-- 
j.gedearka <[email protected]>



https://news.detik.com/kolom/d-5101921/pemulihan-ekonomi-dari-desa?tag_from=wp_cb_kolom_list



Kolom

Pemulihan Ekonomi dari Desa

Udin Suchaini - detikNews

Selasa, 21 Jul 2020 13:10 WIB
0 komentar
SHARE URL telah disalin
Poster
Ilustrasi: Edi Wahyono
Jakarta -
Sudah 22 tahun sejak 1998, Indonesia berhasil naik satu kelas dari negara 
berpendapatan menengah (middle income countries) menjadi negara berpendapatan 
menengah-atas (upper middle income countries). Untuk mencapai kelas ini, Bank 
Dunia menggunakan pendapatan nasional kotor (gross national income) pada 
rentang kelompok pendapatan 4.046-12.535 dolar AS pada 2019.

Sayangnya, status menjadi negara berpendapatan menengah-atas dicapai menjelang 
pandemi Covid-19, yang mempercepat peningkatan kemiskinan dan ketimpangan. 
Meskipun pandemi ini telah berdampak besar pada peningkatan kemiskinan dan 
ketimpangan di perkotaan, namun perdesaan dengan gagahnya telah mampu 
menunjukkan ketangguhan.

Kemiskinan dan Ketimpangan

Persentase penduduk miskin perdesaan turun dari periode yang sama tahun 
sebelumnya. Badan Pusat Statistik (BPS) merilis (15/7) kemiskinan pada Maret 
2020, persentase kemiskinan di perdesaan turun tipis sebesar 0,03 poin dari 
Maret 2019 ke Maret 2020, sementara persentase di perkotaan meningkat 0,69 poin 
dari Maret 2019 ke Maret 2020. Meskipun persentase penduduk miskin perdesaan 
turun, namun terjadi peningkatan dari sisi jumlah.

Peningkatan jumlah penduduk miskin di perdesaan terjadi karena sudah mulai 
banyak perantau yang kembali ke desa. Peningkatan jumlah penduduk miskin di 
perdesaan naik 110 ribu orang dari Maret 2019 ke Maret 2020, sementara 
perkotaan naik 10 kali lipat kenaikan di perdesaan, yaitu mencapai 1,17 juta 
orang. Drastisnya peningkatan jumlah penduduk miskin perkotaan seirama dengan 
menurunnya pengguna jasa akomodasi dan angkutan sejak Februari. Sehingga, 
perkotaan terdampak langsung oleh pandemi Covid-19, sementara perdesaan menjadi 
transmisi berikutnya.

Ketimpangan kesejahteraan di wilayah perdesaan tergolong rendah dan cenderung 
belum berubah, meski pandemi Covid-19 sudah mulai tersiar hingga daerah. 
Ketimpangan yang dilihat dari gini ratio di daerah perdesaan pada Maret 2020 
tercatat sebesar 0,317 sama dengan Maret 2019. Sementara, berdasarkan ukuran 
ketimpangan Bank Dunia, distribusi pengeluaran pada kelompok 40 persen terbawah 
sebesar 17,73 persen.

Hal ini berarti pengeluaran penduduk pada Maret 2020 berada pada kategori 
tingkat ketimpangan rendah. Jika dirinci di daerah perdesaan, angkanya tercatat 
sebesar 20,62 persen, yang berarti tergolong dalam kategori ketimpangan rendah.

Pandemi Covid-19 mulai memberikan dampak pada mobilitas penduduk pada akhir 
2019. Sehingga, meskipun persentase penduduk perdesaan turun dari Maret 2019 ke 
Maret 2020, namun jika dilihat dari September 2019 sebesar 12,60 persen terjadi 
peningkatan menjadi 12,82 persen pada Maret 2020, sebesar 0,22 poin atau 
meningkat 333,9 ribu orang.

Sejak akhir 2019 hingga Maret 2020, terjadi gejolak akibat pandemi Covid-19 
yang menyebabkan entakan pada perekonomian, sehingga mengubah kondisi 
kesejahteraan masyarakat. Di awal masa pandemi, sektor pariwisata, akomodasi, 
dan jasa angkutan orang telah terdampak sejak Februari 2020.

Turunnya sektor ini salah satunya karena berkurangnya jumlah kunjungan wisman. 
BPS mencatat pada Maret 2020 mengalami penurunan sebesar 64,11 persen 
dibandingkan Maret 2019. Multipliernya menjadi penyebab turunnya pendapatan 
masyarakat pada sektor ini. Dampaknya terjadi peningkatan jumlah pengangguran 
yang berujung pada peningkatan angka kemiskinan.

Supaya kemiskinan tidak mengalami peningkatan, pemerintah pada 2020 telah 
meningkatkan stimulus fiskal pada Dana Desa, sebesar Rp 2 triliun dari Rp 70 
triliun pada 2019 menjadi Rp 72 triliun pada 2020. Peningkatan ini difokuskan 
pada pemberdayaan masyarakat dan pengembangan potensi ekonomi desa supaya daya 
beli masyarakat tetap terjaga. Jika berhasil, permintaan terhadap barang dan 
jasa di desa akan cukup stabil dan tidak banyak berubah.

Sayangnya, pertumbuhan ekonomi pada Kuartal I - 2020 tetap melambat, terutama 
pada pengeluaran untuk konsumsi rumah tangga pada Produk Domestik Bruto (PDB). 
Pengeluaran konsumsi rumah tangga Kuartal I - 2020 sebesar 2,84%, jauh lebih 
rendah dari periode yang sama pada 2019 sebesar 5,02%.

Pemulihan Ekonomi

Jangka waktu pemulihan ekonomi sangat penuh ketidakpastian, karena aktivitas 
ekonomi di Indonesia masih rentan terhadap transmisi lokal penyebaran Covid-19. 
Desa dan perdesaan yang digenjot perekonomiannya melalui Dana Desa diharapkan 
mampu mempercepat laju pemulihan tersebut. Namun jika transmisi lokal pandemi 
ini gagal ditanggulangi, maka pertumbuhan ekonomi akan memerlukan waktu semakin 
lama untuk pulih kembali.

Proyeksi yang dilakukan oleh Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan 
Ekonomi (OECD) pada Juni 2020, pertumbuhan ekonomi Indonesia akan minus 2,8 
persen. Namun pada skenario terburuk bisa mencapai minus 3,9 persen jika 
peningkatan penderita Covid-19 masih terjadi. Sehingga pemerintah perlu 
berhati-hati melonggarkan pembatasan sosial, karena ekonomi Indonesia masih 
sangat rentan. Jika gagal, konsekuensinya akan semakin berat proses pemulihan 
ekonomi, selain itu waktu pemulihan ekonomi juga akan jauh lebih lama.

Bantalan untuk menjaga daya beli di tingkat desa hanya berdampak sementara, 
namun belum cukup ampuh untuk menjaga pertumbuhan ekonomi nasional seluruhnya. 
Meski demikian kebijakan pemulihan ekonomi nasional dengan pemberian stimulus 
fiskal ini, jika dipertahankan dapat menahan kontraksi pertumbuhan ekonomi, 
terlebih jika aktivitas ekonomi sudah mulai bergerak kembali. Langkahnya 
mempercepat penyerapan Dana Desa melalui Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang 
telah dilaksanakan di desa sekaligus membuka peluang ekonomi dengan penguatan 
badan usaha milik desa (BUMDes) untuk mempertahankan perekonomian jangka 
panjang.

Sementara itu, pemulihan ekonomi dari desa tergantung dari ketat atau tidaknya 
protokol kesehatan yang diberlakukan, karena transmisi lokal pandemi Covid-19 
tidak hanya berdampak pada kesehatan warga, sekaligus menurunkan permintaan 
yang berdampak pada kontraksi ekonomi. Sisi produksi akan lumpuh dengan 
singkat, tenaga kerja akan dirumahkan dengan cepat, dampaknya mendorong 
peningkatan kemiskinan dan pengangguran lebih tinggi lagi.

Pada titik ini, desa telah membuktikan ketangguhannya menjaga kemiskinan dan 
ketimpangan tanpa peningkatan yang berarti. Namun sayangnya, keseimbangan 
desa-kota semakin pincang. Pertumbuhan ekonomi mulai ditopang oleh satu kaki di 
perdesaan, terutama pada saat pembatasan sosial berskala besar (PSBB) 
dilaksanakan.

Di Perdesaan, perekonomiannya terus digenjot melalui padat karya tunai dengan 
Dana Desa untuk menjaga daya beli masyarakat, sekaligus memproduksi hasil 
pertanian untuk kebutuhan pangan. Sehingga, jangan sampai tersilap dengan 
predikat negara berpendapatan menengah-atas (upper middle income countries), 
karena tanpa guyuran stimulus fiskal yang bersifat langsung, maka akan semakin 
banyak masyarakat yang jatuh ke dalam kemiskinan dan ketimpangan.

Udin Suchaini Fungsional Statistisi di Direktorat Statistik Ketahanan Sosial BPS

(mmu/mmu)






Kirim email ke