Abdul Malik: 55 Tahun AS di Papua Kalah dengan 5 Tahun Cina di Morowali
https://arrahmahnews.com/2020/05/08/abdul-malik-55-tahun-as-di-papua-kalah-dengan-5-tahun-cina-di-morowali/
ByArrahmahnews <https://arrahmahnews.com/author/dataarrahmah/>
Posted onMei 8, 2020
Abdul Malik: 55 Tahun AS di Papua Kalah dengan 5 Tahun Cina di Morowali
*Jakarta –*Sebuah tulisan opini menarik yang ditulis oleh akun
Facebook*Abdul Malik
<https://www.facebook.com/profile.php?id=100026567115258>*yang
menjelaskan bagaimana prilaku Amerika dan Cina dalam memanfaatkan Sumber
Daya Alam Indonesia, Malik menjelaskan “55 tahun AS di Papua kalah
dengan 5 tahun Cina di Morowali”.
Entah sudah berapa juta hingga milyar gram Emas yang di hasilkan
PT.*Freeport <https://arrahmahnews.com/?s=Freeport>*di Papua selama 55
tahun beroperasi, dan sudah berapa Milyar Dolar US yang dihasilkan
selama beroperasi, Sampai saat ini belum juga membangun smelter.
*Baca Juga:*
* *Nara Masista di PBB “Hajar” Vanuatu dan Solomon Soal Pelanggaran
HAM di Papua dan Papua Barat
<https://arrahmahnews.com/2019/09/nara-masista-di-pbb-hajar-vanuatu-dan-solomon-soal-pelanggaran-ham-di-papua-dan-papua-barat/>*
* *Budi Setiawan Jelaskan Fakta Mengejutkan Tentang Masalah Papua
<https://arrahmahnews.com/2019/09/budi-setiawan-jelaskan-fakta-mengejutkan-tentang-masalah-papua/>*
*/Smelter itu sangat penting/*
KEHADIRAN INSVESTOR CINA DI MOROWALI DALAM LIMA TAHUN INI
SUDAH MEMBANGUN BERAGAM INSFRASTRUKTUR YANG MENDUKUNG
KAWASAN INDUSTRI DARI PRASARANA JALAN, PEMBANGKIT LISYRIK
HINGGA SMELTER. UNTUK SMELTER YANG SELAMA INI AS DAN EROPA
TIDAK MAU BANGUN DI INDONESIA. MEREKA HANYA KERUK HASIL
TAMBANG BERUPA PASIR LALU DI ANGKUT KE NEGARA TUJUAN UNTUK
MENJADI BARANG SETENGAH JADI HINGGA BARANG JADI.
Smelter yang di bangun investor Cina di Morowali harus kita apresiasi
positif dan kita dukung keberadaannya. Karena keberadaan smelter ini
syarat dengan transfer teknologi, dari smelter ini kita ketahui
teknologi tinggi yang di gunakan dan prodak produksi apa saja yang di
hasilkan dari turunan pasir tambang tersebut, misalnya nikel nya brapa
persen, cobalt berapa persen dan Lithium nya berapa persen, jenis
turunan yang di hasilkan mempunyai nilai ekonomi tinggi bagi industri
masa depan.
Infonya Semelter yang di bangun Cina ini sungguh teknologi tinggi luar
biasa, yang mampu mengelola pasir tambang dengan kadar nikel di bawah
1,7%. Selain padat modal dengan nilai investasi trilyunan rupiah dan
ongkos produksinya pun tinggi. Eropa dan AS tentu tidak mau bermain di
pangsa ini dengan kadar yang rendah.
Untuk melelehkan pasir alam menjadi cair, Smelter membutuhkan energi
listrik yang optimal dan terjamin kelangsungannya, maka insvestor
membangun Pembangkit Listrik sendiri untuk mensuplay kebutuhan energi.
Karena panas yang di butuhkan untuk melelehkan pasir atau biji nikel
alam membutuhkan 1000-4000 derajat censius dalam posisi stabil.
*Baca Juga:*
* *Ninoy Karundeng: Gus Dur dan Jokowi Ksatria Papua
<https://arrahmahnews.com/2019/08/ninoy-karundeng-gus-dur-dan-jokowi-ksatria-papua/>*
* *Dahono Prasetyo: Pasang Surut Nasib Papua Dijarah Amerika
<https://arrahmahnews.com/2019/08/dahono-prasetyo-pasang-surut-nasib-papua-dijarah-amerika/>*
Dari proses ini diperoleh hasil turunan berupa Nikel, Cobalt dan Lithium
baik kuantitas maupun kualitas. Jika smelternya di luar Indonesia kita
tidak pernah tahu secara pasti hasilnya apa saja dan brapa ton jumlah
yang di hasilkan, secara ekonomi negara tidak mempunyai nilai tambah dan
ini merugikan dari segi pendapatan.
Smelter ini merupakan sarana transfer toknologi dan ke ahlian dari
tenaga kerja Cina ke putra putri Indonesia. Kita jangan melihat hanya
dari sisi tenaga kerja saja, nilai setrategis industri ini mempunyai
pengaruh besar bagi industri dunia dan di mulai dari Morowali yang
jaraknya ribuan KM dari Jakarta, kota kecil di Sulawesi Tengah akan
menjadi pionir penggunaan battre pada kendaraan bermotor dan teknologi
didunia. Dan akan.menyerap puluhan ribu tenaga kerja Indonesia.
Kita jangan terjebak pada adu domba pihak oposisi dan pihak lain, bahwa
seolah olah tenaga kerja Indonesia tidak mampu dan merendahkan kemampuan
bangsa sendiri.
*Baca Juga:*
* *Ada Upaya Memutilasi Indonesia dari Papua?
<https://arrahmahnews.com/2019/08/ada-upaya-memutilasi-indonesia-dari-papua/>*
* *Wahyu Sutono: Jokowi Bapaknya Rakyat Papua
<https://arrahmahnews.com/2019/03/wahyu-sutono-jokowi-bapaknya-rakyat-papua/>*
Kita juga harus menghargai sikap masyarakat Cina yang tidak
mempermasalahkan keberadaan TKI yang jumlahnya lebih dari 80.000 orang
baik di Hongkong maupun Cina Daratan. Sebagai warga dunia kita harus
saling mengisi kekurangan dan kebutuhan antar bangsa. Sampai saat ini
belum ada TKI kita yang di pancung atau hukum mati di Cina karena
tindakan pidana. Beda dengan di Timteng
Kita harus obyektif bukan soal pro Cina atau pro AS, anti Cina atau anti
AS, kita ini warga dunia yang tidak ada lagi ada sekat pembatas. Bukan
juga soal ideologi …soal komunis, kapitalis dan muslim. (ARN)