1.:

Warga Tolak Jual Lahannya untuk Proyek Nasional Jokowi, Puluhan Aparat
Diturunkan 

admin DEMOKRASI News
Senin, Agustus 03, 2020

DEMOKRASI.CO.ID - Konflik lahan di Tuban terkait pembangunan kilang
minyak yang termasuk dalam rencana strategis nasional (RSN) kembali
terjadi.

Warga yang sejak awal menolak menjual lahan untuk rencana proyek
tersebut, kembali berhadapan dengan aparat keamanan yang diturunkan
dalam mengamankan proses pengadaan lahan di Desa Wadung dan Sumurgeneng
Kecamatan Jenu Kabupaten Tuban pada Senin (3/8/2020).

Bersamaan dengan aparat keamanan tersebut, pihak kantor Badan
Pertanahan Nasional (BPN) Tuban secara sepihak melakukan pengukuran
lahan milik warga.

Lantaran itu, warga menolak keras dan menggeruduk kantor BPN Tuban di
Jalan Dr Wahidin Sudirohusodo. Seorang warga setempat, Ida mengaku
terkejut dengan kedatangan pegawai BPN yang didampingi aparat keamanan
dari unsur Polri dan TNI ke rumahnya.

"Tidak ada pemberitahuan sama sekali, tiba-tiba datang ke rumah. Ulek
saya lempar dan tidak jadi masak. Bilangnya mau silaturahmi. Tapi
sambil membawa alat ukur tanah (digital). Otomatis saya kaget dan
menolak," ujarnya.

Lahan yang dimiliki Ida merupakan sumber penghasilan untuk kebutuhan
keluarganya sehari-hari. Lahan tersebut berupa ladang dan rumah.
Menurutnya, lahan itu merupakan warisan, sehingga sukar untuk dijual.

"Katanya (pegawai BPN Tuban) harus diukur hari ini (Senin, 3/8/2020).
Mungkin kah rumah kami mau diukur? Ya tidak bisa, saya tidak menjual,"
tegasnya.

Setelah itu, pemilik lahan kompak menolak dan menggeruduk kantor BPN
Tuban. Mereka menuntut supaya tidak melakukan pengukuran lagi terhadap
lahan mereka.

"Sekitar delapan orang lahannya ketahuan diukur. Setelah itu baru warga
mendatangi. Pegawai BPN pun bersama aparat keamanan ramai-ramai
kembali, tidak jadi mengukur. Kemudian kami bersama-sama menggeruduk
kantor BPN," katanya.

Kepala Kantor BPN Tuban Ganang Anindito mengatakan, seharusnya pemilik
lahan tidak menolak pada tahapan saat ini, yakni pelaksanaan pengadaan
tanah.

"Sebetulnya, pada saat perencanaan terkait penetapan lokasi warga bisa
menggugat ke Pengadilan Negeri Tuban. Tapi saat ini sudah proses
pengadaan tanah. Jadi warga boleh memprotes lagi ketika nilai atau
harga tanah tidak sesuai," jelasnya.

Disebut ada 489 hektare tanah yang dimiliki warga sebagai lokasi
rencana strategis nasional kilang minyak. Sementara untuk lahan milik
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) luasnya 348 hektar
serta milik Perhutani sekitar 110 hektare.

"Dan kami tadi berhasil mengukur tanah milik delapan warga. Besok
Selasa (4/8/2020) sudah dilakukan pembayaran," katanya.

Sebelumnya diberitakan, sejumlah pemilik lahan yang tanahnya masuk ke
dalam proyek kilang minyak Pertamina di Desa Sumurgeneng dan Wadung,
Kecamatan Jenu Kabupaten Tuban, ngotot tidak ingin menjual lahan mereka.

Meski lahan mereka termasuk ke dalam proyek strategis nasional, para
pemilik tetap enggan menjual karena selama ini menjadi sumber
penghidupan keluarganya.

"Sama sekali tidak ingin menjual, jangan dipaksa. Itu sumber pangan
kok. Dan itu untuk kelangsungan hidup kami hingga anak dan cucu kami
nanti," ujar seorang pemilik lahan Hajjah Karni (46) usai menghadiri
sosialisasi pengukuran tanah dari BPN Kabupaten setempat di kantor
Pemerintah Desa Wadung.

Tidak hanya lahan pertanian yang masuk ke dalam rencana proyek
tersebut. Melainkan beberapa rumah warga desa juga menjadi sasarannya.

Salah satunya, Sumisih (67) warga Desa Wadung mengatakan bahwa
keluarganya tidak ingin menjual. Karena tahun 1980-an pernah direlokasi
ketika proyek Gardu Induk Mliwang milik PT PLN Persero berjalan.

"Tahun 1985 atau 1986 itu kami pernah sempat kena gusur saat
pembangunan PLN. Terus pindah dan sekarang mau kena rencana pembangunan
lagi. Tidak mau, berat pokoknya untuk menjual rumah kami," katanya. []


2.:

Demokrat: UU Kebal Hukum Sudah Ada, Pak Jokowi Butuh Apa Lagi Dari
Rakyat? 
Faisal Eko Putra-Headline, Politik
https://news.demokrasi.co.id/demokrat-uu-kebal-hukum-sudah-ada-pak-jokowi-butuh-apa-lagi-dari-rakyat/


DEMOKRASI.CO.ID – Presiden Joko Widodo (Jokowi) didesak terus terang
kepada masyarakat terkait upaya penanganan pandemik Covid-19 dan dampak
yang ditimbulkan. Baik dari sisi kesehatan masyarakat maupun pemulihan
ekonomi nasional.

Desakan disampaikan langsung Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bapilu) DPP
Partai Demokrat Andi Arief dalam kicauannya akun Twitter pribadi, Kamis
(6/8).

“Sebetulnya Pak Jokowi sudah harus menyatakan sesuatu pada rakyat dan
lembaga negara tentang apa yang jadi penyelamatan. Trend Covid tinggi,
pertumbuhan ekonomi blusuk,” katanya.

Andi Arief merasa heran dan bertanya-tanya, apalagi yang menjadi
hambatan presiden untuk melakukan langkah konkret atas upaya
penyelamatan rakyat dan perekonomian nasional dengan kewenangan yang
dimiliki.

Terlebih lagi pemerintah sudah punya dukungan dari Perppu 1/2020 yang
kini sudah menjadi UU 2/2020 tentang Kebijakan Keuangan Negara dan
Stabilitas Sistem Keuangan untuk Penanganan Pandemik Covid-19. Di mana
UU ini akan membuat pengambil kebijakan uang ratusan triliun kebal
hukum.

“Sementara melalui perppu kewenangan berlimpah, utang tinggi, kebijakan
dilindungi hukum. Butuh apa lagi dari rakyat?” tutupnya
bertanya-tanya.[rmol] 


3.:

Jokowi Kok Pertanyakan Manfaat Infrastruktur Yang Telah Dibangunnya
Sendiri? Faisal Eko Putra-Politik

https://news.demokrasi.co.id/jokowi-kok-pertanyakan-manfaat-infrastruktur-yang-telah-dibangunnya-sendiri/

DEMOKRASI.CO.ID – Presiden Joko Widodo semestinya tidak mempertanyakan
apa yang telah dilakukannya, yang kerap membanggakan pembangunan
infrastruktur, selama menjabat.

Begitu kata dosen komunikasi Universitas Telkom, Dedi Kurnia Syah,
menanggapi pernyataan Presiden Jokowi yang keheranan dengan hasil
kerjanya sendiri.

“Terlihat benar Presiden hanya ingin kabar baik. Tentu disayangkan,
karena semakin sering menyudutkan (pihak lain) selain diri Presiden
sendiri,” ujar Dedi Kurnia Syah kepada Kantor Berita Politik RMOL,
Jumat (7/8).

Hal itu, lanjut Dedi, karena Presiden mencari sesuatu untuk disalahkan
atas pertumbuhan ekonomi penerbangan di kuartal II 2020 yang anjlok
cukup dalam berdasarkan data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS).
Di mana sektor yang turun paling besar adalah angkutan udara dengan
kontraksi sebesar 80,23 persen. Baca :  Pekerja Disubsidi Rp600 Ribu,
Honorer K2: Astaghfirullah, Kenapa Jokowi Enggak Adil Begini

“Semestinya ini menjadi acuan evaluasi, ada kesalahan besar dalam
tatakelola pemerintahan. Presiden seharusnya melihat itu, dan berhenti
mencari dalih untuk pembelaan,” kata Dedi.

Apalagi, Presiden Jokowi kerap kali membanggakan capaiannya dalam
sektor infrastruktur. Namun saat ini, Presiden Jokowi malah
mempertanyakan apa yang sudah dilakukannya sendiri.

“Faktanya, semua bandara yang dibangun periode Presiden sebelumnya, dan
diresmikan Jokowi, selalu dibanggakan. Untuk itu, dalam kondisi sulit
semestinya tidak ada upaya mempertanyakan apa yang sudah dibangun,”
pungkas Dedi.[rmol] 



4.:

Jokowi Minta Ekonomi Melampaui Dunia, Rocky Gerung: Joko Tingkir
Keselek Klepon Alias Oon 

Wawan Julianto-Headline, Politik

DEMOKRASI.CO.ID – Pengamat politik Rocky Gerung mengkritik keras
Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang meminta ekonomi Indonesia harus
melampaui dunia.

“Ekonomi kita diminta melampaui dunia itu presiden nyuruh pohon pepaya
berbuah nangka, itu yang namanya Joko tingkir keselek klepon alias
oon,” kata Rocky Gerung dalam acara dialog dengan Rahma Sarita yang
beredar di YouTube.

Menurut Rocky, pernyataan Presiden Jokowi yang meminta ekomomi
Indonesia melampui dunia tidak mempunyai dasar karena Menteri Ekonomi
Sri Mulyani mengatakan, bencana ekonomi akan tiba.

“Sri Mulyani sangat pesimis, Jokowi sangat optimis di mana kolerasi
argumentasi istana untuk menyakinkan investor, investor akan mendengar
sri mulyani, Indonesia dalam keadaan bahaya,” jelas Rocky Gerung.

Rocky mengatakan, dunia internasional menyoroti pernyataan Presiden
Jokowi yang tidak mempunyai basis data dalam menyikapi kondisi ekonomi.

“Kekacauaan ini yang dibaca internasional, Indonesia negara gagal.
kekonyolan dihasilkan presiden, ajaibnya tidak ada menteri yang
memberikan solusi alternatif karena semua panik,” pungkasnya. [] 






Kirim email ke