Apa benar 5% untuk NKRI? Jangan-jang dengan istilah untuk NKRI itu termasuk
tikus-tikus rezim neo-Mojopahit, larena seingat saya mengenai Freeport
zaman Soeharto dilang Indonesia mendapat 9% ternyata untuk negara hanya 3%
dan 6% untuk walahualam.

On Sun, Aug 2, 2020 at 6:37 PM 'Lusi D.' [email protected] [GELORA45] <
[email protected]> wrote:

>
>
> Wah Maaf. Kiriman terpaksa saya ulang karena sebagian ulasan penting
> dari Faisal Basri pada kiriman yang lalu tertinggal. Salam.-
>
> 1.:
>
> HILLIRISASI NIKEL, FAISAL BASRI: INDONESIA CUMA DAPAT 5%, YANG 95%
> LARI KE CHINA
>
>
> https://news.demokrasi.co.id/hilirisasi-nikel-faisal-basri-indonesia-cuma-dapat-5-yang-95-lari-ke-china/
>
> DEMOKRASI.CO.ID, JAKARTA – Ekonom senior Faisal Basri mengkritik
> kebijakan peningkatan nilai tambah pertambangan di Indonesia.
> Menurutnya, kebijakan ini masih dilakukan setengah hati.
>
> Dia menyoroti konsep hilirisasi pertambangan yang belum terintegrasi
> dengan pengembangan industri di dalam negeri.
>
> Jika memakai strategi industrialisasi, kata Faisal Basri, barang
> tambang yang diolah akan digunakan untuk pengembangan industri di
> Indonesia. Namun dengan konsep seperti sekarang, barang tambang yang
> belum diolah menjadi produk jadi pun sudah terhitung sebagai hilirisasi.
>
> Akibatnya, dia menyebut bahwa hilirisasi tambang di Indonesia malah
> menopang industri di negara lain.
>
> “Jadi hilirisasi itu untuk menopang industrialisasi di China. Sadar,
> nggak, sih, kita?” kata Faisal Basri dalam webinar yang digelar oleh
> Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi), Rabu (29/7/2020).
> Baca : Soal 500 TKA China Kembali Kerja di Sultra, Luhut: Tenaga Lokal
> Mana Cukup
>
> Faisal Basri memberikan gambaran tentang maraknya minat perusahaan
> China untuk mendirikan smelter di Indonesia, khususnya smelter nikel.
> Menurutnya, kebijakan hilirisasi saat ini lebih dominan menguntungkan
> para pengusaha smelter tersebut.
>
> Dia mencontohkan, perusahaan tambang lokal harus membayar bea ekspor
> dan juga royalti, tapi smelter tidak dikenakan. Perusahaan smelter pun
> bisa semakin banyak menumpuk laba karena tidak terbebani oleh pajak
> badan karena mendapatkan tax holiday.
>
> Terlebih, smelter pun bisa mendapatkan bahan baku berupa bijih atau ore
> nikel dengan harga yang sangat murah. Dengan berbagai fasilitas
> tersebut, perusahaan asal China lebih banyak mengantongi keuntungan
> jika membangun smelter di Indonesia ketimbang di negaranya.
>
> “Kalau mereka bangun smelter di China, mereka beli nikel ore dengan
> harga jauh lebih mahal. Kalau Indonesia harganya murah sekali. Labanya
> jauh lebih besar memindahkan smelter ke Indonesia. Kalau di negeri
> asalnya dia bayar PPN, macam-macam, di sini nggak,” terang Faisal Basri.
>
> (mulai bg yg ketinggalan):
>
> Lebih lanjut, Faisal Basri pun menyindir perlakuan terhadap pengusaha
> smelter, yang bahkan tetap bisa melenggang, membawa pekerja asing masuk
> ke Indonesia walaupun di tengah kondisi pandemi covid-19.
>
> “Katanya alih teknologi, traininglah,” ujarnya.
>
> Faisal Basri juga menilai, pelarangan ekspor bukan lah cara yang paling
> baik dalam kebijakan hilirisasi. Baginya, lebih baik ada perhitungan
> yang lebih jelas dan komprehensif tentang tarif ekspor yang optimal,
> untuk bisa mendistribusikan keuntungan bagi negara dan nilai tambah
> yang bisa dirasakan masyarakat.
>
> “Dalam konsep ekonomi, berapa sih nilai tambah yang diterima oleh warga
> Indonesia? Baik pekerja, penambang maupun pemerintah? 5%, 95% lari ke
> China,” lanjut Faisal Basri.
>
> Dia pun lantas mengkritisi Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan
> Investasi Luhut Binsar Pandjaitan yang dinilainya memiliki porsi besar
> dalam menentukan kebijakan hilirisasi pertambangan di Indonesia, seolah
> melebihi Menteri ESDM Arifin Tasrif.
>
> “Pak Luhut ngomongnya hilirisasi, hilirisasi. Wajib, wajib, wajib..
> Nanti yang untung siapa? Indonesia nggak dapat apa-apa. Saya enggak
> tahu sekarang menteri pertambangannya (ESDM) Pak Luhut atau Pak Tasrif.
> Karena yang lebih sering saya dengar adalah Pak Luhut,” kata Faisal..
>
> Terkait dengan industrialisasi, dia pun berpandangan kebijakan
> hilirisasi tambang malah bertolak belakang dengan kondisi industri
> manufaktur di Indonesia yang terus terperosok. Menurutnya, Indonesia
> pun tidak menjadi bagian dari rantai supply global yang berbasis
> peningkatan nilai tambah.
>
> Faisal Basri pun menyoroti kepercayaan diri Luhut Binsar yang sangat
> yakin Indonesia bisa menjadi pabrik baterai terbesar di dunia,
> khususnya dalam industri mobil listrik.
>
> Pasalnya, industri baterai akan tumbuh di tempat yang sudah banyak
> menggunakan baterai atau mobil listrik. Faisal Basri tak yakin
> Indonesia benar-benar akan menjadi produsen baterai terbesar di
> Indonesia.
>
> “Mau bikin industri baterai terbesar di dunia, ya, hampir mustahil,”
> pungkas Faisal. [kontan]
>
> 2.:
>
> Soal 500 TKA China Kembali Kerja di Sultra, Luhut: Tenaga Lokal Mana
> Cukup
>
> DEMOKRASI.CO.ID, JAKARTA – Menteri Koordinasi Bidang Kemaritiman dan
> Investasi Luhut Binsar Panjaitan buka suara terkait dengan kehadiran
> tenaga kerja asing (TKA) China ke Indonesia tepatnya di di Konawe,
> Sultra. Ia menegaskan bahwa impor tenaga kerja asing dilakukan karena
> ketersediaan pekerja terampil yang kurang.
>
> “Kalian harus mendidik tenaga kerja lokal karena kita enggak punya
> cukup. Mana ada yang bisa cukup, di Konawe Utara mana yang cukup. Di
> Halmahera mana yang cukup? Kalau ada yang bilang cukup, datang ke
> saya,” ungkap Luhut dalam Webinar Investasi di Tengah Pandemi, Sabtu
> (25/7). Sebagaimana dikutip dari kumparan (26/07/2020).
>
> Sebagaimana diketahui, sebanyak 500 TKA dari China yang kembali bekerja
> di Konawe, Sultra. Menurut Luhut, seharusnya hal tersebut tidak
> dipermasalahkan oleh masyarakat. Karena kehadiran TKA itu justru akan
> membuka lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat Indonesia.
> Baca : Prabowo Sudah Nyerah, Said Didu Tak Tertarik Bahas Putusan MA
>
> Luhut menjelaskan bahwa para TKA tersebut akan mendidik dan mencetak
> tenaga kerja baru asal Indonesia. Yang dicetak yaitu tenaga ahli, bukan
> tenaga kasar yang tidak punya skill khusus.
>
> “Kemarin ada datang 500 TKA. Anda tahu 500 ini ciptakan lapangan 5.000
> ahli bukan lapangan kerja tukang pacul, tidak lapangan kerja operator,”
> tegas Luhut.
>
> 3.:
>
> Juli 8, 2020
> oleh Uki Defendi
>
> LSI Denny JA: Awas Krisis Sosial, Saat Ini Publik seperti Rumput Kering
> yang Mudah Terbakar
>
> DEMOKRASI.CO.ID – Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA
> mengeluarkan tujuh rekomendasi untuk pemerintahan Presiden Joko Widodo,
> salah satunya peringatan kemungkinan lahirnya krisis sosial, dan
> berujung pada krisis politik imbas wabah virus corona yang tak kunjung
> berakhir. Rekomendasi dikeluarkan berdasarkan hasil survei terbaru yang
> dirilis kemarin, bahwa persepsi publik terhadap ekonomi telah berada di
> zona merah.
>
> “Hati-hati lahirnya krisis sosial, dan berujung pada krisis
> politik. Dengan persepsi publik terhadap ekonomi yang berada di zona
> merah, maka saat ini publik seperti rumput kering yang mudah dibakar.
> Diawali dengan krisis kesehatan, ditambah krisis ekonomi, maka bisa
> berubah menjadi krisis sosial dan krisis politik,” demikian rekomendasi
> pertama LSI Denny JA. Rekomendasi lain adalah menyarankan pemerintah
> lebih hati-hati dan menahan diri untuk mengeluarkan kebijakan yang
> tidak populer. Terutama kebijakan yang makin membebani ekonomi rakyat.
>
> Selanjutnya, LSI Denny JA merekomendasikan agar para elite yang
> berhadapan secara politik menunda dulu provokasi yang dapat membelah
> publik dan membuat mereka makin membara.
>
> “Aneka bantuan sosial yang sudah diprogramkan secepatnya disalurkan dan
> harus tepat sasaran. Karena survei ini menunjukkan bahwa mayoritas
> masyarakat membutuhkan bantuan tersebut pada tingkat yang kritis.
> Terutama pada mereka yang berasal dari kelas ekonomi bawah,” demikian
> poin rekomendasi lain LSI Denny JA.
>
> LSI juga menyarankan pemerintah mengajak influencer di masyarakat
> bekerja secara massif untuk mencegah penyebaran virus corona.
>
> Saat new normal, LSI menyebut risiko penularan corona akan makin besar
> karena publik lebih aktif di ruang-ruang publik. Dalam kondisi demikian
> influencer elite harus dilibatkan untuk mengedukasi dan mengontrol
> protokol kesehatan.
>
> “Misalnya para pemuka agama menyerukan dipatuhinya protokol kesehatan
> pada rumah ibadah masing masing. Rumah ibadah menjadi salah satu tempat
> penularan virus corona yang tinggi,” ungkap LSI.
>
> Rekomendasi itu berdasarkan hasil survei terakhir yang dilakukannya
> secara tatap muka pada 8-15 Juni 2020 dengan menggunakan 8 ribu
> responden di 8 Provinsi di Indonesia. Hal ini meresponi juga
> kekhawatiran publik terhadap kondisi ekonomi di Indonesia selama masa
> pandemi.
>
> Sebelumnya, survei terbaru LSI Denny JA menemukan 74,8 persen
> responden menyatakan bahwa kondisi ekonomi mereka saat ini terpuruk
> jauh sebelum masa pandemi.
>
> Hanya 22,4 persen yang menyatakan bahwa kondisi perekonomiannya tidak
> berubah, dan 2,2 persen lainnya menyatakan kondisi ekonomi menjadi
> lebih baik selama krisis ini.
>
> Survei dilakukan secara tatap muka pada 8-15 Juni 2020, menggunakan
> 8.000 responden di 8 provinsi besar di Indonesia. Kedelepan provinsi
> tersebut yaitu Provinsi Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah,
> Banten, Sulawesi Selatan, Sumatera Utara, dan Provinsi Bali.
>
> Margin of error (Moe) dalam ini adalah dikisaran plus minus 2.05 %.
> Selain survei, LSI Denny JA juga menggunakan riset kualitatif (analisis
> media dan indepth interview), untuk memperkuat temuan dan analisa.
>
> “Sepanjang LSI Denny JA melakukan survei opini publik sejak 2003, tak
> pernah ada kecemasan publik setinggi ini,” demikian penutup survei LSI
> Denny JA.
>
> “Pemerintah sebaiknya menghindari untuk membuat kebijakan yang makin
> memperburuk kondisi ekonomi warga. Kondisi masyarakat saat ini, ibarat
> rumput kering yang mudah terbakar. Persepsi publik berpotensi mengubah
> krisis kesehatan menjadi krisis sosial dan politik”. (*)
>
> 
>

Kirim email ke