*Mana yang lebih hebat Singa Putih atau Radja  Singa? hehehehhe*

https://indopos.co.id/read/2020/08/04/245192/singa-putih/
*Singa Putih*

Editor *Maximus Thomas Woda Wangge*
<https://indopos.co.id/read/author/5a7a8c699b0591517980777-maximus-jpeg/>
*Selasa,
4 Agustus 2020 – 12:12*


*indopos.co.id <http://indopos.co.id>* – “Ini jimat,” ujar kiai itu saat
menyerahkan amplop kepada saya.

Sejak awal saya menduga amplop itu isinya uang. Maka saya pun memberi
isyarat tidak mau menerimanya.  Tapi begitu kiai mengatakan ‘ini jimat’
pikiran saya berubah. *Tiwas* saya punya prasangka yang salah. *Oh*…
Ternyata isinya bukan uang.

*Baca Juga :*

Lupa Lian Hua <https://indopos.co.id/read/2020/08/03/245044/lupa-lian-hua/>

Saat itu, kemarin malam, saya pamit lebih dulu meninggalkan acara. Saya
sudah mendengar pidato sang kiai. Saya juga sudah mengikuti sambutan Kiai
Asep Saifudin Chalim, yang profesor doktor itu. Saya juga sudah memenuhi
keinginan sang kiai untuk pidato motivasi pendek pada santri di situ.

Saat saya mau pamit sang kiai mengambil tas tangan di kursi. Ia membukanya
lalu mengambil amplop agak tebal. Saya mundur dan menolak. “Ini jimat,”
katanya.

*Baca Juga :*

Sulam Alis <https://indopos.co.id/read/2020/08/02/244981/sulam-alis/>

Jimat adalah benda yang mengandung kekuatan magis –bagi yang percaya. Saya
pun menebak-nebak.  Jimat apa yang ada di dalam amplop itu. Saya bawa saja.
Saya simpan di mobil. Saya tidak ingin membuka jimat itu.

Sebab, saya sudah punya banyak jimat. Bentuknya macam-macam. Mulai Alquran
seukuran kuku jempol sampai batu akik.  Tapi jimat yang baru saja diberikan
itu sepertinya bukan benda keras. Sepertinya lembaran-lembaran uang. Kalau
melihat tebalnya bisa jadi bernilai Rp5 juta –kalau lembarannya Rp
100.000-an.

*Baca Juga :*

Bully Motivasi
<https://indopos.co.id/read/2020/08/01/244875/bully-motivasi/>

Sangat pantas kalau kiai itu memberi jimat. Sosok lahiriah kiai ini seperti
Sunan Kalijogo abad 21. Rambutnya gondrong. Penutup kepalanya udeng hitam.
Sarungnya hijau diubel-ubel. Bajunya jaket lusuh terbuat dari jeans butut.
Kumisnya njaprang dengan ujung agak melengkung.

Mata kiai ini sayu seperti tidak pernah tidur. Suaranya berat tidak
meledak-ledak. Kalau saja hobi menyanyi pasti suara seperti itu akan
terdengar merdu. Sandalnya tua dan tanpa merek. Sewaktu naik podium, sandal
itu dilepas sebelum naik panggung.

Nama kiai ini KH Syaifullah Arif Billah.  Umur 52 tahun. Mobilnya banyak.
Jumlahnya sekitar 20 buah. Ada Jaguar, BMW, Alphard, dan apa saja. Rumahnya
tinggi, lima lantai. Lantai teratas untuk menyendiri, zikir, *tafakur*,
semedi.

Pondok pesantren ini berlokasi di daerah Tretes, Prigen. Lokasinya di kaki
timur Gunung Arjuno. Dari jalan raya orang harus masuk dulu gang kecil.
Jalannya naik turun dan berkelok-kelok. Jalan itu menuju kampung khas
pegunungan.

Nama pondok pesantren ini sudah lama saya dengar: Pondok Pesantren Singa
Putih. Dzikir yang diamalkan di situ adalah tarekat *Munfaridin*. Tiap
Jumat malam dilakukan *istighotsah* sampai larut malam. Dan tiap Jumat Pon
(setiap 35 hari sekali) *istighotsah-*nya semalam suntuk.

Kuat?

Kiai itu sendiri sangat kuat. Para santri di situ menyebut sang kiai tidak
pernah tidur. “Beliau haramkan tidur untuk beliau sendiri. Larangan itu
berlaku sepanjang tahun. Sepanjang hidup,” ujar M. Sholeh, wakil kiai di
situ.

Sholeh adalah pengacara terkenal di Surabaya. Kalau menggugat pemerintah
Sholeh hampir selalu menang. Ia pernah dihukum 2 tahun di akhir Orde Baru.
Ia dianggap melakukan makar pada pemerintahan Pak Harto. Sholeh adalah
tokoh PRD (Partai Rakyat Demokratik) yang pernah dianggap komunis. Padahal
Sholeh alumnus Pondok Tebuireng Jombang, milik Gus Dur itu. (Baca *DI’s Way*:
Anak Sholeh).

Sholeh pernah naik haji bersama sang kiai. Itu juga yang ia lihat. Sang
kiai tidak pernah tidur. “Ketika kita-kita tidur beliau tetap duduk,
*wiridan*,” ujar Sholeh. *Wiridan* adalah mengucapkan kata-kata memuji
Tuhan secara lirih.

Kiai Saifullah ini lahir di situ. Ya di Desa Sentong itu. Ayahnya seorang
petani –seperti umumnya warga Desa Sentong. Di desa itu pula ia masuk SD
sampai tamat. Lalu hilang.

Ia memang menghilang. Ia mengelana dari satu pondok ke pesantren lain. Dari
satu tempat keramat ke makam berikutnya. Ia jalan kaki ke makam-makam wali
songo. Tidak hanya di Jawa. Ia juga menjelajahi seluruh Sumatera, dari
Lampung, Padang,  sampai ke Aceh.

Sholeh mengenalnya untuk kali pertama saat jadi santri di Tebuireng. “Ia
sering *ngebleng*. Artinya, tidak keluar kamar tiga hari tiga malam. Hanya
duduk. Tidak makan tidak tidur,” ujar Sholeh.

Lalu ia menghilang lagi. Di pengembaraannya itulah ia menemukan perlambang
singa putih. Mulut singa putih itu lagi mangap (terbuka). Taringnya
menyeringai. Itulah yang kemudian menjadi nama pondok pesantren di Sentong
ini sekaligus lambangnya. Juga judul lagu hymnenya,  hymne yang diciptakan
sendiri oleh sang kiai.

Di pengembaraannya itu pula ia mendapat pertanda-pertanda. Ia harus
mendirikan pondok pesantren. Pondok pesantren itu harus seperti zaman wali.
Santrinya tidak usah membayar. Maka ia dirikan Pondok Singa Putih itu.
Santri harus mukim. Ia sediakan tempat. Ia sediakan makan. Mula-mula di
rumahnya, *ups,* rumah ayahnya.

Lalu ia beli rumah di dekat situ. Lalu beli lagi dan lagi. Tapi yang mau
jadi santri di situ tidak banyak. Jarang yang kuat menjalani tirakat dan
laku sufi seperti Kiai Syaifullah. Apalagi kalau harus ikut menjalani apa
yang dilakukan sang kiai.

Pelajaran di pondok itu sepenuhnya *salaf* –mengajarkan kitab-kitab lama
yang tulisannya Arab tanpa tanda baca.  Suatu saat sang kiai bertemu Kiai
Asep Saifudin Chalim. Kiai Asep sangat sukses membangun pondok pesantren di
Pacet –sisi utara kaki gunung Arjuno. Ya, sukses jumlah santri maupun
kualitasnya.

Tahun ini 400 lulusan Madrasah Aliyah Amanatul Ummah Pacet lulus masuk ke
ITB, Unair, ITS, UGM, Undip, UNS, dan sekelasnya. Belum lagi yang terpilih
kuliah di Al Azhar, Mesir dan di berbagai universitas di Tiongkok.

Kiai Asep memberikan pandangan ke Kiai Syaifullah yang nyentrik itu. Ia
menyarankan agar Singa Putih mau membuka madrasah modern. Kiai Asep sanggup
jadi penasihat di Singa Putih. Jadilah Singa Putih membuka pesantren
modern. Mula-mula pesantrennya hanya tingkat tsanawiyah (SMP). Sekarang
sudah sampai tingkat Aliyah.

Gedung sekolahnya pun dibuat modern. Megah. Wajah depannya pun seperti
bangunan Eropa lama. Pilar-pilarnya besar dan tinggi. Ada mahkota di bagian
atas pilar itu. Lalu ada dua patung singa putih yang lagi mangap di atas
gedung.

Kemarin malam bangunan itu diresmikan. Saya diminta hadir. Itulah gedung
yang dikerjakan hanya selama 40 hari. Seluruh santri ikut membangun.
Kerjanya siang malam dengan arsitek kiai sendiri.

Di samping mengharamkan tidur bagi dirinya sendiri, sang kiai juga
mengharamkan beristri lebih dari satu. Ia contohkan itu ke masyarakat. Kiai
sendiri sering mengantar istrinya ke pasar.

Saat peresmian itu sang kiai minta ibunya naik panggung. Di situ kiai
mencium kening  ibunya. Ia mencium lutut sang ibu. Ia mencium kaki sang
ibunda.

Ayah sang kiai sudah lama meninggal. Tapi sang ayah masih sempat
menyaksikan kiprah anaknya itu membangun pesantren. Sang ayah juga sering
ikut pengajian anaknya. “Ayah saya selalu saya pakai contoh sebagai ayah
yang mulia. Yakni ayah yang tidak canggung ikut mengaji ke anak,” ujar kiai
seperti ditirukan Sholeh.

Yang juga menarik,  *istighotsah* di pondok ini dilakukan dengan cara
melantunkan syair. Kesannya lebih berdendang syair daripada* istighotsah*.
Syair itu juga gubahan sang kiai sendiri.

Dalam syair itu dilantunkan dulu kalimat pujian pada Tuhan dalam bahasa
Arab. Lalu disambung lantunan syair dalam bahasa Jawa. Dilagukan dengan
irama yang berbeda-beda.

Pondok ini juga tidak mau menerima BOS (bantuan operasional sekolah). Atau
bantuan apa pun dari pemerintah. Juga tidak mau minta-minta sumbangan.
Justru tamu-tamu yang datang, pulangnya diberi uang,  disangoni jimat,
termasuk bupati sekalipun.  Setelah mendengar itu saya ragu. Jangan-jangan
jimat saya itu isinya juga uang.*(*)*

Kirim email ke