-- 
j.gedearka <[email protected]>



https://mediaindonesia.com/editorials/detail_editorials/2089-membajak-momentum-krisis



Sabtu 15 Agustus 2020, 05:00 WIB 

Membajak Momentum Krisis 

Administrator | Editorial 

  PEPATAH bijak menyebutkan pelaut ulung bukan lahir dari lautan yang tenang. 
Demikian pula dengan bangsa ini tidak akan menjadi bangsa yang tangguh jika tak 
mampu menaklukkan segala tantangan, seberat apa pun tantangan itu. Kini, 
seperti halnya negara-negara lain di seluruh penjuru dunia, kita sedang 
menghadapi tantangan berat, superberat. Akibat pandemi covid-19, badai krisis 
melanda yang bermula dari krisis kesehatan kemudian merambah ke mana-mana. 
Krisis ekonomi tak lagi bisa dihindari dan krisis sosial menanti. Sejumlah 
negara bahkan sudah terperosok ke jurang resesi. Kendati belum masuk kategori 
resesi, negeri ini juga dalam situasi sangat sulit. Krisis memang menyusahkan, 
tetapi di baliknya tersimpan kesempatan bagi kita untuk menjadi bangsa yang 
gemilang. Ia ialah ujian dan tempaan agar kita tidak menjadi bangsa yang 
cengeng, bukan bangsa yang rapuh. Prinsip itu pula yang disampaikan Presiden 
Joko Widodo dalam pidatonya di sidang tahunan MPR dan sidang bersama DPR-DPD di 
Gedung Parlemen Senayan, kemarin. Menurut Presiden, akibat wabah korona, 
kondisi bangsa memang tidak bagus, tetapi bukan berarti kita cukup dengan 
meratapinya. Presiden justru menekankan pentingnya kita membajak momentum 
krisis menjadi kebangkitan baru. Dia menegaskan, inilah saatnya berbenah diri 
dan menjalankan strategi besar di bidang ekonomi, hukum, pemerintahan, 
kebudayaan, hingga kesehatan dan pendidikan. Tiga kali Presiden menyuarakan 
pentingnya membajak momentum krisis. Krisis pantang membuat kita pesimistis, 
apalagi berputus asa, tetapi harus menjadi pemantik untuk melakukan 
lompatan-lompatan besar. Momentum krisis, kata Presiden, perlu kita bajak untuk 
menjalankan strategi-strategi besar bangsa. Krisis akibat ekspansi covid-19 
ialah momentum untuk mengatasi ketertinggalan dari negara-negara lain. Kita 
mengamini bahwa krisis tak boleh menjadi akhir dari eksistensi negeri ini. 
Namun, semua tergantung pada bagaimana bangsa ini menyikapi. Krisis bisa 
membuat bangsa ini semakin tangguh jika kita mau dan mampu membuat 
terobosan-terobosan baru untuk mengatasi setiap persoalan. Sebaliknya, krisis 
dapat membuat Republik ini betul-betul terpuruk jika kita bersikap dan bekerja 
biasa-biasa saja seolah-olah tidak ada apa-apa. Kita hanya akan mampu melewati 
krisis jika satu pemahaman dan satu perasaan bahwa situasi memang luar biasa 
gawat. Dengan begitu, kita semua punya satu kemauan untuk melakukan upaya-upaya 
luar biasa. Harus kita katakan, kita belum satu frekuensi, bahkan antara 
Presiden dan para pembantunya sekalipun. Beberapa kali Presiden mengumbar 
kemarahan ke ruang publik karena belum semua jajarannya bekerja maksimal. 
Mustahil pula disangkal bahwa masih banyak warga masyarakat yang tak acuh 
dengan upaya bangsa mengatasi krisis akibat pandemi covid-19. Untuk unjuk peran 
di tingkatan paling dasar saja mereka ogah. Mereka tetap saja abai dengan 
protokol kesehatan sebagai instrumen paling penting saat ini agar korona tak 
terus menggila. Kita sepakat dengan ajakan Presiden untuk membajak momentum 
krisis demi melakukan lompatan-lompatan besar. Mau tidak mau, suka tidak suka, 
semua pihak mesti memahami bahwa saat ini Indonesia sedang dalam kondisi luar 
biasa sehingga harus bersedia mengubah kebiasaan hidup. Tanpa kesadaran seluruh 
anak bangsa, ajakan Presiden akan sia-sia. Jika itu yang terjadi, jangankan 
lompatan besar, untuk lepas dari krisis saja mungkin kita tidak akan bisa.

Sumber: 
https://mediaindonesia.com/editorials/detail_editorials/2089-membajak-momentum-krisis






Kirim email ke