*Melayat Drive-Through*
Sabtu 08 August 2020
Oleh : *Dahlan Iskan*
AWALNYA mau diam-diam saja. Toh, jenazah Suwiro Widjojo sudah dikremasi.
Di hari kematian itu juga. Dengan prosedur Covid-19. Tapi telepon masuk
tidak terbendung. Terlalu banyak yang ingin memberikan penghormatan
terakhir pada Suwiro. Termasuk yang mau mengirim bunga duka-cita.
Jenazah Suwiro sudah dikremasi, hari Minggu pekan lalu. Keluarga ini
juga masih punya duka tambahan: kakak sulung Suwiro juga menderita
Covid-19. Pun istri kakak sulung itu. Bahkan istri Suwiro juga tertular.
Tiga orang itu masih dirawat intensif di rumah sakit. Tanpa tahu kalau
adik nomor 3 sudah meninggal dunia.
"Akhirnya saya usulkan acara melayat dengan cara drive-through ini.
Selama dua hari," ujar Helen Widjaja, adik almarhum.
Saya melayat drive-through di hari kedua. Di jam terakhir. Sekalian agar
mobil saya tidak perlu mengganggu mobil yang datang berikutnya. Saya
ingin memberikan penghormatan tidak dari dalam mobil.
Saya tahu acara meisong itu akan ditutup kemarin dulu pukul 17.00. Maka
saya berangkat dari kantor Harian DI's Way pukul 17.00. Tentu saya
menghubungi Helen dulu. Agar acara meisong jangan ditutup dulu. Toh,
tidak ada jenazah di situ yang harus segera diberangkatkan ke pemakaman.
Sudah sepi. Tinggal tiga adik dan anak-anak almarhum yang masih di
tempat acara. Disertai beberapa manajer inti di perusahaan sepatu itu.
Tanpa petunjuk Google Map saya tahu di mana mobil harus belok –ikut
karangan bunga. Sejak di jalan raya, karangan bunga berjajar tidak
terhitung lagi. Pun di jalan masuk ke tempat acara: penuh dengan
karangan bunga.
Tempat meisong itu di pabrik sepatunya yang no 3. Seluas 2,5 hektare. Di
sebelah pabrik sepatu no 4 yang lebih luas. Masuk kompleks pabrik ini,
mobil saya diberhentikan. Seorang petugas 'menembak' kening saya: 36
derajat Celsius. Juga kening Kang Sahidin yang mengemudikan mobil: 36
derajat.
Di tahap berikutnya ada petugas yang membagikan penutup wajah yang
bening itu. Yang diproduksi di pabrik itu juga. Di situ orang yang
meisong juga diberi spidol dan dua lembar kertas merah.
Lembar pertama untuk diisi nama dan nomor telepon. Ini penting untuk
pelacakan Covid-19–bila diperlukan kelak. Lembar keduanya, kertas
kosong: boleh menulis kenangan apa saja untuk almarhum. Bagi yang mau,
tulisan itu akan ditempel di papan yang dipajang di tempat meisong.
Dari tempat pembagian spidol+kertas itu cukup jauh ke lokasi
penghormatan. Cukup waktu untuk menulis. Apalagi kalau masih harus lama
berhenti. Untuk antre drive-through.
Sebenarnya petugas meisong minta saya tetap di mobil. Tapi saya
memutuskan turun. Saya akan memberi penghormatan secara khusus.
Keluarga ini adalah contoh kegigihan, kerja keras, dan hidup sederhana.
Pun di kala sudah kaya raya. Almarhum juga contoh bagaimana hidup sehat
dengan berolahraga. Almarhum sangat rajin berenang dan jalan sehat. Ia
tahu saya disiplin senam dansa setiap hari. Maka ia minta agar seminggu
sekali saya senam di lokasi ia jalan sehat: di lapangan KONI Jatim.
Permintaan itu saya penuhi. Seminggu sekali kami senam ramai-ramai di
lapangan itu. Ratusan orang jalan sehat mengelilingi lapangan. Sebagian
ikut senam gaya DI's Way. Itu berlangsung beberapa bulan. Sampai musim
hujan tiba: tidak bisa untuk senam di tengah lapangan.
Almarhum juga contoh kerukunan. Terutama di dalam keluarga besar mereka
sendiri. Waktu adik nomor 2 sakit, almarhumlah yang merawat. Sang adik
sakit parkinson. Almarhum sampai menuntun sang adik ke kolam renang di
sebuah hotel. Tiap hari. Sampai manajer hotel keberatan kok ada orang
sakit renang di situ. Secara bisnis itu dianggap merugikan hotel. Tapi
yang sakit itu manusia. Adalah hak setiap manusia untuk berolahraga.
Sang adik sangat berjasa di perusahaan keluarga ini. Ialah yang berhasil
mengajak investor Taiwan masuk ke pabrik sepatu mereka. Almarhum juga
punya kiat baru untuk menjaga kerukunan keluarga itu. Semua keluarga
dibiayai untuk tur ke luar negeri. Harus bersama-sama. Tapi hanya
keluarga yang wanita. Kakak-adik-ipar-sepupu harus ikut. Tidak boleh
diikuti yang laki-laki.
"Pertengkaran keluarga biasanya dimulai dari perempuan-perempuan ini,"
ujar Helen menirukan ucapan almarhum.
Selama tur itu mereka bisa berkumpul lama. Dua minggu. Dalam suka dan
duka. Juga harus kompak. Ada aturan dalam rombongan itu. "Yang muda
harus menghormati yang lebih tua," ujar Helen. "Maka kakak kami tidak
boleh angkat kopor. Kami yang angkat kopornyi," ujar Helen.
Helen bangga pada kiat kakaknyi itu. Sampai sekarang keluarga ini rukun.
Bersatu dalam membesarkan pabrik. Helen punya usul ke sang kakak. Naik
kelas ekonomi saja. Kan orangnya banyak. Sang kakak menolak: harus naik
kelas bisnis. Nilai kerukunan itu, katanya, lebih mahal daripada kalau
bertengkar.
Tapi almarhum sendiri tampil sangat sederhana. Ia adalah direktur utama
di perusahaan itu tapi penampilannya seperti orang miskin. Ia lebih
sering pakai sandal jepit. Bajunya tidak ada yang bermerek.
Suatu saat almarhum ke Singapura. Rapat. Malamnya ia ingin makan enak:
minta steak daging Kobe. Mereka pun ke Marina Bay Sand. Gedung megah
yang baru di pinggir laut itu. Pusat perjudian Singapura itu.
Sampai di restoran fine dinning itu alharhum ditolak masuk: pakaiannya
lusuh, dan sandalnya jepit. Helen sudah berdebat dengan petugas
restoran. Gagal. Lalu Helen melihat-lihat apakah ada pengunjung restoran
itu yang pakai sandal jepit: ada!
"Lho itu pakai sandal jepit kok boleh?“ kata Helen.
"Kalau wanita boleh," jawab petugas.
Sang kakak tidak mau ribut-ribut seperti itu. Mau makan itu hati harus
senang. "Untuk apa makan sambil marah?" ujar almarhum. Toh, mereka bisa
mencari tempat makan yang lebih mahal. Pun bisa membeli restoran itu,
kalau mau.
Suatu saat Helen memberikan hadiah sang kakak kaus Hugo Boss. "Eh...
Dipakai tidur!" ujar Helen.
Banyak orang kaya seperti itu. Yakni orang kaya yang dulunya sangat
miskin. Maka tidak enak menjadi orang kaya seperti itu. Anak mereka pun
belum bisa enak. Pasti sering dimarahi. Agar jangan boros.
Yang enak itu adalah cucu-cucu mereka: tidak ada ceritanya kakek
memarahi cucu. Mereka memang berangkat dari miskin. Pabrik sepatu –salah
satu terbesar di Indonesia– itu dimulai dengan susah payah.
Awalnya hanya bikin sandal. Di atas kompor dapur. Dengan bahan baku
hanya satu lembar karet. Karet itu dipotong-potong. Dibakar di kompor.
Di dalam rumahnya di Jalan Jagalan No 27 Surabaya.
Sang ibu yang mengerjakan pembuatan sandal dengan cara sangat
tradisional itu. Bukan ayah. "Ayah itu hobinya main musik," ujar Suhadi,
adik Suwiro yang lain. "Beliau pandai memainkan alat-alat musik
tradisional Tiongkok," tambahnya.
Sandal sederhana 'made in' Mama itu dijual di toko Palen di rumah itu
juga. Laku. Dan kian laku. Hasil jualan sandal itu dibelikan karet lagi.
Kali ini dua lembar. Sang Mama yang menjadikannya sandal. Laku terus.
Bisa untuk membeli empat lembar bahan baku.
"Sampai akhirnya kami bisa membeli bahan baku satu gulungan karet. Kami
bahagia sekali," ujar Suhadi.
Lama-lama rumah Jalan Jagalan itu khusus untuk pabrik. Untuk tempat
tinggal pindah ke Jalan Arjuno. Sampai meninggalnya almarhum tinggal di
Jalan Arjuno ini.
Rumah Jagalan pun tidak cukup lagi untuk pabrik. Mereka membeli lokasi
agak di pinggir kota (waktu itu). Lalu membeli lahan baru. Dan lahan
baru lagi. Hingga akhirnya menjadi delapan lokasi.
Itulah perusahaan besar warisan Mama yang menguasai teknik. Tapi
dikembangkan ikut jiwa Papa yang menguasai seni.(Dahlan Iskan)
https://www.disway.id/r/1028/melayat-drive-through