universitas Dar es Salaam Tanzania berpendapat, pada saat krusial penanggulangan pandemi Covid-19, pengumuman pemerintah AS untuk mengundurkan diri dari WHO tidak hanya merugikan penanggulangan wabah, tapi juga dengan serius menghancurkan kerja sama internasional dalam melawan wabah, dan akan meningkatkan ketidakpercayaan masyarakat internasional terhadap AS.

Pengarang rubrik terkemuka harian Philippine Star, Wilson Lee Flores menganggap, pemunduran diri pemerintah AS dari WHO tidak hanya adalah kesalahan strategis, tapi juga merupakan tindakan immoral, serangkaian tindakannya yang menarik diri dari organisasi internasional akan menjadikannya sebagai “tipikal yang tidak bertanggung jawab” dalam sistem internasional.

Anri Sharapov, Lektor Kepala Studi Oriental Institut Negeri Tashkent Uzbekistan menganggap tindakan AS ini adalah tindakan prioritas yang bertujuan untuk menjamin kepentingan tokoh politiknya sendiri, dan dengan serius merugikan kerja sama internasional, khususnya merugikan kepentingan negara-negara berkembang.

Kirim email ke