https://indopos.co.id/read/2020/07/13/241831/presiden-bubarkan-mahkamah-konstitusi/



Presiden Bubarkan Mahkamah Konstitusi
Editor Ali Rahman
<https://indopos.co.id/read/author/5bc739ddae2ad1539783133-ali-jpg/> Senin,
13 Juli 2020 - 09:

Indopos.co.id ­ Di tengah belum meredanya konflik bersenjata, kondisi
keamanan Mali, negara di Afrika Barat semakin bertambah seiring munculnya
konflik politik pasca sengketa pemilu legislatif pada Maret 2020. Bahkan,
pada Sabtu (11/7) lalu, Presiden Mali Ibrahim Boubacar Keita secara menge
jutkan mengeluarkan pengumuman pembubaran Mahkamah konstitusi (MK) dalam
upaya meredam ketegangan politik dan kerusuhan yang saat ini mengguncang
ibu kota.

”Saya memutuskan untuk mencabut surat izin anggota yang tersisa di MK,”
katanya dalam pidato televisi. Pascapembubaran, otoritas setempat mulai
pekan depan akan mencalonkan anggota­anggota baru MK. ”Jadi MK yang
direformasi tersebut dapat segera membantu kita menemukan solusi atas
konflik yang berasal dari pemilihan legislatif,” kata Ibrahim
Baca Juga :

Hentikan Diskriminasi dan Stigmatisasi PRT
<https://indopos.co.id/read/2020/07/14/242003/hentikan-diskriminasi-dan-stigmatisasi-prt/>

MK dirundung perselisihan sejak membatalkan hasil sementara pemilihan
parlemen pada Maret 2020 hingga memicu aksi protes di sejumlah kota. Pada
Jumat (10/7), aksi protes yang digelar di ibu kota, kemudian berubah
menjadi aksi brutal, menyebabkan sedikitnya tiga orang tewas dan 74 lainnya
terluka.

Di tempat terpisah, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (Sekjen
PBB) menyerukan ketenangan dan  dialog di Mali, setelah puluhan ribu
pemrotes turun ke jalan-jalan di Ibu Kota Bamako, Jumat (10/7), menuntut
Presiden Ibrahim Boubacar Keita untuk mundur. Keita kembali terpilih pada
2018 untuk periode kedua yang berlangsung selama lima tahun, namun ia telah
berhadapan dengan krisis keamanan selama bertahun-tahun, wabah Virus
COVID-19, pemogokan oleh guru, dan ketegangan politik yang timbul dari
pemilihan lokal yang disengketakan pada Maret 2020.
Baca Juga :

Tiga Langkah Jitu Bagi Daerah untuk Beralih ke Zona Hijau
<https://indopos.co.id/read/2020/07/14/242000/tiga-langkah-jitu-bagi-daerah-untuk-beralih-ke-zona-hijau/>

Aksi protes penuh kemarahan yang terjadi pada Jumat (10/7) merupakan yang
kedua kalinya pada bulan ini, dan para pemimpin oposisi menyerukan
pembangkangan sipil apabila tuntutantuntutan yang diajukan tidak terpenuhi.

”Sekjen menyerukan kepada semua pemimpin politik untuk mengirim pesan yang
jelas kepada para pendukung mereka untuk menahan diri sepenuhnya dan untuk
menahan diri dari tindakan apa pun yang dapat memicu ketegangan,” kata
Farhan Haq, wakil juru bicara untuk Sekjen PBB Antonio Guterres.
Baca Juga :

Batasan Biaya Tertinggi Rapid Test Berlaku untuk Pasien Mandiri
<https://indopos.co.id/read/2020/07/14/241998/batasan-biaya-tertinggi-rapid-test-berlaku-untuk-pasien-mandiri/>

Mali yang merupakan negara produsen emas dan kapas, telah berjuang untuk
mencapai stabilitas sejak 2012, ketika kelompok pejuang jihad membajak
sebuah pemberontakan oleh separatis Tuareg dan merebut seluruh wilayah
gurun di bagian utara negara itu.

Pasukan Prancis membantu untuk merebut kembali wilayah utara namun
kekerasan tetap ada, meski dengan kehadiran ribuan pasukan PBB, dengan
kelompok-kelompok yang terkait dengan Alqaeda dan kelompok radikal ISIS
memicu ketegangan antarmasyarakat.

Indonesia-Australia Sementara itu, Pemerintah Indonesia dan Australia
tengah mematangkan rencana untuk pengerahan bersama (codeployment) pasukan
pemelihara perdamaian untuk misi PBB (Perserikatan Bangsa Bangsa) di Mali
(MINUSMA).

”Kami sudah sepakat untuk melakukan co-deployment ke Mali, di sana (Pasukan
Indonesia dan Australia, Red) akan menempatkan satu rapid deployment
battalion,” kata Komandan Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian (PMPP) TNI
Mayjend Victor H. Simatupang dalam sebuah diskusi daring, Kamis (9/7).

Dia mengatakan, pembicaraan lanjutan akan segera dilakukan kedua pihak
mengenai fasilitas yang harus disiapkan masing-masing negara guna mendukung
pelaksanaan misi tersebut. Selain dengan Australia, Indonesia juga
menjajaki kerja sama serupa dengan Pemerintah Etopia.

”Tahun lalu saya berkunjung ke sana (Etopia, Red) dan secara bersama kita
akan menyepakati kerja sama latihan untuk pengembangan kemampuan personel
Indonesia maupun Etopia,” tutur dia.

Secara spesifik Victor menyebut bahwa Indonesia akan membantu penyediaan
alutsista seperti Panser Anoa dan kendaraan taktis Komodo untuk mendukung
besarnya jumlah pasukan yang dimiliki Etopia. Kerja sama co-deployment dan
latihan dengan pasukan asing merupakan salah satu inovasi yang dilakukan
Indonesia untuk meningkatkan kapasitas personel pemelihara perdamaian PBB.

Menurut Direktur Kerja Sama Internasional dan Perlucutan Senjata
Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Grata Endah Werdaningtyas, upaya tersebut
sejalan dengan kebutuhan PBB untuk tidak hanya mengirim pasukan sesuai
anggaran dan sumberdaya yang ada, tetapi juga untuk memaksimalkan peran
mereka di lapangan.

Untuk itu, alih-alih mengirim pasukan dalam jumlah besar, Indonesia akan
berfokus untuk mengirim unit-unit personel yang memiliki kapabilitas tinggi
seiring dengan semakin banyaknya mandat yang diemban pemelihara perdamaian.

”Selain meningkatkan pelatihan, kita juga membuat inovasi co-deployment
yang jika berhasil akan menjadi bentuk baru pengiriman pasukan pemelihara
perdamaian,” ujar Grata.

Sebelumnya, Indonesia berhasil mencapai visi 4.000 personel pemelihara
perdamaian sebagai program prioritas nasional 2014-2019 dengan capaian
terbesar sekitar 3.400 personel. Target tersebut ditetapkan untuk
menempatkan pasukan dan polisi Indonesia dalam 10 besar negara penyumbang
pasukan pemelihara perdamaian terbanyak di PBB. Saat ini, dengan total
personel 2.842 orang per 31 Mei 2020, Indonesia menduduki posisi ke-8 dari
122 negara pengirim pasukan perdamaian.

Sebelumnya, Pemerintah Swedia pada pertengahan Maret 2020 telah memutuskan
untuk mengirim pasukan ke Mali untuk bergabung dengan pasukan khusus
pimpinan Prancis yang memerangi kelompok militan jaringan Alqaeda dan ISIS
di wilayah Sahel di Afrika Utara.

Koalisi Demokrat Sosial dan Hijau mengatakan, Swedia akan menyumbangkan
pasukan reaksi cepat berkekuatan 150 prajurit beserta sejumlah helikopter
sebagai bagian dari upaya internasional untuk meningkatkan keamanan di
kawasan itu.

”Dengan itu, kegiatan pembangunan di Mali yang dibutuhkan untuk memajukan
pembangunan yang berkelanjutan dan damai di negara tersebut akan lebih
mudah dilakukan,” kata Menteri Luar Negeri Swedia Ann Linde dalam
pernyataan.

”Keputusan itu juga akan berarti bahwa kita dapat berkontribusi pada upaya
internasional untuk melawan terorisme dan pada akhirnya juga membuat Swedia
lebih aman,” ujarnya.

Meski demikian, keputusan Pemerintah Swedia itu harus mendapat persetujuan
dari parlemen. Swedia telah menempatkan sejumlah kecil pasukan di Mali
sejak 2013 sebagai bagian dari Misi Stabilisasi Terpadu Multidimensi PBB.
Prancis, bekas kekuatan colonial memiliki 5.100 tentara di Mali dan Sahel
raya, tetapi situasi keamanan memburuk sejak Prancis mulai melakukan
intervensi pada 2013 untuk menghentikan pergerakan kelompok militan ke ibu
kota Mali, Bamako. (xin/rtr/ant)

Kirim email ke