-- 
j.gedearka <[email protected]>


https://www.antaranews.com/berita/1653946/perempuan-punya-andil-besar-dalam-ketahanan-pangan-masyarakat



Perempuan punya andil besar dalam ketahanan pangan masyarakat

Kamis, 6 Agustus 2020 21:56 WIB

Tangkapan layar Webinar yang digelar Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya 
(UB) Malang dengan tajuk "Ketahanan Pangan Masyarakat Hutan Berperspektif 
Gender pada Masa Adaptasi Kebiasaan Baru", Kamis (6/8) (ANTARA/HO/UNIVERSITAS 
BRAWIJAYA/End)
Malang, Jawa Timur (ANTARA) - Staf Ahli Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan 
(LHK) Apik Karyana mengemukakan bahwa perempuan berperan besar dalam upaya 
mewujudkan ketahanan pangan di lingkungan masyarakat, khususnya di kawasan 
hutan.

Menurut Apik, kerusakan lingkungan yang menjadi faktor utama terhadap 
stabilitas ketahanan pangan bisa diubah oleh perempuan.

"Permasalahan lingkungan selalu berhulu di perilaku dan perempuan lah yang 
menjadi media utama dan pertama yang dapat mendorong perubahan perilaku," kata 
Apik dalam Webinar bertajuk "Ketahanan Pangan Masyarakat Hutan Berperspektif 
Gender pada Masa Adaptasi Kebiasaan Baru" yang digelar Fakultas Pertanian 
Universitas Brawijaya (UB) yang dipantau di Malang, Jawa Timur, Kamis.

Dia menambahkan bahwa dalam kesehariannya, peran perempuan cenderung lebih 
dekat dengan lingkungan, seperti ketersediaan air bersih, pengelolaan sampah 
rumah tangga, merawat tanaman, holtikultura, dan agroforestri.

Sementara itu, Menteri LHK Siti Nurbaya Bakar dalam materi tertulis 
mengemukakan hutan sebagai life support system, merupakan cadangan pangan yang 
lengkap. Dalam hutan ada kebhinekaan mahluk hidup, ada jasad renik, flora, 
cacing, serangga, fauna, air, tanah, benih, pohon kayu, pohon buah, pohon 
getah, tanah subur dan lain-lain.

Hutan, kata dia, dapat memenuhi kebutuhannya sendiri sekitar 90 persen, 
sepanjang waktu sepanjang musim. Kontribusi hutan dalam penyediaan pangan 
bersifat langsung dan tidak langsung.

Kontribusi secara langsung, kata dia, yakni produk hasil hutan sebagai penyedia 
pangan rakyat, seperti umbut rotan, umbi-umbian, satwa, madu, sagu, porang, 
jamur, buah-buahan hingga obat-obatan dan pasak bumi untuk menjaga stamina.

Secara tidak langsung, menurut dia, hutan sebagai penyediaan lahan untuk modal 
produksi pangan, produksi pangan dari hutan lebih dari 9 juta ton berupa padi, 
jagung, kedelai per tahun. Produksi pangan dari hutan belum tercatat dalam data 
statistik nasional.

Sementara itu Guru Besar Sosiologi Pertanian UB Prof Yayuk Yuliati menambahkan 
bahwa dengan kelembutan hatinya dalam memelihara lingkungan, perempuan mampu 
memanfaatkan sumber daya alam dengan kehati-hatian dan kecukupan sesuai dengan 
kebutuhan.

Sehingga, lanjutnya, jika terjadi kerusakan lingkungan, perempuan yang paling 
terdampak, sebab mereka harus mencari air lebih jauh, mencari kayu bakar jauh 
karena rusaknya hutan. "Jadi pesan moralnya jangan rusak atau eksploitasi hutan 
karena menyusahkan perempuan," ujarnya.

Yayuk mengatakan lebih dari itu, pemberdayaan masyarakat yang memperhatikan 
aspek gender, baik laki-laki ataupun perempuan, hasilnya akan lebih signifikan 
dalam pencapaian kesejahteraan, termasuk ketahanan pangan keluarganya.

Manajer R & D UB Forest Dr Asihing Kustanti mengatakan, seharusnya tidak hanya 
perempuan yang berpengaruh dan mempunyai andil pada lingkungan, tapi juga 
masyarakat pengguna hutan, baik secara langsung maupun tidak langsung. 
Contohnya hutan, hutan sebagai penyokong kehidupan masyarakat memberikan banyak 
manfaat.

Masyarakat, kata Asihing, mempunyai kepentingan terhadap hutan, seperti sebagai 
sumber pangan, papan, dan sandang. Bahkan, secara tidak langsung hutan 
memberikan keindahan, cadangan oksigen, sumber mata air, pencegah banjir, dan 
ekowisata.

"Oleh karena itu, seharusnya masyarakat dengan kapasitas pengetahuan dan 
inovasi yang dimiliki bisa turut menjaga kelestarian hutan, bukan malah merusak 
hutan," katanya.

Pewarta: Endang Sukarelawati
Editor: Masuki M. Astro
COPYRIGHT © ANTARA 2020





Kirim email ke