Refleksi : Oligarki dalam bentuk apapun (oligarki ekonomi, kekuasaan,sosial
dll) adalah suatau fenomena sosial yang harus  dilawan secara fundamental
atau mendasar. Ini adalah merupakan pekerjaan besar yang harus kita lakukan
sebagai supplemen terhadap pekerjaan besar yang telah kita lakukan yaitu
revolusi kemertdekaan. 

Budaya politik kita harus mampu melakukan pekerjaan besar ini jika kita
memang committed terhadap emamsipasi sosial rakyat Indonesia dalam
keseluruhan aspek kehidupanya, maka reformasi sosial yang fudamental atau
mendasar  perlu dilakukan. Adapaun tatanan sosial-ekonomi yang secara
mendasar harus dirombak adalah struktur sosial yang pincang, yang
merefleksikan dirinya dalam dialektik hubungan ekonomi yang eksploitatif,
yang menghasilkan berakumulasinya apa yang disebut ``rente ekonomi` ditangan
sekelompok anggota masyarakat. Ini harius dilakukan karena oligarki dalam
bentuk apapun tidak dapat dikoreksi, hanya dengnan membuat, dan
memberlakukan Undang-Undang Anti Oligarki atau UU Anti monopoli dan
oligopoli,yang meliberalkan ketentuan-ketentuan perdanganan dan investasi,
seperti apa yang terjadi sekaeng ini.

 

Tema tulisan ini sudah berulang kali saya kemukakan, namun demikian,
nampaknya reformasi sosial yang fundamental atau mendasar di Indonesia masih
jauh panggang dari api, jadi tidak mengherankan jika penomena oligarki
(ekonomi, kekuasaan dan sosial) di Indonesia terus berlalu, dan bahkan
berkembang dan memicu lahirnya fenomena dinasti politik  meskipun apa yang
disebut reformasi telah berumur 22 tahun. Sungguh menyedihkan kondesai
seperti ini.

 

Roeslan,

 

Von: [email protected] [mailto:[email protected]] 
Gesendet: Sonntag, 19. Juli 2020 12:39
An: [email protected]; [email protected]; Chalik Hamid
[email protected] [nasional-list]
Betreff: [nasional-list] Jokowi: Pedagang Jabatan, Pemanjang Oligarki dan
Pumpung Jadi Anak Presiden

 

  

1.:

https://politik.rmol.id/read/2020/07/18/444117/purnomo-ditawari-jabatan-kare
na-mengalah-untuk-gibran-pengamat-jokowi-tidak-lebih-sebatas-pedagang-jabata
n

Purnomo Ditawari Jabatan Karena Mengalah Untuk Gibran, 
Pengamat: JOKOWI TIDAK LEBIH SEBATAS PEDAGANG JABATAN 

Laporan: Faisal Aristama Sabtu, 18 Juli 2020, 08:59 WIB

Apabila pengakuan politisi PDIP, Achmad Purnomo benar bahwa dirinya
mendapat tawaran jabatan oleh Presiden Joko Widodo karena telah "rela"
mundur dari pencalonan, maka patut disayangkan.

Seperti diketahui, PDIP sudah mengumumkan nama putra sulung Jokowi,
Gibran Rakabuming Raka sebagai calon Walikota Solo 2020. Sebelumnya,
PDIP Solo sudah merekomendasikan nama Achmad Purnomo. 

Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO), Dedi Kurnia Syah
menyayangkan karena Jokowi sapaan akrab Kepala Negara telah melakukan
praktik politik nepotisme. 

"Ini preseden sangat buruk, ada kebangkrutan moral politik dalam diri
Jokowi, secara serius memungkinkan dua hal, Presiden lakukan abuse of
power dan berupaya nepotisme," kata Dedi Kurnia Syah kepada Kantor
Berita Politik RMOL, Sabtu (18/7). 

Demikian sebaliknya, lanjut Dedi Kurnia Syah, jika pernyataan Achmad
Purnomo adalah tidak benar, maka yang bersangkutan telah diduga
melakukan pencemaran nama Jokowi. 

Dedi Kurnia Syah menambahkan, sebenarnya sikap Jokowi sekedar merestui
putranya termasuk nanti menantunya di ajang pilkada saja sudah cukup
membuktikan kegagalannya menjadi teladan masyarakat. Ini disebut
melanggengkan dinasti politik. 

Achmad Purnomo mengaku mendapat tawaran jabatan dari Presiden Jokowi
sebagai timbal balik karena putranya, Gibran Rakabuming Raka, mendapat
rekomendasi PDIP di Pilwalkot Solo 2020.

Namun Purnomo mengaku menolak tawaran tersebut. "Ya ada (tawaran timbal
balik), tapi bagi saya ndak perlu," ungkap Purnomo, Jumat (17/7). 

Tawaran tersebut disampaikan saat Purnomo dipanggil Jokowi ke Istana,
Kamis (16/7). Namun Purnomo enggan menjawab penawaran apa dari Jokowi.
Dia hanya memastikan tawaran tersebut berupa jabatan, tapi bukan posisi
menteri. 

EDITOR: RUSLAN TAMBAK

2.:
https://politik.rmol.id/read/2020/07/19/444238/pdip-resmi-usung-gibran-tanda
-oligarki-panjang-umur

PDIP Resmi Usung Gibran Tanda Oligarki Panjang Umur 
Laporan: Jamaludin Akmal Minggu, 19 Juli 2020, 12:23 WIB

Seorang calon pemimpin daerah yang diusung partai seharusnya memiliki 
kemampuan bertanggung jawab atas nasib seluruh masyarakat setempat dan
bukan hanya mengutamakan kepopuleran.

Begitu kata Direktur Ekskutif Oversight of Indonesia's Democratic
Policy, Satyo Purwanto menanggapi diusungnya putra sulung Presiden Joko
Widodo, Gibran Rakabuming Raka oleh PDIP di Pilkada Solo.

Menurut Satyo, dengan diusungnya Gibran, maka dinasti politik nyata ada
di era Jokowi.

"Panjang umur oligarki dengan diusungnya anak presiden oleh PDIP.
Dinasti politik berkelanjutan ketika parpol mendistorsi rekrutmen para
calon pemimpin politik semisal kepala daerah," ucap Satyo Purwanto
kepada Kantor Berita Politik RMOL, Minggu (19/7).

Mantan Sekjen Jaringan Aktivis Pro Demokrasi (ProDEM) ini menilai bahwa
memimpin sebuah wilayah dan mengurus hajar hidup orang banyak tidak
butuh sosok yang hanya mengandalkan kepopuleran.

"Semestinya harus disadari ada nasib jutaan manusia yangdi
pertaruhkan. Oleh sebab itu, hal ini bukan perkara mudah, parpol
mestinya melakukan kalkulasi matang terkait mengusung seseorang dan
perlu dinilai betul soal kapasitas, kapabilitas, kompetensi dan
integritasnya, bukan sekadar populer atau pun karena seorang anak
penguasa," jelas Satyo.

Karena, sambung Satyo, sebuah politik dinasti akan mendistorsi
demokrasi jika proses pembentukannya menggunakan pengaruh otoritas
penguasa.

"Sebab kekuasan memiliki semua sumber daya untuk bisa memenangkan
seseorang seperti Gibran anak Jokowi mulai dari kekuasaan, jaringan,
birokrasi, hukum, kapital dan lain-lain," pungkas Satyo.

EDITOR: WIDIAN VEBRIYANTO

3.:

https://politik.rmol.id/read/2020/07/19/444250/kapasitas-dan-kompetensi-gibr
an-tertutupi-dengan-istilah-mumpung-anak-presiden.

Kapasitas Dan Kompetensi Gibran Tertutupi Dengan Istilah Mumpung Anak
Presiden

Laporan: Jamaludin Akmal Minggu, 19Juli 2020, 14:24 WIB

Kapasitas dan kompetensi yang dimiliki Gibran Rakabuming Raka akan
tertutupi dengan isu dinasti politik. 

Hal itu dikarenakan Gibran merupakan putra dari Presiden Joko Widodo
yang diusung menjadi penerus Jokowi yang pernah memimpin Kota Solo usai
mendapat rekomendasi dari PDI Perjuangan.

Dosen Komunikasi Politik Universitas Bhayangkara Jaya, Diah Ayu
Permatasari mengatakan, dinasti politik bukan hanya terjadi di
Indonesia, melainkan beberapa negara lain juga terjadi, seperti
Filipina, Eropa Barat, bahkan Amerika Serikat.

Hubungan kekerabatan pun dipandang akan mampu mendongkrak popularitas
dari calon pemimpin. 

"Meski pada kenyataannya belum ditemukan bukti bahwa kesuksesan
pemimpin bukan dari hubungan dekat, tetapi pada kemampuan mereka
menjalankan pemerintahan secara efektif dan efisien," ucap Diah Ayu
Permatasari kepada Kantor Berita Politik RMOL, Minggu (19/7).

Dinasti politik menurut Diah, tidak ada yang salah. Namun,
hanya menjadi perhatian masyarakat ketika hal tersebut dilakukan
terutama ketika kerabat yang ada merupakan pemimpin bangsa.

Seperti halnya Gibran yang merupakan anak seorang Presiden Jokowi.
"Justru sebenarnya hal ini menjadikan blunder seandainya memang secara
kapasitas dan kapabilitas Mas Gibran sebenarnya kapabel dalan
posisinya menjadi calon walikota Solo, kapasitas dan kompetensi dia
jadi tertutupi dengan istilah 'mumpung'," jelasnya.

Sehingga, lanjutnya, kegiatan aktivitas politik baik dari inovasi
maupun ide Gibran dalam upaya memajukan Solo akan kalah tenar dengan
drama perebutan pengajuan calon dari PDIP. 

"Kegiatan aktivitas politik yang merupakan inovasi dan ide dari Mas
Gibran sendiri akan kalah tenarnya dengan drama perebutan
pengajuan calon dari PDIP," katanya.

"Negosiasi dan loby politik sangat lumrah terjadi dalam relevansinya
mendapatkan posisi di parpol, segala bentuk tawar menawar berujung pada
kesepakatan yang diharapkan menyenangkan semua pihak termasuk Pak
Purnomo," pungkasnya. 

EDITOR: AHMAD KIFLAN WAKIK



Kirim email ke