Pernyataan Gila Navarro Mencerminkan Gangguan Mekanisme Keputusan AS

http://indonesian.cri.cn/20200815/e506c432-c7f1-10d3-a11e-b279dd592eed.html
2020-08-15 14:40:55

Baru-baru ini, Direktur Komite Perdagangan Nasional Gedung Putih Peter Navarro dalam wawancaranya dengan FOX NEWS Amerika menyebut bahwa dirinya merasa “bingung” atas pemecah-belahan masyarakat AS akibat wabah virus corona. Kemudian dengan “logika konyol”, dia menarik kesimpulan bahwa kalau warga AS dapat menimpa emosinya kepada Tiongkok, AS dapat secepatnya pulih dari pandemi covid-19. Perkataan absurd dan gila itu sempat mengejutkan pembawa acara dan sejumlah besar pemirsa. Nampaknya, Navarro sudah tersihir demi menimpa kesalahan pemerintah Federal yang gagal melawan pandemi.

Masyarakat sudah menyadari bahwa 2 hari menjelang wawancaranya Navarro dengan FOX NEWS kali ini, jumlah kasus terkonfirmasi di AS secara akumulatif melampaui 5 juta, jumlah kasus kematian pun tercatat 16,28 ribu yang mengerikan. Kenyataan penanggulangan pandemi yang semakin serius, pilpres AS yang semakin mendekat, ini mungkin adalah penyebab utama kenapa Navarro berperilaku seperti kesetanan.

“Bersatu padu”, ini adalah seruan Dirjen WHO Tedros Adhanam Ghebreyesus kepada masyarakat internasional pada awalnya pandemi covid-19 mulai merebak. Akan tetapi, sejumlah politikus AS yang keras kepala tak pernah memedulikan seruan tersebut, malah terus menimpa kesalahannya dan memicu perlawanan dan pemecah belahan demi kepentingan politik egoisnya.

Belum lama lalu Direktur CDC AS Robert Redfield dalam wawancaranya memperingatkan bahwa kalau tidak mematuhi peraturan pencegahan dan pengendalian wabah seperti memakai masker dan menjaga jarak sosial, dilihat dari sudut kesehatan publik, AS mungkin akan tertimpa “musim gugur yang paling buruk” dalam sejarah. Yang lebih mengkhawatirkan ialah, permainan absurd Navarro tersebut sekali lagi membuktikan mekanisme keputusan AS masih tetap beroperasional pada rel yang salah, dan belum menyesuaikan diri dengan situasi penyebaran pandemi.

Perbuatan jelek Navarro ibarat lelucon dalam sejarah politik AS. Namun tidak hanya satu Navarro di Gedung Putih, ini benar-benar adalah kekhawatiran masyarakat. Sebagai negara super yang satu-satunya di dunia, AS sebenarnya mampu melakukan pencegahan dan pengendalian wabah di atas dasar ekonomi dan sosialnya, tapi karena kesalahan para pemangku kebijakan, rakyat AS terpaksa membayar mahal.



 “Oknum Perang Dingin” Mike Pompeo Kembali Berbuat Hal yang Tidak Terpuji

2020-08-15 14:32:36 http://indonesian.cri.cn/20200815/1f3bebc7-c10e-3918-bd36-3ecdc18f36e2.html

Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo hari Kamis lalu (13/8) waktu setempat mengumumkan Confucius Institute U.S.Center sebagai “lembaga utusan diplomatik”, dan memfitnah institut tersebut sebagai sebagian dari alat propaganda Partai Komunis Tiongkok, merupakan “substansi propaganda” Tiongkok di seluruh dunia. Pernyataan Mike Pompeo tersebut dimaksudkan untuk menimbulkan konfrontasi ideologis dan menjelekkan kerja sama normal Tiongkok-AS.

Pada kenyataan, Confucius Institute U.S.Center merupakan perwakilan markas Institut Konfusius AS di Washington D.C.. Saat ini Confucius Institute U.S.Center sudah memberikan responsnya dengan mengatakan kantornya tidak tersambung dengan kampus perguruan tinggi AS, juga tidak terlibat dengan mata kuliah yang dibuka di Institut Konfusius. Pihaknya tidak berdaya pengaruh terhadap kurikulum bahasa yang disediakan di Institut Konfusius, lebih-lebih tidak mungkin memberikan “imbas yang bahaya”. Mike Pompeo sengaja menggencet Institut Konfusius dengan tuduhan yang tidak berdasar dan tidak berlasan.

Sebagai sebuah lembaga pendidikan nirlaba, Institut Konfusius didirikan pada 16 tahun lalu untuk memenuhi kebutuhan masyarakat mancanegara untuk belajar bahasa Han alias bahasa Mandarin. Lembaga itu berasas tujuan meningkatkan perkenalan tentang bahasa dan kebudayaan Tionghoa. Dilihat dari lingkup internasional, munculnya lembaga serupa bukanlah contoh yang unik. Negara-negara Barat seperti Jerman, Perancis dan Spanyol sama-sama telah mendirikan lembaga di luar negeri untuk mempromosi bahasa dan kebudayaan masing-masing negara, apalagi peresmiannya jauh lebih awal daripada Institut Konfusius.

Dilihat dari cara operasinya, Institut Konfusius menerpakan pola pendidikan nirlaba dengan dikelola secara bergabung oleh pihak terkait Tiongkok dan otoritas lokal. Operasional Institut Konfusius Tiongkok dilakukan secara terbuka, transparan dan legal. Sejak diresmikannya, lembaga itu telah memberikan kontribusi positif demi meningkatkan saling pengertian dan persahabatan rakyat Tiongkok dan AS, dan mendapat sambutan luas masyarakat AS.

Akan tetapi, Institut Konfusius di AS kerap kali “diusik” oleh otoritas AS pada tahun-tahun terakhir ini. Hal ini sepenuhnya menunjukkan bahwa sejumlah oknum politikus AS yang anti Tiongkok bersikeras merusak pertukaran kebudayaan dan hubungan antar masyarakat kedua negara. Penyakit Chinaphobia yang dideritanya sudah semakin kasip. Dengan terdorong manipulasi politik yang dimainkan Mike Pompeo sebagai oknum yang haus “perang dingin”, pertukaran kebudayaan dan hubungan antar masyarakat Tiongkok-AS sudah semakin tergelincir ke jurang bahaya, dan terancam putus secara menyeluruh.

Kirim email ke