-- 
j.gedearka <[email protected]>


https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1905-mentang-mentang-mayoritas



Rabu 12 Agustus 2020, 05:00 WIB 

Mentang-Mentang Mayoritas 

Usman Kansong Dewan Redaksi Media Group | Editorial 

  Mentang-Mentang Mayoritas Dok.MI/Ebet Usman Kansong Dewan Redaksi Media 
Group. SEDIKITNYA penganut suatu gagasan sama sekali tidak mengurangi 
keabsahannya, dan, sebaliknya, sangat populernya suatu gagasan tidak 
membuktikan kebenarannya.’ Begitu pernyataan Sayyid al-Murthada, seorang ulama 
Syiah. Penganut Syiah memang lebih sedikit jika dibandingkan dengan penganut 
Sunni. Sepintas pernyataan Al-Murtdhada itu semacam pembelaan diri kalangan 
Syiah yang minoritas. Akan tetapi, pernyataan itu kiranya benar. Gagasan 
Galileo Galilei bahwa Matahari pusat alam semesta atau heliosentris tidak 
populer waktu itu. Yang populer ketika itu gagasan Bumi pusat alam semesta atau 
geosentris. Namun, gagasan Galileo terbukti benar. Pilihan terbanyak terhadap 
seorang kandidat dalam pemilihan umum demokratis sekalipun belum tentu pilihan 
benar. Kita, misalnya, menganggap pilihan mayoritas orang Amerika terhadap 
Presiden Donald Trump sebagai pilihan keliru. Konon penghuni neraka kelak lebih 
banyak daripada penghuni surga. Itu artinya penganut jalan kesesatan lebih 
besar daripada pengikut jalan kebenaran. Mayoritas salah dan minoritas benar. 
Akan tetapi, mayoritas sering kali menganggap diri mereka benar bahkan paling 
benar. Mereka menganggap label mayoritas yang mereka sandang sebagai ukuran 
kebenaran. Mentang-mentang mayoritas, mereka menganggap diri benar dan 
minoritas salah, keliru, sesat, kafir, dan halal darahnya. Itulah yang terjadi 
pada peristiwa penyerangan keluarga Habib Umar Assegaf di Surakarta, Jawa 
Tengah, Sabtu, 8 Agustus 2020. Kelompok radikal agama menyerang keluarga Habib 
Umar Assegaf seraya berteriak ‘Allahu Akbar, Syiah laknatullah, kafir, bunuh’. 
Tiga anggota keluarga Habib Umar luka-luka. Habib Umar ketika itu sedang 
menyelenggarakan doa bersama menjelang pernikahan atau midodareni putrinya. 
Penyerang mengira keluarga itu sedang menyelenggarakan ritual Syiah. Keluarga 
Habib Umar memang penganut Syiah. Midodareni ialah satu tahap dalam prosesi 
pernikahan adat Jawa. Dalam banyak hal, sudah terjadi persilangan antara 
tradisi Syiah dan tradisi Jawa serta suku-suku lain di Indonesia. Barzanji, 
cukur rambut bayi, peringatan 1 Suro, bubur asyura, mengusap kepala anak yatim 
piatu, dan tabuik, merupakan tradisi Syiah yang diserap berbagai tradisi 
suku-suku bangsa di Indonesia. Nahdliyin atau pengikut Nahdlatul Ulama 
mempraktikkan tradisi-tradisi Syiah itu. Gus Dur pernah menyebut Islam di 
Indonesia sesungguhnya bermazhab Ahlus Sunnah Was Syiah. Akan tetapi, 
penyerapan dan praktik berbagai tradisi Syiah itu tak mengurangi diskriminasi 
terhadap para penganutnya. Kasus penyerangan keluarga Habib Umar Assegaf 
hanyalah satu dari deretan panjang diskriminasi terhadap Syiah. Pangkalnya, ya 
itu tadi, mayoritas yang merasa benar memvonis minoritas sesat. Anggapan umum 
menyebutkan sebagian besar orang Indonesia penganut Sunni dan hanya segelintir 
penganut Syiah. Kaum Sunni menganggap diri mereka sebagai Islam arus utama dan 
Syiah Islam pinggiran. Begitu terpinggirkannya Syiah sampai-sampai ia dianggap 
bukan Islam. Mentang-mentang mayoritas yang pada gilirannya memantik perasaan 
paling benar juga memproduksi diskriminasi terhadap kelompok-kelompok minoritas 
lainnya. Mayoritas mendiskriminasi minoritas agama, etnik, ras, gender, atau 
orientasi seksual. Penegakan hukum tentu penting untuk mengurangi 
kesewenang-wenangan mayoritas. Kita mengapresiasi polisi yang telah menangkap 
sejumlah pelaku penyerangan keluarga Habib Umar. Namun, terpenting ialah 
perubahan cara berpikir. Kita tak boleh lagi berpikiran bila kita mayoritas 
kita pasti benar dan minoritas jelas sesat. Mayoritas semestinya memandang 
minoritas sebagai kelompok berbeda, bukan kelompok sesat, dan perbedaan itu 
hukum alam, sunnatullah, rahmat. Jangan lagi ada mentang-mentang mayoritas di 
antara kita.  

Sumber: 
https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1905-mentang-mentang-mayoritas






Kirim email ke