Wakil Menlu Tiongkok Le Yucheng Berbicara Hubungan Tiongkok-AS

http://indonesian.cri.cn/20200814/f7435019-9a68-88d3-ef21-17f61decb639.html
2020-08-14 17:37:25

(Sumber Video: GuanchaNews)

Hubungan Tiongkok-Amerika Serikat sebagai salah satu hubungan bilateral yang paling penting di dunia, belakangan ini berada pada titik terendah sejak penggalangan hubungan diplomatik kedua negara. Khususnya selama beberapa bulan terakhir ini, pemerintah AS menunjukkan sikap yang ingin berkonfrontasi menyeluruh dengan Tiongkok, bahkan seolah-olah dengan sekuat tenaga menolak perdamaian dan pembangunan untuk membawa umat manusia kembali ke kancah perang dingin. Menghadapi tekanan AS setahap demi setahap, bagaimana Tiongkok menanggapi hal ini dari aspek taktik, dan memelihara kewarasan dan karakter dirinya dari aspek strategi? Inilah masalah yang sangat diperhatikan masyarakat dewasa ini.

Pada Tanggal 11 Agustus yang lalu, Wakil Menteri Luar Negeri Tiongkok Le Yucheng menerima wawancara wartawan GuanchaNews, dan menjawab tujuh pertanyaan penting terkait hubungan Tiongkok-AS. Berikut wawancaran selengkapnya:

GuanchaNews: Baru-baru ini pejabat pemerintah AS berkali-kali memfitnah dan menodai Tiongkok. Sejumlah politikus AS mengesampingkan prinsip hukum, patokan diplomatik dan moral politik, menampilkan perilaku sebagai seorang preman jahat. Bagaimana kesan anda terhadap tindakan bejat si politikus AS itu?

Le Yucheng: Pertanyaan anda menunjukkan dua ciri khas prilaku sejumlah politikus AS. Pertama, mereka selalu berbicara kebohongan, Kedua, mereka sering melanggar hukum.

Tidak berbohong adalah prinsip dasar bagi setiap orang biasa, apalagi orang ini menjabat sebagai pejabat pemerintah atau diplomat senior. Anda dapat berpandangan selisih, juga dapat menyatakan ketidakpuasan atau tentangan, bahkan langsung berbicara “tak ada komentar” saja. Tapi anda tidak boleh tanpa menghiraukan fakta, dan berbicara sesuka hati. Sejumlah politikus AS selalu mengatakan kebohongan untuk memfitnah dan menodai Tiongkok. Seperti apa yang disebut “AS membangun kembali Tiongkok, Tiongkok bakal menduduki AS, AS mengalami kerugian kalau berbisnis dengan Tiongkok, virus COVID-19 dibuat dari Institut Virologi Wuhan, Tiongkok mencuri HaKI AS terkait vaksin COVID-19, Huawei dan TikTok menyediakan data privasi kepada badan keamanan nasional Tiongkok, 1,4 triliun warga Tiongkok mengalami pengawasan, pemerintah Tiongkok melakukan pemusnahan ras di Xinjiang, dan lain-lain.” Perkataan-perkataan itu terdengarnya seperti dongeng, anak-anak pun tidak percaya. Para netizen sedang mengumpulkan kebohongan politik mereka, dan berencana mengeditnya sebagai umpan balik untuk “dipelajari” untuk seluruh dunia.

Wakil Menlu Le Yucheng menyatakan: Prinsip Tiongkok sangat tegas, yaitu tidak menimbulkan peristiwa, tapi sementara itu juga tidak takut peristiwa.

Kedua, adalah melanggar hukum. Seperti apa yang diketahui umum, AS selalu memaksakan hukum internasional kepada pihak lain, dan mengesampingkan dirinya dari jeratan hukum internasional. Tekanan AS terhadap Tiongkok tidak berdasar apapun. Baik dari mengenakan pajak tambahan perdagangan, menghentikan penyuplaian kepada Huawei, melarang penggunaan TikTok, menahan warga Tiongkok, sampai menjual senjata kepada Taiwan, memberikan sanksi kepada pejabat pemerintah pusat dan pejabat pemerintah Hong Kong, serta menutup Konsulat Jenderal Tiongkok untuk Houston. Tidak ada satu hal pun sesuai dengan hukum internasional. Sejauh ini, AS berkali-kali merencanakan revolusi berwarna, mengintervensi urusan dalam negeri negara lain, melakukan yurisdiksi lengan panjang, tindakan kekerasan bahkan aksi pembunuhan. AS sudah mengundurkan diri dari belasan perjanjian dan organisasi internasional, dan menduduki peringkat pertama dalam daftar “perusakan kontrak” di dunia. Pada saat krusial penanggulangan pandemi global, AS mengkritik WHO tanpa alasan apapun, sambil mengundurkan diri dari organisasi tersebut dan menghentikan penyuplaian dana kepada WHO. Sama seperti ada orang menghentikan penyuplaian air ketika semua orang sibuk memadamkan kebakaran. Tindakan itu menerobos garis bawah moral, melanggar hukum internasional dan piagam PBB. AS selalu mengatakan ingin mendirikan ketertiban internasional yang berdasarkan peraturan, tapi peraturan AS ialah hegemoni. Seperti dikatakan Mantan Duta Besar AS untuk Ukrania, Madam Marie Yovanovitch, Amerika menyelenggarakan diplomasi “Tidak Bermodal”, pastilah mengalami kegagalan.

GuanchaNews: Segelintir politikus AS aktif melawan Tiongkok, sekuat tenaga memicu pertantangan ideologi Tiongkok-AS, dan memaksa negara lain memihak seputar kebijakan anti Tiongkok, dan mengungkapkan sejumlah besar nama negara atau daerah, nampaknya mereka adalah catur atau pengikut Amerika. Apakah perbuatan serupanya yang memaksakan negara lain sebagai umpan peluru itu dapat berlaku? Apakah AS ingin menderek hubungan Tiongkok-AS ke jebakan Perang Dingin Baru?

Le Yucheng: Perbuatan AS baru-baru ini seputar Tiongkok bertujuan memicu konfrontasi ideologi, menghidupkan kembali Perang Dingin pada abad ke-21, seolah-olah McCarthyisme terulang di AS. 1950-an abad yang lalu, gelombang anti komunis yang gila-gila itu melanda AS, puluhan ribu keturunan Tionghoa dicurigai sebagai “mata-mata”, 20 juta orang lebih menerima apa yang disebut “penggeledahan”, bahkan bocah usia 3 tahun juga dituntut menandatangani Surat Bersumpah Kesetiaan. Menanggapi perbuatan absurd itu, bahasa Inggris malah ditinggalkan satu istilah berbunyi “find reds under the beds”, artinya “mencari oknum merah di bawah ranjang”. Aksi “Pemburuan Tukang Sulap” yang dilancarkan AS terhadap para ilmuwan keturunan Tionghoa, semaunya mengganggu dan menangkap siswa siswi Tiongkok di AS, sangat mirip dengan era McCarthyisme. Para ilmuwan, profesor, sarjana keturunan Tionghoa serta warga AS yang mendukung kerja sama dengan Tiongkok sama sama terpaksa menutup mulutnya, setiap orang terasa dalam kondisi bahaya, kapan saja dapat diperiksa, digeledahi bahkan ditangkap ke penjara oleh FBI. Perbuatan yang menggariskan batas berdasarkan suku etnis dan ideologi itu sangat bahaya, jangan lupa Fasisme dan Hitler bangkit karena anti komunis dan menganiaya orang Yahudi, ini adalah pelajaran bagi kita semua.

Penyebab segelintir politikus AS yang secara gila-gilaan melancarkan aksi anti Tiongkok, dan membesar-besarkan ancaman warna merah, sebenarnya berniat mendefinisi hubungan Tiongkok-AS dengan perlawanan ideologi, dimaksudkan untuk menutup tujuan strategis yang mengendali Tiongkok, dan mengorganisir apa yang disebut persekutuan bebas dan demokratis, dalam rangka membikin sebuah boneka untuk pembentukan aliansi kecil anti Tiongkok. Akan tetapi para politikus AS telah mengelirukan ruangan dan waktu, mereka sudah lupa, dunia ini sudah jauh lepas dari Perang Dingin, dan umat manusia pun sudah memasuki era globalisasi abad ke-21. Kecuali satu atau dua pengikut badut yang kecil itu, mayoritas negara menolak disandera oleh AS, yang diinginkan berbagai negara lain adalah bagaimana saling bantu membantu demi mengalahkan pandemi, menyelamatkan jiwa dan memulihkan ekonomi, mereka sudah bosan bahkan merasa kejijikan atas konfrontasi ideologi dan khotbah tentang Perang Dingin Baru. Baru-baru ini beberapa tokoh politik dan sarjana asal 48 negara bersama melancarkan konferensi virtual global bertema “Perang Dingin Baru apa saja yang ditujukan kepada Tiongkok adalah pelanggaran kepentingan umat manusia”, dan berhasil mengeluarkan pernyataan bersama “menolak Perang Dingin Baru” dalam 14 bahasa, dan hal tersebut merupakan tentangan kuat bagi AS yang keras kepala untuk membentuk persekutuan dan memecah belahan dunia. Menteri Luar Negeri Mike Pompeo dirinya pun mengakui pembentukan sesuatu aliansi internasional yang menuju Beijing adalah sulit, dirinya merasa terkejut dan penyesalan atas begitu banyak negara mendukung Tiongkok.

GuanchaNews: Belakangan ini AS mengancam memblokir TikTok, dan menuntutnya menjual bisnis di AS, serta menandatangani perintah eksekutif yang menindih perusahaan induk TikTok dan Wechat. AS masih berkali-kali mengambil tindakan sanksi terhadap perusahaan dan aplikasi Tiongkok. Apa tujuannya?

Le Yucheng: Pertanyaan anda membuat saya mengingat satu gambar kartun yaitu di tempat masuk satu jalan dipasangnya satu penunjuk AS dengan tulisan Pasar Bebas, seekor babi TikTok berjalan sambil makan, sampai dia menjadi gemuk, tiba-tiba dia melihat Paman Sam dengan pisau di tangannya. Inilah gambar hidup yang melukis lingkungan perusahaan Tiongkok di AS.

Hari-hari terakhir ini, peristiwa AS memukul TikTok mengundang perhatian umum. Pemerintah AS tidak mempunyai bukti apapun, tapi melakukan praduga bersalah dengan mengancam TikTok harus menjual bisnisnya kepada perusahaan AS, kalau tidak akan diblokir dalam waktu 45 hari mendatang. Untuk hidup, TikTok terus berkomunikasi dengan AS dalam waktu satu tahun lalu, bahkan rela menyimpan data pengguna di AS dan Singapura. Lapisan eksekutif seniornya juga dijabat oleh warga AS, bahkan TikTok secara terbuka mengumumkan kebijakan pemeriksaan dan kode perhitungan, merekrut pekerja warga AS sebanyak 1.500 orang serta berjanji akan menciptakan lagi lowongan kerja sebanyak 10 ribu. TikTok hampir memenuhi semua permintaan AS, tapi tetap tidak bisa terhindar dari penindihan AS, meskipun dibeli, uangnya juga harus diserahkan kepada pemerintah AS. Ini bukan kesenian transaksi, melainkan logika pembajak, ini sama sekali adalah perampokan.

Tiktok tidak berkesalahan apapun. Dia hanya adalah platform rekreasi, menampilkan keterampilan dan kehebatan individu, sama sekali tidak berhubungan dengan keamanan negara. TikoTok menjual darah, memotong lengan, tapi AS tetap ingin membunuhnya, sebab yang benar ialah dia adalah perusahaan Tiongkok. Warganet Tiongkok mengevaluasi pihak AS, perilakunya sangat jelek. Menghadapi satu perusahaan sipil Tiongkok, dari presiden sampai lembaga pemerintah, AS seperti beberapa harimau yang memangsa seekor kelinci kecil. Tindakan tidak terpuji AS itu telah terlihat oleh seluruh masyarakat internasional.

Ini juga membuat saya mengingat Huawei. AS juga tidak mempunyai alasan apapun, tapi memukul Huawei di seluruh dunia, bahkan tidak membebaskan seorang perempuan yang lemah bernama Meng Wanzhou yang telah ditahan di rumah selama 600 hari. Banyak perusahaan Tiongkok ketakutan bahkan tidak berani memasuki wilayah AS. Umum mau bertanya, pasar yang bebas, persaingan yang adil dan semangat hukum yang dipamerkan AS itu di mana adanya? Ada media internasional yang mengomentar bahwa AS telah jatuh sakit acrophobia, takut akan iptek yang tinggi negara lain, maka mengambil kebijakan kapal perang digital. AS yang dirinya kotor sedang membersihkan internet dan menjadikan internet sebagai jaringan unilateral AS.

GuanchaNews: AS berkhotbah unilateralisme di seluruh dunia, sering mundur diri dari organisasi internasional. AS telah menjadi perusak terbesar bagi pemerintahan dunia, dan memberi ketidakpastian yang luar biasa terhadap stabilitas dan perkembangan dunia. Apa pandangan Anda mengenai hal ini? Dan apa peranan yang dapat dimainkan oleh Tiongkok di bidang pemerintahan global?

Le Yucheng: AS berusaha melakukan kegiatan separatis, menciptakan konfrontasi, menindas negara lain, tindakan AS itu menjadikan PBB, WTO, WHO semuanya terjerumus dalam kebuntuan, banyak proyek yang bermanfaat bagi pemerintahan dunia dan kerja sama internasional tak bisa dilanjutkan. Tingkah laku AS tersebut bertujuan untuk merealisasi dunia mono polar, globalisasi dijadikan Amerikaisasi, pemerintahan dunia bersama diubah menjadi hegemoni, perilaku ini dengan nyata bertentangan dengan arus sejarah, dan pasti akan sia-sia belaka.

Tiongkok berpegang teguh pada jalan perkembangan damai, menganjurkan pembentukan masyarakat senasib sepenanggungan manusia, ini berakar dalam tradisi kebudayaan Tiongkok yang mengejar keharmonisan dunia. Sementara itu, juga mempertunjukkan harapan umum rakyat seluruh dunia. Tiongkok tidak pernah memikir mendominasi dunia, sedangkan tujuan kami adalah memberi kesejahteraan kepada dunia. Pembangunan Tiongkok tidak bertujuan untuk bersaing dengan AS, melainkan untuk mewujudkan masyarakat sejahtera. Tiongkok dengan aktif mengikuti pemerintahan dunia tapi hal ini tidak berarti hendak mengganti siapa, namun untuk memainkan peranan kewajiban selaku negara besar. Sesudah pandemi Covid-19 merebak, Tiongkok telah memberi bantuan kepada 150 negara lebih dan organisasi internasional, membagikan pengalaman penanggulangan wabah, membantu negara-negara berkembang khususnya negara paling tidak berkembang melawan wabah, dengan aktif mendukung WHO memainkan peranan penting, mendorong penyempurnaan pembenahan kesehatan publik global. Di bidang penelitian dan distribusi vaksin, sikap Tiongkok dan AS juga sangat berbeda. Tiongkok berusaha meneliti dan mengembangkan vaksin, dan mengumumkan vaksin Tiongkok adalah produk publik untuk seluruh dunia. Sedangkan AS hendak membeli bahkan memonopoli vaksin, tingkah laku AS ini dengan sepenuhnya memperlihatkan egoisme.

Inti kontradiksi Tiongkok dan AS dalam masalah ketertiban internasional dan tata kelola dunia mutlak bukan perselisihan antara kediktatoran otoriter dan demokrasi yang disebut sejumlah politikus AS, melainkan perselisihan antara multilateralisme dan unilateralisme, keadilan dan hegemoni, serta pihak mana yang seharusnya diprioritaskan,  dunia atau AS. Seluruh dunia jelas jalan mana adalah jalan tepat. Masyarakat internasional yang mencintai perdamaian dan keadilan seharusnya menyatakan tidak terhadap hegemoni AS, dan bersama mendorong AS menaati hukum dan menempuh jalan yang tepat.

GuanchaNews: Para pemimpin dalam pemerintahan Trump dengan niat jahat menyerang Partai Komunis Tiongkok dalam berbagai pidato dan aksinya, memecah belahkan hubungan jasmani dan darah antar rakyat dan Partai Komunis Tiongkok, tapi menyebut mereka berdiri bersama dengan rakyat Tiongkok. Apa komentar anda atas hal tersebut?

Le Yucheng: Perkataan anti Partai Komunis Tiongkok oleh sejumlah politikus AS sepenuhnya mencerminkan kejahilannya atas keadaan Tiongkok dan Partai Komunis Tiongkok. Partai Komunis Tiongkok senasib dan sepenanggungan dengan rakyat Tiongkok, dan berkaitan erat dengan rakyat Tiongkok, istilah Presiden Xi Jinping yang terkenal itu yaitu “saya akan melupakan saya sendiri, dan tidak menyia-nyiakan amanah rakyat” sepenuhnya manifestasi perasaan setulusnya seorang anggota Partai Komunis Tiongkok demi kepentingan rakyat.

Coba lihat tahun-tahun belakangan ini, setiap kali rakyat menghadapi  kesulitan dan tertimpa bencana, anggota Partai Komunis Tiongkok selalu berjuang di garis terdepan. Di hadapan wabah covid-19 yang terjadi mendadak, 39 juta lebih anggota Partai Komunis Tiongkok di seluruh negeri berjuang di garis depan penanggulangan wabah, 80% tenaga medis yang dikerahkan ke Wuhan untuk mendukung penanggulangan wabah adalah anggota Partai Komunis Tiongkok. Kekuatan utama dalam pengentasan kemiskinan juga adalah anggota Partai Komunis Tiongkok. Kami secara akumulatif menyeleksi sekitar 3 juta sekretaris pertama atau pegawai tetap di desa, dan sekitar 800 pegawai pembantu penanggulangan kemiskinan mengorbankan jiwa mereka dalam pelaksanaan tugas pengentasan kemiskinan, di antaranya Huang Wenxiu, sekretaris pertama sebuah desa miskin di Daerah Otonom Etnis Zhuang Guangxi, usianya ditutup pada 30 tahun dalam perjalanan melakukan tugasnya. Bagian selatan Tiongkok baru saja dilanda bencana banjir, anggota Partai Komunis Tiongkok pun tampil di garis depan penanggulangan bencana. Chen Lu, salah seorang prajurit tim pertolongan pemadam kebakaran Provinsi Anhui mengorbankan jiwanya saat melakukan pencarian dan pertolongan terhadap warga yang terkepung banjir, dia telah menjalani persumpahan anggota Partai Komunis Tiongkok yaitu “berjuang di garda paling depan pada saat dibutuhkan masyarakat”. Contoh-contoh serupa ini berjumlah besar.

Kinerja Partai Komunis Tiongkok baik atau tidak, bukan ditentukan oleh segelintir oknum AS yang anti Tiongkok, melainkan dinilai oleh warga Tiongkok. Tahun-tahun belakangan ini sejumlah besar sarjana AS sependapat bahwa, di bawah pimpinan Partai Komunis Tiongkok, pemerintah Tiongkok mendorong perkembangan ekonomi, secepatnya merespons keprihatinan rakyat, mayoritas rakyat Tiongkok mendukung dan merasa bangga terhadap Partai Komunis Tiongkok. Baru-baru ini data yang diumumkan beberapa lembaga survei AS menunjukkan, rasio dukungan rakyat Tiongkok kepada Partai Komunis Tiongkok setinggi 95%. Sebuah parpol yang mendapat dukungan masyarakat begitu tinggi, seandainya bukan contoh satu-satunya, tapi cukup langka di dunia.

Dalam kurun waktu sekitar 50 tahun hubungan Tiongkok-AS, Partai Komunis Tiongkok tak pernah menjadi halangan hubungan bilateral, melainkan pelopor dan kekuatan pendorong demi kerja sama saling menguntungkan kedua negara. Saya tidak paham kebencian politikus AS terhadap Partai Komunis Tiongkok berasal dari mana? Yang jelas adalah yang berjabat tangan dengan Nixon adalah pemimpin Partai Komunis Tiongkok, orang yang menandatangani tiga komunike bersama Tiongkok-AS itu juga adalah pemimpin Partai Komunis Tiongkok, pejabat-pejabat Gedung Putih dan Departemen Luar Negeri AS hampir setiap hari harus bergaul dengan anggota Partai Komunis Tiongkok, mengapa sesaat lagi kemudian Partai Komunis Tiongkok menjadi ancaman dan tantangan bagi AS? Partai Komunis Tiongkok tak pernah berubah, berarti masalah tetap muncul di dalam intern AS.

GuanchaNews: Menanggapi tindakan AS yang menindas Tiongkok, sekarang ada dua pandangan. Pertama, Tiongkok seharusnya mentolerir, jangan serius dengan perkataan politikus AS yang menentang Tiongkok, dan terjerumus dalam Jebakan AS. Pandangan kedua berpendapat Tiongkok tidak bisa menunjukkan kelemahan, seharusnya dengan tegas melawan provokasi AS. Anda setuju pandangan yang mana?

Le Yucheng: Tiongkok senantiasa berpegang teguh pada kebijakan diplomatik yang mandiri dan damai, terus mempertahankan kebijakan diplomatik yang rukun dan bersahabat terhadap negara-negara lain. Tiongkok selalu dengan ketulusan hati menghadapi negara lain, tidak agresif dan menggertak. Namun ramah hati tidak berarti Tiongkok akan meninggalkan prinsip. Dalam masalah yang bersangkutan dengan kepentingan inti negara dan kehormatan nasional, kami tiada jalan mundur. Kalau kami berkompromi, mereka tidak akan puas malah akan minta yang lebih banyak lagi seperti peribahasa “diberi betis hendak paha”, sehingga terus merugikan kedaulatan dan kehormatan Tiongkok. Menanggapi sejumlah orang AS yang sering memfitnah Tiongkok, kalau kami selalu bertolerir dan berkompromi, opini internasional akan tersesat ke arah salah, kebohongan akan beredar. Jangan lupa, AS pernah menggunakan sebotol deterjen menghancur Irak, sedangkan Suriah juga mengalami pukulan militer hanya dengan beberapa foto yang disebut serangan senjata kimia. Kami mutlak tidak mengizinkan tragedi seperti ini terjadi lagi di Tiongkok.

Prinsip kami sangat tegas, yaitu tidak menimbulkan masalah, tapi kami juga tidak takut masalah, tidak bertindak mengikuti irama penjahat, namun juga tidak mengizinkan mereka menimbulkan kekacauan. Kami tidak pernah melepaskan tembakan pertama, semua tingkah laku kami adalah tindakan defensif. Apa lagi, selama hampir 100 tahun sejak berdirinya Partai Komunis Tiongkok, dan selama 70 tahun lebih sejak berdirinya RRT, kami telah mengatasi banyak kesulitan. AS pernah mengenakan berbagai macam sanksi kepada Tiongkok, kami tidak hanya mengatasi kesulitan tersebut, tapi juga menjadikan jalan kami makin lama makin lebar, prospek kami makin cemerlang. Deng Xiaoping pernah menyatakan, di seluruh dunia, Tiongkok adalah negara yang paling tidak takut diisolasi, diblokade dan dikenakan sanksi. Belakangan ini, tindakan AS yang mengumumkan sanksi terhadap 11 pejabat pemerintah pusat Tiongkok dan Daerah Administrasi Khusus Hong Kong, tidak menakutkan kami. Sebaliknya, mereka merasa bangga dapat tercantum ke dalam daftar nama ini.

Ada sejumlah orang yang bilang kebijakan diplomatik Tiongkok yang lebih kuat mengakibatkan ketegangan hubungan Tiongkok dan AS. Saya sama sekali tidak setuju dengan pandangan ini. Hegemoni bukan tradisi kebudayaan Tiongkok. Namun Tiongkok sekarang telah berkembang maju, seharusnya bertanggung jawab dan memberi sumbangan lebih besar, ini juga adalah himbauan masyarakat internasional. Misalnya, persentase iuran Tiongkok untuk PBB ditingkatkan mencapai 12,5% dari 1% pada 20 tahun yang lalu, persentase anggaran untuk misi pemeliharaan perdamaian bertambah sampai 15%. Tiongkok adalah negara yang mengirim pasukan pemelihara perdamaian paling banyak dari 5 anggota tetap Dewan Keamanan PBB, bantuan yang diberikan Tiongkok kepada negara-negara berkembang juga bertambah besar. Kan ini hal yang bagus? Kenapa Tiongkok tetap dikecam? Sejumlah politikus AS dulu sering mengkritik Tiongkok menikmati dividen perkembangan dunia, namun sekarang ketika Tiongkok menyumbangkan dan menyediakan lebih banyak produk publik, mereka sekali lagi mengecam Tiongkok mempunyai ambisi, apakah perkataan mereka saling bertentangan?

GuanchaNews: Hubungan antara Tiongkok dan AS semakin memburuk, menurut Anda, situasi yang serius ini masih akan berlangsung berapa lama? Masalah apa yang harus diatasi secepat mungkin?

Bagaimana Tiongkok dan AS bergaul tidak hanya terkait dengan kebahagiaan 1,7 miliar rakyat kedua negara, tetapi juga terkait dengan masa depan lebih dari 7 miliar orang di seluruh dunia. Mengenai hubungan antara Tiongkok dan AS, tidak boleh hanya melihat saat ini atau tersesat oleh sejumlah kecil kekuatan anti-Tiongkok, melainkan menempatkan hubungan Tiongkok-AS dalam latar belakang yang mengalami perubahan besar di dunia yang tidak pernah terjadi dalam satu abad, dan dalam tren umum global yang berkisar pada perdamaian dan pembangunan. Mungkin ada sejumlah masalah tidak dapat diselesaikan dalam satu atau dua tahun, tetapi kita harus memikul tanggung jawab historis, melihat ke depan dalam jangka panjang, keluar dari politik elektoral saat ini, keluar dari pemikiran emosional, dan kembali ke rasionalitas dan pragmatisme. Tidak sulit menemukan jalan keluar jika memulai dengan “Tiga Daftar” yang dianjurkan oleh Menlu Tiongkok Wang Yi.

Pertama, kita harus saling berkomunikasi. Dialog tidak dapat disela terutama lembaga diplomatik kedua negara tidak dapat jatuh ke dalam "keheningan radio." Masalah sesulit dan serumit apa pun harus didiskusikan di atas meja. Bagaimana bisa mengatasi masalah tanpa komunikasi? Saya sendiri sudah siap untuk berbicara dengan diplomat AS kapan saja.

Kemudian, kita harus fokus pada kerja sama. Ada banyak bidang yang bisa dan harus bekerja sama. Kerja sama penanggulangan wabah harus menjadi prioritas karena nyawa manusia adalah hal yang paling penting. Selain itu, di bidang bilateral seperti ekonomi dan perdagangan, penegakan hukum, pengendalian narkoba, dan masalah regional, masalah tata kelola global seperti perubahan iklim dan pengentasan kemiskinan, serta isu-isu hangat seperti masalah nuklir Korea Utara, Timur Tengah, dan Afghanistan, kedua belah pihak masih memiliki banyak ruang untuk melakukan koordinasi dan kerja sama.

Ketiga adalah mengelola perselisihan. Memang wajar jika kedua negara memiliki perselisihan, namun harus ditangani secara rasional dan pragmatis. Secara khusus, perbedaan tidak boleh diperluas secara sengaja, lebih-lebih tidak boleh menciptakan perselisihan baru. Masalah antara kedua pihak sudah cukup banyak, maka kita harus mengurangi jumlahnya dan bukan sebaliknya. Beberapa bulan ke depan adalah masa krusial. Kita harus bersikap tenang agar tidak terpengaruh oleh berbagai kekuatan ekstrem, dan dengan tegas memegang arah yang tepat untuk memastikan bahwa hubungan kedua negara tidak kehilangan kendali atau tergelincir.


Kirim email ke