-- 
j.gedearka <[email protected]>


https://mediaindonesia.com/editorials/detail_editorials/2088-hentikan-politisasi-resesi



Jumat 14 Agustus 2020, 05:00 WIB 

Hentikan Politisasi Resesi 

Administrator | Editorial 

  TIDAK sepatutnya ada pihak-pihak yang sengaja menebar ketakutan akan resesi 
ekonomi. Semua pihak hendaknya bahu-membahu membangun optimisme dan menyiapkan 
strategi pemulihan yang cepat. Resesi akibat pandemi covid-19 tidak 
terhindarkan, butuh sikap bijak menghadapinya. Mestinya semua elemen bangsa 
fokus bagaimana agar resesi yang mengancam negara ini tidak sampai pada fase 
krisis ekonomi. Fokus, agar ketika wabah ber akhir, kondisi bisa cepat pulih 
dan pertumbuhan ekonomi bisa bangkit kembali. Untuk itulah, masyarakat tidak 
perlu terprovokasi dengan ha sutan-hasutan bahwa ekonomi Indonesia tidak hanya 
akan masuk resesi, tapi juga akan terpuruk menuju krisis ekonomi seperti 
tudingan sejumlah pihak. Politisasi resesi hanya mengacaukan konsentrasi 
pemulihan ekonomi. Memang, resesi ekonomi bagi Indonesia su dah di depan mata. 
Kondisi yang memang tidak terelakkan karena pandemi covid-19. Saat aktivitas 
sosial dan ekonomi terbatas, maka konsumsi, investasi, serta kinerja ekspor dan 
impor juga mengalami penurunan, yang membuat geliat ekonomi melambat. Turunnya 
konsumsi masyarakat menyebabkan tingkat penjualan anjlok, produksi tidak 
bergerak. Imbasnya tidak ada kebutuhan investasi baru. Dengan konsumsi dan 
investasi turun drastis, pertumbuhan ekonomi sudah pasti mengalami kontraksi. 
Angka pertumbuhan ekonomi kuartal II 2020 yang tercatat minus 5,32% menjadi 
penanda akan datangnya resesi ekonomi di Tanah Air. Memang, pemerintah masih 
optimistis triwulan III ekonomi akan tumbuh 0% alias positif. Namun, jika 
melihat kondisi saat ini, sektor-sektor yang mengalami kontraksi sangat dalam 
di kuartal II sulit pulih dalam waktu yang cepat. Apalagi jika melihat data 
bahwa konsumsi rumah tangga yang menjadi komponen terbesar dalam PDB dengan 
kontribusi 58% merosot atau mengalami kontraksi sebesar 5,51%. Konsumsi rumah 
tangga hingga saat ini masih tertekan. Karena itulah, banyak pihak memprediksi 
kondisi serupa juga terjadi pada kuartal III dan IV 2020. Jika proyeksi benar 
terjadi, ekonomi Indonesia bisa dinyatakan resesi pada Oktober. Yang jelas, 
meskipun Indonesia nanti dinyatakan resesi, publik tidak perlu panik. Di tengah 
pandemi, resesi sudah menjadi kenormalan baru. Hampir semua negara mengalami 
resesi. Tidak hanya negara kita, sejumlah negara maju justru mendahului masuk 
resesi. Total sepuluh negara telah memasuki fase resesi ekonomi, yaitu Amerika 
Serikat, Jerman, Prancis,Italia, Inggris, Korea Selatan, Singapura, Jepang, 
Hong Kong, dan Filipina. Kenyataan ini menegaskan bahwa resesi bisa menghampiri 
setiap negara. Yang membedakan ialah bagaimana langkah mitigasinya. Pemerintah 
Indonesia telah menyiapkan sejumlah kebijakan untuk meminimalkan dampak resesi. 
Pemerintah mendorong belanja pe merintah, memberikan stimulus, serta mendukung 
terealisasinya investasi domestik. Total anggaran stimulus mencapai Rp695,2 
triliun, yang mencakup program penanganan medis dan Pemulihan Ekonomi Nasional 
(PEN). Pekerjaan rumah terbesar terletak pada penyerapan anggarannya. Hingga 
minggu lalu, data Kementerian Keuangan menunjukkan penyerapan PEN masih di 
angka Rp151,25 triliun atau 21,8% dari pagu anggaran PEN senilai Rp695,2 
triliun. Tentu semua berharap pemerintah bisa segera mengatasi hambatan ini 
sehingga memasuki triwulan ketiga bisa menggenjot belanja agar kontraksi 
ekonomi tidak jauh lebih dalam. Jangan kacaukan konsentrasi pemulihan ekonomi 
dengan politisasi resesi.  

Sumber: 
https://mediaindonesia.com/editorials/detail_editorials/2088-hentikan-politisasi-resesi







Kirim email ke