-- 
j.gedearka <[email protected]>


https://mediaindonesia.com/editorials/detail_editorials/2092-elite-menyimpang-teladan-menghilang



Selasa 18 Agustus 2020, 05:00 WIB 

Elite Menyimpang Teladan Menghilang 

Administrator | Editorial 

  SETIAP kali kita memperingati hari ulang tahun kemerdekaan RI, saat itu 
pula kita kembali mengingat jasa para pahlawan. Begitu banyaknya pahlawan 
nasional yang mampu memberikan keteladanan di masa-masa perjuangan kemerdekaan. 
Mereka mengobarkan semangat rakyat untuk melawan penjajah di tengah segala 
keterbatasan. Di masa sekarang, tugas kita semua berjuang mengisi kemerdekaan 
agar terwujud cita-cita rakyat sejahtera, berkehidupan berbangsa yang cerdas, 
dan menjunjung ketertiban dunia. Perjuangan kekinian tersebut juga memerlukan 
anutan su paya tidak melenceng dari amanat konstitusi. Para pejabat publik, 
tokoh par tai politik, hingga tokoh masyarakat dan agama menjadi tempat rakyat 
mengarahkan pandangan. Dari mereka, rakyat berharap mendapatkan teladan. Berat 
memang tanggung jawab elite. Mereka dituntut menjadi contoh yang baik dalam 
menegakkan norma-norma hukum dan etika bagi masyarakat luas. Lebih-lebih saat 
ini, ketika nasib bangsa sangat bergantung pada disiplin mematuhi protokol 
kesehatan melawan wabah covid-19. Namun, tidak semua elite mengerti tanggung 
jawab mereka itu. Beberapa kali terdengar berita pejabat atau tokoh berbalik 
marah ketika ditegur karena tidak memakai masker. Pun, saat tepergok 
mengendarai mobil dengan jumlah penumpang melebihi kapasitas yang diizinkan. 
Belum lagi yang entah karena ketidakpaham an protokol atau sengaja meremehkan, 
memakai masker dengan asal-asalan. Masker yang tampak sudah memenuhi standar 
WHO tersebut ditarik ke dagu saat pejabat pemakainya bercakap-cakap. Tidak 
mengherankan jika di pasar, perkantoran, dan tempat-tempat yang rawan penularan 
covid-19 lainnya, perilaku yang sama ju ga dipraktikkan masyarakat. Muncullah 
klaster-klaster baru penularan covid-19 sekaligus membuat penambahan kasus 
positif semakin laju. Sungguh melegakan saat dua acara penting negara 
belakangan, yakni sidang tahunan MPR dan upacara peringatan detik-detik 
proklamasi di Istana, memamerkan disiplin tinggi penegakan protokol kesehatan. 
Para pejabat dan undangan yang hadir, di pimpin Presiden, dengan patuh 
terus-menerus mengenakan masker dan menjaga jarak aman. Contoh yang sangat 
baik. Menjaga lisan dan laku merupakan keutamaan yang senantiasa harus 
ditunjukkan elite. Oleh karena itu, sangat disayangkan pula ketika elite 
bersikap arogan seperti dalam kasus Ahmad Mumtaz Rais, tokoh Partai Amanat 
Nasional. Teguran awak kabin Garuda Indonesia tidak dipatuhi Mumtaz yang 
mengoperasikan ponsel di pesawat. Hal itu mendorong Wakil Ketua KPK Nawawi 
Pomolango yang duduk di deretan yang sama menegur Mumtaz. Alih-alih menyadari 
kesalahannya, eks anggota legislatif 2019-2014 itu melontarkan kata-kata 
bernada tinggi kepada Nawawi. Kita apresiasi bahwa beberapa hari kemudian, 
Mumtaz meminta maaf atas sikapnya. Permintaan maaf tersebut mencerminkan 
kebesaran hati yang sesungguhnya memang dimiliki putra tokoh PAN Amien Rais 
itu. Meski begitu, ada norma hukum yang diduga telah terlanggar. Undang-Undang 
No 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan melarang pengoperasian peralatan elektronik 
yang mengganggu navigasi penerbangan. Pelanggar terancam sanksi pidana penjara 
paling lama 2 tahun atau denda paling banyak Rp200 juta. Sebagai pidana umum, 
tentu harus ada proses hukum membuktikan ada atau tidaknya pelanggaran oleh 
Mumtaz. Bila kasus itu berhenti begitu saja, pesan yang sampai kepada 
masyarakat ialah tidak masalah melanggar hukum asal meminta maaf. Atau, yang 
lebih mengusik rasa keadilan, elite mendapat keistimewaan di hadapan hukum.

Sumber: 
https://mediaindonesia.com/editorials/detail_editorials/2092-elite-menyimpang-teladan-menghilang







Kirim email ke