Keberanian Melotot <https://www.disway.id/r/1025/keberanian-melotot>
05 August 2020 https://www.disway.id/r/1025/keberanian-melotot
------------------------------------------------------------------------
Oleh : Dahlan Iskan
BUKAN main keberanian Tiongkok menentang opini dunia –dunia Barat.
Sampai pun berani menunda pemilu legislatif di Hong Kong. Padahal
penentangan terhadap pemberlakuan UU Keamanan Nasional di bekas koloni
Inggris itu belum reda.
Padahal soal Laut Tiongkok Selatan masih panas. Pula soal Xinjiang. Pun
soal pembalasan penutupan konsulat Amerika di kota Chengdu.
Apa yang membuat Tiongkok begitu tidak peduli dengan Barat?
Itu karena menyangkut kedaulatan. Titik. Kalau Hong Kong dibiarkan
seperti tahun lalu ujung-ujungnya satu: Hong Kong minta merdeka. Itulah
kesimpulan Tiongkok.
Perjuangan minta merdeka itu lewat banyak/front/. Terutama lewat pemilu
dan lewat gerakan masa di jalan-jalan. Dua-duanya seperti sudah di depan
mata. Pemilu tingkat distrik, tahun lalu, sudah dimenangkan oleh gerakan
pro-demokrasi (baca: promerdeka). Dengan kemenangan total.
Bulan depan kemenangan itu akan dilanjutkan lewat pemilu legislatif.
Dengan demikian parlemen Hong Kong akan dikuasai gerakan itu. Sudah
tidak cukup waktu bagi Beijing untuk membalikkan aspirasi. Pileg tinggal
30 hari. Kemenangan telak Pemilu distrik tahun lalu sudah memberikan
harapan sangat besar untuk gerakan ini.
Untung ada pandemi.
Dengan alasan keselamatan umum pemerintah memutuskan menunda pileg.
Selama satu tahun.
Memang begitu sulit mencari alasan hukum untuk penundaan itu. Hampir
mustahil. Mestinya.
Jelaslah alasan pandemi adalah dicari-cari.
Itu lantaran taruhan sebenarnya bukanlah keselamatan umum akibat
pandemi. Induk dari segala alasan –pun yang dicari-cari itu– adalah
satu: kedaulatan negara. Bukan main marahnya dunia Barat. Soal penundaan
Pileg ini langsung dibentrokkan dengan demokrasi. Barat pun mengusung
isu sentral: demokrasi lawan totaliter. Seruan mereka: dunia harus
menegakkan demokrasi di Hong Kong.
Keberanian Tiongkok mengabaikan opini Barat itu bertumpu pada
satu:/success story/. Tiongkok berhasil mengentas setidaknya 1 miliar
manusia dari kemiskinan absolut. Itu lebih banyak dari seluruh penduduk
Eropa dan Amerika dijadikan satu. Pun dalam waktu singkat. Kurang dari
50 tahun.
Sementara banyak negara demokrasi yang sudah merdeka lebih 60 tahun
belum bisa mengentaskan kemiskinan. Pun menghapus tanda-tandanya saja
belum. Tiongkok menjadi syah beralasan bahwa kekuasaan bukan semata
untuk kekuasaan. Kekuasaan adalah amanah untuk mensejahterakan rakyat
dan memperkuat negara. Negara yang kuat bisa dipakai untuk
mempertahankan kedaulatan.
Kini Tiongkok merasa kedaulatan itu terancam. Tiongkok perlu tegas di
Hong Kong. Ini sekaligus seperti pedang dengan banyak mata. Dan mata
terbesarnya dipelototkan ke Taiwan. Yang nada-nadanya juga kian tidak
sabar untuk merdeka.
Taiwan dan Hong Kong mengembangkan rasa senasib. Hong Kong
berkepentingan mendorong keberanian Taiwan untuk segera merdeka. Mumpung
Donald Trump menjadi Presiden Amerika. Taiwan juga berkepentingan
mendorong Hong Kong untuk duluan merdeka. Mumpung Trump menjadi presiden.
Waktu saya berhari-hari berada di Taiwan akhir tahun lalu
pertanda-pertanda seperti itu terlihat dengan nyata.
Malam itu saya berada di tengah-tengah massa kampanye terakhir capres
incumbent Tsai Ing-wen. Begitu banyak aktivis Hong Kong yang berada di
arena kampanye itu. Dengan terang-terangan. Dengan spanduk-spanduk
gerakan Hong Kong merdeka.
Mereka berbaur dengan massa paling keras di Taiwan. Yang sejak lama
menuntut agar Taiwan merdeka. Untuk selanjutnya merebut kembali Tiongkok
dari kekuasaan komunis. Kini Tiongkok sudah/in action/di Hong Kong.
Diabaikannya apa pun reaksi dunia. Pun reaksi di Hong Kong sendiri.
Tiongkok sudah punya pengalaman yang lebih pahit dari itu: Tian An Men.
Di tahun 1989. Hari itu digelar demo pro-demokrasi di Beijing. Yang
terbesar dalam sejarah gerakan pro-demokrasi. Kian hari demo itu kian
besar. Di hari ke-20, 4 Juni 1989, pendemo berhasil menguasai jalan raya
terlebar dan terpenting di Beijing: Jalan Chang An Jie. Lebarnya 18
lajur. Letaknya di antara Forbiden City dan lapangan Tian An Men.
Besarnya massa sampai memenuhi lapangan luas itu. Sampai ke musolium
mayat Mao Zedong di timur lapangan.
Ketika militer mengerahkan armada tank ke arena itu puluhan tank militer
terbakar. Pendemokah yang membakar? Atau gerakan intelijen? Agar ada
alasan untuk melindas demo itu?
Yang jelas senja itu udara sejuk sekali. Musim dingin sudah lewat. Musim
panas belum tiba. Itu masih akhir musim semi. Matahari kian tenggelam.
Malam kian gelap. Lalu terjadilah sejarah itu: pendemo pasang badan.
Mereka tiduran memblokade jalan raya. Dilindas. Tidak ada catatan berapa
ratus yang meninggal. Atau berapa ribu.
Dalam sekejap jalan raya itu sudah bersih kembali. Mayat-mayat hilang.
Darah tidak berbekas.
Dunia marah.
Marah sekali.
Tiongkok tidak peduli.
Negara itu terus membangun dan memperbaiki diri.
Kemarahan Barat itu ternyata tidak lama. Mereka kembali
berbondong-bondong ke Tiongkok. Untuk investasi. Alasan mereka: keamanan
dan kestabilan politik di Tiongkok terjamin. Di samping pasarnya sangat
besar.
Dibanding drama Tian An Men itu apalah artinya kejadian di Hong kKong.
Barat memang marah. Tapi tidak semarah soal Tian An Men.
Tidak bisa dibayangkan. Bagaimana seandainya Tiongkok masih negara
miskin. Betapa lebih beraninya Barat.
Padahal Tiongkok sekarang negara kaya./Superpower/. Ketika dimarahi ia
kembali memarahi. Ketika dipelototi ia membalas melotot.*(Dahlan Iskan)*